Bab 3 Calon Suami yang Seperti Menang Lotere!

Malam hari, sebuah kafe ternama.

Risa duduk di dekat jendela menunggu pria yang katanya akan datang bertemu sekedar melihat rupa satu sama lain dan saling mengenal singkat, tapi ini sudah lewat 15 menit, pria itu belum juga muncul.

Padahal dia sudah dandan cetar membahana demi membuat pria itu terpikat padanya, dan memberikan kesan baik dan sopan—atasannya lengan panjang putih dengan bordiran indah dan rok biru plisket sebatas betis. Rasanya semua usahanya akan meleleh seperti es krim yang tidak enak dimakan. Dia juga dandan tidak biasa malam ini.

Wanita ini menghela napas kecewa.

“Harusnya, kan, dia yang menunggu, bukan aku,” gumam Risa, mengeluh dengan wajah cemberut.

Seorang pelayan yang berjalan di dekatnya memberikan senyum sopan kepadanya sambil membawa pesanan meja lain, Risa hanya membalasnya dengan senyum canggung.

“Ya, ampun. Dia beneran mau menikah tidak, sih?”

Risa menatap layar ponselnya melihat pesan singkat pria itu, foto profilnya hanya menampilkan sebuah gambar pemandangan laut dengan gedung pencakar langit di luar negeri—sepertinya itu adalah di Australia, seolah dengan begitu dia ingin pamer kalau dia orang yang berada dan elit.

Biasanya kalau tampan, pasti akan pamer dengan wajahnya, tapi ini malah pemandangan saja?

Dalam hati, Risa merasa sangat dongkol mengingat perkataan ibunya: botak, gendut, dan jelek?

Wajah Risa menggelap cepat, roh seperti sudah mau keluar dari tubuhnya.

Selama dia menunggu, beberapa pengunjung kafe sudah hilir-mudik keluar masuk tempat itu, dan Risa masih menunggu dengan segelas air yang sudah dituang beberapa kali oleh sang pelayan.

“Apa dia membatalkan perjodohan ini? Tidak suka menikah dengan rencana kerjasama bisnis ini, kah?”

Risa yang sudah hampir menunggu selama 1 jam itu akhirnya mulai menggerundel sendirian di mejanya, ditatap aneh dan penuh rasa penasaran sama seperti ketika berada di kantornya tadi pagi.

Para pelayan kafe pun mulai bisik-bisik kasihan di sudut ruangan.

“Maaf, menunggu lama,” ujar sebuah suara merdu dan sangat sopan beberapa menit kemudian.

Risa yang sudah duduk bersandar di kaca, nyaris tertidur, akhirnya tertegun kaget, spontan berdiri dan berteriak kencang, “MAAF, PAK! MINGGU DEPAN AKAN SAYA AJUKAN LAPORANNYA!”

Suara gelak tawa indah terdengar di telinga Risa, membuat wanita ini tertegun kaget dengan sosok pria di depannya.

Sebagian orang di sana juga tertawa dengan tingkah konyolnya, tapi Risa malah terhipnotis oleh suara tawanya.

“Tadi ada rapat mendadak, dan ponsel saya kehabisan baterai. Maaf sudah menunggu lama. Saya pikir Anda tidak akan pergi tanpa penjelasan. Untunglah tebakan saya benar.”

Risa membeku di kedua kakinya, mata tak berkedip.

Di depan Risa, sudah berdiri seorang pria berjas abu-abu metalik, berambut hitam medium dan berkacamata tipis.

Pembawaannya sangat intelek dan dewasa.

“Halo, salam kenal. Anda pasti Risa Abdullah, kan? Nama saya Adnan Budiraharja,” sapanya dengan mata melengkung indah bak bulan sabit, tangan kanan terjulur untuk menyalami Risa.

Ta-tampaaaaannn~ Kyaaaaa~ Apa ini rasanya menang lotere?  batin Risa dengan hati girang, tapi di luar raut wajahnya sedikit kaku dan canggung.

“Se-senang bertemu dengan Anda, Pak Adnan,” balas Risa, menyambut tangan pria itu.

“Panggil saja Adnan, kita, kan, sebentar lagi bukan orang asing,” tegurnya pelan, tersenyum ramah, lalu melanjutkan dengan nada mesra dan akrab, “... Risa.”

DEGUP!

Hati Risa melambung tinggi, kedua pipinya merona indah. Terlihat salah tingkah dengan menyisipkan anak-anak rambut di balik daun telinganya. Tersenyum malu-malu.

“Be-begitu, ya? Hehehe.”

Adnan tersenyum membalasnya, lalu memberikan gesture untuk duduk, “mari, pasti sudah lapar, bukan? Mau pesan apa? Biar saya yang bayar semuanya. Jangan sungkan-sungkan.”

Risa menelan ludah gugup.

Calon suaminya ini terlalu sempurna!

Bagaimana mungkin nasib begitu baik padanya kali ini?

Apakah ini namanya setelah semua hal buruk berlalu, hal baik akhirnya muncul?

Kedua mata Risa berbinar indah berkaca-kaca melihat sosok calon suami berkacamatanya itu. Sangat sopan, tampan, dan senyumnya begitu manis!

Ah~

Hatinya meleleh bukan main!

“Apa ada yang aneh di wajah saya?” tanya Adnan dengan pembawaan tenang yang dewasa, punggung tangan kanannya dengan canggung menyeka sebelah pipinya.

