LOGIN#WARNING RATE 21 + HOT, SWEET, AND DANGEROUS LOVE STORY! Mohon bijak memilih bacaan sesuai umur. Genre: Romance, Comedy, Posesif, Super Bucin, Arogan, Wanita Kuat ......... Risa Abdullah dijebak dalam sebuah pernikahan bisnis oleh Shouhei Shiraishi, seorang CEO tampan berwajah dingin yang terang-terangan menyukainya dan menjeratnya dalam sebuah hubungan terlarang. Risa tidak mengetahui kalau Shouhei memiliki sifat yandere, yaitu terlihat baik hati dan bucin, tapi aslinya sangat kejam dalam mempertahankan cintanya jika ada yang berani bersaing dengannya, bahkan tanpa ragu sanggup melenyapkan nyawa orang lain! Acara pernikahan Risa bersama Adnan Budiraharja yang dihancurkan oleh Shouhei membuat seluruh keluarganya malu dan tertekan. Pria dingin dan kejam itu mengancam mereka akan dibuat bangkrut dan menderita tujuh turunan kalau menolaknya sebagai menantu! "Kamu benar-benar kejam!" "Kejam? Kamu lebih kejam, Risa Abdullah! Kamu telah mencuri hatiku dan ingin lepas tangan? Tidak akan aku biarkan!" Written by NatsuHika
View MoreDi sebuah gedung tinggi perkantoran yang sangat megah dan modern di Tokyo, Jepang. Setumpuk dokumen dilempar begitu saja di atas sebuah meja. Suara debamnya memekakkan telinga.
Dokumen paling atas memperlihatkan profil seorang wanita lengkap dengan foto yang terlihat sangat formal. Rambut perempuan itu hitam panjang dan diikat satu dengan poni indah menghiasi wajahnya. Tertulis jelas di sana nama sang wanita dalam bahasa Indonesia: Risa Abdullah
“Apa berita itu benar? Kamu sudah memastikan kebenarannya?” tanya sebuah suara berat, rendah dan dalam. Sangat magnetis dan merdu bagi wanita mana pun yang bisa mendengarnya.
Percakapan ini dilakukan dalam bahasa Jepang. Meski ada nada marah dalam suaranya, pemilik suara berusaha tetap menjaga ketenangan dirinya.
“Iya. Itu benar, Tuan muda. Risa Abdullah akan segera menikah minggu depan.”
Pria berkacamata tipis yang menyampaikan berita tersebut berwajah datar dan terkesan dingin dengan rambut disisir sangat rapi. Jas biru tua yang dikenakannya berhias sebuah sapu tangan putih yang mencuat dari sakunya. Sikap sekretaris pria itu seperti seorang prajurit yang sangat patuh dengan semua perintah komandannya.
“Begitu?” Sosok yang dipanggil tuan muda tampak bertopang dagu, menyangga salah satu siku di lengan kursi. Bersandar dengan sikap tenang dan arogan. Sorot mata gelapnya sangat dalam dan dingin, dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Tuan muda kemudian memutar kursinya hingga menghadap dinding kaca tinggi di belakang. Kali ini bersandar dengan satu tangan berada di pelipis. Tatapan dinginnya agak sedikit menerawang jauh, misterius dan dalam.
Secara keseluruhan, dia terlihat sangat tampan: tubuh tinggi, proporsional, cerdas, memesona, dan berkelas. Belum lagi wajah dinginnya yang sebeku es abadi itu! Semua wanita pasti akan menjerit histeris memohon cinta darinya!
Siapa pun yang melihatnya meski hanya sepintas akan segera tahu bahwa sosoknya bukanlah pria biasa. Sosok yang sebaiknya jangan mencari gara-gara dengannya jika masih ingin hidup tenang dan damai.
Kemeja putih yang dikenakan olehnya begitu rapi dan mewah dengan dasi hitam bergaris putih. Kaki jenjang indahnya berbalut celana panjang hitam disilangkan angkuh. Kesan tinggi dan berbahaya, tapi dingin memantul kuat pada permukaan dinding kaca.
