Bab 5_ Membenci Ayah

Ketika Smith turun dari ojek yang mengantarnya pulang, ada sebuah mobil mewah yang juga berhenti di depan gerbang rumahnya.

Smith sangat mengenal mobil itu. Maka, ia yang baru saja merogoh saku bajunya untuk membayar jasa tukang ojek, dengan terburu-buru kembali mengambil helm yang diletakkan di atas kaca spion. Smith memakai helm itu lagi sembari duduk di belakang tukang ojek yang masih berada di atas motor bebek.

"Berhenti atau saya laporkan Anda ke polisi!" teriak seorang lelaki paruh baya yang baru keluar dari dalam mobil. Membuat tukang ojek yang telah menyalakan mesin motornya menjadi gugup dan menelan ludahnya.

Lelaki itu tampak gagah dengan setelan jas bermerk berwarna hitam. Ia juga mengenakan sepatu hitam yang tersemir sempurna tanpa terlihat sedikitpun debu.

"Siapa Nona sebenarnya? Apa Nona ini pencuri, kriminal, pesakitan, atau apa?" tanya tukang ojek berbisik-bisik sambil sedikit menoleh ke belakang. Kentara sekali kalau tukang ojek itu ketakutan. Ia merasa terancam lantaran khawatir membonceng seorang buronan.

"Bukan. Sudahlah Pak, nyalakan lagi motor Bapak dan pergi dari sini secepatnya!" ujar Smith sambil menepuk pundak tukang ojek.

"Sasmitha! Turun dan cepat masuk! Sedangkan kau tukang ojek, ambil ini dan pergilah dari sini."

Tukang ojek yang menerima uang seratus ribu rupiah, langsung menyalakan mesin dan tancap gas.

***

Ruang tamu terlihat sangat megah dan apik dengan ornamen-ornamen dinding yang menawan. Lantai marmer mengkilat, guci-guci besar, sofa panjang dengan warna merah bata yang elegan, dan lampu hias raksasa dengan cahaya terang menjadikan ruang tamu itu sangat cukup untuk membuat orang yang melihatnya berdecak kagum.

Kemewahan ruang tersebut semakin lengkap dengan adanya sebuah lukisan keluarga berukuran 2 x 2 meter. Itu adalah potret dari ayah, ibu, dan seorang gadis kecil yang manis.

Akan tetapi ruangan itu senyap saja, seolah tidak ada kehidupan di sana. Padahal, kini tengah duduk dua orang di sofa yang berbeda.

"Mengapa kau tidak memakai mobil yang ayah belikan?"

Smith tidak menyahut. Ia hanya duduk dengan wajah malas, tanpa melihat lelaki yang bertanya padanya.

"Sasmitha, mau sampai kapan kau bersikap kekanak-kanakan seperti ini? Lihatlah dirimu, kau sudah dewasa. Semestinya kau bisa lebih bijak dalam bertindak dan mengerti mana yang baik untukmu sendiri."

Smith masih tidak menyahut. Ia malah berdiri dan hendak meninggalkan ayahnya.

"Sasmitha, ayah belum selesai bicara," ujar Hendry dengan suara lebih lantang pada putrinya yang telah menaiki tangga.

Seperti biasa, lelaki itu pada akhirnya hanya merebahkan tubuhnya ke sofa sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Dalam saat-saat matanya terpejam, segala hal buruk yang telah ia lakukan di masa silam pada istri pertamanya terlintas dalam pikirannya. Hal itulah yang membuat dirinya mengerti mengapa Smith bersikap demikian padanya.

Hendry Sasongko adalah seorang konglomerat dengan jumlah kekayaan yang tidak akan habis sampai tujuh keturunan. Ia memiliki sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, misalnya pertambangan timah, batu bara, juga minyak. Kesemuanya sukses besar dengan omset yang luar biasa menggiurkan.

Selain itu bisnisnya di bidang properti juga tidak kalah mentereng. Sejumlah aset berharga miliknya tersebar di berbagai kota besar.

Berkat usahanya yang terus menghasilkan pundi-pundi uang itu mengantarkan Hendry masuk dalam jajaran orang paling kaya di Indonesia.

Akan tetapi, segala kekayaan yang dimiliki Hendry nyatanya tidak membuat lelaki itu bisa benar-benar bahagia. Hubungannya dengan putri semata wayangnya itu telah memburuk sejak kematian istri pertamanya, saat Smith masih duduk di bangku kelas VIII.

Dan sampai detik ini, keadaan tidak kunjung membaik juga. Kemarahan dan kekecewaan putrinya seperti tidak berkurang sejumput pun. Bahkan Henry merasa Smith semakin benci padanya.

***

Smith duduk di atas lantai dengan punggung menempel di tempat tidur. Kedua lututnya tertekuk dengan dua tangan yang bertumpu di atasnya. Smith meletakkan dahinya ke tangan.

