Ahli Waris
Ahli Waris
Author: Esi Apresia
Seratus Juta Semalam

Kamar apartemen termegah di salah satu kota Jakarta tampak remang-remang di malam hari. Kedua mataku rasanya sangat berat, membuat aku semakin susah membukanya. Aku juga merasakan tubuhku sangat memanas, atau lebihnya berhasrat. Kedua mataku sedikit mengernyit melihat seorang wanita berkacak pinggang di hadapanku.

“Hah, bagaimana mungkin aku berhasil didapatkannya? Padahal aku bersusah payah berlari untuk menghindar darinya.”

Wanita itu berjalan menuju ke ranjang dengan pelan, tempat di mana aku terbaring. Semakin dekat, aku semakin jelas melihatnya.

“Tidak mungkin aku akan melakukannya. Tapi, aku ini laki-laki normal. Tidak mungkin aku akan tahan melihat wanita sangat cantik di hadapanku. Duh, bagaimana ini, milikku sangat berdiri.”

Dia semakin mendekatiku. Kedua miliknya yang menggunung di atas tubuhnya, berada tepat di hadapanku. Aku melotot melihatnya. Bentuknya sangat indah bulat sempurna. Apalagi kulitnya putih dan sangat mulus. Dia tidak mengenakan busana sama sekali. Bagaimana bisa aku mengatasi naluri laki-lakiku ini? Dia berada di atas tubuhku.

“Aku tidak tahan ... ah …”

***

Seorang pemuda bernama Kanjeng Gusti Adipati Agus Wirojoyo Negara berumur dua puluh lima tahun, itulah aku. Namaku yang bergelar keturunan bangsawan tentunya sangat panjang. Namun, semua orang biasa memanggilku Raden Agus. Aku anak pertama pengusaha terkaya, keturunan bangsawan kota Jogjakarta. Sudah jelas aku pemuda paling diincar banyak sekali gadis.

Rumahku saja berbentuk khas keraton seperti jaman kerajaan tempo dulu berbalut modern, ditambah dengan kayu jati dan ukiran khas Jawa antik yang membuatnya sangat indah. Apalagi ukurannya seluas lapangan sepak bola, dengan kolam renang di tengah halaman yang selalu menjadi tempat kesukaanku. Belum lagi, gapura pintu masuk yang sangat megah dan mewah dengan ukiran berwarna hitam bercampur abu, membuat semua orang jika masuk ke dalam rumahku selalu memujinya.

Sembari berlutut di lantai marmer megah dalam rumahku, kepalaku menunduk selagi mendengarkan Bapak yang sedang marah.

“Agus, bagaimana bisa kau mencari calon nyonya besar yang sangat cocok denganmu?!” bentak Bapak.

“Bagaimana yang Bapak inginkan?” tanyaku masih dengan menundukkan kepala.

“Aku harus menjodohkan seorang wanita denganmu. Ini sangat penting, dan kau harus menikahinya, tanpa alasan apapun,” ucap Bapak yang sangat tidak masuk akal. Aku tidak bisa menerimanya. Yang aku inginkan wanita sangat sederhana, kalem, polos, dan tidak menyukai uangku. Apalagi tidak mengenalnya, mana mungkin aku bisa menerimanya.

“Bagaimana jika Agus menolaknya, Bapak?” tanyaku yang akan membuat keadaan semakin buruk. Ibu bersama kedua adik kembarku Nena dan Neni, menatap dengan menggeleng.

“Agus, apa yang akan kau lakukan?”

Bapak akhirnya menyerah. Bapak duduk sambil memandangku di kursi mewahnya. Ibu segera mendekatinya. Ibu mengelus pundak Bapak sambil melotot kearahku. Ibu menginginkan aku mengatakan iya, dengan pernikahan ini. Tapi, sayangnya aku tetap berkata, “Tidak Bapak, maafkan! Agus akan mencari wanita pendamping sendiri,” jawabku yang membuat Bapak pastinya akan melempar sesuatu di hadapanku.

“Prang!"

Bapak melempar gelas yang berada di atas meja tidak jauh dari posisinya, hingga pecah berserakan di lantai. Namun, aku masih bersyukur lemparannya jauh dari posisiku.

“Seratus hari, dan itu waktumu!” Bapak menunjukkan jari kanannya tepat di wajahku.

“Baiklah,” jawabku singkat sambil menghela nafas.

Ibuku menangis saat Bapak tiba-tiba melemparkan barangku keluar rumah. Tas ransel yang sudah aku siapkan jika memang akan diusir dari rumah.

