Hide the star from the world

Dvorets Imperor, Peterburg

Louis Gernes 

Maaf aku terlalu pengecut menerima kenyataan hidupku yang sepenuhnya telah ditentukan bukan olehku tapi orang lain, aku ingin mencoba membuka diri namun rasa takut akan penolakan akan larangan terus menghantuiku, saling menyembunyikan terus menerus tanpa tahu sakit diantara kami yang mulai menyeruak dalam benak namun tak mampu terucap.

“Lihatlah kelakuanmu!, bagaimana aku bisa keluar dengan tubuh penuh bercak merah begini?!” ia mulai merajuk dengan apa aku lakukan sejak malam, aku hanya menyengir menanggapi marahnya, ia hendak beranjak pergi, namun tubuhnya kini kutahan dan kuciumi dia dengan gemas, entah apa aku selalu merasa jatuh cinta setiap hari padanya.

"Lepaskan Louis!, atau aku akan membunuhmu!” ancamnya

"Kau tidak akan melakukan itu” ucapku padanya dengan mengedipkan mataku nakal.

"Heuhhh aku bisa membunuhmu, kalau sampai kau melaporkan keberadaan Adera pada adik sialanmu" ia melepaskan kungkunganku kasar dan pergi ke kamar mandi, aku merasa tertampar dengan ucapannya karena aku diam diam sudah memberitahunya bahwa Adera di bukit Georgia.

Kami melakukan aktivitas seperti biasa kini kami mulai dengan sandiwara kami, seakan akan tidak akrab dan hanya menyapa ketika tidak sengaja bertemu di acara kekaisaran, selalu saja seperti ini Alan menganggap sandiwara ini penting ia bahkan tidak menatapku sama sekali sekarang di depan jamuan makan malam para Menteri kaisar. Aku menyudahi jamuan dengan perbincangan mengenai kepentingan rakyat yang kini, namun para Ser sudah pergi meninggalkan jamuan, aku merasa sedih ketika diacuhkan olehnya apalagi disaat aku sedang sangat mencintai dia, aku tahu ini sandiwara kami namun tetap saja menyakitkan.

Sekitar pukul 12 malam aku pergi ke belakang hutan Dvorets dengan diam diam ditemani Kenaken Lai kaki tanganku, kemudian ia pergi dengan mematikan obor dan meninggalkanku yang kini sudah sangat merindu dengan kekasih hatiku, aku masuk ke ruang menyerupai rumah di dalam pohon besar, ya aku dan Alan akan melakukan pertemuan kami sebagai pasangan disini, menyedihkan bukan , namun inilah perjuangan cinta kami yang kami lakukan layaknya berbuat dosa.

Aku memeluk pinganggnya dan menaruh kepalaku di lehernya, ia melenguh karena aku yang mulai menciumi lehernya rindu, rasanya aku sangat merindukan malaikatku ini, aku selalu memanggilnya malaikatku atau bintangku dan ia sangat menyukai itu.

“kau merindukanku hmm?" Ia bertanya dengan mata berbinarnya dan wajah yang sangat menggemaskan itu, aku tak tahan dan mencuri satu ciuman dibibirnya.

“Tsar.." ia memanggilku Tsar ketika kesal dan aku kini menunduk meminta maaf

“Kau selalu saja begitu, seperti aku ini adalah makanan yang ingin kau lahap”

"Maaf aku sudah sangat merindukanmu dan sangat tergoda olehmu hanya mencium bibir indah ini untuk memuaskan rinduku” aku mengusap bibirnya lembut dengan jempolku.

“Aku juga merindukanmu, namun entahlah akhir akhir ini Dominic selalu memerhatikanku dan membuatku tak bebas menatapmu atau tersenyum padamu” ia duduk di pangkuanku dengan wajahnya ia terlusupkan di dadaku.

“Baiklah aku mengerti” ucapku yang kini menciumi seluruh wajahnya, hidungnya, matanya, bibirnya semuanya membuatku mabuk, mengapa tuhan menciptakan mahluk sesempurna ini untukku, apa yang kulakukan dimasa lalu hingga bisa memiliki pria ini.

Ia membuka bajuku lembut dan menutup rapat bibirku dengan bibirnya, kami melewati malam yang indah dengan saling menginginkan untuk melepas rindu sejak pagi kami bungkam.

Bukit Georgia

Sementara disana, seorang pria berusaha naik kebukit Georgia dengan kudanya, namun kelicinan akibat salju tebal membuat kudanya terkapar tak mampu menopang beratnya lagi, ia mencoba terus memanjat meski dengan tenaga yang seadanya sampai seseorang membawanya ketika ia tak sadarkan diri disana.

