MasukRatna Ayu Candrakirana adalah putri seorang bangsawan terhormat, namun hidupnya berubah dalam sekejap ketika sang ayah, Damar Langkarsana, dituduh sebagai pemberontak oleh Raja Dursala Bhayasinga, seorang raja tiran yang terkenal kejam dan gemar mempermainkan wanita. Di ambang eksekusi, satu-satunya harapan datang dari sosok yang lebih mengerikan dari kematian, Rangga Raksa Jala Wulung, Panglima Perang yang terkenal kejam, dingin, dan gila. Pria itu menawarkan sebuah jalan keluar yang tak kalah menyakitkan dari maut itu sendiri. "Jika kau ingin ayahmu selamat, maka menikahlah denganku!" Demi menyelamatkan nyawa sang ayah dan menghindari dirinya menjadi mainan sang raja, Ratna terpaksa menerima lamaran Rangga. Pernikahan tanpa cinta itu menjadikannya tawanan dalam kediamannya, boneka dalam permainan kekuasaan, dan istri dari pria yang tak pernah ia cintai, Panglima kejam yang dipilih takdir, bukan hatinya. Namun di balik sikap kejamnya, Ratna mulai melihat sisi lain dari Rangga. Apakah Ratna bisa keluar dari jerat Panglima Rangga yang penuh tipu daya? Ataukah ia justru akan jatuh dalam cinta yang tak pernah ia harapkan?
Lihat lebih banyakLangit mendung menggantung muram di atas astana seorang bangsawan. Tanah becek yang bercampur darah menjadi saksi bisu dari pengkhianatan, dendam, dan keadilan yang dibungkam oleh kekuasaan.
Di tengah lingkaran para prajurit bersenjata lengkap, seorang pria paruh baya tersungkur lemah, lututnya mencium tanah, tubuhnya bergetar menahan sakit dan ketakutan. Di hadapannya berdiri seorang panglima berpakaian gelap, tubuhnya tegap, wajahnya tak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. "Tak kusangka, selain dituduh hendak memberontak... kau juga menyembunyikan putrimu selama ini, Tuan Damar!" ujar Rangga Raksa Jala Wulung dengan nada dingin dan tajam. Tatapannya menusuk tajam ke arah pria paruh baya yang kini tersungkur di tanah, tubuhnya gemetar, nafasnya berat. Pedang panjang berlumuran darah itu kini teracung tepat di samping leher Tuan Damar , siap ditebaskan kapan saja. Hening sejenak, hanya terdengar helaan nafas dan desir angin yang membawa bau kematian. Rangga berdiri tegak, matanya tak berkedip, seolah hanya menunggu satu alasan untuk mengakhiri segalanya. "Tolong... jangan sakiti ayahku!" isak Ratna, suaranya pecah di tengah tangis. Ia tersungkur di bawah kaki Rangga, meraih ujung jubah prangnya yang menjuntai berat, memohon dengan tubuh gemetar. Air mata Ratna jatuh tanpa henti, membasahi tanah yang dingin dan kotor. Ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang tersisa, satu-satunya pelindung setelah kepergian ibu dan kakaknya yang telah lebih dulu direnggut oleh nasib. Tuan Damar menatap putrinya dengan sorot mata sendu, lalu mengangkat wajahnya menatap Rangga tajam, penuh amarah, gigi bergemelutuk menahan emosi. "Aku sama sekali tidak melakukan pemberontakan! Aku hanya mencoba melindungi rakyat yang sudah tersiksa di bawah kekuasaan Raja Dursala!" Suaranya lantang, meski tubuhnya lemah. "Apa kau benar-benar buta, Rangga? Kau tahu sendiri bagaimana kepemimpinan rajamu selama ini, zalim, sewenang-wenang! Tapi kenapa kau memilih menutup mata?" Helaan napasnya berat. Matanya kembali melirik Ratna yang masih menangis. "Ya, aku memang menyembunyikan putriku. Tapi aku melakukannya bukan karena ingin mengkhianati kerajaan..." "Aku hanya tak rela jika anakku dijadikan pemuas nafsu seorang raja yang bahkan tak layak disebut pemimpin!" teriak Tuan Damar marah. Rangga menyeringai sinis, tatapannya tajam menusuk. "Apa pantas, bagi seorang bangsawan sepertimu, yang hanya bawahan raja, berani mencela atasannya sendiri?" Nada suaranya datar, tapi penuh sindiran. "Sikapmu ini jelas bentuk penghinaan terhadap raja. Dan kau tahu sendiri, hukuman yang pantas untuk orang sepertimu adalah kematian!" Tanpa ragu, ia mengangkat pedangnya lebih dekat ke leher Tuan Damar. Bilah tajam itu menyentuh kulit, dan dalam sekejap, garis merah mengalir, darah segar mulai menetes dari luka tipis di leher sang bangsawan. "Tidak! Tolong... jangan sakiti ayahku!" teriak Ratna dengan suara bergetar, air matanya mengalir tanpa henti. "Aku akan melakukan apa pun… apapun! Asalkan ayahku dibebaskan! Bahkan jika aku harus