Wanita mana yang tidak mau berada dalam pelukan pria hebat seperti itu?
“Apa Anda punya perintah lain, Tuan muda?”
Tatapan tajam dan berbahaya sang tuan muda mengamati lekat-lekat suasana ibukota di luar sana. Dari pantulan kaca di depannya, terlihat jelas pikirannya semakin dalam dan berbahaya.
Cuaca pagi ini sangatlah cerah tanpa awan, sinar matahari pun begitu hangat menyinari gedung-gedung tinggi perkantoran lainnya. Namun, pria tampan yang tengah berpikir di kursi berkuasanya terlihat sangat berhati-hati dan penuh perhitungan, membuat atmosfer di ruangan itu sedikit tegang dan dingin.
“Cari tahu siapa calon suaminya dalam waktu 2 jam.”
“Baik.”
Pria berjas biru tua membungkuk dengan satu tangan di dadanya.
“Risa Abdullah adalah milikku. Pernikahan itu tidak boleh sampai terjadi. Terus awasi perkembangannya,” peringat tuan muda dengan gerakan tangan kiri yang anggun di udara, masih dalam pose memunggungi sang sekretaris.
“Tentu saja, Tuan muda.”
Usai berkata demikian, sekretaris pria berjalan keluar dari ruangan dengan kaca dinding memenuhi hampir 360 derajat di sekitarnya.
Interior ruangan dihiasi dengan benda-benda berkilau dan mewah pada beberapa titik. Salah satu benda berkilau yang terbuat dari kaca adalah sebuah papan nama di atas meja kerja utama, berbunyi dalam tata nama orang Jepang: Shiraishi Shouhei.
Shiraishi adalah marganya, dan merupakan salah satu Grup bisnis terkuat di negeri Sakura saat ini. Sementara Shouhei adalah nama dari lelaki tampan yang tengah tenggelam dalam pikirannya tersebut.
Ketika dia memejamkan mata, kenangan masa lalu sewaktu SMA berputar di dalam benaknya.
“Karena kamu selalu sial dalam percintaan, bagaimana kalau kita menikah saja? Bukankah kita akan saling menguntungkan?” tanya Shouhei kepada seorang wanita di sebelahnya. Terdengar datar dan dingin. Sangat acuh tak acuh.
“Menikah denganmu? Atas dasar apa? Kamu tidak menyukaiku, kan? Berhenti menjahiliku, Shouhei! Apa kamu tidak bosan? Ada banyak wanita yang mengejarmu, kenapa harus aku yang kamu pilih? Sedang menghinaku, ya?” omel Risa dengan wajah super marah, terlihat tidak terima dengan ucapannya barusan.
“Risa, kamu tahu sendiri kalau tidak ada pria yang serius denganmu, kan? Aku juga tidak tertarik dengan wanita mana pun. Aku butuh pasangan yang tidak banyak protes, dan tidak perlu terikat dengan cinta, atau pun secara emosional dalam pernikahan. Itu artinya, setelah menjadi suami istri, kita bisa menjalani hidup masing-masing tanpa perlu saling mengganggu. Aku tampan, cerdas, dan populer. Kamu tidak akan rugi menikah denganku,” balas Shouhei cepat, masih datar dan tanpa emosi. Seolah-olah tidak peduli dengan perasaan lawan bicaranya.
Wanita yang berdiri di dekatnya tampak tertegun kaget. Detik berikutnya, segera memasang wajah cemberut kesal, mendengus geli seraya membalasnya dengan amarah tertahan. “Memangnya kamu sanggup menafkahiku? Walaupun kamu sangat populer, kamu hanya pria biasa, kan? Aku adalah tipe wanita yang sangat gila uang dan harta! Tidak bisa hidup miskin dan menderita hanya dengan modal cinta! Kamu bisa memenuhi semua keinginanku itu, Shouhei Shiraishi?”
Shouhei tersenyum tipis misterius.
