PERJANJIAN YANG TIDAK MENGUNTUNGKAN

Lebih dari tiga puluh menit sejak kedatangan Kimmy di kantor Aleandro, dia belum juga melihat pria tua itu masuk ke dalam ruangan ini. Kimmy mulai merasa bosan. Dia memutar-mutar pena dengan jari tanganya sambil menggoyang-goyangkan kaki. 

Bersamaan dengan itu, Kimmy membalikan tubuhnya bermaksud ingin melihat kegiatan orang-orang yang ada di kantor ini. Karena ruangan Aleandro hanya dibatasi oleh kaca yang transparan, jadi mata Kimmy dapat dengan bebas melihat sekitaran. 

Namun, tatapanya berhenti ketika dia melihat sepasang kaki dengan sepatu pantovel kulit berwarna hitam mengkilap berdiri tegak persis di belakangnya. Kimmy menaikan pandangnya hingga menyusuri sepanjang tubuh si pemilik kaki tersebut. Hingga pandanganya sampai ke dada lalu berakhir di wajah. 

Mata Kimmy nanar melihat seorang pemuda yang dibencinya hadir dihadapanya. 

"Kau!" Kimmy menatap heran. Dia seperti melihat hantu di siang hari. 

Piero—pemuda yang membuat Kimmy menjadi tegang, melenggang begitu saja dan menempati kursi Aleandro. 

"Di mana Tuan Aleandro. Aku berurusan dengan dia, bukan dengan kau." 

Piero mengangkat sebelah alisnya. "Tanda tangani ini!" Perintahnya. Piero menyodorkan seberkas kertas yang sudah berisikan banyak kalimat di dalamnya. Dan juga sebuah alat tulis. 

Kimmy memperhatikan barisan-barisan tulisan dalam kertas itu. Namun, karena tulisanya sangat kurang jelas dibaca dari kejauhan, Kimmy meraih kertas tersebut. Dia membacanya dengan seksama dari dalam hati. 

Ada penggalan kalimat dari perjanjian yang tertera yang tertuliskan di dalam kertas ini. Yang membuat Kimmy memprotesnya. 

"Bekerja di Club Exotic selama dua tahun tanpa dibayar," ulang Kimmy membaca kalimat itu dengan lantang. 

"Hei! Kau pikir aku ini budakmu! Kau menginginkan aku bekerja di perusahaanmu tanpa bayaran," protes Kimmy dengan nada tinggi. 

"Bagaimana? Atau kau lebih suka tinggal di dalam tahanan?" Balas Piero dengan nada biasa. Namun tatapan mata Piero membuat debar jantung Kimmy mulai tidak normal. 

"Apak hak kau memaksaku?" 

"Saya tidak punya banyak waktu untuk berdebat dengan kau, Nona. Cepat tanda tangani ini atau kau akan saya serahkan ke pihak yang berwajib." 

Ancaman Piero tidak membuat Kimmy menyerah begitu saja. "Atas dasar apa kau menuntutku?" 

"Kimmy, kau sudah mempermalukan Tuan Piero di depan umum. Dan itu disaksikan oleh banyak orang. Kau bisa dituntut atas dasar pencemaran nama baik," sela Aleandro yang baru saja hadir di dalam ruangan. "Maaf Tuan Piero, kalau saya lancang memotong pembicaraan anda." 

Piero mengangkat tanganya, menandakan tindakan Aleandro tidak jadi masalah baginya. 

Kimmy merasa dirinya terpojokan dengan situasi. Dua bos besar sudah menyudutkannya. Dan Kimmy hanya seorang diri. Ada kegelisahan di hati kecil Kimmy untuk membantah semua tudingan terhadap dirinya. Tapi, tampaknya semua itu akan sia-sia. Karena Kimmy sadar kalau yang dihadapinya adalah orang terpandang dan juga punya kuasa. Dia bisa melakukan apa saja untuk membuat Kimmy bersalah. 

Sepertinya aku dijebak. Tapi aku punya bukti apa kalau memang mereka menjebakku. Lagipula apa tujuan mereka menjebakku seperti ini, batin Kimmy. 

"Cepat tanda-tangani. Saya tidak punya banyak waktu hanya untuk mengurus ini," kata Piero dengan nada perintah sambil menyodorkan alat tulis mendekat kepada Kimmy. 

Kimmy menatap Aleandro dan Piero dengan sinis. Sebelum dia mulai menggoreskan tinta di kertas yang berisikan perjanjian itu. 

"Puas!" Ucap Kimmy tegas setelah dia selesai menanda-tangani. Dia terlihat kesal menatap Piero dan juga Aleandro. Namun hanya ditanggapi senyuman tipis oleh keduanya. 

Piero membereskan berkas surat perjanjian itu dan di masukan ke dalam amplop berwarna coklat. Dan kemudian dia pergi meninggalkan ruangan Aleandro. 

Begitu pun dengan Kimmy yang bersiap pergi dari ruangan ini. 

"Mau kemana kau?" tanya Aleandro. 