“Kau tidak akan membawa uang sepeserpun. Jika ada yang membantunya, akan mengikuti dia!” teriak Bapak membuat semua orang di dalam ruangan menggeleng ketakutan. Bapak segera berjalan masuk ke dalam kamarnya.

“Brak!"

"Ibu, cepat ke sini!” teriak Bapak yang sangat kencang, sambil membanting pintu kamar milik Bapak yang super mewah itu. Pintu dari kayu jati dengan ukiran khas Jawa yang sangat indah.

“Agus, kenapa kamu tidak menerima saja wanita itu?” Ibu menangis memelukku. Ibu masih saja belum menuju kamar Bapak, padahal sudah jelas ditunggunya. Ibu sangat sedih melihatku diusir dari rumah.

“Ibu tidak perlu kawatir. Agus akan membawa calon istri tiga bulan lagi. Tunggu Agus ya, Bu!”

“Bapakmu memang keras. Tapi, ini adalah kebaikan untukmu dan keluarga, Gus.” Paman yang juga berada di rumahku, masih berusaha untuk merubah pikiranku yang sangat keras ini.

“Terima kasih Paman, Ibu, Agus pergi dulu. Nena, Neni, Mas pergi dulu ya, jaga Ibu!”

“Lalu kamu naik apa?” tanya Ibu sambil menatap segala arah. Sementara, adik perempuan kembarku Nena dan Neni, hanya diam menyilangkan kedua tangannya.

Bibirku tersenyum melihat Rahman teman dekatku yang melambaikan tangan di depan pagar rumah. “Ada Rahman Bu, yang akan membawaku,” kataku yang sedikit melegakan hati Ibu. Namun, aku mengernyit melihat Ibu menolehkan pandangan dengan aneh kearahku.

“Bu, ada apa?” tanyaku penasaran.

“Gus, ini masukkan cepet! Tidak banyak, tapi cukup buat sebulan sambil mencari pekerjaan.” Ibu memasukkan segepok uang ke dalam tasku.

“Bu, jangan! Kalau Bapak tahu bagaimana?” cegahku segera. Aku tidak mau Ibu terlibat dalam masalahku.

“Sudah, jangan sampai Bapak tahu. Wes, sana pergi! Pakai terus blangkon warisan kakekmu itu. Supaya jika Ibu tidak sengaja ke Jakarta, bisa mudah menemukanmu.”

Ibu masih saja ngotot. Tapi, aku memang sangat membutuhkan uang. Atm dan semua uang milikku dibekukan di bank oleh Bapak segera, saat mengetahui aku menolak perjodohan ini. Aku sama sekali tidak bisa mengambilnya sedikitpun. Tanpa berpikir panjang, aku menerima uang Ibu, memasukkannya di dalam ransel, tas satu-satunya yang akan aku bawa.

“Iya Ibu, Agus pergi dulu!” Aku mencium punggung tangan Ibu. Tetesan air mata, masih saja berlinang di wajahnya. Aku segera memeluknya. “Doakan Agus ya, Bu!” Rasanya berat melepaskan pelukanku. Hati ini berusaha tidak merasa cemas melihat air mata Ibu.

Aku berlari menuju mobil Rahman yang aku belikan saat dia berulang tahun sebagai hadiahnya. Yah, sekarang aku yang sangat miskin. Tapi, ada uang yang diberikan Ibu. Uang ini  bisa menyelamatkanku sampai dapat pekerjaan. Bagaimanapun juga ini pilihanku.

“Baiklah, aku akan ke Jakarta mencari jodohku,” batinku sambil terus berjalan menuju Rahman, yang masih berdiri menggelengkan kepalanya melihatku.

“Ngelamun saja. Kenapa tidak menerima wanita itu? Sapa tahu, dia itu wanita cantik dan kalem seperti Minah, yang sangat kau dambakan itu.” Rahman kembali mengingatkanku dengan Minah. Dia anak sahabat Bapak yang sudah aku taksir sangat lama. Tapi, dia lebih memilih Sugeng tetangganya.

“Hah, Minah itu sudah memilih Sugeng. Kau selalu mengatakan jika semua wanita akan menyukaiku karena aku tampan dan kaya raya. Mana buktinya? Minah tidak memilihku, malah meninggalkan aku,” protesku segera.

“Kamu yang sabar. Katanya mau nyari jodoh di Jakarta," kata Rahman masih saja berusaha mendinginkan hatiku saat mengingat Minah.

