로그인Mira tak pernah menyangka masa lalunya akan kembali dalam waktu tak terduga. Begitu suasana kantor berubah dalam waktu sekejap, saat akhirnya CEO baru FoodBeary diumumkan, Mira mengenali sosok itu. Yang mana ternyata adalah Firman—lelaki yang dulu pernah ia rundung di masa SMA. Kini, Firman hadir sebagai atasan, dengan tatapan dingin dan sikap yang sulit ditebak. Di bawah tekanan dan tugas berat yang datang langsung darinya, Mira berusaha menebus kesalahan masa lalu sambil mempertahankan kariernya. Namun, di balik sikap tegas Firman, ada luka lama yang belum sembuh, dan perlahan berubah menjadi rasa yang tak seharusnya tumbuh di antara mereka. Mereka berdua sama-sama terikat oleh masa lalu—bedanya, kini tak ada yang bisa bersembunyi di balik jabatan ataupun penyesalan.
더 보기“Dalam waktu dekat, saya akan mengundurkan diri sebagai CEO.”
Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Pak Junaedi. Namun bagi Mira Anindita Hartono, efeknya seperti hantaman godam tepat di dada. Gelas plastik berisi air mineral di genggamannya nyaris terlepas. Detik itu juga, seluruh sendi di tubuh Mira mendadak kaku, sementara jantungnya mulai berdentum dalam ritme yang tidak beraturan.
“Ma—maksudnya bagaimana, Pak? Bapak mau... mundur?” Mira terbata, berusaha menyaring informasi yang baru saja mampir ke telinganya. “Nggak mungkin, kan? Bapak nggak mungkin meninggalkan FoodBeary begitu aja.”
Kabar ini terasa seperti petir di siang bolong. Bagi Mira, Pak Junaedi bukan sekadar CEO. Di tengah kerasnya belantara korporat Jakarta, pria paruh baya itu adalah sosok pelindung—figur ayah yang selalu hangat dan mengayomi.
Padahal selama ini, Pak Junaedi tidak pernah menunjukkan tanda-tanda tertekan. Beliau adalah tipe pemimpin yang rela turun ke lantai operasional hanya untuk membagikan kopi dan menyemangati para staf, dari divisi mana pun. Termasuk Mira, yang baru genap enam bulan bergabung sebagai content strategist di divisi digital marketing. Enam bulan yang terasa sangat menjanjikan, sampai detik ini.
“Kalau Bapak mundur, lalu... siapa yang akan menggantikan Bapak?” tanya Mira lagi, suaranya mencicit pelan. Dinginnya AC ruang kerja Pak Junaedi yang disetel di suhu 17 derajat sama sekali tidak mampu mengusir rasa pengap yang tiba-tiba menghimpit dadanya.
Pak Junaedi menyandarkan punggung ke kursi kulitnya. Senyum hangat yang biasanya menghiasi wajah tuanya kini tampak tipis dan samar. “Seseorang yang lebih muda, sangat kompeten. Dewan direksi sudah mengetok palu. Saya percaya dia mampu membawa FoodBeary berlari lebih kencang.”
Mira terdiam. CEO baru? Lebih muda? Kompeten?
Kata-kata itu berputar di kepalanya bagai dengung lebah yang mengganggu, menyisakan kecemasan yang perlahan merayap naik. Di dunia profesional, pergantian pucuk pimpinan jarang sekali berjalan mulus tanpa memakan “korban”. Restrukturisasi, perubahan kultur kerja, atau bahkan pemangkasan karyawan adalah mimpi buruk yang nyata. Apalagi bagi Mira yang baru saja mulai merasa nyaman dan menemukan ritme kerjanya di sini.
“CEO baru itu akan mulai masa transisi minggu depan,” Pak Junaedi kembali bersuara, seolah bisa membaca isi kepala Mira yang kalut. “Kamu nggak perlu cemas sekarang. Fokus saja pada kampanye barumu, ya, Mira.”
