Uang Jajan 5 Ribu

Aku berdiri di hadapan ibu, ku membungkukan badan seraya memegang kedua bahunya yang kurus, ku tatap lekat-lekat wajah perempuan yang sangat ku sayangi itu, dengan tatapan penuh kasih.

"Bu, aku akan cari uang! bagaimana pun caranya, agar aku bisa melunasi hutang-hutang kita, pada rentenir kejam itu, tapi aku minta izin dari ibu! Untuk pergi mencari pekerjaan di kota besar!" ucap ku penuh harap.

"Tapi Nak, ibu gak mau kamu jauh dari sisi ibu! Kamu anak perempuan ibu satu-satunya, ibu khawatir kalau kamu pergi ke kota besar, kamu mau ikut siapa di sana Nak? Kamu anak gadis ibu, ibu takut terjadi apa-apa dengan kamu," jawab ibu sambil menangkup pipi kiri ku. Aku mendeku di hadapannya seraya mendongakkan wajah.

"Bu." Ku raih tangan ibu dan menggenggamnya, ku tatap wajah ibu lekat-lekat. "Ibu percaya sama aku! Aku gak akan melakukan hal di luar batas, apalagi melakukan hal yang di larang oleh agama." Aku meyakinkan ibu.

"Sudah Silvi! ibu mau berangkat dagang dulu, takut keburu siang, nanti gak ada yang beli nasi uduk kita," potong ibu mengakhiri pembicaraan kami.

"Tapi Bu,"

"Udah! Kita ngobrolnya nanti kalau ibu sudah pulang dagang!" pungkas ibu.

Ibu melepaskan genggaman tangan ku. Dia bangkit lalu berjalan mengambil kain jarik yang tersampir di batang bambu penyangga tiang rumah reyot kami.

"Ibu berangkat ya Nak! Nanti adik-adikmu beri makan, dengan lauk seadanya! Di lemari penyimpanan makanan." Ibu membungkukkan badannya meraih bakul nasi uduk dan menggendongnya di pinggang.

"Sini Bu! Aku antar sampai depan!" ucap ku sambil menjinjing box plastik berisi gorengan dan sambal telor balado.

"Ayo!" jawab ibu, dia berjalan di depanku. aku mengekornya dari belakang.

Rasanya tak tega melihat ibu yang sudah tua setiap hari menjajakan dagangannya keliling kampung, demi menghidupi aku dan juga adik-adikku.

"Silvi... Ibu berangkat ya, do'akan ibu! Biar dagangannya laris!" pinta ibu sambil berlalu dari hadapan ku, dia berteriak menawarkan dagangan untuk memanggil pembeli.

Ya Tuhan... Aku benar-benar tak tega melihat perempuan 40 tahun bekerja keras sendirian, ku tatap ibuku sampai hilang dari pandangan, tubuhnya kurus di balut baju gamis warna coksu yang sudah usang dan kerudung bergo hitam juga tak kalah usangnya, langkah demi langkah ibu berpijak dengan menggunakan sandal jepit, bahkan kanan dan kiri pun warnanya berbeda, jalanan yang basah karena semalam kampung ini di guyur hujan tak menyurutkan semangat ibu untuk mencari rejeki.

"Silvi, kamu harus melakukan sesuatu! Agar ibu kamu dan adik-adikmu bisa hidup dengan layak!" Aku bicara sendiri kupejamkan mataku sambil mengepalkan tangan, hatiku bergemuruh, masih terngiang di telingaku hina'an dari mulut wanita kejam itu tadi pagi.

Aku membalikkan badan melangkahkan kaki menuju arah rumah, sepanjang jalan aku terus berfikir bagaimana caranya agar aku bisa berangkat ke ibu kota untuk mencari pekerja'an, tak mungkin aku berangkat kesana sendirian tanpa tau arah dan tujuan.

Mentari pagi sudah menampakkan diri, menyinari bumi menghangatkan raga ini, sejuknya hawa pagi di desa yang masih sangat asri, di sini tempatku di besarkan dan tumbuh menjadi gadis belia, di usiaku yang kini menginjak 19 tahun, aku belum bisa membatu dan meringankan beban ibu, keinginan kuat di hati ku hanya satu, yaitu membahagiakan Orang tua dan adik-adikku.

