LOGINApa jadinya, jika lelaki yang mengabiskan malam denganmu, ternyata adalah teman putramu sendiri? Vanya Oliver bertemu dengan Charlexon saat sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri. Saat itu Vanya dijebak, minumannya diberi obat. Charlexon yang kebetulan melihat menolong Vanya dan keduanya malah terjebak gairah cinta satu malam. Siapa sangka kejadian itu adalah awal mula bencana besar dikemudian hari. Apa yang terjadi?
View MoreSeorang perempuan berjalan terhuyung menuju kamarnya di sebuah hotel. Dia beberapa kali menghentikan langkah dan menggelengkan kepala untuk menghilangkan pusing.
"Sialan! Beraninya dia memberiku obat. Awas saja, aku akan membalasmu berkali-kali lipat. Ah, kepalaku ..." Perempuan itu kembali berjalan agar cepat sampai ke kamarnya, tapi tiba-tiba saja dia terjatuh. Beruntung seseorang dengan sigap menolong. Dia menahan tubuh perempua itu agar tidak terjatuh ke lantai. Perempuan itu menatap penolongnya, ternyata di adalah seorang lelaki muda yang tampan. "Nona, kamu baik-baik saja?" tanya lelaki muda tersebut dengan suara yang lembut. "A-ku, aku nggak apa-apa," jawab perempuan itu. Berusaha melepaskan diri dari dekapan lelaki muda. "Terima kasih sudah menolong, tapi aku bisa sendiri. Silakan lanjutkan kesibukanmu," ucap si perempuan yang kembali berjalan. Perempuan itu tampak sangat kesusahan melangkah dengan sepatu hak tingginya. "Aku harus sampai ke kamar sebelum efek obat ini semakin menguasaiku. Ahh ... badanku mulai panas," kata perempuan itu dalam hati. Tiba-tiba saja perempuan itu digendong oleh seseorang yang adalah lelaki muda sebelumnya. "Melihatmu yang kesusahan jalan dan tubuhmu yang berkeringat. Aku menebak kamu sudah diberi obat 'kan? Berapa nomor kamarmu? Aku akan mengantarmu," kata lelaki muda itu. "Tidak mau. Turunkan aku!" kata si perempuan menolak. "Aku tidak akan macam-macam. Percayalah," kata si lelaki muda dengan wajah yang serius. "Kamarku nomor ... " si perempuan memberitahu nomor kamarnya dan si lelaki segera memabawanya pergi. *** Sesampainya di kamar, si lelaki membaringkan si perempuan di tempat tidur. Dia segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya hendak menghubungi seseorang. Si perempuan terbangun dan langsung memeluk si lelaki muda dari belakang. Diusapnya lembut perutnya, membuat si lelaki muda terkejut. "A-apa yang kamu lakukan?" tanya si lelaki muda. "Tubuhmu bagus. Perutmu berotot dan punggungmu juga lebar. Apa kamu rajin berolah raga?" tanya si perempuan seolah sedang menggoda. "Jangan aneh-aneh. Lepaskan tanganmu," kata si lelaki muda. Si perempuan bukannya mendengarkan apa kata si lelaki muda, malah melakukan hal tak terduga. Dia nyusupkan tangannya masuk kendalam kaus si lelaki muda dan meraba area perut dan dada. "Sialan! Perempuan ini berani sekali sih. Dia nggak takut aku terkam apa?" kata si lelaki muda dalam hati. Si lelaki muda langsung melepas paksa pelukan dan berbalik menatap si perempuan. Si perempuan menatap lelaki muda dan tiba-tiba mendekatkan tubuhnya. Tanpa banyak bicara si perempuan tiba-tiba saja mencium si lelaki muda. "Umh ... " Si perempuan melepas ciuman. Dia menarik kaus lelaki muda itu dan menatapnya lekat. "Kamu mau membantuku? Aku sudah nggak tahan lagi. Tubuhku rasanya panas," kata si perempuan. "Jangan aneh-aneh. Tidurlah dan tahan sedikit lebih lama. Aku akan panggil pegawai hotel untuk datang membantumu," kata si lelaki muda, berusaha menahan