Chapter 4

Sisa-sisa hujan semalam menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun, hal itu tidak dirasakan oleh sepasang manusia yang masih terlelap sambil berpelukan erat. Mereka menikmati keheningan dini hari jelang subuh ini dengan saling memberi kehangatan.

Semalam, saat mereka pulang dari restoran, hujan turun begitu deras. Karena lupa membawa mantel, mereka jadi basah kuyup saat tiba di apartemen. Mereka masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Saat Nada sedang membuat susu jahe hangat, tiba-tiba sepasang lengan kekar muncul dari belakang dan melingkar di perutnya. Ia seketika menegang. Alfa tersenyum sembari meletakkan dagunya di bahu sang istri.

"Sedang apa?" tanya Alfa dengan berbisik.

Nada menghela napas untuk meredakan detak jantungnya yang terasa lebih cepat dari biasanya. Ia belum pernah seintim ini dengan lelaki mana pun.

"Aku sedang buat susu jahe. Mau?" Nada menawarkan susu jahe di tangannya.

"Mau, tapi aku kenyang. Kita minum segelas berdua, ya?" Alfa merajuk.

Nada tertegun. Minum susu segelas berdua? Oh, Allah. Itu hal yang pernah Rasulullah lakukan bersama istrinya dan kini suaminya ingin melakukannya bersama dirinya. Seketika hatinya menghangat.

"Bo-boleh, Kak," jawab Nada gugup. Alfa jadi tambah gemas melihat raut wajah istrinya yang tiba-tiba merona.

"Kak, mau sampai kapan meluk aku?"

"Ck! Meluk istri sendiri juga." Alfa merajuk lalu berdiri tegak dan merangkul pundak istrinya dan tangan satunya mengambil gelas yang berisi susu.

"Kita minum di kamar saja."

"Kak, bukannya kita gak sekamar?"

"Mulai malam ini, kita tidur sekamar! Bukankah sudah kubilang kalo aku ingin membuka hatiku untukmu? Ini adalah langkah selanjutnya. Aku ingin memelukmu sepanjang malam setiap harinya."

Mereka berjalan pelan menuju kamar Alfa. Nada duduk di ranjang terlebih dahulu sementara Alfa mengunci pintu kamarnya.

Alfa tersenyum melihat raut wajah gugup sang istri.

"Minum susunya, Nada!"

Nada menurut. Ia meminum seteguk, lalu gelas itu diambil kembali oleh Alfa dan meminumnya tepat di bekas bibir Nada. Begitu seterusnya hingga isi gelas itu habis.

"Nada," lirih Alfa.

Nada tersentak dari lamunan tentang semalam dan memandang wajah tampan sang suami. Ia tersenyum dan memberanikan diri mengusap pelan pipi kirinya. Ia takjub pada keagungan ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya.

"Nada."

"Iya, A'?"

Sejak semalam, Alfa meminta Nada memanggilnya dengan sebutan Aa'.

"Udah jam berapa?" tanya Alfa dengan mata masih terpejam.

Nada menengok ke arah jam dinding di tengah cahaya temaram lampu tidur.

"Jam setengah empat, A'," ujar Nada pelan.

"Nada." Alfa membuka kedua matanya perlahan lalu tersenyum melihat wajah cantik istrinya.

"Boleh?" tanya Alfa hati-hati.

"Boleh apa, A'?" Nada bertanya balik.

"Aku ingin menyentuhmu," kata Alfa dengan suara serak.

Semburat kemerahan terbit di wajah Nada. Alfa mengulum senyumnya karena wajah istrinya yang malu-malu.

"Boleh, gak?" tanya Alfa dengan tak sabar.

Nada mengangguk seraya menunduk. Alfa mengangkat wajah Nada dengan sebelah tangannya. Alfa memajukan wajahnya dan mengecup kening Nada beberapa saat, lalu beralih ke kedua pipi, hidung mancungnya, dan bibirnya. Melihat sang istri terpejam, Alfa memberanikan diri bertindak lebih jauh. Dalam hati, Alfa memuji kecantikan istrinya. Kecantikan yang hampir saja ia sia-siakan.

Tangan Alfa menyentuh Nada dengan lemah lembut dan menimbulkan rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Saat ia masih bersama Nadia, mereka hanya sebatas ciuman bibir. Namun, kali ini berbeda. Bila ia dengan Nadia terselip nafsu, namun bersama Nada ia merasakan kasih sayang yang perlahan muncul di hati mereka. Ia tahu Nada belum berpengalaman dari cara Nada membalas ciumannya. Sekali lagi, Alfa bangga pada dirinya sendiri karena menjadi yang pertama untuk Nada.

Nada memukul pelan dada sang suami karena mulai kesulitan bernapas. Dengan tak rela, Alfa melepaskannya.

"Gimana, Sayang?" Alfa tersenyum saat melihat bibir sang istri yang membengkak.

"Aku," kata Nada dengan napas tak teratur, "Aku malu." Nada menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.

Alfa terkekeh geli.

"Betapa polosnya istriku," batin Alfa.

"Mau lanjut? Ini juga yang pertama bagiku. Kata orang, rasanya sakit di awal, tetapi setelah rasanya bikin melayang. Kamu penasaran, kan?" tanya Alfa dengan suara yang semakin berat. Seberat menahan hasratnya saat ini.

Nada mengangguk malu-malu.

"Setelah ini, aku tak akan berhenti, Sayang."

Mereka menyatukan diri dengan cara yang indah seraya berdoa agar Allah berkenan memberkahi rumah tangga mereka dan menitipkan anak-anak yang shalih dan shalihah untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Mulai detik ini, mereka menghapus jarak dan mempererat kasih sayang.

