Chapter 8: Kehidupan Baru

Pukul enam lebih dua puluh menit, Nadya berangkat dari rumah menuju panti Sinar Asih mengunakan motor metic kesayangan. Ia memakai helm SNI dengan kecepatan normal sesuai peraturan berlalu lintas. Tatkala berpapasan dengan lampu merah, Nadya menghentikan laju motornya. Sembari menunggu kendaraan lain lewat, dirinya membuka kaca helm sebentar kemudian mengambil ponsel dari saku jaket hitam dan mengetik pesan pada layar datar di depannya. Jika ada yang bertanya mengapa Nadya mengenakan jaket laki-laki, ia hanya ingin mengembalikan jaket itu pada pemiliknya, Jaka. Bermalam di Rest Area Bandung membuat tubuhnya menggigil itulah sebabnya jaket Jaka ada padanya dan ia lupa mengembalikannya.

Biasanya pada jam-jam segini Jaka sudah ada di panti bersama anggota lain mengurus beberapa pasien, sebab perawat di panti cukup terbatas. Jaka merupakan salah satu donatur aktif, meski terkadang sifatnya yang mudah marah justru membuat para pasien ketakutan. Jika sudah seperti itu, Nadya dan teman-teman lain harus siap mengambil alih. Sehabis mengetik chat dan memasukkan kembali ponsel dalam saku jaket, Nadya melajukan motor kala lampu merah berganti hijau.

Pagi-pagi begini, Jakarta belum terasa panas. Walaupun begitu Nadya tetap harus menutup kaca helm agar debu tidak sekenanya terhirup. Sejak pandemi lima tahun lalu, ia menjadi sangat peka dengan alat penghidu dan kebersihan dirinya. Banyak wastafel-wastafel umum yang berdiri di taman-taman Jakarta dan tempat lain yang memerlukan tempat cuci tangan. Bagaimanapun juga musibah virus lima tahun lalu, sedikit demi sedikit mengubah gaya hidupnya dan gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Bagus sih. Manusia memang harus dicambuk dulu agar mengerti, termasuk dirinya sendiri.

Motor Nadya berhenti pada salah satu bangunan besar dengan halaman yang cukup luas. Pagar putihnya menjulang dengan pohon mangga dan jambu tertanam indah di halaman, bahkan rantingnya sampai menjorok ke luar pagar. Rumput hijau berseri tak lepas dari pandangan. Nadya lekas memarkirkan motor di halaman panti dengan plang yang bertuliskan ‘Panti Rehabilitasi Sinar Asih Bakal Belaka/SABABE’.

Nadya selalu tersenyum melihat papan raksasa itu. Sekitar setahun lalu resmi berdiri, tak menyangka panti yang dibangun komunitasnya bersama Pak Haji Arifin bisa bertahan hingga sekarang. Para donatur pun kian bertambah hari demi hari. Sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan ini sudah menjadi bagian dari hidupnya dan anggota Komunitas Mental Health.

***

“Ini, Non. Sesuai pesanan tadi,” ujar seorang wanita paruh baya, menyimpan sebuah kotak nasi di meja saji. Kedua matanya membentuk senyuman.

Sekarang ini Nadya sedang berada di dapur panti. Biasanya para perawat di sana akan mengambil kotak nasi satu per satu kemudian menyuapi pasien ODGJ yang tidak bisa makan sendiri. Sementara yang mampu, mereka diajari untuk mengambil sendiri makanan dan berucap ‘Terima kasih’ setelahnya.

Nadya membalas senyuman tadi kemudian segera mengambil kotak nasi dan berkata, “Makasih, Bi Ani. Pasien kali ini memang agak rewel.”

“Masa sih, Non? Rewel gimana?”

“Itu, Bi. Pasiennya gak bisa makan yang berbau amis sama daging-dagingan.”

“Loh, kok gitu? Bibi boleh tau namanya?”

“Em, namanya ... Theo?” Nadya menatap Bi Ani penuh tanya. “Gimana? Bagus gak?”

“Eeeh? Maksud, Non?”

Nadya menghela napas kemudian bercerita tentang pasien yang ia beri nama Theo, pasien ODGJ yang sangat langka, merupakan kasus kedua setelah tujuh tahun berlalu. Sebenarnya asal-usul Theo tidak sejelas kasus sebelumnya, tetapi perilakunya sangat mirip, bedanya pada kasus pertama si pasien bertingkah seperti ayam.

“Jadi nama Theo itu Non yang kasih?”

“Iya, Bi. Soalnya saya gak tahu namanya siapa. Bisa jadi, dia gak punya nama.”

“Tapi kalau Bibi denger-denger ... Dek Theo ini ganteng, ya? Kata perawat lain yang curhat di sini begitu. Terus orangnya liar banget, cuma bisa tenang kalau ada Non Nadya aja katanya,” tutur Bi Ani panjang lebar.

Nadya merenung sebentar, memikirkan kalimat yang cocok. “Um, lumayan sih, Bi. Ganteng. Kayak orang luar gitu, rambut aslinya juga putih. Kalau sekarang emang cuma saya yang bisa ngurusin dia, tapi saya yakin Theo bisa dekat sama yang lain juga.”

“Non Nadya selalu optimis ya? Bibi suka liat Non Nadya kayak gini.”

“Ah, Bibi, bisa aja. Udah dulu deh. Aku mau suapin Theo dulu,” ucap Nadya mengiming-imingi kotak nasi dengan riang. Dirinya segera pergi setelah mendapat anggukan ramah dari Bi Ani.