“Tenang saja. Aku akan bekerja sangat keras. Selama kamu mau menjadi istriku, semua keinginanmu akan aku kabulkan. Bagaimana?”
“Tidak! Aku tidak mau! Leluconmu sangat buruk! Dasar pria berhati dingin! Seenaknya saja mempermainkan orang dengan kalimat sakral seperti itu! Lagi pula, kamu bukanlah tipeku! Aku tidak mau menikah hanya karena pria itu tampan dan populer! Aku juga punya selera dan pernikahan impianku sendiri! Bukan seperti pernikahan bodoh yang kamu sebutkan barusan! Itu pernikahan, atau rumah sakit jiwa, hah?! Untuk apa kamu mengajakku menikah seperti itu jika kamu bisa menikah dengan wanita lain yang bisa kamu pilih sesuka hati? Apa ucapanmu barusan masuk akal? Berhenti bermain-main! Aku bukan bonekamu!”
“Kenapa? Kamu takut? Tidak percaya diri? Atau... tidak bisa menahan pesonaku hingga merasa gugup dan pura-pura susah didapat? Aku pikir kamu sangat frustrasi ingin mendapatkan pasangan hidup? Ataukah kamu hanya senang mempermainkan banyak pria? Ingin menjadi playgirl yang polos dan lugu?” sindirnya dengan wajah tersenyum jahat dan dingin.
“Sialan! Siapa yang mempermainkan siapa, hah?!”
Kilas balik di benak Shouhei akhirnya berhenti dengan sebuah adegan tamparan dari sang wanita. Kedua bola matanya yang dingin dan gelap terbuka secara perlahan.
Pria itu bergumam pelan seiring bulu matanya merendah dingin dan anggun. “Aku tidak pernah mempermainkanmu, Risa Abdullah.... Tidak pernah....”
***
Keesokan harinya, Jakarta, Indonesia, di sebuah mansion mewah dengan banyak bunga-bunga indah di taman, pembicaraan suami istri memenuhi sebuah kamar megah di salah satu kamar mansion tersebut.
“Suamiku, apa kamu yakin dengan pernikahan ini? Kenapa begitu tiba-tiba?” protes seorang wanita kepada seorang pria yang sibuk memperbaiki dasi merahnya di depan cermin besar.
Sang suami memejamkan mata lelah, kening ditautkan kencang.
“Kita tidak punya pilihan, istriku. Satu-satunya cara agar perusahaan selamat adalah menikahkan Risa dengan putra mereka.”
“Tapi, apa kamu tahu seperti apa putra mereka? Kenapa begitu mudah menerima tawaran perjodohan itu?”
Sang istri yang memakai gaun merah muda berdiri dari tepi tempat tidur. Wajahnya cantik untuk usianya yang sudah mencapai umur 40 tahunan. Dia berjalan menuju sang suami dan meraih dasinya, membantunya membuat simpul karena sejak tadi selalu gagal di tangan pria itu.
“Aku sudah memberitahu Risa agar menghadiri pertemuan yang sudah diatur siang ini. Mereka bisa saling mengenal dan berbincang-bincang satu sama lain. Tidak ada salahnya, kan? Lagi pula, selama ini, dia selalu saja gagal dalam percintaan. Ini seperti keberuntungan untuknya. Umurnya juga sudah sangat pantas untuk menikah.”
“Kamu benar, suamiku. Tapi, Risa sama sekali tidak menyukainya!”
“Dengar. Risa harus belajar menyukai pria itu. Kalau dia hanya ingin mengejar pria-pria yang disukainya, dan selalu berakhir dengan kegagalan, apa kamu mau putri kita menjadi perawan tua?”
“Apaan, sih! Tidak boleh bicara begitu, dong!”
Sang istri memukul dadanya yang bidang, wajah cemberut.
“Sudah. Sudah. Aku berangkat dulu.” Usai dasinya terpasang dengan baik, pria tua meraih tas kerja yang ada di atas meja rias sang istri.
“Kamu tidak sarapan dulu?”
