Kehidupan Ketiga Lang Hua, Kembali Menjadi Permaisuri

Kehidupan Ketiga Lang Hua, Kembali Menjadi Permaisuri

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-01-03
Oleh:  MoshislgBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
23Bab
86Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Di Kehidupan sebelumnya dia buta dan hidup dalam kegelapan selama dua puluh tahun, walaupun begitu dia merasa dia adalah wanita paling beruntung menikahi kekasih masa kecilnya dan dianugerahi Nyonya Prefecture. Akhirnya, dia di jebak atas tuduhan perzinaan dengan lawan politik suaminya dan di bunuh. Sebelum kematiannya terdengar suara di telinganya: "Anak kita Ying'er dari kecil belajar, tumbuh dan masuk pemerintahan, semua berjalan lancar, tapi karena menikah denganmu, akhirnya seperti ini. Tanpa kamu Ying'er kita sudah menjadi keluarga kerajaan, posisi tertinggi di pemerintahan, keluarga Lu pun akan makmur dan berjaya, semua karena kamu, semua karena kamu. Semoga Buddha melindungimu, biarkan wanita beracun sepertimu, setelah mati masuk neraka lapis delapan belas dan tidak pernah terlahir kembali, jangan pernah datang mengganggu orang lagi. Ying'er ku!" Di Akhir hidupnya masih mencemaskan Ibunya, satu-satunya keluarganya yang tersisa. Ketika dia membuka matanya kembali, dia melihat dunia semarak ini - dunia yang tandus dan makmur, semua dalam genggaman-nya. Menyadari dia Terlahir kembali pada saat dia belum buta, berusaha mengungkap kebenaran selangkah demi selangkah. Akan kah di kehidupan ini dia akan menikah dengan kekasih masa kecilnya?

Lihat lebih banyak

Bab 1

0001.

 “Nyonya Muda… ada kabar buruk, Putri Qing Yuan mengirim pesan, mengatakan bahwa Istana menerima laporan militer… Tuan Muda Ketiga…terluka saat mengawasi pasukan di perbatasan.”

Gu Lang Hua terkejut dan membeku seolah tidak mendengar apa yang baru di katakan Han Yan.

Suara pelayan terdengar di pintu, “Nyonya Tua sudah datang.”

Aroma cendana yang dikenalnya tiba-tiba menyergap, Lang Hua mengulurkan tangan.

 “Nenek”

Suaranya agak panik dan sulit dikendalikan, tanganya meraba-raba sekitar.

Setiap kali saat seperti ini, Nyonya Tua Lu akan datang memegang tangannya dan menenangkannya,

 “Nenek disini, Jangan terburu-buru.”

Namun kali ini terasa berbeda, akhirnya Han Yan menarik tangannya,

 “Nyonya Muda,”

Suasana ruangan menjadi sunyi, Lang Hua melihat sekeliling, gelap gulita, tidak terdengar suara apapun, membuatnya semakin cemas.

 “Lang Hua,” suara Nyonya Tua Lu baru terdengar setelah beberapa saat, “kamu sedang hamil.”

Lang Hua terkejut, ternyata ketidaknyamannya selama ini karena dia sedang mengandung anak Lu Ying, anak yang selalu mereka nantikan.

 “Nenek,” Bibir Lang Hua bergetar, “bagaimana kondisi Tuan Muda Ketiga? Apakah ada surat ke rumah?”

 “Sampai saat ini, masih berani bertanya tentang Ying’er,”

Suara tajam Nyonya Lu menusuk di telinga Lang Hua.

 “Ibu”

Tiba-tiba Lang Hua merasa takut, berapa banyak orang didalam ruangan ini, apa yang mereka lakukan disini, mengapa mereka hanya diam dan tidak menjelakan kondisi Lu Ying.

 “Tabib, perikan denyut Nadinya.”

Perintah Nyonya Tua Lu.

Lang Hua merasa ada yang menarik Lengannya, ingin melawan tapi bahunya ditekan oleh seseorang.

 “Nyonya Muda sedang hamil dua bulan.”

Nyonya Tua Lu mengerutkan alis,

 “Menantu perempuan ketiga, cucu ketiga telah gugur di perbatasan karena difitnah, kamu hamil dua bulan sementara Ying’er sudah berada di perbatasan tiga bulan. Saya tidak menyangka kamu akan tergoda oleh pengkhianat itu. Ying’er sangat baik padamu, bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti itu? Peselingkuhanmu dengan Pei Qi Tang sudah diketahui oleh Ibu Suri, demi menjaga kehormatan keluarga Lu, Ibu Suri telah mengeluarkan dekrit kekaisaran yang memberikan kain putih sebagai penghormatan.”

 “Nyonya Tua, Nyonya, Nyonya Muda di fitnah… Tuan Muda Ketiga tidak akan membirarkan kalian memperlakukan Nyonya Muda seperti ini… dan Putri Qing Yuan pasti akan menuntut balas untuk Nyonya Muda…”

Nyonya Lu menatap tajam ke arah Han Yan,

 “Dia hanyalah budak yang dibeli keluarga Lu, tidak ada hak bicara di sini. Kejahatan tuanmu pasti karena kolusimu. Bawa budak ini dan cambuk sampai mati.”

Pada titik ini Han Yan masih membela Lang Hua, sedangkan mereka yang biasa dianggap ‘keluarga’ dengan tergesa-gesa ingin mengakhiri nyawanya.

