Demi Harga Diri
Demi Harga Diri
Author: Aufa
Part 1

"Ta, Lo lagi di mana?" tanya Ara lewat sambungan telepon. Tangan kanan Ara gunakan untuk memegang ponsel yang sedang didekatkannya ke telinga, sedangkan tangan kirinya memegang gagang koper yang ia bawa dari rumah. 

"Ya gue lagi di kost lah, Ra, emangnya kenapa?" jawab teman Ara di seberang sana. 

"Gue lagi di jalan mau ke kost-an lo, takutnya lo nggak ada," terang Ara. 

"Ya elah, mau ke sini aja pake tanya dulu, biasanya juga langsung ke sini." 

"Ini penting, Ta, menyangkut kehidupan gue selanjutnya," ujar Ara sedikit mendramatisir. Kalau boleh Ara tebak, sahabatnya yang sedang dihubungi itu, pasti memutarkan bola mata, sebal dengan ucapan Ara. 

"Lebay lo, ah. Udah mau jadi ke sini apa enggak? Gue tunggu nih, satu jam lagi gue mau nge-date sama cowok gue." 

"Iya, iya, gue ke kost lo sekarang. Jangan pergi dulu sebelum gue dateng." 

Ara memutuskan panggilan. Mematikan ponsel mahalnya, lalu memasukkannya pada saku celana jeans yang ia kenakan. 

Menepuk jidat, lalu kembali mengeluarkan ponselnya. Ada sesuatu yang ia lupakan. 

Membuka ponsel, dan langsung mencari aplikasi ojek online. Ara akan memesannya sebagai transportasi yang akan mengantarnya ke kediaman sahabat yang baru saja dihubungi. 

Lima belas menit menunggu, ojek online yang dipesannya pun datang. 

"Dengan Mbak Ara?" tanya driver ojek online. 

"Iya, saya, Pak. Ayo cepetan anterin saya ke lokasi." Dengan tanpa basa-basi, Ara menghampiri ojek online itu, dan langsung naik di belakang driver. 

========Aufa=========

"Metaa ... gue di depan nih," teriak Ara begitu sampai di depan kamar kost Meta--sahabatnya yang tadi ia hubungi. 

Tak ada jawaban, hingga membuat Ara berdecak sebal. Selalu begini ketika datang ke kost-an Meta, lama dibukakan pintunya. 

"Metaaa ... ini gue Ara, udah di depan kamar lo nih, bukain gih." Sekali lagi Ara berteriak, tak lupa kamar kost sahabatnya itu ia gebrak dengan sedikit bar-bar, hingga menarik perhatian dari tetangga kost Meta. Untung saja para tetangga kost Meta tak ada yang berani menegur perbuatan Ara itu. 

"Berisik! Lo tuh bisa manggil baik-baik nggak sih?" Tak disangka ternyata sang empu kamar kost datang dari arah belakang Ara. Sontak Ara pun membalikkan badannya. 

"Hehe, lagian lo sih, dipanggil dari tadi nggak nyaut-nyaut, taunya malah dari mana lo?" Ara memicingkan matanya pada sahabatnya yang tengah mengusap-usap rambut panjangnya dengan handuk. 

"Lo nggak liat nih, gue habis mandi." Meta menunjukkan rambutnya yang basah. "Lo ngapain ke sini bawa koper segala?" Kini pandangan Meta beralih pada koper yang sedari tadi teronggok di depan kamar kost-nya. Meta bisa menebak jika koper itu pasti milik Ara. 

"Gue kabur dari rumah, Ta," bisik Ara. 

"What?! Kabur dari rumah?" pekik Meta, dan seketika membuat Ara yang berdiri di depannya berjengit. "Serius lo?" 

Ara berdecak, ia tak menyangka jikalau reaksi sahabatnya akan selebay ini setelah mengetahui dirinya kabur dari rumah. 

"Jangan keras-keras napa sih, lebay banget lo denger gue kabur," cibir Ara. 

"Ya lagian gue heran, Ra, lo kabur kek gini, ada apa coba?" 

"Ntar gue ceritain deh. Udah buruan lo buka pintunya, gue udah pegel nih, dari tadi berdiri terus." 

=============Aufa============= 

"Oh, jadi gitu." Meta manggut-manggut setelah Ara menceritakan perihal dirinya yang melarikan diri dari rumah. "Terus habis ini mau tinggal di mana?" 

Pertanyaan Meta seperti itulah yang sedari tadi berkeliaran dalam pikiran Ara. Tentang di mana ia akan melanjutkan hidup setelah memilih pergi dari rumah. 

Ara menghembuskan napas pelan. Jujur ia kini tengah dilanda kebingungan yang teramat sangat. 

"Gue juga bingung, Ta, mau tinggal di mana," keluh Ara. 