Jyijzi wanita dengan bakat perang sejak kecil ini mengangkut pria yang jauh lebih besar darinya dengan kekuatan yang ia punya, ia menidurkan pria itu di bawah pohon lebat didepan mansion biru, jyijzi tahu pria ini adalah atasannya di akademi peperangan dan merupakan Prints tertangguh pada masa ini, dia membayangkan sekeras apa pria ini memanjat bukit tinggi yang licin tanpa pengaman, bahkan jembatan runtuh pun ia tetap mencoba pergi, hati Jyijzi tersentuh dengan pengorbanan Prints Liam, haruskah ia membujuk Carlos tetap membiarkan mereka bertemu?, keduanya saling merindukan dan mati dalam keadaan jantung masih berdetak.

Adera terus meracau disepanjang tidurnya, nama Liam terus ia keluarkan disetiap nafasnya, Carlos merasa iba namun tak ada jalan lagi yang bisa dilakukannya dan kini Carlos khawatir akan keselamatan Jyijzi dimana jembatan akses ke bukit ini runtuh karena badai salju mendadak datang sore tadi, ia menyesal membiarkan gadis itu membawa bahan makanan dan barang barang Adera dari Moskwa sendirian, Carlos merasa dirinya kejam dengan melakukan itu, dan kini yang ia lakukan hanya berdoa untuk keselamatan gadis itu.

Keesokan harinnya Alan dan Louis pergi ke Mansion Biru, Alan kesana karena ada kepentingan di ibu kota, sedangkah Louis kesana untuk melihat kondisi Liam yang katanya menggigil sejak malam dan bahkan suhu tubuhnya tidak memanas meski sudah di mandikan air hangat dan ditutupi selimut tebal, Liam terus meracau nama Adera setiap tidur membuat siapapun sedih melihatnya, kini Ricky dan Frensques juga ada disana ia sangat mengkhawatirkan Liam

Ricky tahu sejak 3 hari lalu berita kematian Adera membuat Liam gila dan terus mengamuk di Mansion Biru, ia terus tidur sepanjang hari di tebing perbatasan Mokswa Peterburg dan menangis disana, ia bahkan tak mau menunggangi kuda, dan berjalan gontai bulak balik Moskwa Peterburg, semua orang membicarakannya dan menangis dengan keadaan prints ramah mereka yang sangat rakyat cintai, Liam sering teriak dan menangis sendu tiba tiba, siapa sangka cintanya pada Adera sebesar ini, maka dari itu Louis memberitahunya dan kini ia harus merelakan pertengkaran diantara ia dan Alan terjadi.

“Kau tidak bisa dipercayai”

“Aku mohon dengarkan aku, aku tau kau menyayangi adikmu namun aku juga menyayangi adikku Alan, mereka tersiksa dan saling merindukan”

“Ya mereka saling merindukan karena adik brengsekmu menganggu adikku sejak kami di ibukota peterburg, ia membuat adikku tersiksa oleh printessa keji itu”

“Aku berjanji padamu aku akan mengusirnya untukmu”

“Tidak perlu, aku sudah tidak mau mempercayai pembohong, lagipula sekarang keselamatan Adera sudah terancam”

“Tapi aku melakukan ini untuk adikku”

"Baik sekarang kau pilih, aku atau adikmu?"pertanyaan  ini membuat louis diam dan terkejut.

“Kau tidak bisa melakukan hal yang mudah begini saja, bagaimana bisa kau memperjuangkan cinta kita dimasa depan hah?" Alan benar benar muak dengan louis yang selalu diam.

"Sepertinya kita sudahi saja semua ini” Alan meninggalkan Tsar nya itu, namun Tsar yang mencintainya tidak pernah mau melepas tangan, Alan ia memeluk kaki Alan dan menciumi tangannya dengan air mata mengalir, Louis bingung dan hancur dengan pernyataan itu.

“Aku tidak pernah meminta apapun selain kepercayaanku yang harus kau jaga, dan kau tahu sekali berkhianat maka aku tidak akan mempercayainya lagi” Alan melepasnya kasar.