"Nada." Alfa melepaskan diri setelah menikmati pelepasannya bersama istrinya.

"Iya, A'?"

"Terima kasih sudah menjaganya untukku." Alfa mengecup kening sang istri.

"Aku milikmu, A'. Sudah seharusnya aku menyerahkannya padamu," balas Nada sambil tersenyum.

"Apa aku menyakitimu?"

Nada menggeleng sambil tetap tersenyum.

"Ini sudah resikonya, A'. Aku gak akan pernah menyesal."

Alfa memeluk erat istrinya.

"Nada, aku harap kita tetap selalu bersama. Aku gak mau kamu pergi dari hidupku seperti apa yang sudah Nadia lakukan padaku," lirih Alfa.

Nada mengurai pelukannya dan menatap wajah suaminya dengan penuh kasih sayang.

"Aku gak akan pergi selama Aa' gak minta aku pergi."

"Karena aku memang gak akan pernah membiarkanmu pergi."

Suara azan subuh terdengar menghentikan aktivitas mereka.

"Mandi berjamaah, yuk! Abis itu baru shalat subuh berjamaah!" ajak Alfa.

Nada mengangguk lalu seketika ia menjerit saat Alfa menggendong tubuhnya menuju kamar mandi. Mereka pun mandi bersama. Mandi tanpa aktivitas yang lain-lain.

***

"Aa', bangun! Emang Aa' gak ke kantor?" Nada putus asa. Sang suami masih betah di kasur setelah mereka bermain panas di ranjang padahal sudah pukul 07.30. Setelah shalat subuh, Alfa kembali menggoda istrinya untuk berusaha menghadirkan Alfa dan Nada junior di tengah-tengah mereka.

"Masih ngantuk, Sayang."

Bukannya bangun, Alfa malah menarik tangan istrinya dan memeluk erat tubuhnya.

"Kamu wangi banget," lirih Alfa.

"Ya iyalah! Aku kan udah mandi. Udah, A'. Sekarang mandi!"

"Aku lagi malas ngantor, Sayang. Hari ini aku mau di rumah sama kamu."

"Ck! Mentang-mentang CEO, malah ngantor seenaknya. Udah deh, pergi mandi terus ke kantor! Aku gak mau punya suami pemalas!" gerutu Nada.

Alfa menyerah. Ia bangun dan duduk di ranjang. Setelah itu, ia berdiri dan berjalan ke kamar mandi setelah sempat mencuri kecupan dari bibir istrinya.

Nada tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

Ia merapikan tempat tidur dan saat ia menyibak selimut, ia melihat bercak darah. Terbayang kembali percintaan panasnya dengan sang suami. Rasa nyeri masih terasa di bagian intinya. Namun, ia tak menyesal. Baginya, Alfa berhak mendapatkan apa yang selama ini sudah ia jaga.

Setelah mengganti seprei dengan sarung bantal, ia keluar dari kamar dengan membawa seprei dan sarung bantal yang kotor karena ulah mereka. Ia kembali ke kamar untuk mengambilkan pakaian yang akan Alfa pakai ke kantor. Seulas senyum kembali terukir di wajahnya. Ia telah menjadi istri yang seutuhnya. Ia meletakkannya di ranjang dan keluar untuk membuat sarapan.

Nada meletakkan roti bakar beserta selai kacang, stroberi, dan coklat di meja. Secangkir kopi dan segelas susu hangat juga sudah tersedia. Melihat suaminya keluar dari kamar, Nada tersenyum.

"Masya Allah, suamiku tampan sekali." Nada mengecup pipi suaminya.

"Di sini juga, dong!" rajuk Alfa sambil menunjuk bibirnya.

Nada menurut, tetapi saat ia hendak melepaskan kecupannya, Alfa menahan tengkuknya dan melumat bibirnya dengan rakus.

"Ya Allah, A'! Kan bengkak lagi, deh!"

"Biarin aja. Salah sendiri kenapa bibirmu bikin aku kecanduan," ujar Alfa asal.

Nada mencebik sambil meletakkan roti bakar di piring yang ada di depan suaminya lalu mengambil selembar roti lagi untuk dioles selai.

"Mau selai rasa apa, A'?"

"Selai rasa kamu, boleh?" Alfa mengedipkan matanya sebelah.

"Aa!"

Alfa tertawa melihat ekspresi kesal istrinya.

"Stroberi aja, Sayang."

Nada menurut. Setelah mengoleskan selai stroberi dan memberikannya pada Alfa, ia mengambil lagi dua lembar roti untuk dioles selai coklat dan kacang.

"Sayang, hari ini kamu ke kampus?"

"Aku gak ada kelas hari ini, A'. Jadi, aku di rumah aja beres-beres. Kenapa?" tanya Nada sambil mengunyah roti bakarnya.

"Nanti, kalo kamu ngajar, perginya gak isah pake motor, ya!"

"Lho, kenapa? Kan biar lebih cepat."

"Aku yang akan antar kamu ke mana pun kamu pergi!"

Nada tersenyum mendengar Alfa begitu perhatian padanya.

"Aa' gak keberatan? Nanti malah bikin Aa' repot lagi."

"Aku yang nawarin, masa aku yang keberatan. Udah seharusnya aku jagain kamu."

"Oke! Aku ikut mau kamu."

"Ugh! Istri siapa sih ini? Shalihah banget, deh!" ucap Alfa gemas sambil mencubit pelan pipinya.

"Istrinya Alfarezel Narendra, dong!" balas Nada sambil mengedipkan matanya sebelah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status