P E S O N A -5-

Sedari tadi, tak hentinya ibuku terus bertanya sehabis melihat aku pulang dengan keadaan pakaian kusut dan rambut berantakan, ibu terus bertanya tentang berita yang ada di koran dan televisi yang membawa namaku dan pria sialan itu. Sungguh aku tak menyangka jika dia bisa memakai cara kotor seperti itu dengan mempermainkan harga diri seorang gadis hanya karena dendam. Sepertinya hatinya sudah dibutakan oleh dendam hingga bisa melakukan apapun.

Sejak pulang pun, aku belum membuka suara sama sekali, aku masih diam dan menatap kesal pada tayangan berita di televisi yang seakan menggambarkan jika aku adalah gadis murahan padahal nyatanya pria itu menjebakku. Namun mana mungkin media yang merupakan tempat pria itu berjaya mau mendengarkan cerita versiku? Mereka pasti akan lebih mendengarkan idola mereka. Jadi percuma melakukan klarifikasi atas masalah ini.

"Nandin."

"Ibu sedari tadi bertanya padamu namun kau hanya diam dan tidak menjawab satu pun pertanyaan Ibu."

"Apa yang terjadi hingga Tama bisa memposting foto kalian yang tertidur di kasur yang sama?"

"Ibu yakin kau tidak akan melakukan tindakan murahan yang akan membuat Ibu malu. Pasti ada penyebabnya, apa pria itu memaksamu?"

Aku hendak menjawab pertanyaan Ibuku namun suara dering panggilan dari ponselku membuat aku tak jadi bicara lalu mengambil ponselku yang berada di dalam tas. Nama Indra yang merupakan tunanganku tertera di layar ponselku. Sejenak aku menghela nafas kasar sejenak untuk menenangkan diri karena aku tahu kemana arah pembicaraan ini.

Baru akhirnya aku mengangkat panggilan tersebut, ibu terlihat penasaran setelah tahu bahwa Indra yang menelepon. Sebelum tunanganku itu bicara, aku sudah lebih dulu bicara.

"Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Jadi sebelum kau memutuskan pertunangan kita maka aku sudah lebih dulu memutuskan pertunangan kita. Jangan hubungi aku lagi dan aku anggap kita selesai sampai di sini."

Tanpa menunggu balasan dari pria itu, aku langsung mematikan sambungan panggilan karena merasa pria itu tak penting lagi. Sudah cukup aku ditolak mentah-mentah dulu dengan penghinaan yang menyakitkan, aku tak akan masuk ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Tak ada drama marah-marah ketika melihat calon istrinya tidur dengan pria lain dan tak ada drama memohon dengan tangisan ketika calon suami memutuskan hubungan. Semuanya berjalan sesuai keinginanku, tanpa drama, dan semuanya kembali seperti semula.

Ibu mematap terkejut ke arahku karena mendengar ucapanku. Sebenarnya aku hanya takut jika kejadian ini akan berdampak pada ibu yang sudah rentan di usia tuanya. Aku tidak peduli pada yang lain seperti nama baik, pertunangan, dan nasibku. Aku pun tak sedih memutuskan pertunangan ini karena aku tak mencintai Indra, aku berpura-pura bahagia dengan pertunangan ini karena permintaan ibu yang ingin melihat aku menikah.

"Kenapa kamu memutuskan hubungan dengan Indra, mungkin saja dia hanya butuh penjelasan darimu."

"Bu, orang idiot pun tahu jika maksud Indra menelepon untuk memutuskan pertunangan kami karena tak mau berhubungan dengan gadis yang menjadi bahan gosip Negeri ini. Sebelum dia mempermalukanku, maka aku yang akan mempermalukannya."

Aku tak mengerti kenapa ibu masih saja bisa berpikir positif walaupun kemungkinan semua akan baik-baik saja hanya 0.1%. Berbeda dengan ibu, aku berpikir realistis dan tak berharap, berusaha menjelaskan padanya jika pemikirannya salah dengan nada bicara pelan dan lembut karena tak mau membuat ibu menjadi sakit akibat semua deretan peristiwa buruk ini.

"Baiklah. Anggap dugaanmu benar. Sekarang jelaskan apa yang terjadi hingga Tama memposting foto kalian berdua sedang tertidur di akun media sosialnya?"