Kubuka pintu kayu dan masuk kedalam rumah kami yang sangat sederhana, dinding rumah ini pun masih bata merah, lantai nya bukan dari granit apalagi marmer yang indah dan mengkilat, lantai rumah kami dari semen bahkan sudah banyak yang retak dan bolong.

Di kala hujan turun atapnya banyak yang bocor hingga beberapa baskom pun ikut serta untuk menadah tetesan air hujan yang masuk lewat celah genteng yang pecah ataupun geser, tak banyak yang bisa dilakukan untuk memperbaiki atap karena kerangka atap rumah ini sudah rapuh, dan tak bisa untuk di pijak.

Ku sibak gorden kamarku karena tak di pasangi pintu, hanya gorden merah yang usianya lebih tua dari pada usia adikku yang pertama, aku duduk di tepian ranjang kayu buatan tangan almarhum ayah, bukan ranjang besi ataupun kayu jati, hanya dari kayu albasia yang kini sudah lapuk dan di makan rayap.

Kadang aku iri pada teman-temanku, kehidupan mereka jauh lebih baik dari pada kehidupan ku ini, Orang tua mereka masih lengkap tak seperti aku yang hanya memiliki ibu, ayahku sudah 5 tahun meninggal karena sakit komplikasi, saat aku duduk di kelas 2 SMP.

"Kak Silvi..." Suara adikku dari dapur membuyarkan lamunanku. segera ku keluar kamar dan menghampirinya.

"Ada apa Sandi?" tanya ku.

"Kak, minta uang jajan dong!" ucap Sandi adikku yang nomor satu, usianya kini 15 tahun dan sebentar lagi masuk SMA, aku bingung tak ada biaya untuk membeli perlengkapan sekolah apalagi untuk biaya daftar masuknya.

"Iya, ini 5rbu ya, jangan boros-boros! Kita harus hemat!" uang kembalian dari warung sisa membeli kantong plastik tadi pagi.

"Ah, kakak... Goceng doang, bilangnya jangan di abisin! Temen-temen ku bawa uang sakunya tiap hari 10 ribu, belum jajan di rumah," protes Sandi bocah remaja yang berambut hitam lurus ke atas seperti ijuk. Tubuhnya kurus tinggi mungkin perawakan karena aku juga sama tinggi kurus.

"Sandi... Jangan samakan dengan orang lain! Kita orang gak punya," ucap ku memberi pengertian, ku buka lemari penyimpanan ku ambil nasi uduk di bakul bambu, yang sengaja ibu sisakan untuk sarapan adik-adikku.

"Nasi uduk lagi kak, gak ada yang lain gitu?" protesnya lagi.

"Gak usah banyak omong! Bersyukur masih ada nasi, tuh liat orang di luar sana! Banyak yang tidak bisa sarapan karena tak ada nasi."

Adikku ini memang banyak ngeluhnya tak seperti adik bungsu ku.

"Kak, dasi ku mana?" teriak adik bungsu ku dari dalam kamarnya.

"Ada di sini... Bekas kamu kemaren kan, tuh nyantol di paku," ucap ku sambil balas berteriak, sudah terbiasa di rumah ku ini, setiap pagi rame dengan teriakan Adik-adikku.

"Iya..." Jawab Adikku berjalan setengah berlari ke dapur sambil memasukan ujung kemeja putihnya yan lusuh, ke dalam celana merah seragam SD nya.

"Ni! Kebiasaan kalau naro barang tuh yang bener! Jangan asal! Giliran butuh aja, kelimpungan," protes ku, sambil menyodorkan dasi merah karet nya pun sudah longgar.

Seno namanya adik bungsuku usianya 12 tahun kelas 6 SD. Dia orangnya tak banyak ngeluh tapi anaknya asal, menaruh barang asal lempar ketika ia butuh baru bingung mencari.

"Kak, tadi pagi, siapa di depan rumah teriak-teriak, kaya bentak ibu gitu?" tanya Seno, dia duduk samping Sandi, di kursi panjang terbuat dari kayu.

"Oh, itu Bu Tati,"

"Mau ngapain dia kak? Pagi-pagi sudah datang ke rumah kita, Pake marah-marah lagi?" timpal Sandi menautkan alisnya menatap ku dengan penuh tanya.

"Bu Tati, nagih hutang sama ibu," jawabku berat.

"Hutang apa? Emangnya ibu punya utang berapa duit kak?" sambung Seno.

