Share

Bab 3

Veronica tidak mampu lagi menyembunyikan keterkejutannya begitu memasuki apa yang disebut Stephen sebagai rumah dari temannya yang bernama Karl Smith. Butuh waktu lima belas menit mengitari halaman depan kediaman Karl Smith. Sesekali ia melihat beberapa pria berseragam hitam yang sama sekali tidak menyembunyikan ketidaksukaan mereka saat melihat kehadiran Stephen. Pria itu sendiri tampaknya tidak menggubris respon mereka yang tidak sopan itu, malah bersiul pelan, seolah tidak menyadarinya.

Ah, ralat. Pria itu jelas-jelas menyadarinya. Buktinya, tanpa ragu Stephen menabrakkan mobil yang dikendarainya tadi ke tiga orang pria yang berdiri menghadang mobil mereka. Dengan santainya Stephen membuka kaca jendelanya, menyembulkan kepalanya dari kaca jendela sambil tertawa pelan.

“Yah, kena. Maaf. Aku benar-benar nggak sengaja.”

Tidak terdengar nada penyesalan di ucapan Stephen, sehingga ia semakin mempertanyakan ketulusan pria itu saat meminta maaf. Tanpa menunggu jawaban dari ketiga pria yang tengah meringis kesakitan karena hantaman mobil Stephen, pria itu kembali melajukan mobil, kali ini mengambil lajur lain untuk menghindari orang-orang tadi.

“Mereka selalu begitu. Tidak suka jika ada serigala ataupun vampir yang masuk ke teritori naga. Padahal pemimpin mereka saja sama sekali tidak masalah. Dasar kolot.”

Hanya itu yang dikatakan Stephen begitu menyadari ekspresinya yang mempertanyakan tindakan pria itu. Ia memutar tubuhnya ke belakang, memandangi orang-orang yang ditabrak Stephen tadi sibuk merutuki pria itu. Ia berbalik, kembali memandangi taman yang dipenuhi berbagai jenis tanaman yang dibentuk menyerupai berbagai jenis hewan legenda, memikirkan keras bagaimana cara para tukang kebun itu membentuk tanaman-tanaman itu menjadi bentuk serumit itu.

“Nah, sudah sampai. Sebentar, biar kubukakan pintunya.”

Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, ia tidak menyadari bahwa mobil yang mereka kendarai kini sudah berhenti. Stephen buru-buru keluar dari mobilnya, berlari kecil memutari mobil dan membukakan pintu untuknya. Seperti yang dikatakan pria itu tadi, tangan pria itu bergegas menerima sepatu yang baru saja ia keluarkan setelah pria itu memintanya, berjongkok di depannya, memakaikan sepatu itu ke kaki prostetik Veronica penuh perhatian. Seakan kaki prostetiknya itu adalah barang mahal yang layak mendapat perhatian khusus jika tidak ingin kehilangan nilai jualnya. Lalu pria itu tersenyum lembut padanya—senyum yang lagi-lagi berhasil memancing jantungnya berdebar kencang untuk ke sekian kalinya—mengecup punggung tangannya, menuntunnya keluar dari mobil. Tangan pria itu yang bebas berada di atas kepala Veronica, gestur yang sama seperti tadi. Sepertinya ia harus terbiasa dengan cara Stephen memperlakukannya jika mereka akan terus bertemu ke depannya.

Bukan berarti ia tidak menyukainya, sih.

“Akan kutuntun. Sepatu itu hasil dari ratusan kali percobaan kami berdua tanpa henti, memastikan agar kamu tidak tersandung dan nyaman saat mengenakannya. Karena kondisimu yang berbeda, kami jadi harus berhati-hati membuatnya.”

“Terima kasih. Maaf merepotkan.”

“Sama sekali tidak masalah. Menuntun wanita secantik kamu adalah sebuah kehormatan untukku, Nikki.”