Lang Hua berkata dingin,

 “Han Yan adalah pelayanku, bunuh saya dulu baru boleh menyentuhnya. Keluarga Lu boleh tidak membela tapi saya harus berjuang untuk harga diriku. Kalian bodoh mempercayai bukti-bukti palsu. Membunuh Lu Ying, apa untungnya bagi saya dan Pei Qi Tang? Aku seorang wanita buta tidak perlu berjuang demi jabatan dan tidak pernah bersaing memperebutkan kekuasaan keluaraga.”

 “Nyonya, ada orang dari Istana datang, katanya… Ibu Suri telah menganugerahkan… kain putih…”

“Jika keluarga Lu tidak mau membelaku, maka silakan, lihat berapa banyak orang yang akan kubawa mati bersamaku.”

Saat Lang Hua merasa tekanan dibahunya berkurang, dia segera melepaskan diri dan meraih mangkuk obat yang baru saja di minumnya. Memecahkan mangkuk, menggenggam pecahan ditanganya.

Seseorang berteriak dan maju hendak merebutnya, tapi pecahan itu ditekan ke tenggorokan orang tersebut, darah hangat terus mengalir.

Gu Lang Hua merasakan banyak tangan menekan tubuhnya, dia terus mengayunkan pecahan keramik ditanganya, tanpa sadar mengiris kulit banyak orang, darah hangat menyembur kemana-mana.

Ruangan di penuhi bau darah, kain putih mengikat erat di lehernya, membuatnya sulit bernapas.

Suara Nyonya Lu terdengar di telinganya,

 “Wanita beracun sepertimu matilah… Jika bukan karena menikah denganmu, wanita buta, Ying’er pasti sudah menjadi keluarga kerajaaan dan mencapai posisi tertinggi, dan keluarga Lu kami akan makmur dan berjaya. Setelah kamu meninggal masuk ke neraka lapis delapan belas dan jangan pernah datang mengganggu Ying’er-ku lagi!”

Suara Nyonya Lu semakin menjauh, akhirnya tidak terdengar lagi.

Dalam kegelapan yang lebih dalam, Lang Hua perlahan lupa berjuang, juga melupakan rasa sakit, seperti dalam pepatah lama mengatakan hidup dan mati hanyalah masalah satu pikiran.

Suara tangisan terdengar,

 “Lang Hua masih sangat kecil, saya rela mati menggantikan dia.”

Itu suara Ibu, kasihan Ibu harus menyaksikan kematiannya dengan mata kepala sendiri.

Meninggal dengan tercekik tanpa mengerti, orang yang membunuhnya pasti sangat bangga, karena sampai kematian datang menjemput pun dia, si buta, tidak tahu siapa yang menyakitinya.

Lang Hua berusaha keras membuka matanya, menatap ke arah suara tangisan, meski tahu itu sia-sia.

Akhrinya sedikit cahaya perlahan masuk, setelah cahaya terang menyilaukan wajah ramah muncul di hadapannya.

Siapa ini? Bahkan dalam mimpi pun dia tidak pernah melihat wajah seseorang sejelas ini.

Orang ini meski sudah banyak keriput di wajahnya, matanya tetap jernih, eskpresinya ramah dengan sedikit kesedihan, kelihatan sedikit bahagia, berkata dengan suara serak,

 “Lang Hua kita sudah sadar.”

Cahaya matahari menembus jendela, Lang Hua seolah-olah meleleh terbakar, dirinya demam, sehelai kain dingin diletakkan di dahinya, tapi segera menjadi hangat oleh tubuhnya.

Dalam keadaan setengah sadar, suara bisikan terdengar di telinganya, seperti ada yang memanggil namanya, ada juga yang berbisik,

 “Kalau dia meninggal seperti ini, malah menghemat urusanku. Wanita jalang itu menggunakan dia untuk menyenangkan Nyonya Tua, sehingga Nyonya Tua selalu berpihak pada mereka berdua. Jangan lupa keluarga Gu, saya yang meminpin.”

Keluarga Gu? Bagaimana bisa keluarga Gu? Meski dia tidak meninggal, seharusnya dia berada di keluarga Lu. Keluarga Gu sudah lama tiada.

Sekitar mulai menjadi sunyi, Lang Hua berjuang membuka matanya, meski tahu itu tidak ada artinya, namun saat membuka mata cahaya terang dan menyilaukan tiba-tiba menusuk masuk. Rasa mual dan pusing membuatnya ketakutan dan segera menutup mata.

Lang Hua dengan perlahan membuka kembali matanya, setelah cahaya putih, perlahan bayangan manusia dan benda-benda samar-samar bergoyang di matanya.

Lang Hua terus berkedip, segala sesuatu disekitarnya pelahan menjadi jelas.

Apakah ini mimpi?

Lang Hua terdiam dengan mata terbuka lebar.

 “Lang Hua, lihat Nenek, Nenek ada di sini.”

Nenek? Nyonya Tua keluarga Lu? Tidak, ini bukan Nyonya Tua keluarga Lu.

Wajah penuh kasih ini selalu ada dalam ingatannya, ya, ini nenek kandungnya, orang yang paling dia ingat sebelum kehilangan penglihatan.

Apakah dia sudah benar-benar meninggal? Nenek sudah meninggal saay dia berusia delapan tahun, tahun itu dia terkena cacar, demam selama tujuh hari, mesti beruntung tidak mati, tetapi menjadi buta.

Nyonya Su menghapus matanya yang merah,

 “Lang Hua baru delapan tahun, kenapa justru dia yang terkena cacar, asalkan dia bisa hidup dengan baik, aku rela mati menggantikannya.”

Delapan tahun, cacar, jantung Lang Hua berdebar kencang. Apakah ini pengalaman setelah kematian. Tapi kenapa bermimpi tentang kejadian saat berumur delapan tahun?

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
23 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status