LOGINAmanda tidak menyangka akan dijodohkan dengan Arman, seorang pemuda dari keluarga konglomerat. Amanda berpikir pernikahannya akan membawa kebahagiaan, tapi kenyataannya tidak seperti harapannya.
View MoreAmanda Kusumo, gadis berusia sembilan belas tahun, adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Ia tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah sederhana berukuran sembilan puluh meter persegi—rumah warisan dari Simbah yang penuh kenangan. Ayahnya, Wirjo Kusumo, seorang guru SMP yang juga beternak ayam petelur di halaman belakang. Setiap pagi, telur-telur hasil panen sebagian dijual ke pasar dan sebagian lagi ditetaskan untuk menambah jumlah ternak.
Ibunya, Ningsih, menghabiskan hari-harinya mengurus rumah dan membuka warung kelontong kecil di teras depan. Adik-adiknya pun masih bersekolah. Surya sedang menjalani tahun pertama di Sekolah Teknik Mesin, sementara Adi duduk di kelas empat SD—anak kecil yang tak pernah kehabisan energi maupun rasa ingin tahu. Setahun telah berlalu sejak Amanda lulus dari SMK jurusan tata boga, jurusan yang cocok dengan hobinya membuat roti dan kue. Kini ia bekerja di sebuah home industry yang memproduksi camilan khas daerah, pekerjaan yang membuat tangannya tak pernah benar-benar bebas dari aroma tepung dan mentega. --- Sore itu, Amanda berjalan pulang bersama sahabatnya sejak SD, Ayu. Mereka bekerja di tempat yang sama dan rumah mereka hanya dipisahkan oleh jalan kecil, menjadikan mereka hampir selalu berangkat dan pulang bersama. Ayu adalah gadis ceria yang tak pernah kehabisan bahan obrolan; jika mulutnya sudah mulai bercerita, sulit berhenti. Amanda hanya sesekali menimpali sambil tersenyum—kehadiran Ayu membuat perjalanan pulang yang jauh terasa lebih ringan. Mereka menunggu angkot di tepi jalan. Tak lama kemudian, sebuah angkot berhenti setelah Amanda mengangkat tangan memberi isyarat. Keduanya naik dan duduk berdampingan di kursi paling ujung. “Baru pulang, Nda?” sapa seorang pemuda dari kursi seberang. Amanda menoleh dan sedikit terkejut. “Eh, Mas Bram… Darimana, Mas?” “Dari rumah teman,” jawab Bram dengan senyum ramahnya. “Kebetulan kita satu angkot.” Bram adalah kakak kelas Amanda sewaktu SMP. “Apa kabar, Nda?” “Alhamdulillah baik, Mas. Mas Bram sendiri?” “Baik juga.” Ayu mendengus pelan, lalu berkata dengan nada menggoda, “Kok cuma Manda yang ditanya? Aku di sini, lho.” Bram terkekeh. “Eh iya, maaf. Apa kabar, Yu?” “Baik,” jawab Ayu sambil pura-pura tersinggung. Obrolan berlanjut. Bram bercerita bahwa ia masih kuliah di Yogyakarta, sedang libur semester, dan pulang kampung untuk sementara. Ia bahkan menjelaskan alasannya naik angkot hari itu—motornya sedang di bengkel. Ayu kembali menggoda. “Mas Bram, kapan-kapan main dong ke rumah Manda. Dulu kan sering ke sana.” Amanda langsung menyikut pinggang sahabatnya itu. Ayu hanya meringis penuh kemenangan. Bram terlihat sedikit salah tingkah namun tetap menjawab, “Iya… nanti Mas main ke sana.” Ia menoleh ke Amanda. “Boleh, kan?” Amanda menunduk malu. “Boleh, Mas.” Suasana seketika menjadi canggung. Ayu terkekeh pelan, mencuri pandang ke arah Amanda—ia tahu persis apa yang dirasakan sahabatnya itu. Amanda menyukai Bram sejak SMP, cinta pertama yang tak pernah ia ungkapkan. Bram berasal dari keluarga terpandang—ayahnya seorang juragan dan Kepala Desa—sementara Amanda tumbuh di keluarga sederhana. Perbedaan itu membuat Amanda memilih memendam perasaan. --- Lima belas menit kemudian, angkot berhenti di depan gapura desa. Mereka berpamitan dengan Bram sebelum turun dan melanjutkan perjalanan pulang. “Seneng banget ya tadi ketemu idolanya,” goda Ayu sambil menyenggol lengan Amanda. “Apa sih…” Amanda menggeleng, pipinya memerah. “Aku tuh gak paham. Kalian berdua saling suka tapi diam-diaman.” “Mas Bram gak suka sama aku,” bantah Amanda cepat-cepat. “Siapa bilang? Kamu gak lihat cara dia mandang kamu? Cara dia ngomong sama kamu? Duh, Mandaaa… masa segitu nggak pekanya sih?” Amanda menertawakan sahabatnya. “Pakar cinta mulai bicara.” “Pakar cinta yang belum punya pacar,” balas Ayu sambil manyun. Mereka saling pandang lalu tertawa kecil. Perjalanan dari gapura ke rumah Amanda hanya sekitar lima menit. Namun sore itu, langkah Amanda terhenti ketika melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir di depan rumahnya. Mobil siapa? pikirnya. Ayu juga tampak heran. “Mba!” suara riang memanggil dari belakang. Adi berlari menghampiri dengan plastik kresek penuh jajanan. “Dari mana, Di?” tanya Amanda. “Dari warung. Adi beli jajan banyak!” Amanda mengangkat alis. “Kok banyak banget? Ditabung dong uangnya.” “Ditabung kok. Ini tadi Adi dikasih uang sama Nenek.” “Nenek?” Amanda dan Ayu saling pandang. “Nenek siapa, Di?” tanya Amanda lagi. Adi mengunyah permen sambil menjawab polos, “Temennya Simbah.”Beberapa hari berlalu dengan tenang, sebelum badai kecil itu datang.Andien baru saja keluar dari kamar utamanya ketika ia melihat dua pelayan membawa seprai bersih dan rangkaian bunga segar.Para pelayan yang berpapasan dengannya segera menunduk hormat.