登入Amanda tidak menyangka akan dijodohkan dengan Arman, seorang pemuda dari keluarga konglomerat. Amanda berpikir pernikahannya akan membawa kebahagiaan, tapi kenyataannya tidak seperti harapannya.
查看更多Mobil mewah itu melaju perlahan memasuki halaman luas kediaman keluarga Hadiwijaya. Mesin yang masih menyala sejenak memecah keheningan sore, sebelum akhirnya dimatikan. Pintu mobil terbuka satu per satu, memperlihatkan sosok-sosok yang tampak sedikit canggung berada di tempat semegah itu.Di dalam rumah, Amanda yang sejak tadi menunggu dengan gelisah langsung tersentak begitu mendengar suara mobil. Jantungnya berdebar lebih cepat. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas keluar.Begitu langkahnya sampai di teras, pandangannya langsung menemukan mereka.“Bapak… Ibu…” suaranya nyaris bergetar.Wajah Amanda seketika berubah cerah. Ia setengah berlari, memeluk ibunya lebih dulu dengan erat, seolah melepas rindu yang sejak lama ia tahan.“Ibu…” bisiknya lirih.Ningsih membalas pelukan itu, matanya berkaca-kaca. “Manda… sehat, Nak?”Amanda mengangguk cepat, lalu berpindah memeluk bapaknya. Wirjo menepuk punggung putrinya pelan, menahan haru yang tak ingin ia tunjukkan terlalu jelas.“Gimana kab
Beberapa hari berlalu dengan tenang, sebelum badai kecil itu datang.Andien baru saja keluar dari kamar utamanya ketika ia melihat dua pelayan membawa seprai bersih dan rangkaian bunga segar.Para pelayan yang berpapasan dengannya segera menunduk hormat.“Selamat pagi, Nyonya.”Andien mengangguk singkat, tapi keningnya sudah berkerut.Kedua pelayan itu berjalan menuju kamar tamu di ujung lorong. Pintu kamar itu terbuka. Di dalamnya, Bibi Ningsih tampak mengawasi proses pembersihan dengan teliti.“Ningsih,” panggilnya tajam. “Kenapa kamar tamu dibersihkan?”Bibi Ningsih menoleh, sedikit terkejut. “Nyonya Manda yang menyuruh kami, Nyonya. Katanya keluarganya mau datang besok.”“Apa?” Suara Andien meninggi. “Keluarganya?”Ada jeda sepersekian detik sebelum amarahnya benar-benar menyala. “Di mana dia sekarang?”“Ada di bawah, Nyonya. Di ruang tengah.”Tanpa berkata apa-apa lagi, Andien berbalik dan melangkah cepat menuju tangga. Hak sepatunya beradu dengan lantai marmer, menciptakan bunyi
Lampu kamar Arman masih menyala meski malam sudah larut. Layar laptop memantulkan cahaya kebiruan di wajahnya yang lelah. Slide presentasi untuk besok pagi terbuka penuh grafik dan angka. Jemarinya bergerak cepat di keyboard, sesekali berhenti untuk mengusap pelipis.Ia menyandarkan punggung sebentar, menarik napas panjang.Tiba-tiba ponselnya bergetar. Video call dari Cyntia.Arman menatap nama itu beberapa detik sebelum akhirnya mengambil tripod kecil di meja samping tempat tidur. Ia meletakkan ponselnya di samping laptop, lalu menerima panggilan.Wajah Cyntia muncul di layar, dengan latar kamar hotel yang asing.“Hey. What are you up to?” tanyanya ringan.(Hei. Kamu sedang apa?)“Working,” jawab Arman. “Big presentation tomorrow. Just wrapping things up.”(Kerja. Besok ada presentasi besar. Aku membereskan beberapa hal dulu)“Oof. Did I catch you at a bad time?”(Oh. Apa aku mengganggumu?)“Nah. I’m done anyway.”(Nggak. Aku sudah selesai)Cyntia menyipitkan mata. “Okay… so. What’s
Meja makan itu terlalu panjang untuk dua orang. Permukaannya berkilau, memantulkan cahaya lampu kristal di atasnya. Piring porselen tersusun rapi, sendok perak berderet sempurna. Semuanya tampak megah, tapi terasa hening.Amanda duduk di kursi tepat di sebelah Nenek Rosa.“Nenek senang akhirnya ada yang menemani makan siang,” ujar Nenek Rosa lembut, memandang Amanda dengan mata berbinar. “Biasanya Nenek duduk sendirian di meja sebesar ini. Putra Nenek, Hendra, sibuk dengan perusahaannya. Menantu Nenek sibuk dengan kehidupan sosialitanya. Adelia pulang sekolah sore.”Amanda tersenyum kecil, hatinya menghangat sekaligus terenyuh.“Nenek beruntung memilikimu di rumah ini, Manda.”Ucapan itu sederhana, tapi terasa tulus. Amanda menunduk sedikit, merasa dihargai.“Aku juga senang bisa menemani Nenek,” jawabnya pelan. Dan ia sungguh-sungguh.Nenek Rosa menyendok supnya perlahan, lalu tersenyum samar, seolah sedang melihat masa lalu yang jauh.“Kehidupan di ibu kota ini keras,” katanya pelan
Amanda Kusumo, gadis berusia sembilan belas tahun, adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Ia tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah sederhana berukuran sembilan puluh meter persegi—rumah warisan dari Simbah yang penuh kenangan. Ayahnya, Wirjo Kusumo, seorang guru SMP yang juga beternak ayam
“Wah, anak itu kebangetan!” Daniel mendengus kesal. “Arman sama sekali nggak pernah menghubungi Manda?”Tamara mengangguk pelan sambil memanyunkan bibirnya. Raut wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran yang sejak tadi ia pendam.Malam sudah larut. Lampu kamar mereka menyala temaram. Daniel dan Tama
Seminggu setelah Bapak Amanda memberi kabar baik kepada Pak Hendra, keluarga itu kembali datang ke rumah untuk melamar. Orang tua Amanda bahkan mengundang keluarga besar untuk menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Amanda berada di dalam kamarnya bersama Ayu dan sepupunya, Mba Dian. Hari itu Mb
Malam itu, di dalam kamarnya, Manda memberanikan diri untuk menelepon Bram. Ia menatap layar ponselnya lama sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Suara dering terdengar berulang-ulang. Tidak ada jawaban.Mungkin Mas Bram sudah tidur? pikirnya cemas. Tapi jam baru menunjukkan pukul delapan malam.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.