Pria itu menarik tangannya, menyelipkannya di lengannya sambil berjalan memasuki rumah megah kediaman Karl Smith yang sanggup membuatnya menelan ludah karena dipenuhi berbagai jenis perabotan mahal. Seperti lampu gantung di atas kepalanya saat ini. Lalu tempat lilin di atas meja dekat pintu masuk. Kursi-kursi yang tertata rapi dengan ukiran-ukiran, patung-patung berbentuk hewan legenda sama seperti yang ia lihat di taman tadi, dan lantai mengkilap berbahan marmer ini. Semua sukses membuat kedua matanya yang selama ini hanya terbiasa melihat hal-hal sederhana itu silau karenanya. Ia sendiri tidak tahu apakah rumah ini bisa dibandingkan dengan rumah kedua temannya yang memang anak orang kaya karena ia belum pernah berkunjung. Lebih tepatnya, tidak ada keinginan berkunjung walaupun kedua temannya itu selalu mengundangnya setiap saat. Murni karena tidak ingin mencari gara-gara dengan fans dari kedua orang itu yang sangat agresif.

Tanpa sadar, ia sudah berdiri di pintu sebuah ruangan. Sekilas ia mencium aroma akar tanaman yang sangat kuat di dalam ruangan itu. Stephen mengetuk pintu ruangan itu.

“Karl. Aku sudah membawanya ke sini.”

“Masuk saja, tidak kukunci.”

Stephen menurut, membuka pintu yang memang tidak dikunci sesuai perkataan pria yang ada di dalam ruangan itu, mempersilakannya untuk masuk. Agak waswas, Veronica menenangkan perutnya yang terasa sakit saking tegangnya, tidak berani mengangkat wajahnya.

“Akhirnya datang juga. Kamu bisa pergi, Stephen.”

Veronica segera menoleh, menatap enggan Stephen yang melepaskan tangannya begitu saja. Ia keberatan. Bagaimana bisa Stephen meninggalkannya bersama seorang pria dengan aura mengintimidasi yang ia rasa sanggup membunuh singa dalam sekejap itu?

Tangannya segera menahan Stephen. Memberi isyarat meminta agar pria itu tetap berada di sana bersamanya. Setidaknya, sampai ia merasa tenang. Karena dibandingkan bersama pria itu, ia jauh merasa lebih nyaman berada di samping Stephen. Sayangnya pria itu kembali melepaskan tangannya, memandangnya sendu.

“Maaf. Ada urusan yang harus kuselesaikan terlebih dulu, jadi tidak bisa lama-lama di sini. Akan kujemput begitu kalian selesai.” Stephen mengelus puncak kepala Veronica, lalu beralih ke pria yang saat ini berjalan menghampiri mereka. “Hapus auramu itu, Karl. Auramu itu menakutinya.”

“Ups. Lupa,” kata pria itu. 

Begitu pria itu mengikuti perkataan Stephen, perasaan tegang yang ia rasakan tadi menghilang, bersama dengan aroma akar tanaman yang ia cium sebelum masuk ke ruangan yang kelihatannya adalah ruang kerja pria bernama Karl Smith tadi. Ia akhirnya berani untuk mendongak, memandangi sosok yang sudah berdiri di hadapannya. Menyunggingkan senyum yang mengingatkannya akan Harry Shum Jr., salah satu aktor favoritnya dalam serial TV Netflix Shadowhunters yang baru ia tamatkan sampai season kedua karena liburan perkuliahannya baru saja berakhir minggu lalu. Waktu seakan berhenti, mengizinkannya menikmati pemandangan yang ada di hadapannya sekarang. Siapa yang bisa menampik pesona dari pria berdarah Asia, bukan?

“Mau duduk?”

Suara berat pria itu berhasil menyadarkannya dari lamunannya. Ia mengangguk kikuk, berjalan menuju kursi yang ditunjuk Karl tadi. Kakinya sudah terbiasa dengan sepatu hak tinggi itu sekarang, sehingga ia menolak tawaran Karl.