Mira hanya bisa mengangguk pasrah. “Baik, Pak. Terima kasih. Saya... hanya terkejut. Sangat terkejut.”
Baginya, FoodBeary adalah kapal terbaik tempat ia berlabuh setelah melewati masa-masa jenuh di agensi sebelumnya. Kehilangan nakhoda sekharismatik Pak Junaedi terasa seperti dilempar kembali ke tengah badai tanpa kompas.
“Saya percaya kamu bisa melewati masa transisi ini dengan baik,” ucap Pak Junaedi sambil menepuk pelan permukaan meja kayu mahoninya. Beliau kemudian bangkit berdiri, merapikan jasnya, dan melangkah keluar ruangan, meninggalkan Mira yang masih terpaku sendirian.
Dari balik dinding kaca ruang kerja sang CEO, Mira menatap ke luar jendela. Langit Jakarta di atas gedung-gedung bertingkat mulai menggelap, tertutup awan mendung tebal yang seolah merefleksikan suasana hatinya yang mendadak kelabu.
CEO baru. Lebih muda. Dan mungkin... jauh lebih ambisius.
Pukul 12.38 siang.
Lift yang membawa Mira kembali ke lantai divisinya berdenting pelan. Dengan segelas kopi instan dingin di tangan kanan, ia melangkah keluar dengan kepala yang masih dipenuhi sejuta spekulasi. Perpaduan kaus putih polos dan kardigan biru langit yang dikenakannya hari ini terasa kontras dengan aura muram yang mendadak menyelimuti pikirannya sejak pertemuan tadi pagi.
Makan siang sendirian di kantin basement tadi sama sekali tidak membantu menjernihkan pikirannya.
“CEO baru... kira-kira tipe pemimpin yang kayak gimana, ya?” gumamnya lirih pada diri sendiri saat berjalan menyusuri koridor kubikel. Sepanjang kariernya, ini adalah pertama kalinya Mira harus menghadapi transisi kepemimpinan secara langsung.
Mira menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir pikiran buruk. “Positive thinking, Mira. Jangan paranoit duluan. Siapa tahu CEO barunya justru asyik dan punya visi hebat.”
Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, rasa gelisah di dadanya justru kian pekat. Menjadi wanita karier lajang di usia kepala tiga sering kali menuntutnya untuk selalu tampak tangguh di luar, meski di dalam ia kerap merasa lelah dengan segala target, revisi tanpa akhir, dan dinamika kantor yang melelahkan.
Langkah kaki Mira mendadak melambat begitu ia memasuki area divisi marketing.
Suasana di sana tidak seperti biasanya. Senyap, namun tegang. Beberapa rekan kerjanya yang biasa sibuk menatap layar monitor kini justru berdiri bergerombol di dekat meja dispenser.
“Mir! Sini deh,” bisik Gina, salah satu rekan satu timnya, seraya menarik lengan kardigan Mira dengan tidak sabar begitu wanita itu mendekat.
“Ada apa, sih? Kok sepi banget?” tanya Mira heran.
“Lo udah denger gosipnya belum?” mata Gina melebar penuh antusiasme yang tertahan. “Pak Junaedi mau resign. Katanya hari ini hari terakhir beliau secara penuh, dan CEO baru bakal langsung diperkenalkan hari ini juga!”
Jantung Mira berdegup kencang. Hari ini? Bukankah Pak Junaedi bilang minggu depan? “Dari mana lo tahu?”
“Anak-anak HRD udah pada kasak-kusuk dari tadi pagi. Dan denger-denger, orangnya udah ada di lantai atas sekarang,” tambah Gina dengan suara yang kian lirih, setengah berbisik. “Gue agak ngeri, deh. Perusahaan kita kan lagi naik daun, kalau CEO barunya tipe micromanager yang hobi pecat orang gimana?”