Risa dengan cepat menggeleng.

“Anda sungguh ingin menikah dengan saya? Kalau tidak suka, dan merasa terbebani, saya tidak keberatan membatalkan perjodohan ini.”

Entah kenapa Risa malah mengatakan hal itu, mungkin karena rasa bersalah di hati nuraninya karena pria itu akan mendapatkan wanita di bawah standar seperti dirinya. Jika dibandingkan, dirinya sepertinya wanita yang terlalu sangat beruntung untuk bisa bersanding dengan pria luar biasa itu.

Adnan terkekeh kecil, sangat sopan dan indah, membuat jantung Risa berdebar bagaikan bom yang siap meledak. Kedua tangan di pangkuannya saling jalin menjalin karena sangat gugup dan gelisah.

Dia bukannya tidak setuju dengan Adnan sebagai calon suaminya. Pria itu bahkan adalah tipe pria idaman semua wanita, Risa yakin itu. Tapi, bersamanya? Kalau setelah menikah nanti, ternyata pria itu ada wanita lain, kan, pasti sangat menyakitkan!

“Risa, Risa, kamu ini bicara apa? Tentu saja aku ingin menikah denganmu.”

Wanita berwajah manis ini tertegun mendengar gaya bahasa informal pria itu, mata sedikit membesar oleh rasa antusias.

“Apa... tidak boleh bercakap biasa? Terlalu cepat, ya?”

Risa yang sudah terpesona dengan calon suami luar biasanya itu, lagi-lagi menggeleng cepat.

“Silahkan jika Adnan tidak keberatan,” jawab Risa gugup.

Lalu, Risa melanjutkan, “apa sungguh... Anda ingin menikah dengan saya?”

“Tentu saja.”

Mata indah di balik kacamata itu tersenyum memikat.

Risa terpana sekali lagi.

“Ta-tapi ini adalah perjodohan karena masalah bisnis. Apakah tidak apa-apa? Seandainya Anda punya wanita yang disukai, saya tidak masalah jika ini batal. Sungguh!”

Suara Risa memekik sedikit, terlihat salah tingkah.

Pria berkacamata itu tertawa pelan, anggun dan bijaksana.

“Tidak. Saya tidak punya wanita sama sekali. High quality jomblo sama seperti Risa. Pak Abdullah yang bilang pada saya soal kisah cinta Risa selama ini. Kedengarannya sangat menarik.”

Aduh~ ayah itu~ bisa-bisanya menceritakan hal memalukan begitu pada calon suami yang tidak aku ketahui sama sekali! batin Risa dengan perasaan tidak nyaman, mata menghindari pandangan memikat pria di depannya. Malu-malu, tapi senang dia tahu kekurangannya.

“Kalau begitu, kita pesan makanannya dulu. Nanti bicaranya kita lanjutkan saja. Bagaimana?” saran Adnan ramah.

Risa hanya bisa mengangguk patuh, karena visual calon suami benar-benar di atas standarnya.

Selama makan malam yang diselipi sesi bincang dan berkenalan satu sama lain itu, hati Risa sungguh berbunga-bunga sampai lupa semuanya.

Akhirnya!

Setelah selama ini kesialan cintanya hampir 12 tahun melekat pada hidupnya, sepertinya Tuhan sudah berbelas kasih padanya dengan mendatangkan Jackpot setinggi langit!

“Jika tidak keberatan, aku ingin mengantarmu pulang. Bagaimana?” tawar Adnan ketika mereka akhirnya selesai makan, dan pembicaraan penuh tawa dan senyum itu berakhir.

Perkenalan hari ini untuk kali pertama tidak begitu buruk.

Risa sangat bahagia!

Setidaknya wanita ini tahu kalau pria di depannya ini ternyata memang luar biasa sama seperti apa yang ayahnya katakan, bukan hanya sekedar umpan untuknya semata. Tapi, kenapa tidak bilang sejak awal kalau dia setampan ini? Apakah ini kejutan untuknya? Pulang nanti dia harus berbaik-baik pada ayahnya!

Dengan kedua pipi merona malu-malu, Risa menjawab, “jika Adnan tidak repot, boleh, kok.”

“Senang mendengarnya,” ucap Adnan sembari berdiri dari kursinya, berjalan ke arah Risa dan mengecup punggung tangannya dengan gaya yang begitu gentle, mata terpejam anggun.

Jantung Risa meledak oleh perlakuan romantis itu, kedua bola matanya berputar dengan perasaan malu-malu menyerangnya.

Kyaaaa~~ Tuhan~ Terima kasih banyak atas anugerah ini~ teriak Risa dalam hati, guling-guling dalam khayalannya dengan kebahagian yang sudah menghampiri hidupnya.

Ketika kedua orang ini sudah berjalan menuju pintu keluar, di sudut kafe itu, sejak tadi seorang pria dengan mantel cokelat mengawasi keduanya secara diam-diam.

“Benar. Pria itu memang yang ditemuinya, tuan muda. Adnan Budiraharja. Baik. Akan saya selidik lebih lanjut seperti apa dia itu,” ucap pria ini melalui headsfree, menurunkan sebuah map cokelat di depan wajahnya yang ternyata hanyalah sebuah kamuflase agar terlihat sok sibuk di mata orang lain.

*** 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status