Nadya menyusuri koridor panti. Dirinya berpapasan dengan Nur yang sedang bermain bersama pasien belia di halaman, Fadil yang duduk di bangku taman terlihat menyuapi pasien manula, sedangkan Jaka tidak ada sama sekali. Mungkinkah Jaka tidak berangkat sekarang? Atau dia telat? Nadya ingin mengirim pesan singkat pada Jaka, tapi sebelum itu ia harus menyuapi Theo dulu.

“Ruang khusus nomor enam ... ah, ini. Sudah lama tidak digunakan aku jadi lupa,” ujar Nadya bicara sendiri. Senyumnya mengembang ketika memasuki ruangan itu. Di dalam ada Theo, tidur di lantai dengan posisi duduk seperti sebelumnya. Langkahnya mendekat dan berjongkok di depan Theo.

“Theo, bangun. Waktunya makan,” ucap Nadya, suaranya berubah pelan berusaha membangunkan Theo.

Kedua mata lekas terbuka. Theo tampak terkejut sesaat, tapi setelahnya tenang kembali. Sudah sekitar dua minggu ini Theo ada di panti. Perkembangan motoriknya berangsur-angsur membaik berkat Nadya yang telaten mengajari Theo cara menggunakan tangan dan kaki. Theo sudah jarang mengeluarkan suara mirip unggas, walau cara tidurnya masih sama. Tentu saja semua butuh proses.

“Theo suka tumis jagung sama nasi ‘kan, mau?” tanya Nadya. Ia tahu Theo belum belajar berbicara dan membaca. Namun, entah mengapa sepertinya Theo sudah tahu apa yang ingin Nadya sampaikan.

Seperti saat ini, Theo bersemangat menyantap sarapannya disuapi oleh Nadya. Begitu sampai pada suapan terakhir, Nadya mulai mengajari Theo cara untuk makan sendiri dengan benar. Cukup berhasil, meski Theo memakan suapan terakhirnya langsung dengan mulut. Kedua tangan Theo sudah bisa memegang piring walau tidak sempurna.

“Bagus, Theo sudah pintar, ya,” puji Nadya sambil mengelus-elus pucuk kepala Theo dan hal itu berhasil membuat perasaan Theo menghangat. Theo memejamkan mata untuk mengekspresikan perasaannya, karena perlakuan Nadya mirip sekali dengan pemiliknya dulu.

Setelah menyuapi Theo, Nadya membuka gorden. Jendelanya sedikit dibuka supaya sirkulasi udara dapat bekerja dengan baik. Sebentar, Nadya memandang Theo. Terlihat lebih kalem dari sebelumnya. Syukurlah, dengan begini Nadya semakin yakin kalau Theo bisa sembuh secepatnya. 

“Tunggu, ya. Kakak mau keluar dulu,” ucap Nadya. Senyum ringan ia tunjukkan sebelum keluar dari ruangan dan menutup pintu. Nadya mulai menyentuh layar ponsel dengan mengirim chat WA pada Jaka.

[Jak, tentang pertanyaan kamu beberapa minggu lalu, aku ingin menjawabnya setelah Theo bisa berjalan. Kamu gak keberatan, kan?]

Lalu Nadya menyentuh ikon kirim pada layar ponselnya, secepat kilat ia mendapat balasan dari Jaka. Saat itu juga lengkung bahagia tercetak jelas pada bibirnya. Dengan menenteng kotak nasi yang sudah kosong, matanya menunjukkan kebahagiaan. Agaknya, balasan dari Jaka kian meningkatkan perasaan Nadya yang sudah menghangat sejak tadi.

***

Tiga bulan berlalu, Regi sudah tidak ingat tentang merpati yang ia beli dari Pak Dedeng. Berkat satu koper uang itu, ia berhasil mengembangkan usaha merpati hiasnya dan meminang seorang gadis. Tak jarang dia menjadi juri atau peserta pada event-event merpati hias yang diselenggarakan dari berbagai daerah. Merpati jenis Jacobin dan Pouter miliknya sempat menyabet juara terfavorit dalam Kontes Merpati Hias Tingkat Nasional 2025.

Hari ini, Regi sedang berada di Lapangan Hijau, Bandung. Ada kontes merpati hias lokal di sini. Semua merpati yang mengikuti perlombaan diwajibkan merpati asli Indonesia—tidak boleh merpati persilangan. Banyak pecinta merpati yang mendaftarkan unggas berbulu cantik mereka ke sini. Lihat saja mobil-mobil mewah dan motor-motor mahal yang terparkir di tepi lapangan, berjejer rapi dan tertata. Bukan hanya itu saja, lapangan luas ini disulap menjadi ruangan in-door, terdapat stan-stan di dalamnya, disediakan oleh penyelenggara event.

Tiba-tiba Regi dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Bagai sihir, Pak Dedeng sungguhan ada di depannya sekarang. Beliau tersenyum hingga terlihat barisan giginya yang mulai ompong.

“Jang Regi! Kemana aja? Saya baru liat loh di sini. Gimana merpatinya sekarang? Masih ada?”

“Ha? Eh! Pak Dedeng?!” sahut Regi seperti orang yang melihat hantu, ia berbalik dengan mata yang membulat. Kehadiran Pak Dedeng membuat dirinya tak nyaman, karena apa yang ditanyakan si bapak nyatanya sudah tidak ada. “I-itu, Pak!”

“Itu? Itu apa?”

“Eh, maksud saya ... duh, maaf saya kaget tadi, kirain siapa. Bapak gimana kabarnya?” Regi balik bertanya untuk mengalihkan fokus pembicaraan. Satu biji keringat pada lehernya mendadak muncul tanpa permisi.

Bersambung...

_____________________________________

Ket:

[1] Artificial Intelligence/Kecerdasan Buatan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status