Sebelum Mira sempat merespons kekhawatiran Gina, sebuah langkah kaki yang mantap terdengar bergema dari arah lorong lift eksekutif. Langkah itu berirama, berat, dan penuh wibawa.
Seketika itu juga, obrolan bisik-bisik di kubikel langsung senyap.
Seorang pria dengan setelan jas abu-abu gelap berpotongan pas badan berjalan masuk, didampingi oleh Pak Junaedi dan beberapa jajaran direksi. Pria itu bertubuh tegap, memiliki rahang yang tegas, dengan tatanan rambut klimis yang rapi. Tatapan matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan dengan percaya diri yang begitu mutlak.
Entah mengapa, udara di sekitar Mira mendadak terasa menipis.
Ada sesuatu yang terasa familier dari cara pria itu berdiri. Cara dia memiringkan kepalanya sedikit saat mendengarkan bisikan Pak Junaedi. Ada memori yang sangat samar—seperti mimpi buruk yang sudah lama terkubur—mencoba mendobrak masuk ke dalam kesadaran Mira, namun ia masih belum bisa meraba apa itu.
Pria berjas abu-abu itu melangkah maju ke tengah area divisi marketing. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang tidak sampai ke mata tajamnya.
“Selamat siang semuanya,” suaranya berat, bariton, dan terdengar sangat dominan memenuhi ruangan yang sunyi itu. “Saya tidak ingin mengganggu waktu kerja kalian terlalu lama. Saya hanya ingin menyapa dan memperkenalkan diri secara singkat.”
Mira menahan napas. Ia menatap lekat-lekat wajah pria di depan sana. Garis hidungnya, bentuk bibirnya...
“Mulai hari ini, saya akan mendampingi Pak Junaedi untuk masa transisi sebelum resmi memimpin FoodBeary sepenuhnya,” lanjut pria itu, menjeda kalimatnya sejenak demi memberikan efek dramatis yang sempurna. “Nama saya Firman. Firman Setiawan.”
Deg.
Darah di dalam tubuh Mira rasanya mendadak berhenti mengalir. Wajahnya seketika pucat pasi, seluruh warna kulitnya seolah memudar dalam satu detik.
Firman Setiawan.
Nama itu, bersama dengan struktur wajah pria dewasa di depannya, mendadak memicu ledakan memori masa lalu yang menghantam kepala Mira seperti tsunami.
Pikiran Mira terlempar ke belasan tahun yang lalu. Ke sebuah koridor sekolah menengah atas yang pengap. Ke sudut kelas di mana seorang remaja laki-laki bertubuh kurus, berkacamata tebal, dengan seragam kedodoran yang berbau keringat, duduk meringkuk sambil memeluk tasnya erat-araf.
Remaja laki-laki yang selalu menjadi bahan tertawaan. Yang mejanya sering dicoret-coret dengan kata-kata kasar. Korban perundungan yang paling menyedihkan di angkatan mereka.
Dan yang paling membuat dada Mira kini sesak hingga nyaris muntah adalah sebuah kenyataan pahit: remaja laki-laki tak berdaya itu adalah mainan favorit Mira dan gengnya dulu.
Pria sukses yang kini berdiri sebagai bos besarnya adalah Firman—si kutu buku yang hidupnya pernah Mira hancurkan dengan tawa tanpa dosa di masa remaja.