“Aku baru saja melewatkan makan siangku, sial…,” ujar pria itu lagi begitu bokongnya yang terbungkus indah di celana hitam formal itu menyentuh kursi yang ia duduki sekarang, membuatnya menelan ludah. Matanya yang sempat tertuju pada bokong padat Karl yang tampak begitu menggoda itu segera beralih ke arah lain sebelum pemilik bokong itu menyadari tatapannya tadi.

“Kamu nggak keberatan kan, kalau aku makan dulu. Ngomong-ngomong, kamu sudah makan?”

Veronica berdehem, menutupi kegugupannya karena nyaris ketahuan pria itu. Setidaknya, itu yang ia percaya untuk saat ini. Dalam hati ia benar-benar berharap pria itu tidak menyadarinya. 

“Err… ya, belum. Aku baru makan parfait. Maksud saya, tentu. Saya tidak keberatan makan siang bersama Anda, Tuan Smith.”

Pria itu terdiam sejenak, lalu tertawa pelan menertawakan kegugupannya. Dalam hati, Veronica merutuki kegugupannya sendiri. Pasti saat ini ia tampak seperti orang tolol di mata pria itu.

“Panggil saja Karl. Tidak perlu bersikap formal,” ujar pria itu setelah berhenti tertawa. “Oke. Akan kupanggil pelayan untuk menyiapkan makan siang kita.”

Karl tampaknya malas beranjak dari kursinya sekarang, karena pria itu menekan bel yang menempel di dinding yang ada di belakang mereka. Begitu selesai menekan bel, mata pria itu bergerak menuju ke sepatu merah yang ia kenakan sekarang.

“Pas di kakimu. Bagus. Sesuai perkiraan. Apa kamu merasa kesulitan berjalan menggunakan sepatu itu?”

“Nggak. Sangat nyaman. Maksudku, aku belum pernah mengenakan sepatu hak tinggi karena kakiku ini…” Veronica mengusap kakinya. “Kamu tahu kan, apa maksudku?”

“Justru karena itu, makanya kami membuatkan sepatu itu untukmu,” Karl tampak lega mendengar jawaban jujur darinya, menyandarkan tubuhnya ke belakang sambil menghela napas panjang. “Bagus kalau begitu. Sepatu itu tampak cantik, sesuai denganmu. Ah, sampai lupa. Aku harus memanggilmu apa, Nona Veronica Darren?”

“Nikki saja cukup. Atau Vero, jika keberatan?”

“Oke, Nikki saja. Kayaknya Stephen juga milih nama itu.”

Percakapan mereka terhenti saat pintu ruangan itu terbuka, memunculkan seorang pelayan wanita berwajah datar dengan sisik di sekitar mata kirinya dan rambut cokelat yang digelung rapi ke belakang, mendorong kereta dorong berisi menu makan siang mereka. Di luar dugaan, semua makanan yang kini dihidangkan di atas meja yang ada di hadapan mereka itu berhasil memancing air liurnya. Ia pikir, karena Stephen sempat menyinggung identitas Karl yang seorang naga itu, ia tidak akan melihat pria itu makan makanan manusia sepertinya. Mungkin pria itu akan makan buah-buahan saja, atau daging mentah. Ternyata salah. Pria itu tampak sangat antusias melihat semua makanan yang berjejer rapi sama sepertinya, tidak menghiraukan pelayan wanita itu yang sudah meninggalkan ruangan. Beberapa detik kemudian, ia mendengar suara gemuruh yang membuatnya nyaris terkejut karenanya, sebelum mengetahui bahwa sumber suara itu berasal dari perut pria yang kini tampak merona hebat menahan malu.

“Maaf…,” kata Karl, memalingkan wajahnya ke arah lain. Kelihatan sekali kalau pria itu tengah menyembunyikan rasa malunya karena suara perutnya tadi. “Aku belum makan sejak pagi karena cemas memikirkan apakah paket yang kukirim lewat anak buahku itu sampai padamu dengan selamat atau tidak. Syukur benar-benar sampai.”

