Share

BAB 32

Setelah aku meninggalkan perpustakaan, aku pergi ke kamar untuk menunggu Adib—aku akan begadang untuk ini. Perdebatan tentang Aqmal sebelum dia memutuskan pergi, membuatku berpikir dan menyadari bahwa aku harus lebih baik kepada Adib. Mungkin dia sedang paranoid dan gila, tetapi perdebatan hanya akan memperburuk, tidak akan membuat lebih baik. Terlepas dari itu, Aqmal bukanlah ancaman nyata seperti yang dipikirkan Adib, dan aku tidak ingin merusak hubungan dengan keluarganya dengan membiarkan hal-hal menjadi tidak terkendali.

Aku mengiriminya pesan WA untuk menanyakan kapan dia akan pulang, tetapi dia tidak membalas, bahkan membacanya. Sebelum aku mandi, aku mengiriminya satu pesan lagi, mengatakan kepadanya bahwa aku minta maaf karena sudah membentak dan aku tidak ingin bertengkar dengannya lagi.

Air kamar mandi yang aku nyalakan terlalu panas, tetapi rasanya sangat nyaman untuk berdiri di bawah semprotan air panas ini, hingga aku lupa waktu.

Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status