diri. Si perempuan mendekatkan wajahnya ke wajah si lelaki. "Apa aku nggak menarik bagimu? Iya sih, aku sudah tua. Jadi, lelaki muda sepertimu nggak akan mau. Ya sudah kalau nggak mau. Aku akan mencari lelaki lain saja," kata si perempuan. "Apa kamu sudah gila? Apa maksudmu mencari lelaki lain?" kata si lekaki muda. "Mau gimana lagi. Aku sudah nggak tahan lagi. Rasanya badanku ahh ... " kata si perempuan mencengkram kuat lengan si lelaki muda. Lelaki muda melihat, perempuan di hadapannya memang sedang kesulitan. Namun, dia masih ragu dan kembali menyakinkan si perempuan. "Apa kamu serius? Kalau aku membantumu, itu artinya kamu dan aku akan bercinta lho. Apa kamu nggak masalah? Sedangkan kita baru beberapa menit lalu bertemu," kata si lelaki. "Aku nggak masalah. Ayo, cepat lakukan. Aku sudah nggak bisa nahan diri lagi," kata si perempuan. "Ini kamu yang minta ya," kata si lelaki muda. Si lelaki muda langsung mencium bibir si perempuan. Dia melumat dan menghisap bibir si perempuan dengan rakus. "Umh, mhh ..." Tampak si perempuan begitu menikmati saat bibirnya diserang. "Sialan! Padahal cuma ciuman, tapi punyaku sudah langsung berdiri. Apa aku sudah nggak waras?" tanya si lelaki muda dalam hati. Tak lama ciuman terlepas, keduanya saling menatap dalam penuh rasa haus. "Boleh aku lanjutkan?" tanya si lelaki muda. Yang langsung dijawab anggukan kepala oleh si perempuan. Tak butuh waktu lama, keduanya sudah menanggalkan pakaian masing-masing. "Dia seksi banget. Gila ... " kata si lelaki muda dalam hati. Si lelaki muda yang sudah tidak tahan, mulai menjelajah. Dia memegang dan meremas apa yang diinginkannya. Diciumnya setiap inti tubuh si perempuan, membuat si perempuan semakin kepanasan. "Umh, ahh ... " desah si perempuan. "Gila! Apa dia pemain? Tangan dan bibirnya sungguh lihai," kata si perempuan dalam hati. "Cu-cukup main-mainnya. Ma-masukkan," kata si perempuan dengan tatapan mata seolah memohon. "Kamu bilang apa? Aku nggak dengar," jawab si lelaki. Sengaja menggoda si perempuan. Si perempuan mengusap wajah tampan si lelaki, "cepat masukkan milikmu. Aku sudah nggak tahan lagi," ucapnya. "Dengan senang hati," jawab si lelaki muda tersenyum puas. Dengan hati-hati dan perlahan, si lelaki muda memasukkan miliknnya. Membuat si perempuan menjerit kesakitan sampai meneteskan air mata. "Ahhh ... sa-sakit! Pelan-pelan ... " kata si perempuan. Sedetik kemudian mereka telah menyatu. Si lelaki muda menyeka air mata si perempuan, lalu mencium kedua kelopak mata si perempuan. "Maafkan aku. Apa sangat sakit?" tannya si lelaki muda dengan suara lembut. Si perempuan menganggukkan kepala perlahan, "i-iya. Sakit sekali," jawabnya. Si lelaki melihat ada darah yang mengalir diantara kedua kaki si perempuan, dia pun terkejut. "I-ini ... pertama kalinya buatmu?" tanya si lelaki. "Ya," jawab si perempuan. Si lelaki terdiam sesaat. Pikirannya campur aduk. "Apa mau aku keluarkan dan hentikan saja?" tanya si lelaki menatap dalam si perempuan. "Ti-tdak. Jangan lakukan itu. La-lanjutkan saja," kata si perempuan. Memegang erat lengan si lelaki. "Kamu yakin?" tanya si lelaki. "Ya. Jadi, tolong lanjutkan. Kumohon," kata si perempuan memohon dengan tatapan mata memelas. "Ok. Kalau begitu tahanlah sedikit walaupun terasa sakit. Aku akan melakukannya dengan perlahan," kata si lelaki. Si lelaki muda tak bisa menolak permintaan si perempuan. Dia mulai menggerakkan tubuhnya dengan perlahan. Membuat si