Oh, jadi Gustav itu bawahan Karl?

Tawanya meledak seketika, memandangi pria yang menunduk malu itu. “Nggak, nggak apa. Cuma ada aku di sini. Dulu waktu SMA, perutku pernah berbunyi sangat keras saat upacara bendera, sampai membuat satu sekolah tertawa karenanya. Jauh lebih memalukan daripada suara perutmu sekarang.”

“Benarkah?” Karl ikut tertawa mendengar ceritanya. Pria itu lalu menyodorkan sendok dan garpu itu padanya. “Silakan. Biasanya aku bakal ngajak tamuku ke ruang makan, tapi aku capek banget. Nggak keberatan jika kita makan siang di ruanganku, kan?”

“Sama sekali nggak masalah,” Veronica menerima sendok dan garpu itu dengan senang hati.

“Selamat makan,” kata mereka berbarengan.

Mereka menikmati makan siang itu sambil membicarakan banyak hal. Kebanyakan pria itu itu yang bertanya padanya, sehingga hampir seluruh isi percakapan didominasi oleh cerita hidupnya dia. Tentang orangtuanya yang selalu bertengkar sampai akhirnya bercerai, meninggalkan ia dan kakak perempuannya karena tidak mau mengasuh mereka. Ia sengaja menghindari topik tentang insiden penyerangan yang membuatnya kehilangan kedua kakinya saat masih berusia delapan tahun itu, murni karena ia sendiri masih belum siap menceritakannya. Lalu tentang kehidupan sekolahnya. Dan kedua temannya yang super populer. 

Pria itu sendiri menyimak perkataannya penuh seksama, tidak mengalihkan perhatiannya sedikit pun darinya. Sesekali ia bertanya, namun pria itu berhasil memutar balik pertanyaannya, sehingga tanpa sadar, malah ia yang kembali mendominasi percakapan. Sepertinya pria itu tidak tertarik untuk menceritakan dirinya sendiri. Padahal ia penasaran.

Setelah mereka selesai makan siang, pria itu menekan bel yang tadi digunakan untuk memanggil pelayan. Kali ini, muncul seorang pelayan wanita berwajah ketus dengan tahilalat di dekat bibir kiri bawahnya, merapikan piring yang sudah kosong. Tidak mengatakan apa pun, hanya melirik tajam ke arah Veronica, seakan pelayan wanita itu mempertanyakan kehadirannya di rumah ini. Sikap yang sejujurnya, membuatnya merasa tertekan.

Seolah menyadari ketidaknyamanannya akan sikap Agnes barusan, Karl angkat bicara. “Agnes, ada apa dengan tatapanmu itu?”

Pelayan wanita itu tersentak kaget mendengar teguran Karl. “Maaf, Yang Mulia. Tapi wanita ini…”

“Ada masalah?”

Pelayan wanita itu tampak gugup, meletakkan piring-piring tadi di atas kereta dorong yang ada di belakang wanita itu, kembali menghadap Karl yang menunggu jawaban pelayan wanita ketus itu.

“Wanita ini manusia, bukan? Kenapa Anda bersama manusia?”

“Aturan konyol itu lagi?” Karl memutar kedua bola matanya, tampak jengkel. “Kutanya sekarang juga. Siapa kepala keluarga di sini? Aku atau kamu, Agnes?”

“Te-tentu saja Anda, Yang Mulia!” pelayan wanita itu menunduk ketakutan, tidak berani memandang Karl. “Maafkan kelancangan mulut saya. Tapi wanita ini seharusnya tidak berada di sini.”

“Kepala keluarga di sini adalah aku. Sudah kuhapus aturan sialan itu sejak aku menjabat sebagai kepala keluarga Smith, bukan?”