Dalam posisi duduk dengan wajah yang tersembunyi itu, pundak Smith terlihat turun naik. Tapi tidak ada isakan yang terdengar sebab Smith menggigit bibirnya agar tetap tertutup rapat.

Sesekali Smith mengambil napas dari mulutnya, sebab lubang hidungnya tertutup oleh lendir yang keluar bersama air mata.

Smith selalu merasa sesak dadanya setiap kali melihat wajah sang ayah. Ia tidak bisa melupakan wajah menyedihkan almarhum ibunya ketika berhadapan dengan Hendry.

Bagi Smith, tidak ada orang yang lebih ia benci ketimbang sang ayah. Bahkan terkadang pikiran liarnya membayangkan betapa bahagia hidupnya jika Hendry lenyap dari muka bumi.

Entah di tangan perampok atau di mulut buaya, ia bersumpah untuk tidak akan menangisi kematian ayah paling buruk sepanjang masa itu.

Padahal ketika masih kecil, tidak ada orang yang lebih dicintai dan disayangi Smith daripada sang ayah. Bahkan ibunya sekalipun.

Ketika itu di mata Smith, Hendry merupakan ayah paling hebat sedunia, yang sangat bertanggung jawab, pekerja keras, gigih, sabar, dan penyayang.

Smith bisa murung sepanjang hari ketika sang ayah terpaksa mesti meninggalkannya untuk bekerja. Gadis itu akan dengan setia menunggu kedatangan ayahnya di halaman rumah seperti seekor anak kucing yang menanti majikannya pulang.

Kadang-kadang Smith kecil yang manis akan menangis dengan sekencang-kencangnya ketika waktu pulang sang ayah telah tiba, tapi Hendry belum juga tampak batang hidungnya.

Ada kalanya ketika sifat manjanya sedang kumat, Smith akan mengunci rapat mulutnya ketika sang ibu hendak menyuapinya. Semakin sering sang ibu memintanya untuk membuka mulut, semakin kuat ia menempelkan kedua bibirnya. Dan Smith baru akan makan, hanya jika Hendry yang menyuapinya.

Maka, Hendry terkadang pulang di waktu istirahat hanya untuk menyuapi gadis mungilnya. Untung saja jarak dari rumah ke tempat bekerja Hendry tidak terlalu jauh.

Tapi segala sesuatunya berubah ketika usaha yang dirintis Hendry semakin maju dan bertambah banyak.

Kesuksesan yang diraih sang ayah diikuti dengan munculnya kebiasaan baru, yakni sering pulang larut malam, pulang dalam keadaan mabuk, bahkan juga pergi entah kemana dan baru akan pulang ke rumah dua atau tiga hari kemudian.

Sialnya, bukan hanya kebiasaan Hendry yang berubah, melainkan juga perangainya. Hendry menjadi seorang yang lebih mudah marah dan kerap membesarkan dirinya sebagai seorang pengusaha sukses yang sangat terhormat.

Sikap penyayang Hendry mulai terkikis dan digantikan dengan sifat arogan yang menyebalkan. Hendry sering marah besar untuk masalah-masalah sepele, misalnya kopi yang kurang pahit, menu sarapan yang tidak sesuai dengan keinginannya, sampai dengan wajah sang istri yang dibilang membosankan.

Bahkan Hendry yang dulunya selalu berusaha untuk menuruti permintaan Smith meski keadaan perekonomian ketika itu masih pas-pasan, berubah menjadi acuh tak acuh pada apa yang diinginkan putrinya itu.

Singkatnya, Hendry sudah tidak memiliki waktu lagi untuk keluarganya. Ia sibuk sendiri dengan urusannya yang seperti tidak pernah selesai. Entah urusan pekerjaan ataupun urusan lainnya.

Namun, andai kata hanya itu masalahnya, mungkin Smith tidak akan menderita lara batin akut yang sangat sulit untuk disembuhkan.

Sakit hati yang membuat semua rasa cinta kasih Smith pada sang ayah terkubur dalam-dalam, tertutup oleh kemarahan, kekecewaan, juga kebencian yang tidak terhingga.

Pasalnya, saat Smith duduk di bangku kelas 5 SD, kekasaran Hendry pada sang istri semakin menjadi-jadi. Hendry tidak hanya akan mengoceh, mengumpat, dan mengeluarkan kata-kata menyakitkan saja. Melainkan sampai memukul istrinya setiap kali terjadi perselisihan di antara mereka.

Kali pertama Smith melihat perlakuan kasar Hendry terjadi pada tengah malam di ruang tamu. Ketika itu Hendry tidak hanya menampar istrinya, tetapi juga sempat mencengkeram leher sang istri hingga terbatuk-batuk.

Smith yang sudah tidur di kamarnya, tidak mendengar dengan jelas apa yang menyebabkan kedua orang tuanya ribut. Tapi ketika ia bangun dan pergi ke ruang tamu, ibunya sudah menjadi sasaran amukan sang ayah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status