Ucapan Ara bukannya mendapatkan simpati dari Meta, tetapi justru memperoleh gelengan kepala dari sahabatnya itu. 

"Lo tuh aneh, Ra, harusnya sebelum kabur dari rumah, lo mikirin dulu di mana lo mau tinggal. Nih, gue kasih tawaran, lo bisa tinggal sama gue di sini, entar biaya bulanannya kita patungan deh. Gue kurang baik gimana coba?" Meta menawarkan tumpangan hidup. 

"Ogah gue tinggal bareng sama lo kalo di sini, sumpek, sempit banget tau," ucap Ara sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan kost milik sahabatnya itu. 

Meta mencebik mendengar pernyataan Ara. Meski sempit begini, buktinya Ara sering main ke sini, dan berlama-lama di sini. 

Sebenarnya Meta juga merasakan hal yang sama dengan Ara tentang kondisi kamar kost-nya ini, tapi mau bagaimana lagi, kamar kost yang ia sewa ini adalah yang paling murah di kota ini. 

"Lagian salah lo sendiri, Ra, main kabur-kabur segala. Udah bener hidup enak di rumah mewah, eh, malah milih pergi. Otak lo kayaknya konslet deh, Ra," ujar Meta dengan menggebu-gebu. 

Ara memukul kepala Meta dengan bantal guling, hingga membuat yang dipukul mengaduh kesakitan. 

"Sembarangan lo kalau ngomong! Lo lupa, nilai IPK gue lebih tinggi dari nilai lo." Ara balas menghina. Bukan tak terima dibulli Meta, namun seperti itulah gaya bersahabat dua sejoli ini. 

"Iyaa, sorri ...." Meta mengusap-usap kepalanya yang tadi dipukul sama bantal guling, meski sebenarnya tidak begitu sakit. "Eh, gue keluar dulu ya, pacar gue udah sampai di depan gerbang." 

=====Aufa=====

Setelah kepergian Meta, Ara memutuskan untuk tidur di kasur lantai punya Meta. Pergi ke alam mimpi mungkin jauh lebih baik daripada ia terus memikirkan nasib hidupnya setelah ini. 

Satu jam berbaring, ternyata tak membuat Ara terlelap. Membolak-balikkan badan ke kanan dan ke kiri, namun tak jua membawanya hilang ke alam mimpi. 

"Ya Alloh ... Ara lelah, huft," keluh Ara. 

Dalam pikiran Ara, mungkin saja mamanya kini tengah bersedih hati setelah tahu dirinya pergi dari rumah. Bukan tak sayang, pada wanita yang telah melahirkannya itu, namun dirinya bertekad ingin hidup mandiri setelah selesai kuliah, seperti apa yang diceritakannya pada Meta tadi. 

Ingin hidup mandiri sebenarnya bukan satu-satunya alasan yang membuat Ara memilih pergi dari rumah, ada alasan lain yang tak bisa ia ungkapkan pada Meta. Walaupun Meta sahabatnya, namun Ara tidak bisa jika harus menceritakan sesuatu yang menurutnya lumayan intens. 

Ponsel berlogo apel yang tergigit separuh milik Ara, berdering. Segera ia mengambilnya dari atas nakas. Terpampang di layar nama 'My Mom' memanggil. 

Ara bingung mau mengangkatnya atau tidak, namun jika mengabaikannya, ia akan semakin merasa bersalah. 

"Iya, Ma," ucap Ara setelah memutuskan untuk menerima panggilan. 

"Sayang, kamu di mana sekarang? Kata bibi kamu pergi bawa koper. Jangan buat mama khawatir, Ara." 

"Ara baik-baik aja kok, Ma, jangan khawatir. Ara cuma pengen hidup mandiri aja, lagian Ara kan udah selesai kuliahnya, udah waktunya buat Ara pergi dari rumah buat cari kerja, nggak enak kalau Ara terus-terusan numpang hidup sama ayah," tutur Ara seraya menahan agar air matanya jangan sampai keluar. 

"Sayang, kamu ngomong apa sih? Jangan gitu ah, kalau kamu pengen kerja, kamu nggak harus pergi dari rumah, Ara. Meskipun ayah bukan papa kandung kamu, tapi dia selalu menganggap kamu seperti anak kandungnya sendiri, dan nggak pernah nganggap kamu numpang hidup. Sekarang kamu bilang ada di mana, biar mama suruh supir buat jemput kamu." 

Bukannya menuruti perintah ibunya, untuk memberi tahu keberadaannya sekarang, Ara justru memutuskan panggilan sepihak. Tentu ia tak mau keberadaannya diketahui oleh orang-orang yang berhubungan dengan keluarganya. 

To be continue

Mohon kritik dan sarannya

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status