“Di kantor saja, Sayangku. Hari ini ada rapat penting. Calon besan kita ingin melakukan inspeksi kinerja perusahaan. Semua dokumen harus disiapkan dengan baik.”
“Suamiku, apa kamu tidak merasa aneh?”
“Aneh? Aneh bagaimana?” Langkahnya berhenti menuju pintu, sebelah keningnya terangkat penasaran.
“Itu, loh. Selama ini, kan, perusahaan kita baik-baik saja. Kenapa setelah kita mengenal perusahaan dari Grup Budiraharja, tiba-tiba saja perusahaan kita tertekan di mana-mana?”
Sang suami memucat, berdeham kaku. “Tidak usah memikirkan soal perusahaan. Ini terlalu berat untukmu. Lebih baik bantu saja Risa menyiapkan penampilan terbaiknya untuk bertemu dengan putra Grup Budiraharja. Kesan pertama itu sangat penting.”
Sang istri menghela napas berat, bertopang dagu dengan bertumpu pada satu telapak tangan, menatap sendu punggung sang suami yang berjalan cepat keluar ruangan.
Di lantai bawah, seorang perempuan berambut hitam sebatas punggung duduk menikmati roti bakar. Dia memakai kaos rajut merah burgundy dengan leher turtle neck dan rok plisket cokelat tua, memberikan kesan dewasa dan profesional.
"Aku pergi dulu! Jangan lupa untuk datang ke kafe itu, ya!" teriak sang ayah dari arah tangga.
Risa yang mendengar perintah tanpa bisa diprotes, hanya bisa menekuk wajahnya muram.
Selera makannya tiba-tiba lenyap. Dia melempar begitu saja roti bakar yang ada di tangan dengan perasaan malas ke atas piring porselen, dan segera meneguk air minum sampai habis.
"Putriku, kenapa kamu tidak protes? Ini mengenai masa depanmu, bukan? Apa kamu rela menikah dengan orang yang tidak kamu kenal sama sekali?"
Ibu Risa, Sarah Sabran menuruni tangga dengan anggun.
"Sudahlah, Bu. Aku juga sudah capek. Mungkin memang takdirku untuk dijodohkan,” jawabnya dengan ekspresi malas dan masa bodoh.
Sang ibu sedikit terkejut mendapati putrinya yang selalu ceria menjadi lesu tak bertenaga.
"Memang kamu mau kalau dia itu botak, gendut, dan jelek?"
Seketika wajah Risa memucat seperti bubur busuk.
"Ibu... kenapa ibu meracuni pikiran polos penuh harapku ini? Bisa saja dia tidak seburuk yang ibu katakan, bukan?"
Sarah Sabran melipat tangan di dadanya, membuang muka dengan wajah kusut, mulut dimajukan dengan mata menyipit kesal. "Ibu ini mau menantu yang tampan dan cerdas, Risa!"
"Hish! Ibu! Permintaannya aneh-aneh! Sudah tahu putri satu-satunya ini selalu gagal menjalin kasih, masih saja dituntut ini itu!"
Risa berdiri dari duduknya, menggigit gigi marah. Nadi di pelipisnya seolah akan meledak detik itu juga. Sudah syukur dia menerima perjodohan yang tak ada jalan keluarnya, sekarang ibunya bicara yang tidak masuk akal. Benar-benar bikin hati panas naik turun!
"Kamu lembur saja hari ini, ya! Biar punya alasan tidak datang ke pertemuan itu!" saran ibunya dengan penuh semangat, berteriak dengan satu tangan berada di sisi mulutnya.
"Ya, ampun! Pagi-pagi sudah berisik sekali!" gumam Risa kesal, menarik tas selempang lebih erat ke tubuhnya. Rambut ikalnya melambai indah ketika berjalan cepat menuju pintu utama. "Aku pergi dulu, Bu! Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam... haduh... anak itu... bikin cemas saja..." bisik sang ibu kepada diri sendiri.
"Dia kenapa lagi, Bu?"