menjadi tawanan Raja, aku rela! Aku bersedia!" Tangisnya pecah, memotong keheningan. "Aku mohon… Jangan bunuh ayahku!" Ia semakin mengeratkan genggamannya pada kaki Rangga, tubuhnya bergetar, seolah kekuatannya telah hancur bersama rasa takut dan cinta yang bercampur jadi satu. "Ratna! Apa yang kau katakan?" Suara Tuan Damar menggema, parau dan dipenuhi kepedihan. "Tarik kembali kata-katamu Nak, Ayah mohon!" Ratna menoleh, wajahnya basah oleh air mata. "Tapi Ayah…" Tuan Damar menggeleng lemah. "Lebih baik ayah mati, daripada harus melihat putriku menjadi wanita Raja. Jangan sia-siakan semua pengorbanan ini, Ratna… Ayah, Ibumu, bahkan kakakmu, kami semua bertaruh nyawa demi menjagamu, demi masa depanmu!" Tangis Ratna pecah, bahunya bergetar hebat, "Lalu... selanjutnya apa, Ayah? Jika kau tidak ada, bagaimana aku bisa melanjutkan hidup?" Ratna mendongak perlahan, menatap Rangga yang berdiri tegak di hadapannya. Matanya merah, namun sorotnya penuh keberanian yang tak biasa. "Jika tuan ingin membunuh Ayah saya... maka lakukan itu padaku terlebih dahulu. Aku tidak sanggup melihat satu-satunya keluarga yang aku punya mati didepan mataku sendiri!" pintanya pada Rangga. Rangga menghempaskan Ratna dengan kasar. Tubuh gadis itu terpelanting, lututnya menghantam tanah. Belum sempat ia bangkit, bilah pedang dingin sudah terhunus dan menempel di lehernya. "Ratna!" teriak Tuan Damar terkejut melihat Rangga kini beralih mengincar nyawa putrinya. Tubuh Ratna bergetar hebat, napasnya tersengal, sementara pedang dingin itu mulai menekan kulit lehernya, menyisakan goresan tipis yang membuatnya menahan tangis dan rasa takut yang mengguncang seluruh tubuhnya. Rangga menyunggingkan senyum miring, menatap Ratna yang kini tak lagi setegar sebelumnya. Ketakutan yang jelas tergambar di matanya membuat Rangga semakin menikmati situasi. Gadis yang tadi begitu berani menantangnya, kini tubuhnya gemetar saat ujung pedang dingin itu menekan lembut di lehernya. "Bukankah tadi kau yang menginginkan kematian? Lalu kenapa sekarang kau gemetar ketakutan, hah?” ucap Rangga tajam ke arah gadis bercadar tipis itu. Cadar tipis itu menghalangi pandangannya, menyembunyikan rupa anak gadis yang selama ini disembunyikan Tuan Damar. Jika bukan karena misi rahasia dari raja untuk membasmi para bangsawan yang mencoba memberontak atas kekuasaan raja, dan salah satunya adalah Tuan Damar. Mungkin ia takkan pernah tahu bahwa Tuan Damar memiliki seorang putri. Selama ini, yang ia tahu, Tuan Damar hanya memiliki seorang putra yaitu Mahesa Bratadipa, yang telah gugur di medan perang beberapa tahun silam. Ratna terpaku, tubuhnya gemetar saat menatap lelaki tegap di hadapannya. Sorot mata Rangga tajam dan penuh ancaman, wajah pria itu kaku, dingin, dan memancarkan aura berbahaya yang membuat Ratna tak mampu berkata-kata. Ia menelan ludah dengan susah payah. Ketika dinginnya logam pedang menyentuh kulit lehernya, napasnya tercekat. Mata Ratna terpejam rapat, menanti apa pun yang akan terjadi setelahnya. "Jangan sakiti putriku!" teriak Tuan Damar panik, melangkah cepat dengan tangan terulur, mencoba menjauhkan Panglima Rangga dari Ratna. Bugh! Tendangan keras Rangga menghantam dada Tuan Damar. Tubuh pria paruh baya itu terlempar dan jatuh menghantam lantai. "Arggh!" Tuan Damar mengerang, namun tangannya masih mencoba menggapai tubuh putrinya. Bugh! Tendangan kedua menghantam lebih brutal. Kali ini, darah menyembur dari mulut Tuan Damar. Ia ambruk dan tak sanggup bangkit lagi. Pedang Rangga tetap menempel dingin di leher Ratna. Napas gadis itu tercekat, tubuhnya gemetar hebat. "Ayah!" Ratna menjerit lirih, air matanya tumpah bersama isak yang pecah. "Hiks… Ayah, bangun…!" Matanya menatap Panglima Rangga dengan ngeri, tapi juga marah. Sementara pria itu hanya berdiri kaku, mata dinginnya tak menunjukkan ampun sedikit pun. "Kenapa kau melakukan ini, hah? Apa salah ayahku?!" Ratna berteriak, air mata membasahi wajahnya. "Kau kejam! Teganya kau menyakiti ayahku! Jangan sakiti dia lagi atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Rangga terkekeh pelan. Suaranya datar, tapi ada nada mengejek yang mengiris. Apa gadis kecil itu baru saja mengatainya? Rangga menyipitkan mata, sulit menahan tawa sinis yang