perempuan menjerit dan mendesah penuh nikmat. "Ahhh ... ahhh ..." "Ahhh ..." "Apa masih sakit?" tanya si lelaki. "Se-sedikit. Ahh ... ahh ..." jawab si perempuan. Si lelaki memeluk tubuh si perempuan, lalu berbisik sesuatu. "Kamu begitu cantik. Sampai membuatku gila," bisiknya. Bisikan si lelaki membuat wajah si perempuan merona. Dadanya berdegup kencang. Si lelaki terus menggerakkan tubuhnya. Dia mulai mempercepat tempo permainannya, dan membuat si perempuan semakin merintih. Malam itu keduanya sungguh liar. Entah berapa kali mereka saling menyatu. *** Keesokan harinya ... Si perempuan membuka mata dari tidurnya. Dia merasakan sesuatu yang aneh. Dia merasa dipeluk seseorang dari belakang. Dibukanya selimut dan dia terkejut mendapati ada tangan yang melingkari perutnya. "Ta-tangan siapa?" tanya si perempuan dengan mata melebar. "Apa yang terjadi? Kenapa aku nggak pakai baju? Gila ... aku habis ngapain?" kata si perempuan dalam hati. Si perempuan memalingkan pandangan, dan melihat ada sosok asing tidur di sampingnya. Si perempuan terkejut, "si-siapa, dia?" Si perempuan segera menyingkirka tangan si lelaki asing dari perutnya, lalu dia bergegas bangun dari tempat tidur. Tiba-tiba si perempuan merasakan sakit yang luar biasa dibagian pinggangnya. "Ouch ... pinggangku," ucap si perempuan. "Kamu nggak apa-apa?" tanya si lelaki, yang tiba-tiba saja sudah ada disamping si perempuan. Ternyata si lelaki sudah bangun dari tidurnya. Dia menatap si perempuan dengan begitu lekat. Si perempuan menatap si lelaki muda, "kamu siapa?" tanyanya. "Aku adalah lelaki yang memuaskanmu," jawab si lelaki tanpa rasa malu. "Apa?" tanya si perempuan. "Apa kamu sama sekali nggak ingat?" tanya si lelaki muda. Si perempuan terdiam. Dia mencoba berpikir. Apa saja yang sudah dia lakukan semalaman. Sampai ahirnya perlahan ingatan demi ingatan muncul. "Gi-gila ... apa yang sudah aku lakukan bersama lelaki ini?" tanya si perempuan dalam hati. Saat ingat kalau di sudah melakukan sesutu dengan lelaki muda di sampingnya. "Sudah ingat?" tanya si lelaki menatap Si perempuan. "E-enggak. Aku sama sekali nggak ingat apa-apa," jawab si perempuan berbohong. "Lantas?" tanya si lelaki. "Apanya? Karena aku nggk ingat, kita saling tutup mata aja. Anggap nggak pernah terjadi. Mari kita lupakan kejadian ini," kata si perempuan. "Apa? Bagaimana bisa ka ... " kata si lelaki muda yang langsung dipotong oleh si perempuan. Si perempuan menggulung tubuhnya dengan selimut, "aku mau mandi. Kamu juga bisa pergi," katanya, mengusir secara halus. Si perempuan mengambil tasnya, lalu mengeluarkan sejumlah uang. Dia meletakkan sejumlah uang itu di atas tempat tidur. "Segini lebih dari cukup untuk mengganti rugi pakaianmu," kata si perempuan dengan suara dingin. Si perempuan berjalan cepat menuju kamar mandi. Dia buru-buru mandi dan membersihkan diri.Vanya berada di ruangan Nicky, keduanya berbincang serius terkait kejadian di ruang rapat."Kamu sengaja buat Robert marah 'kan?" tanya Vanya."Ya, saya memang sengaja. Mau bagaimana lagi, saya mau semua orang tahu bagaimana sifat buruknya. Maafkan saya," jawab Nicky mengakui."Untuk apa minta maaf. Kerja bagus. Lain kali ajak-ajak aku kalau mau mancing emosi Robert ya," kata Vanya."Apa? Ah, iya. Saya mengerti," jawab Nicky bingung."Apa yang sebenarnya Bu Vanya pikirkan, ya? Hah, sudahlah. Beliau 'kan atasanku. Apapun keinginan atasan harus terpenuhi," kata Nicky dalam hati.Vanya duduk bersandar, lalu melipat dua tangan di dada."Robert oh Robert ... akan aku pastikan keinginammu terkubur. Mau memiliki kepunyaan Hansel? Jangan bermimpi," kata Vanya dalam hati."Anda membuat saya terkejut, Bu. Saya kira anda akan mengungkapkan semuanya tadu," kata Nicky.Vanya menatap Nicky, "aku nggak sebodoh itu, Nick. Kalau aku ungkap semua, hanya Robert yang akan mendapat keuntungan. Kamu 'kan