"Oh! Raza! Nasihati adikmu itu! Masa karena terus gagal dalam percintaan, dia mau menerima begitu saja perjodohan yang telah diatur oleh ayahmu? Kamu adalah seorang dokter, ceramahi dia sedikit soal gen turun-temurun! Ibu mau punya cucu-cucu yang tampan dan cantik! Juga pintar dan cerdas! Apa ibu tidak boleh meminta hal seperti itu kepadanya? Dia itu cantik. Masa tidak ada satu pria pun yang serius dengannya?" jelasnya dengan kedua tangan berada di pinggang, ekspresi dibuat mengkerut sebal dan manja.
Raza menghela napas berat. “Ibu.... Itu adalah keputusan Risa. Biarkan saja. Mungkin itu jodohnya, kan? Risa juga tak mempermasalahkannya. Mau dia itu cantik atau tidak, kalau bukan jodohnya? Kita bisa apa?”
Dia meletakkan jubah putihnya pada sandaran kursi, dan duduk meraih beberapa lembar roti di atas meja.
“Tapi, kita tidak tahu seperti apa calon suaminya, kan?”
“Ya, sudah. Kita tinggal lihat saja, kan? Lagi pula, jika pernikahan ini menguntungkan kedua belah pihak, kenapa tidak?”
"Haduh! Raza! Kalian ini kembar, tapi kenapa sikapnya juga sama-sama keras kepalanya menentang ibu!"
“Jangan marah-marah terus, Bu! Nanti keriputnya bertambah. Mau?”
“Raza!”
Dokter muda berwajah tampan ini tersenyum jahil menanggapi gerutuan ibunya.
Risa melakukan tur keliling di tempat itu. Sayangnya, dia tidak menemukan celah apa pun pada sistem keamanan maupun kondisi fisik bangunan yang bisa dijadikan jalan pelarian.Maria yang memperhatikannya mengira Risa tampak tidak bersemangat karena merasa dirinya tidak kompeten dalam menunjukkan tempat-tempat yang menyenangkan di sekitar mereka."Nona Abdullah, apakah Anda merasa bosan di sini?" tanyanya dengan nada hati-hati.Maria bahkan tidak berani menatap langsung ke arah wanita itu. Aura muram dan gelap yang terpancar dari Risa terasa begitu jelas, bahkan dari kejauhan. Apalagi saat berdiri tepat di dekatnya, tekanan itu terasa semakin kuat.Menyadari nada bicara Maria yang terdengar ketakutan, Risa berusaha bersikap biasa."Aku hanya merasa tempat ini sangat indah, tetapi begitu sepi. Apa tidak ada orang lain yang bisa kuajak bicara? Tentu saja kamu tidak bisa menemaniku sepanjang waktu, bukan? Kamu juga harus bekerja. Aku hanya bisa menghabiskan waktu sendirian di sini. Rasanya
Melihat suasana hatinya yang mulai tidak baik, wajah sudah seperti awan mendung, membuat hati Risa sangat gelisah.“Lupakan saja! Aku sudah tidak selera makan lagi!”Dia segera bangkit dari kursi, tapi gerakannya terhenti oleh suara pria itu."Aku tidak pernah menyuruhmu untuk segera pergi meninggalkan meja begitu saja. Tidak peduli meskipun kamu sudah selesai makan.”Tatapannya sangat dalam dan menakutkan, membuat Risa kembali merinding dibuatnya.“Kalau kamu marah, ya, bilang saja. Tidak perlu memberikan nada suara seperti itu!” ucap Risa dengan ekspresi cemberut. Dia menatap pria itu dengan penuh perhitungan. Menebak-nebak apa yang sedang dia pikirkan saat ini.Shouhei menghela napas panjang, lalu menatapnya dengan ekspresi serius dan lembut di saat yang sama. Suaranya dibuat sangat menyenangkan dan penuh bujuk rayu."Risa, akan ada waktu untuk menjelaskannya kepadamu. Tapi tidak sekarang. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Jika aku menjelaskannya sekarang,