Aku diam saja tidak menjawab perkataan Rahman. Pandangan mataku ini terus menatap luar jendela mobil dan mengamati kendaraan yang berlalu lalang. Hatiku sedih memikirkan Ibu dan kedua adik kembar perempuanku yang sudah aku tinggalkan. Mereka pasti akan sangat bersedih dengan kepergianku. Sambil menarik nafas, aku memeriksa tiket pesawat yang sudah disiapkan Rahman di dalam tas ransel. Tentu saja tanpa sepengetahuan Bapak dan yang lainnya.

Rahman sangat baik hati membelikanku diam-diam tiket pesawat kelas ekonomi menuju ke Jakarta. Biasanya aku memakai pesawat kelas atas, atau pesawat pribadi dengan pelayanan yang sangat mahal. Tapi, sekarang aku harus berbaur dengan masyarakat kelas bawah. Tidak masalah buatku.

“Man, makasih ya tiketnya. Kamu sudah banyak membantuku.”

“Sama-sama. Kamu saja yang harus berhati-hati, Gus. Di Jakarta banyak orang jahat. Apalagi sama orang miskin kayak kamu. Ganteng-ganteng miskin. Hahaha."

“Gak lucu, Man,” ucapku kesal melihatnya masih saja tertawa.

Aku kembali menatap jalanan. Saat kami melewati jembatan tidak jauh dari bandara, aku melihat seorang wanita sedang berdiri di pagar jembatan.

“Man, berhenti! Ada wanita mau bunuh diri. Aku akan selamatkan dia dulu!”

Rahman segera menghentikan mobil, dan menepi. Dengan cepat aku keluar dari mobil, berlari mendekati wanita itu, menariknya hingga, “Buk!”

Aku dan dia berguling di tanah. Tubuhku berada di atas wanita itu. Kami saling berpandangan. “Ayu banget wajahnya,” batinku segera saat melihat wajahnya. Jantungku berdetak kencang.

“Deg, deg."

“Plak!”

“Loh, aku kok ditampar?” Dia mendorongku. Aku memegang pipiku yang pastinya sangat merah akibat tamparannya.

“Kenapa kau menarik dan menyentuhku?!” teriak wanita itu yang membuatku terkejut. Aku mengambil blangkonku kembali yang terjatuh di tanah dari kepala saat menariknya. Blangkon ini segera kupakai.

“Maafkan aku, Mbak. Aku pikir mau terjun ke sungai. Tapi, itu kayaknya habis nangis?” tanyaku pelan. Namun, dia masih saja memandangku dengan tatapan aneh.

“Kau, sangat kurang ajar!” bentak wanita itu kembali yang mengejutkanku.

Aku menggelengkan kepala, berusaha menjelaskan apa yang sudah aku lakukan. “Mbak, aku hanya mau menyelamatkan Mbak. Tidak ada maksud lain. Kalau begitu maafkan aku! Permisi, Mbak.”

Segera kubalikkan tubuhku, berjalan pergi agar tidak menimbulkan masalah baru. Tapi, seseorang mencegahku dengan keras. “Tunggu!” Wanita itu kembali memanggilku.

“Kenapa, Mbak?” Aku mengernyit kearahnya. Dia diam menatap tajam seolah akan menusukku.

“Aku lihat kau sangat miskin,” ucap dia membuatku heran.

“Maaf Mbak, aku permisi dulu.” Aku tidak suka dengan wanita yang selalu menganggap rendah laki-laki miskin. Karena memang aku sangat miskin dalam waktu tiga bulan ini. Tapi, kata-katanya menyakitiku.

“Seratus juta semalam. Temani aku, di apartemenku!”

Serontak aku diam mematung. Tidak aku sangka ada wanita yang menawarku. “Mbak, aku bukan laki-laki seperti itu, permisi!” Aku segera melangkahkan kakiku untuk menghindar darinya.

“Kau sudah menyentuhku. Dan itulah balasannya, kencan!”

Aku tidak menolehkan pandanganku kembali. Semakin aku berlari, untuk masuk ke dalam mobil Rahman.

“Man, cepet jangan lama-lama, ayo pergi!”

“Gus, gimana wanita tadi?”

“Man, jangan banyak tanya. Ayo pergi!”

Rahman sangat kebingungan. Dia melesatkan mobilnya hingga sampai di dalam bandara dalam waktu singkat. Aku masih saja memegang dadaku. Jantungku rasanya mau copot.

“Kenapa kamu Gus, lihat hantu?” tanya Rahman masih menatapku aneh.

