Mutualism Marriage
Mutualism Marriage
Author: Mami Ge
Simbiosis Mutualisme

"Mereka sudah keterlaluan!" gerutu Sandra sambil menelusuri jalanan yang masih ramai oleh kendaraan lalu lalang.

"Suatu saat aku akan menikah dan membuat mereka menyesal telah memperlakukanku dan keluargaku seperti itu." Sandra mengepal kedua tangannya sambil terus melangkahkan kaki.

Dia terpaksa meninggalkan orang tua dan adiknya, sebelum kemarahannya tak terkendalikan. Sandra keluar dari rumah neneknya dan memilih pulang sendiri ke kosnya.

Tiba-tiba sebuah mobil menyerempetnya yang hendak menyeberangi jalan. Pengemudi mobil itu keluar, menghampiri Sandra yang terjatuh, seorang pria dengan setelan formal. Sandra tak dapat menampik bahwa makhluk di hadapannya itu sangat tampan.

"Maaf, berapa uang yang harus kubayarkan?" Kekaguman Sandra seketika sirna mendengar ucapannya.

"Apa? Kamu gak lihat kakiku berdarah?" Sandra yang sejak tadi sudah dirudung emosi, kembali mengangkat suaranya.

"Justru itu," jawab laki-laki itu dengan santai.

"Aku mau kamu bawa aku ke rumah sakit dan membayar biayanya di sana!" tegas Sandra.

Laki-laki itu berpaling sejenak untuk membuang kekesalan yang juga bersarang di dadanya. Lalu dia kembali menatap Sandra.

"Baik, ayo ikut!" Dia mengulurkan tangan, membantu Sandra berdiri. Setelah masuk, mobilnya kembali melaju, membelah keramaian malam.

Tidak ada percakapan di antara mereka. Tiba-tiba ketakutan menghantui Sandra. Apa benar-benar laki-laki yang duduk di sampingnya itu akan membawanya ke rumah sakit atau justru melakukan sesuatu hal buruk padanya. Sandra merasa mereka melewati jalan asing, bukan ke rumah sakit.

"Ki-kita kenapa ke sini?" Mobilnya masuk ke dalam perkarangan sebuah rumah mewah.

"Kamu akan diobati di sana," beritahu laki-laki itu dengan dinginnya.

"Aku gak mau masuk ke tempat asing," teriak Sandra.

"Aku gak akan menyentuhmu. Di dalam sana ada keluarga besarku, jadi bersikap santai dan manislah." Laki-laki itu seolah tahu apa yang sedang ditakuti oleh Sandra.

Tidak ada pilihan, Sandra terpaksa ikut masuk ke dalam rumah mewah itu. Jauh lebih mewah dibandingkan rumah nenek atau saudara-saudara ibunya. Dengan kaki  pincang, dia mengiringi langkah laki-laki itu.

Mereka masuk sampai ke ruang makan. Di sana ada sebuah meja makan besar, ada belasan orang yang duduk di sana, menatap heran pada kehadiran mereka berdua. Sandra yang terkejut, memeriksa penampilannya yang jauh dari kata anggun.

"Adriel," sapa seorang pria tua yang duduk di bangku utama.

"Maaf terlambat, Kek," ucap laki-laki yang kini sedang menggandeng tangan Sandra.

"Ayo, langsung duduk," suruh wanita tua yang duduk di dekat pria tadi.

Adriel membawa Sandra mendekati meja makan. Semua masih terpana melihat wanita yang datang bersamanya. Mereka mengisi tempat duduk yang kosong, yang ternyata memang disediakan untuk mereka.

"Perkenalkan, ini calon istriku. Kami akan segera menikah." Semua semakin terkejut mendengar pernyataan Adriel, termasuk Sandra yang sedang meneguk minumannya.

Tidak ada yang bertanya mengenai keputusan Adriel. Semua sibuk saling pandang dan akan berani berargumen saat cucu kesayang Dewanda dan Melati itu sudah pergi. Makan malam itu mereka lalui dalam sunyi dan kekakuan. Hanya kakek dan neneknya yang tersenyum bahagia, menerima kabar bahagia dari Adriel.

***

"Kamu apa-apaan?" sergah Sandra ketika mereka sudah kembali berada di dalam mobil.

"Kita akan menikah, itu keinginan mereka," ujar Adriel dingin.

"Aku gak mau!" tegas Sandra setengah berteriak.

"Aku akan membayarmu," jawab Adriel, menatap Sandra dengan sombong.

"Jangan kamu pikir, aku perempuan yang bisa kamu beli." Sandra menantang mata Adriel.

"Aku tidak berniat membelimu. Aku hanya membayarmu hingga tujuanku tercapai. Setelah itu, hubungan kita berakhir." Mata Adriel menyisir wanita yang duduk di sampingnya itu.

Tiba-tiba sebuah rencana lahir di benaknya. Sandra teringat akan tekadnya untuk membalas perlakuan keluarga ibunya padanya. Senyum tipis terbit di bibirnya, dia menatap Adriel beberapa detik sebelum mulai bicara.