Kimmy menatap serius pria paruh baya berperut bulat itu. Lalu dia mengangkat sebelah alisnya. "Hell," jawab Kimmy sekenanya. 

Aleandro berkerut kening karena kaget mendengar ucapan Kimmy. Dan tanpa basa-basi, Kimmy meninggalkan Aleandro. 

Aaaaaarrrgh! Awas kau Piero. Akan aku balas perbuatanmu yang semena-mena seperti ini, gerutu Kimmy dalam hati. 

Kimmy memilih taxi untuk kendaraanya pulang ke apart. 

***

Kimmy mengambil sebotol wine merah di dalam lemari es dan menuangkanya ke dalam gelas. Sambil duduk dia menenggak wine itu sampai habis. 

'Jangan lupa malam ini kau sudah mulai bekerja.' 

Pesan singkat dari Aleandro diacuhkanya begitu saja. Kimmy tidak membalasnya. 

"Aaaaarrgh ... " keluh Kimmy. Dia menyibak rambutnya yang lurus. Lalu membuang napas. 

Kimmy beranjak dari mini dapur menuju kamar. Namun langkahnya tertahan ketika dia mendengar ada seseorang mengetuk pintu apartnya. Dan kemudian, Kimmy melihat siapa gerangan tamu tak diundang itu dari lubang kecil yang berada di tengah-tengah daun pintu. 

"Mommy," ucapnya. "Mau apa dia menemuiku?" Gumam Kimmy. Dan kemudian, dia membukakan pintu itu. 

"Kimmy," ucap seorang perempuan paruh baya namun masih terlihat cantik. Perempuan itu berkaca-kaca menatap Kimmy. 

Perempuan itu bernama Anna. Dia adalah ibu kandung Kimmy. Sejak kecil, Kimmy sangat dekat dengan Anna. Namun, setelah kedatangan Robert, semua berubah. Anna tidak lagi punya waktu untuk bersama Kimmy. Bahkan sekadar mendengar cerita dan keluh-kesah dari anak kandungnya itu pun tidak. Anna lebih sering sibuk dengan suaminya. Bahkan Anna lebih membela Robert dari pada anaknya sendiri ketika dia tahu kalau buah hatinya mendapatkan kekerasan dari suaminya itu. 

"Mommy tidak lama di sini. Mommy hanya ingin melihatmu sebentar," ujarnya. 

"Tumben. Biasanya Mommy tidak pernah mau tahu dan peduli kepadaku," balas Kimmy sinis. 

Anna menatap haru sang buah hati. "Mommy tidak punya pilihan, Kim. Kalau Mommy tidak menikah dengan Robert, kita akan jatuh miskin. Semua aset perusahan papimu sudah diambil alih oleh pihak bank. Papimu meninggalkan banyak hutang." 

"Hutang. Papi meninggalkan hutang? Bukankah Papi mempunyai banyak perusahaan?" 

"Sebelum papimu meninggal dunia, perusahannya sudah bangkrut. Perusahan papi mengalami pailit karena papimu ditipu oleh rekan bisnisnya. Semenjak itu, papimu sakit-sakitan. Dan kala itu, kau masih dalam masa studi. Papimu tidak mau mengganggu konsentrasimu, Kim. Mommy tidak bisa berbuat apa-apa. Mommy tidak mau hidup miskin. Robert adalah teman lama mommy. Dia mengatakan akan melunasi semua hutang-hutang papimu jika Mommy bersedia menikah dengan dia. Mommy tidak punya pilihan, Kim. Mommy tidak mau dipenjara karena tidak bisa membayar hutang papimu," terang Anna dengan air mata yang berderai. 

Apa benar yang dikatakan Mommy kalau papi terlilit hutang? Batin Kimmy. 

"Mungkin kau tidak akan percaya dengan apa yang Mommy katakan. Tapi itu lah kenyataanya, Kim. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Kita sudah miskin. Kalau bukan karena Robert, mungkin Mommy sudah berada di dalam sel tahanan. Menanggung semua tanggung-jawab papimu," sambung Anna. 

Kimmy berubah rona wajahnya. Sebelumnya dia nampak kesal melihat kedatangan Anna. Namun kini, dia sedikit melenturkan otot pipinya. Kimmy mulai merasa iba dengan keadaan keluarganya. Terutama Anna, yang dianggapnya telah menanggung beban dari masalah-masalah ini. 

"Mommy tidak bisa lama-lama, Kim. Robert pasti akan marah jika Mommy terlalu lama pergi dari dia. Kau baik-baik jaga diri, Kim. Maafkan Mommy ... " ucap Anna. 

Kimmy memeluk Anna erat. "Mommy ... " ucap Kimmy lirih. 

"Mom. Jangan pernah kasih tahu sama Robert di mana aku tinggal." Kimmy mengingatkan Anna. 

Anna mengangguk. Lalu dia pergi. Sementara itu, Kimmy merasa bersalah dengan apa yang selama ini dia tudingkan ke Anna. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status