“Ndak, justru yang aku lihat wanita cantik. Tapi, dia mengajakku kencan di apartemennya, dan akan membayar aku seratus juta semalam. Aneh kan?”

“Apa? Hahahaha, Agus, Agus. Kau ini memang terlihat sangat miskin dan seperti …”

“Seperti apa maksud kamu, Man? Mau aku tonjok?!” Aku hampir saja melayangkan tanganku yang segera aku tahan.

“Dasar Rahman! Emangnya, aku laki-laki seperti itu?!” gerutuku kesal.

“Hahaha, maafkan aku Raden Agus. Udah, masuk sana!” Rahman menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk menuju jurusan pesawatku.

“Makasih ya, Man. Nanti aku kabari.”

“Ok, hati-hati Gus!” Rahman segera pergi. Kulambaikan tanganku ini sampai dia berlalu.

Aku berjalan masuk ke dalam bandara. Biasanya aku dilayani semua pelayan. Kali ini hanya membawa tas ransel satu biji. Tas yang berisi baju lima pasang, sepatu, dan sandal jepit yang aku beli dulu harganya jutaan. Sekarang sudah tidak berarti lagi.

Semua orang mengantri untuk pemeriksaan tiket. Untung Rahman membantu untuk melakukan regristasi tiket lewat telepon, hingga aku tidak perlu melakukannya saat di bandara. Namun, aku harus menunggu berjam-jam duduk di bawah sambil bersila karena kursi penunggu sangat penuh. Aku menunggu panggilan untuk menaiki pesawat. Baru kali ini aku mengetahui bagaimana menjadi orang biasa. Masih saja aku mengamati sekitar, hingga sesuatu membuatku terkejut.

“Hah, wanita itu, mati aku!”

Aku melihat wanita yang menawarku kencan seratus juta semalam. Spontan tanganku melepaskan blangkon yang masih menempel di kepala, untuk menutupi wajahku. Aku segera berkumpul dengan semua orang yang akan masuk ke dalam pesawat, saat suara mikrophone panggilan untuk menaiki pesawat sudah terdengar.

“Dia, kenapa satu pesawat denganku?” gumamku.

Wajahku berusaha aku palingkan darinya. Yang membuat aku lega, dia pasti naik di kelas utama atau VIP. Aku berjalan masuk ke kelas ekonomi, berdesakan mencari nomor kursiku. Kutolehkan pandangan ke semua arah, tapi tidak menemukan nomor kursi yang tertulis di tiket. Segera kuhampiri pramugari untuk menanyakannya.

“Permisi, ini di mana ya, Mbak?” tanyaku pelan. Tinggiku yang di atas 180 meter ini, membuat semua orang tampak kecil di hadapanku.

“Oh, Mas ada di kelas utama. Mari, saya antar!”

“Kelas utama?” tanyaku heran.

"Mana mungkin aku ada di sana? Duh, aku akan bertemu dengan wanita itu,” batinku gelisah.

Tanpa aku sadari, Rahman membelikanku tiket kelas atas. Tentu saja, Rahman adalah anak sahabat Bapak. Pastinya dia juga kaya raya walaupun aku yang paling kaya. Tiket pesawat kelas atas pasti tidak akan berat bagi Rahman untuk membelinya.

Aku mengikuti pramugari yang masih berjalan. Dia akan menunjukkan kursi pesawat yang harus aku duduki. Yang membuat aku terkejut, wanita itu sebelahku.

“Kau, berjodoh denganku. Oh, ternyata kaya,” ucap wanita itu yang membuatku semakin menggeleng. Masih saja dia mengejekku.

Dalam diam, aku meletakkan tas ransel di sebelah kursi. Aku segera duduk tanpa berkata apapun. Dia masih saja menatapku dengan tajam. Aku berusaha tidak meliriknya. Blangkon ini masih saja menutupi wajahku. Tapi, aku sangat resah. Aku tidak tahan, saat dirinya selalu saja melihatku.

“Mbak itu, maunya apa?” tanyaku kembali.

“Seratus juta semalam. Bagaimana?”

“Mbak, aku bukan laki-laki seperti itu! Carilah yang memang mempunyai pekerjaan seperti itu!” jawabku ketus.

“Lalu, kau apa?”

Comments (5)
goodnovel comment avatar
Lina Astriani
buat tuan muda ki namanya Elang, Langit, atau Kenan, atau apa gt, ini agusss......
goodnovel comment avatar
Lina Astriani
namanya ko agusss seh.........
goodnovel comment avatar
Aditya Ramadhan
mna ni lanjutan ny
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status