"Eum... 30 juta," jawabku ragu. Mereka berdua kaget hingga matanya terbelalak.

"Banyak amat Kak, emang hutang bekas beli apa sih?" tanya Seno di sela suapan nasi uduk dan bihun goreng juga kerupuk udang.

"Gak tau, tapi kayanya sih bekas berobat Bapak dulu,"

"Kok banyak amat ya, berobat sampe 30 juta?" tanya Sandi keheranan dengan nominal yang cukup besar bekas berobat.

 "Tadinya hanya 10 juta, terus ibu pinjem lagi 2 juta buat biaya pemakaman ayah, karena lama belum di bayar, jadinya beranak pinak," terang ku.

"Emang, uang bisa beranak ya Kak?" tanya Seno polos.

"Bisa, yang namanya pinjem ke rentenir, ya makin lama anaknya bertambah," jawabku.

"Bukannya bunga ya Kak?" timpal Sandi.

"Anak sama bunga sama aja, makin lama makin banyak," jelasku. "Makannya cepetan! Ini udah setengah tujuh, nanti kalian kesiangan lagi. Seno ni uang jajan untuk kamu!"

Aku menyodorkan uang yang sama jumlahnya seperti Sandi 5 ribu tak lebih, uang jajan untuk satu hari. Kami bertiga di beri jatah 5 ribu rupiah setiap harinya, tapi aku tak pernah membeli jajanan, uang itu aku tabung, untuk jaga-jaga jika ada keperluan mendesak.

"Makasih Kak," jawab Seno. Dia anaknya hemat, meskipun di beri uang jajan hanya 5 ribu perhari tapi dia masih bisa menyisihkan 2 ribu perak untuk masuk celengan Ayam.

"Yang giat ya belajarnya! Biar kalian jadi orang sukses!" Aku memberi semangat kepada Adik-adikku.

"Ya Kak," jawab mereka serentak. Dan menghabiskan sarapannya, di akhiri minum air putih segelas.

Mereka bangkit dan berpamitan pada ku, tak lupa Salim dan mencium punggung tangan ku.

"Ati-ati ya! Jangan pada nakal! Selesai sekolah langsung pulang, jangan pada keluyuran!" Aku menutup kembali pintu rumah ini dan segera beres-beres seperti kegiatan ku setiap hari.

Ku rapikan kamar adikku yang berantakan baju kotor pun di mana-mana ada yang menggantung di paku balik pintu, ada juga yang bergulung dengan selimut juga handuk, padahal setiap hari aku bereskan tapi tak pernah ada rapihnya.

Capek rasanya tak pernah ada ujungnya, tapi aku ikhlas demi membantu meringankan pekerjaan ibu, setelah selesai berbenah aku beranjak ke dapur untuk membereskan dapur bekas tadi pagi masak untuk jualan ibu.

Aku masuk ke dalam kamar mandi berdinding tembok bata merah setengah badan, satu meter dari bawah ke atas, dinding atasnya dengan bilik bambu yang sudah lapuk, sinar mentari pun menyeruak masuk ke dalam lewat celah bilik yang renggang.

Demi kenyamanan dan aku takut ada orang iseng mengintip, ku lapisi dengan karung bekas beras dapat aku minta dari Pak haji pemilik warung. Kamar mandinya luas namun tak ada kenyamanan, beginilah rumah ku dan kamar mandiku hanya alakadar dan seadanya.

 Aku meraih pompa air manual lalu menekannya keatas dan kebawah, tak ada pompa listrik, seperti Sanyo apalagi mesin jetpam, yang tinggal tekan lalu air pun keluar, di kamar mandi ku air sumur keluar dengan mengandalkan tenaga. untuk tiap tetes air.

 Aku mengisi semua bak dan ember di kamar mandi dengan air sampai semuanya penuh, tubuh ini rasanya sangat letih namun aku tak peduli, aku bahagia bisa sedikit membantu pekerjaan ibu.

 Setelah beberapa saat dan mungkin satu atau dua jam aku keluar dari kamar mandi, ku jemur baju yang sudah aku cuci di halaman rumah tak membutuhkan waktu yang lama untuk mengeringkan pakaian karena halaman rumahku luas tanpa ada pepohonan, semuanya sudah di jual dan di tebang oleh pembeli, tinggal pohon ceremai yang tersisa karena tak bisa di jual.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status