"Aku tidak perlu dibayar olehmu, tapi kita bisa bersimbiosis mutualisme." Sandra mengangkat kedua alisnya.

"Maksudmu?" Kedua alis Adriel beradu.

"Jika kamu butuh aku berpura-pura menjadi istrimu untuk sebuah tujuan, aku juga butuh kamu pura-pura menjadi suamiku untuk sebuah tujuan." Senyuman gadis bermata kecil itu melebar.

"Kamu jangan coba-coba memanfaatkanku. Kamu tidak tahu siapa aku?"

"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Terserah kamu, mau atau tidak." Sandra berlagak hendak membuka pintu mobil, padahal dia tidak tahu jalan untuk pulang dari kediaman keluarga Adriel itu.

"Tunggu! Aku perlu tahu, apa tujuanmu?" Adriel menahannya.

"Kalau begitu, aku juga harus tahu apa tujuanmu." Alih-alih menjelaskannya, Sandra justru mengembalikan pertanyaan Adriel padanya sendiri.

"Apa itu butuh?" Kekesalan mulai mengisi suara Adriel.

"Sama seperti kamu juga butuh alasanku." 

"OK. Aku diharuskan menikah oleh kakek dan nenekku," jelas Adriel singkat.

"Aku gak yakin hanya itu." Sandra menyipitkan matanya.

"Memang hanya itu. Sekarang beritahu alasanmu!" Adriel kesal dicurigai seperti itu.

"Aku hanya ingin membalas orang-orang yang telah menghinaku dan keluargaku. Mereka pikir aku akan menjadi perawan tua atau hanya sanggup menikah dengan pria miskin."

"Kamu mau memanfaatkan kekayaanku?" Adriel tertawa meledek.

"Aku mungkin hanya meminjam fasilitas darimu untuk meyakinkan mereka. Tidak akan aku ambil. Kalau pun ada uangmu yang terpakai, aku akan menggantinya. Aku ini bekerja." Sandra tidak mau dianggap perempuan matre oleh Adriel.

"Tapi, aku kurang yakin." Mata Adriel tertuju pada sepatu flat yang dipakai oleh Sandra. Menyadari hal itu, Sandra menggeser-geser kakinya yang hanya beralaskan sepatu bermerk lokal.

"Terserah kamu, sih. Kalau kamu tidak terima, berarti aku tidak bisa menjadi istrimu." Sandra berusaha mengalihkan perhatian Adriel, dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke hadapan Adriel.

"Jangan pikir kamu akan bisa memegang kendali." Tatapan Adriel semakin tajam dan semakin dekat.

Tanpa peringatan, Adriel langsung menyerang wanita yang di hadapannya itu. Sebelah tangannya telah mengunci kepala Sandra dari belakang dan yang sebelahnya lagi melingkar di pinggang Sandra. Wajah mereka tak berjarak, Sandra dapat merasakan sesuatu yang lembut dan basah di bibirnya.

Sandra tak bisa melawan, Adriel terlalu kuat menguncinya. Hitungan detik, dia memasrahkan dirinya pada kekuasaan Adriel. Bahkan tidak sadar ketika pria itu melepas tangannya dari pinggang Sandra. Adriel mengangkat ponsel yang sudah digenggamnya sejak tadi dengan kamera yang sudah diaktifkan. Dengan satu kali kilatan, pose mereka terabadikan dalam ponsel Adriel.

Menyadari kelicikan Adriel, Sandra yang sempat hanyut segera mendorong tubuh laki-laki itu. Kekuatan yang hilang, tiba-tiba muncul kembali. Tangannya terangkat, hendak mendaratkan sebuah tamparan pada Adriel. Namun, secepat kilat, laki-laki itu menangkap tangannya.

"Kamu akan menjadi istriku!" Adriel tersenyum licik, "Jika tidak mau foto ini tersebar luas dan mempermalukanmu."

Sandra baru menyadari ponselnya tidak ada di dalam tas kecilnya ketika Adriel mengayun-ayunkan benda itu di hadapannya. Saat dia terjatuh tadi, tasnya yang hanya berkancing magnet, terbuka. Ingin rasaya dia menghilang dari dunia, menghadapi permasalahan ini jauh lebih berat daripada nyinyiran keluarga besarnya.

"Kamu?" geram Sandra.

"Aku akan menuruti maumu, tapi jangan coba-coba memanfaatkanku apalagi menipuku."

Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Adriel langsung memacu mobilnya. Dia mengantar Sandra ke klinik untuk mengobati kakinya, lalu lanjut ke tempat kosnya. Orang tua dan adiknya sudah kembali dari rumah neneknya.

"Kita mulai sandiwara kita malam ini." Adriel ikut keluar dari mobil ketika mengetahui yang berdiri di depan pintu adalah orang tua Sandra.

"Apa?" Sandra terkejut mendengar pernyataan Adriel, namun terlambat, laki-laki itu sudah keluar dan tak dapat lagi dicegah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status