“Aku bisa bayangkan bagaimana Adera kini, pasti akan banyak orang tahu keberadaannya dan mulai meyakitinya lagi, aku harus menjaganya dan aku tidak bisa melajutkannya bersamamu, kita memiliki jalan yang berbeda dan terjang, tak ada yang bisa menyelamatkan siapapun”

Louis menangis dengan seluruh kejadian ini, mengapa harus memilih antara Liam dan Alan, apakah dunia ini akan membuatnya terus memilih siapa diantara banyak orang penting dihidupnya? Apakah selanjutnya ia juga akan memilih lagi, mengapa mencintai saja dosa untukku, hanya karena kami tidak sesuai dengan aturan percintaan yang melibatkan anak adam dan hawa bukan seperti ku dan Alan, siapa yang menciptakan aturan ini, aku tersakit-sakit disini.

Bahkan semestapun tahu bukan hanya Louis yang menderita, Alan juga sakit disini bahkan lebih sakit ketika ia menyaksikan peristiwa Adera yang menangis dalam diam, sementara Liam yang diam dan tertawa Bersama sahabatnya di alun alun Peterburg membuatnya muak, dan kini dengan terpaksa meninggalkan kekasihnya karena ia tidak mampu memilih dirinya atau Liam, kini sungguh Alan membenci Liam dan sampai kapanpun Adera tidak ia relakan dengan biadab itu.

Moskwa

Kini Adera dibawa ke Moskwa kembali karena takut Printessa dan Koroleva Alica kembali menyakitinya, tidak habis fikir bisa setega itu seorang ibu dengan anaknya, namun Adera tetaplah Adera ia bukanlah gadis yang akan tinggal diam dalam Menara dan menangis, ia tahu banyak orang yang mencintainya sekalipun ia kehilangan printsnya, apalagi melihat alan bratnya sudah sangat khawatir dengannya, membuat Adera memberanikan diri unjuk diri lagi didepan semua orang tapi bukan sebagai Adera namun sebagai Czar Knight.

Cara carlos ini memang terkesan menakutkan dan membahayakan namun rupanya Adera senang dengan penyamaran ini, kini ia hanya akan menjadi Czar Knight dalam sisa hidupnya , bukan hanya itu kebahagiaan Alan adalah yang utama untuk Adera, bagaimanapun ia akan membantu Alan kembali pada kekasih hatinya.

Alan memainkan pianonya, ia akan kembali ke Dvorets esok saja karena enggan menemui Tsar nya itu, berbagai alunan nada ia coba namun entahlah nada nya selalu mengarah pada satu lagu, lagu yang ia buat Bersama Tsar nya di Dvorets dulu.

Flashback On

Dvorets Imperor, Peterburg

Cahaya sore menyilaukan mata, membuat pantulan warna orange memancar dari kedua kornea Ser Alan yang kini mulai memainkan pianonya dengan irama yang sering ia lantunkan setiap diacara dansa, ya alan adalah seorang pemusik yang sangat pintar memainkan segala jenis alat musik, dari mulai piano, biola, harmonica bahkan harpa sekalipun, namun ia tidak pernah senyaman ini dalam menikmati permainannya sendiri, rasanya semua nada ia ciptakan dengan mudah karena keberadaan seseorang dihatinya, siapa lagi kalau bukan Louis.

Sejak pertama bertemu Louis sudah memberikan kesan indah dimata Alan, ia menyelamatkan hidup alan kala itu, ia juga selalu menggoda Alan dan membuatnya berdegup kencang, Alan sempat ragu apakah ia mencintai pria itu atau hanya kagum, sampai suatu ketika kejadian malam itu di depan gerbang Dvorets kecemburuan Rsar menjadi alasannya, ciuman lembut di kamar Tsar itu membuatnya sadar bahwa Louis sudah menempati bagian dihatinya dan kini ia tengan duduk disamping Alan terus memandanginya dan mengusap rambutnya yang kini menjadi salah satu yang Louis kagumi.

“Lagu apa yang akan kau mainkan?” pertanyaan Louis membuat Alan berdegup kencang.

“Aku baru membuat nada baru yang aku fikirkan baru baru ini”

“Coba kau mainkan” perintahnya lembut

Lantunan nada itu indah , dan membuat Louis tiba tiba menyanyikan sebuah lagu spontan dari fikirannya.

I still remember ~

Third of desember~

Me in your sweater, you said it looked better~

On me, than it did you, only if you knew~

How much I like you, but I watch your eyes~

Lagu itu indah terucap dari bibir Louis, membuat tanpa sadar Alan benar benar jatuh cinta padanya, hingga malam berakhir mereka terus memainkan lagu itu tanpa henti dan menyatakan cinta, memberikan kehangatan yang selama ini tidak pernah dirasakan keduanya.

