Melati di Kubangan

Melati di Kubangan

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-02-06
Oleh:  RifvalBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
49Bab
153Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Ratih adalah gadis sederhana yang juga punya mimpi sederhana: Hanya ingin menjalani hidup normal selayaknya gadis lain dan kelak bisa menikah dengan sang pujaan hati. Namun, dalam mimpi kecil sekalipun hidup seringkali tidak memberi banyak pilihan, dan nilai-nilai tak selalu mampu berdiri kukuh dihadapkan dengan ego dan iming-iming. Gadi itu lalu menyerah dan membiarkan dirinya dijerat benang-benang dosa.

Lihat lebih banyak

Bab 1

bab 1

Ratih terpekik ngeri melihat tubuh pria itu tiba-tiba oleng dan jatuh terjerembah, terkapar di lantai menangkup perutnya yang robek bersimbah darah ! Darah pekat yang segera meluber menggenangi lantai.

Mestinya ia segera memburu ke sana dan memberi pertolongan. Namun ia terlalu heran dan sok melihat kemunculan pria itu. Pria yang berdiri dengan wajah beringas, dengan tangan mencekal belati bermandikan darah.

Pria itu balas menatapnya dengan dingin. Di kedalaman matanya pun ada robekan luka.

Mengapa ...?! Mengapa Kau melakukan ini?!

Kalimat ini menggaung keras dalam bathin keduanya. Oleh Ratih, dan oleh pria itu.

***

Satu tahun sebelumnya.

Daun pintu pintu yang menguak ke dalam itu dari bahan tripleks, bercat putih usang, bolong-bolong dan dipenuh garis melintang di sana - sini. ia tampak tua dan terabai. Demikian pula rak kayu kecil tempat sandal sepatu yang menyender lunglai di pojokan. Catnya juga sudah usang dan mengelupas dengan pinggiran mulai melapuk. Semua yang tampak terkesan tua dan rapuh.

Namun tidak demikian dengan sepasang tungkai yang tengah melepas sepatu di ambang pintu sana. Sepasang tungkai itu amat sempurna, putih jenjang dengan jari jemari kaki yang mungil dan terawat bersih.

Sepasang tungkai indah itu diseret menuju sofa tua di pojok ruangan. Sofa malang yang setelah ditimpuk tas kerja yang dibuang asal-asalan, menyusul dihenyaki sebongkah pinggul montok hingga si tua menguik kesakitan.

Terdengar hempasan nafas panjang yang membawa rasa letih, menyusul satu seruan malas.

"Ibu, saya pulang."

Gadis itu berusia awal dua puluh-an, beraut wajah elok rupawan dengan tubuh indah menggiurkan, berbalut kemeja putih dan rok hitam selutut. Saat itu sepasang bulu matanya yang lentik ditautkan ke bawah, kaki berselonjor di bawah meja sambil menyender dengan lesu.

"Tuhanku, telah begitu lama. Masihkah tidak tergerak hatiMU mengubah nasib hambaMu ini? Kapan Engkau berhenti menjadikanku sapi perah di kantor kelurahan? Berkutat tumpukan kertas tak habis-habis, mondar-mandir seduh kopi, diperintah sana sini, tubuh pegal, kaki kesemutan, dan... Aih, Tuhan, berilah pekerjaan yang layak dikerjakakan wanita lemah sepertiku ini. Berbelas kasihlah. Aku..."

"Aduh, anak perempuanku kenapa begini sembrono? Duduk selonjoran seperti anak laki-laki di ruang tamu. Tak patut bertingkah demikian, Sayang."

Suara yang memutus curhatan bathin si gadis datang dari satu nyonya berpenampilan bersahaja, namun dengan raut masih menyisakan keelokan masa muda. Ia mengamit lengan si gadis dan berkata lembut.

"Ayo bangun dan masuk ke dalam."

"Biar saja, Bu, toh tidak ada yang lihat," Sahut si gadis tanpa membuka mata.

"Tapi tidak baik, sayang. Nanti jadi kebiasaan. Ayo, kedalam dulu ganti pakaian. Di meja sudah ibu siapkan makanan,"

Gadis itu ogah - ogahan bangkit berdiri dan mengikuti tarikan ibunya. "Tapi, Bu, temani," ujarnya kolokan.

"Iya, nanti ibu temani,"

Setelah menghalau tubuh putrinya ke arah dalam, nyonya itu berjalan ke ambang pintu dan merapikan sepatu sang putri yang teronggok asal-asalan di atas lantai.

Ratih, nama gadis rupawan itu, duduk di depan meja makan dan sesaat hanya mematung memandangi hidangan yang tersaji di depannya. Lauk pauk yang amat sederhana dan sama sekali tak mampu menggugah selera. Hanya terdiri dari tempe, tahu, dan sayuran kering. Tetapi demi tak membuat sang ibu kecewa, ia memaksa diri mengisi piringnya dan mulai makan perlahan.

"Om Jamal di mana, Bu?" Ia menyempatkan bertanya sebelum menyuapkan sesendok kecil nasi ke dalam mulutnya.

"Ada di belakang. Dari pagi sibuk main gergaji," sahut nyonya itu yang duduk di samping putrinya sambil melanjutkan sulaman.

"Dia sudah makan, Bu?"

"Tadi sudah Ibu panggil, tapi katanya lagi tanggung,"

Ratih hanya manggut kecil. Sejak pulang dari rantau, pamannya itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan menyibukkan diri membenahi segala perabotan tua.

Belum ada semenit, kegiatan nyonya itu terhenti oleh tindakan sang putri yang tiba-tiba menggeser kursi dan bangkit berdiri.

"lho kok sudahan makannya?" tegurnya sambil mengamati hidangan di atas meja yang hampir tak tersentuh.

"Tadi di kantin habis ditraktir teman, Bu. Masih kenyang rasanya," sahut Ratih sambil beranjak ke kamar.

Nyonya itu termangu di tempat, lalu tampak menghela nafas. Ia tidak tahu apakah putrinya berkata sebenarnya atau hanya beralasan. Hanya belakangan ini Ia seringkali mendapati anak gadisnya itu tak berselera di meja makan. Meski jika dipikir, memang juga sudah sewajarnya. Setiap hari melulu disuguhi lauk pauk yang itu-itu saja, tentulah membuat lidah sang putri jadi tawar. Bathin nyonya itu dengan hati pilu.

Keadaan memprihatinkan ini sudah mereka lakoni semenjak ditinggal mati sang suami beberapa tahun lalu. Mereka keluarga sederhana, dan kecuali rumah, boleh dikata sang suami tidak meninggalkan harta benda apa-apa. Ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang hanya tahu urusan dapur dan sama sekali tidak punya pengalaman mencari nafkah. Jadi sepeninggal sang suami, kehidupan yang mereka lalui ibu dan anak, amatlah sulitnya. Tidak jarang sebagai seorang ibu, hatinya tersayat pedih manakala Ia hanya sanggup menyajikan sepotong ubi rebus di atas meja untuk putri semata wayangnya. Pengganjal perut untuk beberapa hari sebelum mereka punya uang untuk beli beras.

Keadaan mereka baru sedikit mendingan sewaktu Ratih - yang syukurnya sempat menamatkan SMA itu - oleh pihak kelurahan, bersedia diterima sebagai tenaga pembantu. Sudah tentu gajinya juga tidak seberapa. Tapi setidaknya dengan penghasilan tersebut, mereka sudah boleh berharap ketemu nasi setiap hari.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
49 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status