“Jangan berdiri di depan pintu seperti pencuri.”Mira menarik tangannya dari gagang pintu otomatis yang baru saja berbunyi klik pelan. Jantungnya berdegup kencang tak karuan saat mendapati sosok tegap suaminya sudah berdiri menanti di balik daun pintu yang terbuka lebar. Kegelapan penthouse mewah itu seakan menambah kesan mencekam yang kian menyiksa batinnya yang teramat lelah.“Maaf, saya baru saja sampai karena jalanan di luar sangat macet.”Langkah kakinya terasa sangat berat saat melangkah masuk ke dalam ruang tengah penthouse yang bernuansa monokrom modern itu. Ia merapatkan tas kerjanya di depan dada, mencoba mencari perlindungan kasat mata dari tatapan dingin yang kini sedang mengunci seluruh pergerakannya.Firman duduk di sofa kulit hitam dengan kemeja yang lengannya sudah digulung kasar hingga siku, menampilkan ekspresi kemarahan yang tertahan dengan sangat rapi. Aura dominasi yang pekat seketika memenuhi seisi ruangan mewah tersebut, menyapu bersih sisa-sisa keberanian yang
“Itu hanya cincin tiruan murah yang saya beli di toko online.”Mira berusaha keras menjaga nada suaranya agar tidak terdengar gemetar di hadapan Aini yang masih menatapnya penuh selidik. Ia menarik tangan kanannya ke belakang punggung secara refleks, menyembunyikan batu permata hijau tua yang berkilau menawan di bawah terangnya lampu ruangan. Detak jantungnya bertalu-talu dengan sangat cepat, seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya akibat kepanikan yang teramat besar.“Benarkah? Tapi kilaunya terlalu sempurna untuk sebuah barang imitasi bernilai murah yang dibeli sembarangan.”Aini melangkah maju satu tapak, matanya menyipit tajam menatap lipatan pakaian di balik punggung Mira seolah bisa menembus kain tebal tersebut. Keraguan yang terpancar jelas dari wajah rekan kerjanya itu membuat ketegangan di dalam ruangan mendingin hingga ke titik beku yang menyiksa batin. Ia tahu ia sedang berhadapan dengan wanita yang tidak akan mudah tertipu oleh alasan klise seperti itu.Di balik m
“Saya tidak menerima alasan lambat dari seorang perundung.”Mira melangkah masuk ke dalam ruangan luas beraroma kayu cendana itu dengan nampan kecil di tangannya. Cangkir kopi arabika pesanan Firman bergetar pelan, menciptakan riak kecil di permukaan cairan hitam pekat yang masih mengepulkan uap panas. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam, berusaha keras menghindari sorot mata suaminya yang menatapnya tajam dari balik meja kerja kebesaran.“Ini kopi arabika hangat tanpa gula yang Anda minta, Pak.”Mira meletakkan cangkir itu dengan sangat hati-hati di atas permukaan meja kaca yang dingin. Ia menahan napas sejenak, mengawasi setiap pergerakan tangan pria tegap di hadapannya dengan rasa cemas yang tak tertahan. Ia sangat khawatir jika setitik saja cairan kopi itu tumpah, Firman akan mencari-cari alasan baru untuk menghukumnya lebih berat lagi.Firman tidak langsung menyentuh cangkir tersebut, melainkan membiarkannya mendingin di atas meja. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit
“Kenapa meja kerjaku dipindahkan ke tempat ini?”Pagi itu, di lantai divisi kreatif FoodBeary, Mira berdiri terpaku menatap meja gambarnya yang biasanya berada di sudut tenang dekat jendela kini telah bergeser tepat di depan lorong toilet dan ruang fotokopi. Semua barang pribadinya, termasuk beberapa sketsa promosi yang belum sempat diselesaikan, diletakkan berantakan di dalam kardus bekas yang tampak kotor di bawah kolong meja.“Itu perintah langsung dari Pak Firman melalui HRD setengah jam yang lalu, Mir.”Aini, rekan kerja senior yang selalu mengincar posisinya sebagai ketua tim ilustrator, menyahut dengan nada sinis yang kental sambil melipat tangan di dada. Matanya yang tajam langsung menyapu penampilan Mira yang tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata, seolah mencari-cari celah dan kelemahan untuk menjatuhkan mental wanita itu di depan karyawan lainnya.Mira hanya bisa menghela napas panjang, menahan rasa sesak yang menghantam dadanya sejak pertama kali menginjakkan kak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