Seminggu berlalu, mereka tetap Bersama dalam persembunyiannya. 

“Apa yang akan kau lakukan jika kita ketauan menjalin hubungan?" pertanyaan itu datang dari alan yang sudah sejak kemarin menghawatirkannya.

“Maka aku akan mengakuinya dan mengatakan bahwa kau adalah orang yang ingin kucintai sepanjang hidupku” Louis mengecup pucuk kepala Alan.

“Apa kata rakyatmu tentang ini?”

“Aku tak peduli, percintaanku tidak akan merugikan mereka”

“Aku tidak bisa memberi keturunan” jawab Alan sendu.

“Tak apa, biarlah Liam yang menggantikanku atau anaknya, aku tidak peduli”

Entah mengapa jawaban Louis membuat Alan senang sekaligus sedih, ia tidak mau dibenci rakyat karena cintanya pada Louis, namun ia juga senang ia tidak akan menjadi yang ditinggalkan jika louis memang memilihnya dari pada jabatan tsarnya itu.

Flashback Off

Peterburg 

Louis kini sedang menghadiri banyak pertemuan dengan para Ser dan Prints, ia juga mendapat jamuan dari berbagai kalangan bangsawan yang hendak mengenalkan putri mereka, sampai akhirnya ia harus terpaksa ikut dalam jamuan Bersama Ser Tsoi yang merupakan teman dekat ayahnya Louis Tsar Kiev, jamuan ini terus saja membahas tentang Louis dan Krovena putri dari Ser Tsoi, louis merasa risih namun bagaimana lagi ia tidak mungkin menolak untuk datang dan pergi sesuka hati karena akan menampakan kesan buruk baginya, apalagi kini dengan santainya Krovena akan tinggal di Dvorets sebagai penanggung jawab usulan rakyat, kini bertambah lagi masalah bagi Louis, ia ingin sekali bertemu kekasinya yang sudah ia rindukan sejak kemarin.

Tidak jauh beda dengan Frensques, Krovena selalu menempeli Louis kemanapun, dan hal itu sangat menyebalkan bagi Louis, ingin rasanya mengusir Krovena dari hadapannya namun ia tetap mengurungkan niatnya. 

“Bisakah kamu sedikit menjaga jarak, aku kesulitan untuk mengerjakan tugasku”

“Apa tsar mau teh, biar aku buatkan” Louis hanya mengangguk karena ingin mengenyahkannya dari pandangaannya.

Selesai dengan rutinitas tugasnya, Louis kembali dihadapkan dengan Krovena yang kini membawa gelas berisi teh yang ia buat, tanpa basa basi Louis meminumnya dan berterimakasih pada Krovena, namun setelah itu Louis merasa pusing dan akhirnya ia memejamkan matanya, Krovena kini dibantu Dominic untuk mebawa Louis kekamarnya dengan rencana licik mereka.

Alan mendapat pesan yang rupanya dikirimkan oleh Dominic ia meminta alan pergi ke Dvorets, andai saja ia tidak peduli dengan rakyat Peterburg mungkin Alan akan menolak mentah mentah suruhan itu, ia sedang kesal dengan Tsar nya, tak butuh waktu lama kini Alan sudah ada di Dvorets dan masuk ke ruangan keuangan miliknya, Dominic datang dan mulai memberi tahukan apa saja yang menjadi masalah, rupanya banyak sekali petisi rakyat yang tidak setuju dengan keputusan Alan sebelumnya, membuat kepala Alan pening, butuh waktu semalaman menyelesaikan ini, sampai akhirnya ia mulai lelah dan merindukan Tsar nya, ah pasti Louis sudah tidur tak apa mungkin menjenguknya sebentar dikala ia tak sadar, Alan dengan gembira memasuki ruangan Louis yang rupanya tidak terkunci, sampai suatu pemandangan membuatnya pilu dan tanpa sadar menjatuhkan guci di meja dekat pintu kamar tsar nya.

“Alan?” Louis terkejut dengan keberadaan Alan, ia senang namun raut wajah Alan tidak demikian kini Louis menyadarinya ia benar benar telanjang dengan seorang gadis yang ia sadari adalah Krovena.

“Aku bisa menjelaskan ini tolong dengarkan aku” Alan mencoba tegar, ia bahkan tidak menangis sedikitpun.

“Apa?”

"Aku benar benar tidak tahu bagaimana aku bisa berakhir seperti ini”

“Kau yang mengajakku tidur Bersama Tsar kau bilang kau kesepian” tiba tiba Krovena menjawab lantang.

