Share

Part 6

Sebelumnya, follow terlebih dahulu.

Terima kasih untuk antusias dan support kalian untuk cerita ini

Happy reading!

Wika pov.

"Dosen kamvreett!" omelku sangat kesal pada pak Pras.

Seharusnya pria itu senang dong karena hari ini aku tidak bolos di jam mata kuliahnya. Ah, tapi apa yang aku dapat hari ini? Cuma di permalukan di depan semua mahasiswa lainnya.

Sialll!

Sepertinya pak Pras menaruh dendam padaku sehingga dengan sengaja melakukan itu. Bodo ah, apapun itu alasannya tetap saja aku kesal dan benci padanya.

Karena di usir dari kelas, tak di izinkan untuk mengikuti mata kuliahnya pun aku memutuskan pergi ke kantin. Memesan makanan pada ibu kantin karena tadi memang aku tidak sempat sarapan. Sementara si Pras kutu kupret itu malah puas sarapan di rumah ku. Lhaa, kan kamvreett banget.

Sambil menikmati makanan dan minuman yang ku pesan, aku pun membuka ponsel dan sibuk membuka media sosial. Lumayan buat cuci mata lihat yang segar-segar berseliweran.

"Uuhh, ini kan aktor yang main film itu. Duh, lupa namanya, tapi masih oke aja meskipun udah kepala tiga." gumamku bicara sendiri ketika melihat sebuah foto public figur di salah satu aplikasi media sosial yang sekarang banyak di gandrungi anak-anak muda jaman sekarang.

Iseng-iseng aku mencoba mencari akun media sosial milik pak Pras kali saja ada. Ku cari dengan nama aslinya, Prasetyo Girandi. Ada banyak nama dari Prasetyo Girandi, tapi bukan akun medsos milik pak Pras yang ku dapatkan malah Pras lain yang wajahnya kebanyakan miris dan memprihatinkan.

Aku berpikir, apa mungkin jika pak Pras tak memakai akun media sosial satu pun? Hmm, benar-benar kolot.

Cukup lama aku duduk di bangku kantin, karena merasa bosan pun aku memilih pergi saja dan sudah tak berminat mengikuti mata kuliah selanjutnya. Membayar makanan yang ku makan tadi pada ibu kantin, kemudian ngacir pergi secepatnya dari kampus.

Awalnya aku berniat pulang ke rumah saja. Tapi, jika aku pulang lebih awal jam segini tentu mama bakalan curiga.

Akhirnya setelah berpikir cukup lama, aku menemukan tempat kemana aku akan menghabiskan waktu hari ini. Dengan semangat aku memanggil taksi dan menuju ke mall. Aku mengetikkan sesuatu di ponselku, mengirimkan pesan chat ke teman-temanku.

"Aku tunggu kalian pulang kuliah di mall. Oke, send." gumamku puas dan menyimpan ponselku ke dalam tas.

*****

"Kakak cantik!" saat asyik melihat-lihat deretan gaun-gaun yang indah, aku mendengar suara anak kecil yang begitu terasa terdengar di belakangku.

Aku membalikkan badan dan melihat Vania mendongakkan kepalanya melihat ke arah ku.

"Vania!" kaget ku dan langsung berjongkok di depannya.

"Vania benar, ternyata ini memang kakak cantik." ucapnya tersenyum sumringah.

"Sayang, kamu kenapa bisa disini?" tanyaku panik memegang tubuh mungilnya.

"Di ajak Tante Sofi." jawab Vania.

Tante Sofi? Maksudnya adik dari pak Pras?

"Oh ya, dimana Tante Sofi-nya sayang?" tanyaku.

"Enggak tahu, Vania tadi lihat kakak cantik terus ikutin."

Astaga! Bocah kecil ini, nekat sekali. Bagaimana jika seandainya tadi bukan aku.

"Sayang, jangan bilang kamu ninggalin tante Sofi sendirian." kataku lembut.

"Tante Sofi udah besar kakak cantik, jadi enggak akan ada yang culik Tante."

"Terus, gimana tadi kalau Vania yang di culik pas ikuti kakak cantik?" tanyaku menakutinya agar lain kali ia tak berbuat nekat.

"Iiihhh, gak mau di culik, seremmm." Vania menggelengkan matanya dengan mata berkaca-kaca.

"Makanya itu, lain kali jangan gini lagi ya. Vania harus tetap sama Tante Sofi kemana pun, jangan coba-coba pergi sendirian. Mengerti!" Vania menganggukkan kepalanya.

"Anak pintar," aku langsung mengecup sebelah pipi Vania gemas.

"Uhm, wanginya kamu sayang. Gemesss." kataku mencubit gemas dan lembut pipi Vania.

Saat asyik mencubit pipi Vania yang chubby dan kenyal empuk-empuk. Tiba-tiba seseorang menepiskan kasar tanganku dari pipi Vania. Aku mendongak ingin melihat siapa orang yang menepiskan tangan ku, ia menarik tubuh Vania menjauh dariku.

"Kamu gak apa-apa sayang?" tanya wanita itu menundukkan tubuhnya berjongkok di depan Vania.

"Ada yang luka gak sayang? apa wanita itu melukaimu Vania, huh? Wanita itu ingin menculikmu?" tanya wanita itu bertubi-tubi dengan wajah dan nada suara yang panik menangkup wajah Vania. Meneliti ke seluruh tubuh Vania mencari apakah ada luka yang ku berikan.

Vania menggeleng. "Itu kakak cantik Tante." beritahu Vania yang langsung bisa ku tebak jika itu benar Sofi, adiknya pak Pras.

"Hah? Kakak cantik?" ulang wanita itu merasa kaget.

Vania menganggukkan kepalanya, "iya Tante, ini kakak cantik yang Vania cerita kan tadi."

Mulut wanita itu menganga lebar saking syoknya, dengan cepat ia pun membekap mulutnya yang terbuka dengan sebelah tangan.

Aku mendengkus kesal, jadi tadi itu dia berpikir jika aku wanita jahat yang berniat menculik anak kecil seperti Vania?

Astogeh!

Masa cantik-cantik gini di tuduh sebagai penculik sih. Culik hati pak Pras aja boleh, gak?

Eh!

Tbc....

Double up! Sesuai permintaan, semoga suka

Satu kata untuk part ini?

Satu kata untuk Wika.

Dan satu kata untuk Sofi.

Ngoahaha 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status