"Dia menjebakku dan memberiku obat bius. Aku tak tahu bagaimana caranya, namun yang aku ingat hanya ketika aku ingin pulang lalu ada yang membiusku dari belakang."

Rasanya kepalaku sangat pusing dengan semua ini, apalagi bunyi notifikasi dari akun media sosialku yang banjir komentar negatif dan mencibir diriku, mereka semua adalah penggemar bajingan itu yang memuja bajingan itu hingga tak bisa melihat sifat buruk bajingan itu. Mengingat dirinya saja membuat aku ingin muntah karena jijik dengannya.

"Ibu percaya dengan kamu, biarkan Dunia bicara apapun, Ibu akan tetap di sisimu dan mendukungmu."

"Makasih atas kepercayaan Ibu, Nandin engga akan mengecewakan Ibu."

Ketika ibu mulai memelukku dan menguatkanku saat itu juga aku merasa lebih kuat menghadapi semua ini. Aku membalas memeluk ibu dengan erat sambil memikirkan bagaimana cara membalas pria itu. Aku tak akan tinggal diam saja saat ada yang mempermainkan harga diriku sebagai perempuan terhormat.

"Nak, Ibu ingin melihatmu menikah dan berkeluarga. Namun sepertinya Ibu tak akan melihat hal itu."

Ibuku ini memang tahu bagaimana caranya membuat aku menurut, dia langsung menunjukkan raut wajah sedih di depanku. Namun kesedihannya membuatku memiliki ide yang benar-benar licik untuk Tama.

"Ibu akan melihatku menikah."

"Apa? Dengan siapa?"

Aku tahu ini terlalu terburu-buru dan mengejutkan apalagi setelah batalnya pertunanganku. Namun tak ada cara lain lagi, ibu terlihat tak percaya ketika aku mengatakan hal itu. Aku pun langsung menyebut nama pria bajingan yang menjebakku dalam kasus murahan ini.

"Dengan Tama Andrian Thomas."

"Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa kau berpikir menikah dengan pria licik seperti itu? Cukup ajang balas dendamnya. Lupakan pria itu!"

"Aku sudah melupakannya sebulan yang lalu namun dia malah datang kembali dalam hidupku dengan membawa bencana yang menyulitkan kita."

"Tapi, Nak ....

"Bu, tolong untuk kali ini Ibu engga akan menghentikan aku. Ibu cukup merestui aku dan aku yang akan menjalankan rencanaku."

Sebelum ibu kembali mengajukan protes dan penolakannya, aku lebih dulu menyela ucapannya dan menggenggam tangannya, menatap dirinya dengan tatapan penuh keyakinan dan berusaha membuatnya percaya dengan keputusanku karena aku tidak bisa bertindak lebih tanpa restunya.

"Baiklah, namun kau harus berjanji untuk berhati-hati menghadapi pria itu."

Aku mengangguk dengan wajah senang lalu segera menelepon nomor media berita yang sempat menemui aku sebulan lalu saat aku memposting masa laluku dengan Tama. Tak butuh waktu lama, sambungan panggilan langsung diangkat dan aku pun langsung menjawab pertanyaan dari media berita ini.

"Selamat pagi, ada apa dan dengan siapa?"

"Selamat pagi, ini saya Nandini Safira, apa benar ini media berita Secret Artist?"

"Ya, astaga Nona Nandini menelepon. Siapkan buku catatan. Ada apa ya, Nona?"

Senyumku semakin lebar saat mendengar antusias dari karyawan yang mengangkat panggilanku. Bahkan sampai terdengar suara krasak-krusuk dari seberang sana. Sepertinya karyawan itu memanggil teman-temannya, hal ini membuat aku semakin yakin jika apa yang aku lakukan akan berhasil. Dengan bangga dan penuh percaya sir aku pun mengajukan pertanyaanku, mereka langsung berteriak histeris karena tak menyangka akan mendapat durian runtuh.

"Saya ingin memberikan klarifikasi saya secara live di media berita kalian soal masalah hubunganku dengan aktor Tama. Apa bisa?"

"Tentu saja bisa!"

Tangerang, 03 Februari 2021


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status