“Apa maksudmu aku..”

“Sudah, aku tidak mau mendengar lagi, lagi pula apa urusanku untuk mendengarnya aku tau dia gadis yang sudah dijodohkan denganmu, wajar saja bukan” Alan beranjak pergi namun kini louis dengan cepat memakai celananya dan memeluk alan.

“Aku benar benar mencintaimu, dia menjebakku”

“Aku tahu, lagipula kau selalu mengunci pintumu saat melakukannya, aku tidak bodoh seseorang yang habis bercinta tidak akan sebugar ini”

“Lalu mengapa kau?” herannya

“Aku sudah lelah, banyak hal yang membuat kita tidak bisa Bersama, aku tahu sejak awal hubungan ini terlarang maka dari itu ayo kita sudahi saja”

“Apa kau ingin membunuhku?"

“Kau bahkan sudah membunuhku Tsar” Alan melepaskan pelukan Louis, ia pergi menuju ruangannya dan kini menguncinya, Louis bingung ia tidak tahu apa yang harus dilakukanya kini, ia benar benar ingin membunuh manusia saking muaknya.

Pagi hari, Alan sudah Bersama dengan Dominic dengan akrab bahkan bercanda, louis yang melihatnya tentu kesal setengah mati, rasa ingin menampol jadi naik drastis, tapi bisa apa dia, jabatan Tsar mengungkungnya, andai ia bisa pergi dari jabatan ini dan memberikanya saja pada Dominic mungkin kini ia bisa bahagia dengan Alan, kenapa ia harus berjanji seperti itu pada Koroleva mat’.

Dan lagi lagi kesialan terjadi pada Tsar malang ini, ia harus bermesraan dengan Krovena didepan rakyat dengan suruhan Koroleva mat’, "tidak dosa jika Louis menginginkan neneknya cepat meninggal saja, ahh aku bingung dan muak" teriak Louis dikepalanya.

Sementara Krovena bahagia saja disana, ia bisa merasakan bagaimana seorang calon Koroleva diperlakukan, ia mulai terlena dan semakin ambisius dengan jabatan ini, ia benar memang seharusnya krovena itu berjodoh dengan Dominic saja yang mendamba jabatan bukan cinta seperti Louis yang kini gundah gulana.

Sepanjang hari alan memikirkan hubungannya ia juga sering mengobrol dengan ken yang merupakan rekan kerjanya, ia juga diam diam menjenguk liam yang masih terbaringa karena kondisi tubuhnya yang drop sejak tertimpa salju, dan kini ia juga sedang cemas dengan Adera yang mulai belajar bela diri Bersama Carlos, sejak Carlos menyatakan dirinya Czar Knight, kecemasan Alan berkurang untuk meninggalkan Adera Bersama Carlos, Alan tahu kehebatan Czar  Knight seperti apa, bukan Alan lemah ia juga seorang panglima perang di Moskwa untuk kemerdekaan daerah utara, namun sejak ia mendapat tugas menjaga Adera dia tidak menjadi bagian dari pasukan baja putih itu, ia mendedikasikan hidupnya untuk menjaga keluarganya dan Adera.

Namun, kini ia merasakan yang Namanya cinta dan tidak bisa menikmati kembali hidup biasanya , ia terjebak dalam sebuah lerung kusut dan membuatnya sesak, ia tahu Louis begitu mencintainya namun banyak rintangan diantara kami, alan tidak bisa mebayangkan dirinya berakhir seperti Adera dan akhirnya berpura pura mati.

“Jika kau mencintainya berhenti menjadi pengecut sepertiku”

“Apa maksudmu?”

“Aku akan tetap menemui liam tapi disaat aku sudah benar benar kuat, dan kau harus melakukakannya juga”

“Gila kau Adera!”

“Brat, cinta itu tidak berdosa tidak usah terus kau hindari, hadapi dan taklukan , seseorang yang belum pernah mempertaruhkan hidupanya tidak akan mendapatkan apa apa”

“Oii sudah mulai berkata kata” cibir Alan.

“Ini kata kata di buku ciptaan Tsar Louis”

Alan terdiam ia hanya melamun dan mebayangkan apa yang terjadi jika ia benar benar berjuang.

“Aku akan kembali berjuang, jangan sampai keduluan olehku” goda Adera yang kini kembali letihan panah dengan Carlos

“mungkin aku terlihat tak berjuang, padahal aku sedang perang batin” lirih Alan

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status