menyeruak di dadanya. Yang benar saja. Gadis sepertinya berani menantangnya? Apa dia benar-benar tidak tahu siapa yang sedang dihadapinya? __Panglima Rangga terus memacu kudanya, menjerumuskan diri lebih dalam ke hutan yang gelap dan lembap. Dedaunan basah memercik saat kuda itu menerjang semak-semak. Sementara Brahma, meski kelelahan, ia tetap memaksakan diri mengikuti tuannya di belakang. Sejak mereka memasuki hutan, tidak ada jeda, tidak ada istirahat, tidak ada kata cukup. Setiap hewan yang muncul di jalur mereka menjadi korban pelampiasan tanpa perlu alasan.Seekor kijang yang ketakutan melompat dari balik semak, tewas. Babi hutan yang menyeruduk karena panik, tertebas tanpa sempat menghindar. Bahkan seekor serigala besar yang berani menggeram pun runtuh begitu pedang Panglima Rangga melintas.Namun setelah sekian banyak darah menodai tanah, ekspresi sang panglima belum juga berubah. Tidak ada tanda puas apalagi lega, seolah setiap hewan yang tumbang hanyalah upaya sia-sia untuk membungkam sesuatu yang berteriak di dalam dirinya.Brahma, yang sejak awal mengikuti dari belakang, nyaris kehabisan tenaga. Keringat memba
Panglima Rangga melangkah keluar dari ruang kerjanya ketika malam masih menggantung berat di langit. Lorong-lorong Paviliun sang Panglima dipenuhi cahaya redup dari lampu minyak, membuat bayangannya memanjang dan bergerak mengikuti setiap langkahnya.Udara dingin menusuk, namun justru itu yang ia butuhkan untuk menenangkan pikirannya sebelum berangkat berburu sekaligus memeriksa keamanan wilayah kerajaan bersama Brahma.Namun, langkah Rangga terhenti ketika ia melewati pintu kamarnya.Pintu kayu itu tertutup rapat, seakan memisahkan dunia luar dari sosok rapuh yang tertidur di dalamnya. Panglima Rangga menatap pintu itu lama, rahangnya mengencang perlahan.Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Banyak hal yang ingin ia perbaiki, namun semua itu harus ia tunda. Untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah menjaga jarak agar ketakutan Ratna tidak bertambah dan memastikan tidak ada bahaya yang mendekati wanita itu. Setelah beberapa saat, ia mengalihkan pandangannya dan kembali berjalan
Malam turun perlahan di Paviliun Panglima. Angin dingin menelusup masuk melalui kisi-kisi jendela ruang kerja tempat Rangga berdiri seorang diri. Satu-satunya cahaya berasal dari lampu minyak di mejanya, memantulkan bayangan panjang di dinding, seolah ikut mengawasi kegelisahan tuannya.Sudah berjam-jam ia di sana, namun pikirannya tetap tertahan pada sosok Ratna yang masih tak sadarkan diri sejak siang."Mengapa kau begitu rapuh, Ratna? Atau… tanpa kusadari aku yang terlalu kejam padamu?"Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, berulang, mengganggunya lebih dari luka apa pun yang pernah ia terima di medan perang.Panglima Rangga memijit pelipisnya, mencoba mengusir kegelisahan yang bahkan tidak ingin ia akui sebagai rasa khawatir. Namun setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Ratna yang terkulai di pelukannya kembali muncul, lemah, pucat, dan sama sekali tak berdaya.Ketukan di pintu memutus lamunannya. "Masuk!"Seorang pengawal masuk, membungkuk, kemudian menyodorkan gulungan
Panglima Rangga terdiam sejenak, menatap wajah Ratna yang masih menunduk dalam diam. Lalu suaranya kembali terdengar, berat dan penuh penegasan."Dan satu lagi," ujarnya perlahan, tapi tajam. "Kau harus mengenakan cadarmu! Selama yang berhadapan denganmu bukan aku atau ayahmu, jangan pernah memperlihatkan wajahmu!"Ratna menatapnya bingung, namun Rangga sudah lebih dulu menambahkan, "Lakukan seperti apa yang dulu diajarkan ayahmu," lanjutnya lebih pelan, "Hanya saja… bedanya, kali ini ada aku."Rangga menunduk sedikit, jemarinya terulur, menyentuh lembut dagu Ratna hingga gadis itu menengadah menatapnya."Ada aku," suaranya merendah, nyaris berbisik. "Yang berhak menatapmu… menyentuhmu… dan memiliki dirimu sepenuhnya!"Ratna menggigit bibir bawahnya, berusaha menyembunyikan rasa canggung dan takut yang terus menghimpit dadanya. Perlahan, ia pun mengangguk."Baik, Tuan. Tapi aku tidak memiliki cadar seperti yang selama ini aku gunakan. Aku... tidak sempat membawa apa pun dari kediama
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.