Nicky tahu betul sifat Robert. Dan memang sengaja memancing emosi Robert. Dia ingin Robert marah sampai meluap-luap, agar semua orang di sana tahu seperti apa Robert sebenarnya. "Karena aku nggak punya apa-apa untuk mencegahmu. Maka aku mau tak mau menggunakam cara seperti ini. Mempermainkan emosimu dan membuatmu menggila di sini. Semua yang mendukungmu nggak mungkin diam saja melihat kelakuan gilamu," kata Nicky dalam hati. Nicky menatap Robert yang hanya diam membelakanginya, "kenapa diam saja? Apa kamu sudah kehabisan kata-kata untuk ucapkan?" tanyanya. "Diam, kamu! Bagaimanapun caramu menghalangi kami, kamu nggak akan berhasil. Para pemegang saham yang hadir sudah mendukungku sepenuhnya. Di sini nggak ada yang membelamu," kata Robert marah. "Mereka mendukungmu, lalu kamu akan jadi CEO, begitu? Jangan mimpi! Posisi itu hanya pantas untuk Tuan Muda. Bukan bajingan samlah sepertimu," kata Nicky, meluapkan emosi. Robert tersenyum menatap Nicky, "Hansel, jadi CEO? Apa dia layak? Bo
Nicky datang ke ruangan Hansel, membawa apa yang Vanya butuhkan. Begitu sampai di ruangan, Nicky merasakan suasana dalam ruangan begitu dingin dan mencekam."Eh, kok dingin banget ya? Apa petugas kebersihan nurunin suhu pendingin ruangan?" kata Nicky dalam hati."Bu, saya bawa berkasnya," kata Nicky. Berjalan mendekati Vanya."Hm, taruh saja di atas meja. Nanti aku periksa," jawab Vanya. Yang masih tajam menatap Vicktor yang berdiri tak jauh darinya.Nicky meletakkan berkas dokumen di atas meja, lalu menatap Vanya, dan mengarahkan pandangan ke arah Victor."Bu, ada apa?" tanya Nicky. Kembali menatap Vanya bingung."Tanyakan saja padanya," jawab Vanya, menunjuk Victor.Nicky menatap Victor, "ada apa? Apa yang terjadi?" tanyanya mendesak Victor bicara."Pak Nicky, tolong saya, Pak. Perempuan yang entah dari mana asalnya ini menindas saya. Saya tidak tahu apa kesalahan saya, tiba-tiba dia marah-marah dan mengancam saya. Saya menuntut keadilan dan permintaan maaf darinya," kata Victor."
Vanya berada di depan pintu ruang CEO, di mana Hansel berada. Dia mengetuk pintu, lalu membuka pintu dan segera masuk."Siapa?" tanya Hansel. Yang sedang menatap lekat layar komputer.Vanya berjalan perlahan mendekati Hansel, "hai," sapanya.Hansel terkejut. Dia segera memalingkan pandangan karena mendengar suara yang tidak asing di telinganya."Ma," panggil Hansel tersenyum senang.Hansel langsung berdiri dan menuntun mamanya untuk duduk di kursi kerjanya.Vanya menurut dan langsung duduk, "sibuk ya?" tanyanya.Hansel menggeleng cepat, "enggak sibuk kok. Santai aja," jawabnya.Vanya menatap layar komputer Hansel. Melihat apa yang sedang Hansel lihat sebelumnya."Apa ini data penjualan?" tanya Vanya."Iya," jawab Hansel.Vanya tertarik setelah melihat data tersebut, dan langsung memeriksa.Vanya memasang wajah serius, membuat Hansel penasaran dengan apa yang dilihat Vanya."Ada apa, Ma?" tanyanya."Hans ... ini data bulan ini, 'kan? kamu ada lihat data bulan-bulan sebelumnya, nggak?"






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews