MOMMY MASUK IGD

"Bagaimana Dok? Apa operasinya berhasil?" 

Dokter Diego melepas masker yang menutupi sebagian wajahnya. Kemudian dia tersenyum. 

"Tuan Piero masih beruntung. Kami berhasil menyelamatkanya," jawab dokter Diego dengan wajah bahagia. Berita itu membuat Kimmy membuang napas. Seakan semua kegelisahan dalam dirinya keluar bersama hembusan udara dari mulutnya. 

"Tapi pasien belum bisa dikunjungi. Keadaanya masih lemah," sambungnya dokter Diego menjelaskan. 

"Tidak apa-apa,Dok. Terima kasih," ucap Kimmy. 

"Kalau begitu, saya permisi, Nona," ucap Dokter Diego berpamitan. Dan kemudian dia pergi meninggalkan Kimmy. 

Bersamaan dengan itu, Kimmy melihat petugas medis melintas dan membawa tubuh seseorang di atas brankar. Cara yang sama saat Piero dipindahkan dari mobil ke ruang ICU. Namun, ada yang membuat matanya terpaku. Di mana Kimmy seperti mengenali siapa pasien itu. 

"Mommy," gumamnya. 

"Tunggu!" Kimmy berlari ke arah petugas medis yang hampir sampai ke ruang IGD. 

"Ada apa, Nona?" Tanya petugas medis itu. 

Kimmy nanar setelah memastikan dari dekat apa yang dilihat matanya itu tidaklah salah. 

"MOOOOOOMMMMMMY!" tangisnya pecah. Sehingga semua orang yang ada di rumah sakit ini menoleh ke arahnya. 

"Nona. Kau tidak apa-apa?" 

"Nona, ada apa?" 

Kimmy tidak menghiraukan orang-orang yang berseru kepadanya. Hati dan pikiranya hanya tertuju kepada perempuan paruh baya yang merupakan Mommynya ini—yang berlumur darah di sekujur tubuhnya dan sudah tidak sadarkan diri. 

"Bawa pasien itu masuk. Cepat!" Perintah dokter yang akan menangani Anna. Dia sudah berada di depan pintu ruang IGD. 

Kimmy berlinang air mata melihat tubuh Mommynya dibawa masuk oleh para petugas medis. Dia histeris. Hingga banyak orang yang berusaha menenangkan dia. 

Kimmy tersungkur jongkok di lantai rumah sakit. 

"Nona tenang, Nona. Biarkan tim dokter menangani pasien," seru salah seorang pemuda. "Nyonya itu tertabrak mobil saat menyebrang jalan." Dia menjelaskan apa yang terjadi. 

Kimmy mendongakan wajahnya melihat pemuda yang sedang berbicara kepadanya. 

"Dari mana kau tahu?" 

"Saya yang menolongnya, Nona." 

Semua gara-gara si pria kejam itu. Kalau dia tidak menahanku, Mommy tidak akan mungkin kecelakaan, batin Kimmy. 

Kimmy menopang tubuhnya untuk berdiri. Baru saja kecemasanya hilang sesaat. Dan sekarang, dia harus memulai kegelisahan itu kembali. Kimmy harus menunggu hasil tindakan dokter yang menangangi Anna. Dia mengutuk Piero dan menyalahkan si laki-laki kejam itu. Karena dia merasa, kecelakaan yang menimpa Mommynya akibat kesalahan Piero. 

"Kau putri si Nyonya itu?" Tanya pemuda itu. 

Kimmy hanya menganggukan kepala untuk menjawab pertanyaanya. Dia masih belum bisa menghentikan isak tangisnya. 

"Mommy ... " gumam Kimmy lirih tersedu-sedu. 

****

Piero mulai merasakan jiwanya kembali. Dia mencoba membuka perlahan kedua otot pelupuk matanya. 

Pantulan sinar cahaya dari lampu sedikit demi sedikit membias di retina mata Piero. "Aaaaachhh ... Aku berada di mana?" Gumamnya dengan suara parau. 

Piero merasakan sakit di sekujur tubuh. Sayup-Sayup terdengar seperti ada seseorang yang menghampirinya. 

"Tuan sudah sadar?" 

"Siapa yang membawa saya ke sini, Sus?" Tanya Piero dengan nada pelan. 

"Seorang wanita, Tuan. Sepertinya dia adalah istri Tuan." 

"Istri? Tidak mungkin. Saya belum mempunyai istri, Sus," bantah Piero. 

"Sudahlah, Tuan. Sebaiknya Tuan istirahat kembali. Tubuh Tuan masih lemah," ucap Suster itu menasihati. 

Wanita? Siapa wanita itu? Tanya Piero dalam hati. 

Suster menarik selimut Piero sampai menutupi dada. Dan kemudian dia meninggalkan Piero seorang diri. 

"Apa si anak Mommy itu yang membawaku ke sini?" Gumam Piero.

Piero berusaha memejamkan mata. Namun sepertinya dia tidak bisa tidur kembali. Dia melihat sekeliling dalam ruang VIP ini. Termasuk tiang selang cairan infus yang menghubung ke tubuhnya. 

"Dimana dia? Kenapa dia tidak menemaniku?" 

Piero menatap langit-langit. Bersamaan dengan itu, pikiranya mengingat tentang masa lalu. Di mana kejadian itu sudah berlangsung lima tahun silam. Namun rasanya baru seperti kemarin. 

Piero masih ingat betul kata-kata terakhir yang terucap oleh mantan kekasihnya itu. Pada saat dia memutuskan untuk mengakhiri kisah cinta yang sudah terjalin sejak lama. Sang kekasih menolak lamaranya lantaran Piero hanya anak dari seorang buruh biasa. 

Kalimat itu masih terekam jelas di memory otak dari laki-laki yang termasuk jejeran konglomerat di negeri ini. Berawal dari ucapan papinya Rania yang menentang hubunganya. 

"Kita selesai!" Rania menegaskan. Dia mengembalikan cincin emas putih yang pernah diberikan Piero untuknya. 

"Rania. Pertimbangkan baik-baik keputusanmu itu." Piero berusaha menahan Rania agar menarik kembali ucapanya. 

"Kau sudah dengar, kan! Kalau papiku tidak merestui hubungan kita. Seharusnya dari dulu aku mendengarkan ucapan papi," ucap Rania menyesali. 

"Ran, kamu bantu aku meyakinkan papimu. Dan aku berjanji tidak akan membuatmu kelaparan jika menikah denganku," balas Piero menekankan. 

"Hidup bukan hanya untuk makan! Tapi aku perlu sesuatu yang lain. Perhiasan. Liburan ke luar negeri. Belanja. Apa kau sanggup memenuhi semua itu." Rania menatap serius wajah Piero. 

"Sudahlah Rania. Percuma saja kau berdebat dengan pemuda miskin seperti dia. Lebih baik kau menikah saja dengan Hernandez. Hidup kau akan lebih baik," seru pria paruh baya yang itu adalah papi Rania—berbicara dari dalam kamarnya. 

"Kau dengar itu, Pier! Lebih baik kau lupakan aku sekarang." 

Rania mendorong tubuh Piero hingga keluar pintu utama dari rumahnya. 

"Ran! Rania!" Piero mengetuk-ngetuk daun pintu rumah Rania. 

"Maaf, Pier. Aku tidak mau menanggung resiko untuk hidup miskin jika menikah denganmu," ucap Rania dengan keras dan penuh penekanan dari balik pintu. 

Piero tertunduk lesu. Dia merasa sudah pupus harapan untuk bisa mempertahankan hubunganya dengan Rania. 

Piero meninggalkan rumah Rania dalam luka hati yang mendalam. Namun, sepertinya awan sangat mengerti dengan perasaan yang dialami Piero. Di mana rintikan hujan mulai berjatuhan membasahi bumi. 

Piero berjalan kuyup di tengah derasnya hujan. Hati dan pikiranya berkecamuk hebat. Ingin rasanya mengakhiri hidupnya saat ini. Namun, itu bukan pilihan nuraninya. 

"AAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGHHH!" teriak Piero menggema. Dia menatap langit yang penuh dengan kilatan cahaya yang menyambar-nyambar. Di tengah jalan dan di bawah guyuran hujan yang lebat. 

Tanpa sadar, sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi. 

"AWASSSSSS!" seseorang berteriak untuk memperingatinya. Dan dengan cepat Piero menghindar setelah dia menyadari kalau ada sebuah mobil yang berlari kencang ke arahnya. 

Piero duduk memeluk lutut di bahu jalan sambil mengatur napasnya. Dia menangis. Meluapkan semua keluh kesah dan kegundahan hati. Tanpa menghiraukan orang sekitaran yang sedang memperhatikanya. 

"Ada dua macam jenis orang yang patah hati, Tuan. Yang pertama, dia akan membiarkan dirinya terbenam dalam keterpurukan hati. Dan terus memikirkan sang pujaan hati yang sudah bersama orang lain. Hingga perasaanya terkikis habis. Dan yang kedua, dia akan bangkit. Melupakan semua hal yang menyakiti hatinya. Membangun dirinya untuk menatap masa depan. Hingga suatu hari sang kekasih yang pernah meninggalkanya, akan mendongakan wajahnya untuk melihat dia. Lalu bersujud, memohon ampun dan memintanya untuk kembali," petuah dari seorang pemuda yang berdiri sambil memegang payung—tepat di depan Piero. 

Kata-Kata itu memancing Piero untuk mendongkan wajahnya—melihat siapa yang sedang berbicara seperti itu. 

"Kenan," ucap Piero. 

Pemuda itu menjulurkan tanganya untuk membantu Piero berdiri. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status