“Tapi, Yang Mulia…”

“Cobalah berpikiran terbuka, Agnes,” Karl memijat pelipisnya yang berdenyut karena perkataan Agnes. “Kita tidak mungkin berpegang aturan lama selamanya. Aturan itu dibuat untuk melindungi kita yang awalnya diincar oleh manusia, aku tahu. Tapi zaman sudah berlalu. Sudah tidak ada ancaman lagi. Lagipula populasi naga terus menurun karena aturan sialan itu. Sebaiknya kamu keluar dari ruanganku sekarang sebelum aku benar-benar marah.”

“Maaf! Maaf, Yang Mulia! Saya akan segera keluar dari sini sekarang juga!”

Pelayan wanita itu bergegas mendorong kereta dorong tadi, meninggalkan ruangan itu dalam sekejap. Karl menghela napas panjang, masih memijat pelipisnya sambil mendecakkan lidahnya. “Selalu begini kejadiannya. Padahal sudah kukatakan berulang kali untuk lebih terbuka…”

Benar kata Stephen. Pria ini memiliki cara pandang yang jauh berbeda dari klannya sendiri. Bisa dikatakan, pria ini sedikit mirip dengan Oda Saburo Nobunaga di buku sejarah fiksi yang pernah ia beli di sebuah toko buku saat ia masih SMA dulu. 

“Maaf, ya? Jadi menghadapi kejadian tidak mengenakkan seperti tadi. Kalau kamu merasa nggak nyaman, bilang aja. Biar kuurus. Mungkin sebaiknya Agnes kupecat saja kalau masih kurang ajar seperti tadi.”

“Aturan apa sih, yang kamu bicarakan tadi dengan Agnes?”

“Oh, itu?” Karl mencondongkan tubuhnya ke arah Veronica, tampak antusias. Bagus, kini ia bisa mengetahui sedikit mengenai pria itu. Setidaknya impas, karena ia sudah menceritakan banyak tentang dirinya sendiri. “Aturan tolol yang awalnya dibuat untuk melindungi klan naga. Bahwa kami, klan naga, hanya boleh bersinggungan dengan sesama klan naga. Tidak boleh di luar klan. Jika melawan aturan itu, akan dikeluarkan. Aturan itu menciptakan banyak permusuhan dan rasisme. 

“Klan naga umumnya beranggapan bahwa derajat mereka jauh lebih tinggi daripada seluruh makhluk ciptaan dewa karena menurut legenda, kami itu titisan langsung dari para dewa. Singkatnya, aturan itu kuhapus begitu aku menggantikan kakekku yang baru saja meninggal. Tapi tetap saja masih belum ada yang menerima keputusanku. Lagipula, aku hanya bisa menghapus aturan itu untuk klanku sendiri. Jadi yah, masih sulit menerapkan kebijakan baru itu ke seluruh klan naga.”

“Oh,” ia mengangguk, semakin mengagumi pola pikir Karl Smith yang menurutnya sangat unik. “Sama seperti isu Black Lives Matter dan anti-Semitisme?”

“Kurang lebih begitu. Kamu tertarik dengan isu seperti ini?”

“Tentu. Karena itu aku mengambil jurusan hukum. Berharap begitu lulus bisa jadi pengacara atau bekerja di yayasan non-profit untuk kesejahteraan masyarakat.”

“Tidak kusangka anak perempuan cengeng yang dulu pernah kutemui berubah menjadi wanita dewasa yang punya jiwa sosial yang tinggi sekarang,” gumam Karl. “Kudoakan sukses. Aku dan Stephen akan mendukungmu.”

Ia mengernyit mendengar perkataan Karl yang menurutnya aneh. “Pernah kamu temui? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?”

“Kamu nggak ingat?” Stephen tampak terkejut, lalu mengangguk paham. “Wajar saja, sih. Pasti kejadian itu membuatmu trauma. Ya, kita memang pernah bertemu.”

Hanya itu yang dikatakan pria itu tadi, karena selanjutnya pria itu mengalihkan pembicaraannya ke topik lain. “Aku tahu ini terkesan buru-buru, tapi aku akan mengatakan hal yang kutunda selama ini.”

“Iya?”

“Apa kamu mau menjadi pacarku, Nikki?”

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status