LOGINRatna Ayu Candrakirana adalah putri seorang bangsawan terhormat, namun hidupnya berubah dalam sekejap ketika sang ayah, Damar Langkarsana, dituduh sebagai pemberontak oleh Raja Dursala Bhayasinga, seorang raja tiran yang terkenal kejam dan gemar mempermainkan wanita. Di ambang eksekusi, satu-satunya harapan datang dari sosok yang lebih mengerikan dari kematian, Rangga Raksa Jala Wulung, Panglima Perang yang terkenal kejam, dingin, dan gila. Pria itu menawarkan sebuah jalan keluar yang tak kalah menyakitkan dari maut itu sendiri. "Jika kau ingin ayahmu selamat, maka menikahlah denganku!" Demi menyelamatkan nyawa sang ayah dan menghindari dirinya menjadi mainan sang raja, Ratna terpaksa menerima lamaran Rangga. Pernikahan tanpa cinta itu menjadikannya tawanan dalam kediamannya, boneka dalam permainan kekuasaan, dan istri dari pria yang tak pernah ia cintai, Panglima kejam yang dipilih takdir, bukan hatinya. Namun di balik sikap kejamnya, Ratna mulai melihat sisi lain dari Rangga. Apakah Ratna bisa keluar dari jerat Panglima Rangga yang penuh tipu daya? Ataukah ia justru akan jatuh dalam cinta yang tak pernah ia harapkan?
View MorePanglima Rangga terus memacu kudanya, menjerumuskan diri lebih dalam ke hutan yang gelap dan lembap. Dedaunan basah memercik saat kuda itu menerjang semak-semak. Sementara Brahma, meski kelelahan, ia tetap memaksakan diri mengikuti tuannya di belakang. Sejak mereka memasuki hutan, tidak ada jeda, tidak ada istirahat, tidak ada kata cukup. Setiap hewan yang muncul di jalur mereka menjadi korban pelampiasan tanpa perlu alasan.Seekor kijang yang ketakutan melompat dari balik semak, tewas. Babi hutan yang menyeruduk karena panik, tertebas tanpa sempat menghindar. Bahkan seekor serigala besar yang berani menggeram pun runtuh begitu pedang Panglima Rangga melintas.Namun setelah sekian banyak darah menodai tanah, ekspresi sang panglima belum juga berubah. Tidak ada tanda puas apalagi lega, seolah setiap hewan yang tumbang hanyalah upaya sia-sia untuk membungkam sesuatu yang berteriak di dalam dirinya.Brahma, yang sejak awal mengikuti dari belakang, nyaris kehabisan tenaga. Keringat memba
Panglima Rangga melangkah keluar dari ruang kerjanya ketika malam masih menggantung berat di langit. Lorong-lorong Paviliun sang Panglima dipenuhi cahaya redup dari lampu minyak, membuat bayangannya memanjang dan bergerak mengikuti setiap langkahnya.Udara dingin menusuk, namun justru itu yang ia butuhkan untuk menenangkan pikirannya sebelum berangkat berburu sekaligus memeriksa keamanan wilayah kerajaan bersama Brahma.Namun, langkah Rangga terhenti ketika ia melewati pintu kamarnya.Pintu kayu itu tertutup rapat, seakan memisahkan dunia luar dari sosok rapuh yang tertidur di dalamnya. Panglima Rangga menatap pintu itu lama, rahangnya mengencang perlahan.Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Banyak hal yang ingin ia perbaiki, namun semua itu harus ia tunda. Untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah menjaga jarak agar ketakutan Ratna tidak bertambah dan memastikan tidak ada bahaya yang mendekati wanita itu. Setelah beberapa saat, ia mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan
Malam turun perlahan di Paviliun Panglima. Angin dingin menelusup masuk melalui kisi-kisi jendela ruang kerja tempat Rangga berdiri seorang diri. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu minyak di mejanya, memantulkan bayangan panjang di dinding, seolah ikut mengawasi kegelisahan tuannya.Sudah berjam-jam ia di sana, namun pikirannya tetap tertahan pada sosok Ratna yang masih tak sadarkan diri sejak siang."Mengapa kau begitu rapuh, Ratna? Atau… tanpa kusadari aku yang terlalu kejam padamu?"Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, berulang, mengganggunya lebih dari luka apa pun yang pernah ia terima di medan perang.Panglima Rangga memijit pelipisnya, mencoba mengusir kegelisahan yang bahkan tidak ingin ia akui sebagai rasa khawatir. Namun setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Ratna yang terkulai di pelukannya kembali muncul, lemah, pucat, dan sama sekali tak berdaya.Ketukan di pintu memutus lamunannya. "Masuk!"Seorang pengawal masuk, membungkuk, kemudian menyodorkan gulungan
Panglima Rangga terdiam sejenak, menatap wajah Ratna yang masih menunduk dalam diam. Lalu suaranya kembali terdengar, berat dan penuh penegasan."Dan satu lagi," ujarnya perlahan, tapi tajam. "Kau harus mengenakan cadarmu! Selama yang berhadapan denganmu bukan aku atau ayahmu, jangan pernah memperlihatkan wajahmu!"Ratna menatapnya bingung, namun Rangga sudah lebih dulu menambahkan, "Lakukan seperti apa yang dulu diajarkan ayahmu," lanjutnya lebih pelan, "Hanya saja… bedanya, kali ini ada aku."Rangga menunduk sedikit, jemarinya terulur, menyentuh lembut dagu Ratna hingga gadis itu menengadah menatapnya."Ada aku," suaranya merendah, nyaris berbisik. "Yang berhak menatapmu… menyentuhmu… dan memiliki dirimu sepenuhnya!"Ratna menggigit bibir bawahnya, berusaha menyembunyikan rasa canggung dan takut yang terus menghimpit dadanya. Perlahan, ia pun mengangguk."Baik, Tuan. Tapi aku tidak memiliki cadar seperti yang selama ini aku gunakan. Aku... tidak sempat membawa apa pun dari kediama
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.