“Selamat pagi, Nyonya.”Andien mengangguk singkat, tapi keningnya sudah berkerut.Kedua pelayan itu berjalan menuju kamar tamu di ujung lorong. Pintu kamar itu terbuka. Di dalamnya, Bibi Ningsih tampak mengawasi proses pembersihan dengan teliti.“Ningsih,” panggilnya tajam. “Kenapa kamar tamu dibersihkan?”Bibi Ningsih menoleh, sedikit terkejut. “Nyonya Manda yang menyuruh kami, Nyonya. Katanya keluarganya mau datang besok.”“Apa?” Suara Andien meninggi. “Keluarganya?”Ada jeda sepersekian detik sebelum amarahnya benar-benar menyala. “Di mana dia sekarang?”“Ada di bawah, Nyonya. Di ruang tengah.”Tanpa berkata apa-apa lagi, Andien berbalik dan melangkah cepat menuju tangga. Hak sepatunya beradu dengan lantai marmer, menciptakan bunyi
Lampu kamar Arman masih menyala meski malam sudah larut. Layar laptop memantulkan cahaya kebiruan di wajahnya yang lelah. Slide presentasi untuk besok pagi terbuka penuh grafik dan angka. Jemarinya bergerak cepat di keyboard, sesekali berhenti untuk mengusap pelipis.Ia menyandarkan punggung sebentar, menarik napas panjang.Tiba-tiba ponselnya bergetar. Video call dari Cyntia.Arman menatap nama itu beberapa detik sebelum akhirnya mengambil tripod kecil di meja samping tempat tidur. Ia meletakkan ponselnya di samping laptop, lalu menerima panggilan.Wajah Cyntia muncul di layar, dengan latar kamar hotel yang asing.“Hey. What are you up to?” tanyanya ringan.(Hei. Kamu sedang apa?)“Working,” jawab Arman. “Big presentation tomorrow. Just wrapping things up.”(Kerja. Besok ada presentasi besar. Aku membereskan beberapa hal dulu)“Oof. Did I catch you at a bad time?”(Oh. Apa aku mengganggumu?)“Nah. I’m done anyway.”(Nggak. Aku sudah selesai)Cyntia menyipitkan mata. “Okay… so. What’s
Meja makan itu terlalu panjang untuk dua orang. Permukaannya berkilau, memantulkan cahaya lampu kristal di atasnya. Piring porselen tersusun rapi, sendok perak berderet sempurna. Semuanya tampak megah, tapi terasa hening.Amanda duduk di kursi tepat di sebelah Nenek Rosa.“Nenek senang akhirnya ada yang menemani makan siang,” ujar Nenek Rosa lembut, memandang Amanda dengan mata berbinar. “Biasanya Nenek duduk sendirian di meja sebesar ini. Putra Nenek, Hendra, sibuk dengan perusahaannya. Menantu Nenek sibuk dengan kehidupan sosialitanya. Adelia pulang sekolah sore.”Amanda tersenyum kecil, hatinya menghangat sekaligus terenyuh.“Nenek beruntung memilikimu di rumah ini, Manda.”Ucapan itu sederhana, tapi terasa tulus. Amanda menunduk sedikit, merasa dihargai.“Aku juga senang bisa menemani Nenek,” jawabnya pelan. Dan ia sungguh-sungguh.Nenek Rosa menyendok supnya perlahan, lalu tersenyum samar, seolah sedang melihat masa lalu yang jauh.“Kehidupan di ibu kota ini keras,” katanya pelan
Kafe kecil di sudut jalan itu tak terlalu ramai. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara. Arman duduk sendirian di meja dekat jendela, setelan kerjanya masih rapi meski wajahnya sedikit lelah karena kurang tidur.Ponselnya bergetar di atas meja.Nama Cyntia muncul di layar.Arman tersenyum kecil sebelum mengangkatnya.“Are you serious?” Suara Cyntia terdengar tajam begitu sambungan terhubung. Jelas ia sudah membaca pesan Arman sebelumnya.(Kamu serius?)“Yeah, last night she came to my apartment,” jawab Arman tenang, seolah itu bukan hal besar.(Ya, semalam dia datang ke apartemenku)Di seberang sana terdengar helaan napas tak percaya. “I can’t believe she’s back.”(Aku nggak percaya dia kembali)Arman menatap lalu-lalang orang di luar jendela. “You sound like you don’t want her to get better.”(Kamu kedengarannya nggak suka dia sembuh?)“Don’t twist my words,” balas Cyntia cepat. “Of course I’m glad she’s out of her coma. But… she’s here? In New York? In your apartment? I don’t l












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.