Shouhei sama sekali tidak membiarkan Risa meninggalkan kediamannya.Dia bahkan membatasi pergerakannya di dalam rumah besar itu.Sejak di hari dia membawanya ke sana, sekarang sudah sekitar 3 Hari berlalu.“Keluargaku pasti sudah mencariku sekarang! Apa kamu akan terus menahanku di sini?” Serunya dengan mata melotot hebat.Di kediaman rahasia itu, Shouhei memperlakukannya layaknya seorang Ratu. Pakaian dan perhiasan mahal tersaji di kamar layaknya sebuah etalase toko mewah. Setiap jengkal di rumah itu memiliki nilai yang sangat fantastis.Ketika Risa menyadarinya pada hari dia hendak melarikan diri, Risa seperti orang bodoh yang memasuki sebuah museum seni kelas dunia.Dengan jumlah uang yang sangat banyak di rekeningnya, bukan tidak mungkin dia bisa memiliki sebuah tempat seperti ini. Namun, yang tidak diduga adalah Shouhei malah mengurungnya seperti tahanan. Bukannya diperlukannya secara baik-baik seperti saat mereka datang ke pulau dulu.Mereka sekarang berada di meja makan panjang.
"Risa, aku tidak pernah bermaksud untuk mempermainkanmu," kata Shouhei dengan nada lembut, tetapi matanya berkilat tajam.Risa sama sekali tidak mempercayainya. Dia menggelengkan kepala dengan ekspresi yang tampak sedikit terluka."Shouhei, kamu sudah banyak berbohong kepadaku selama ini. Kamu pikir aku akan percaya?"Shouhei tampak gelisah. "Percayalah, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku bisa menjelaskan semuanya."Risa tertawa pahit, menatapnya aneh, seolah-olah dia adalah orang yang tidak pernah dikenalnya selama ini."Katakan. Jadi apa maksud dari semua perlakuanmu selama ini kepadaku?"Shouhei mencoba meraihnya, tetapi Risa mundur."Jangan sentuh aku! Kamu tahu kamu selalu bersikap seperti ini setiap kali kamu melukaiku. Apa pun pasti ada masanya untuk membujukku. Kamu pikir aku ini apa? Setiap kali kamu melukaiku, kamu pasti mencoba memberikan hadiah. Aku bukan anak kecil lagi!"Pria itu menatapnya dengan mata yang sedikit berkilat."Risa, dengarkan aku dulu. Aku punya al
“I-ini...” Risa terkejut dengan wajah muram ketika melihat dia dan Raza telah masuk pencarian panas di internet. Gara-gara itu, akun Linkstagramnya seketika saja mendapat banyak pengikut baru kurang dari 2 jam saja, dan jumlahnya sangat fantastis! Tentu saja sebagian dari mereka tidak benar-benar me
Pagi-pagi sekali, Shouhei sangat gelisah di kantornya. Hari ini, Risa benar-benar mendengarkan nasihatnya. Walaupun dia senang wanita itu akhirnya memilih mengambil cuti sehari gara-gara kejadian traumatis di hotel, tapi hatinya tidak senang dengan cara mereka berpisah semalam. “Bagaimana? Kenapa wa
“Ayana datang ke sana?”Suara dingin Shouhei terdengar melalui sambungan telepon.“Iya. Dia sedang berada di dapur saat ini,” balas Risa muram, sibuk berbicara diam-diam dari balik dinding, dan sesekali melirik ke arah Ayana di dapur bersih.Shouhei memuram kelam. Tidak menyangka kalau Ayana benar-bena
Risa Abdullah akhirnya baru bangun setelah 3 jam berlalu. Kejahilan Shouhei di tubuhnya membuat wanita berpakaian sekretaris ini merasa sangat lelah. Ketika keluar dari kamar pribadi itu, secara hati-hati dia memeriksa terlebih dahulu jangan sampai ada orang yang sedang bertemu Shouhei. “Sudah bangu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore