LOGINMoira merasa tertipu, setelah dijanjikan pekerjaan oleh ayah tirinya. Alih-alih mendapatkan pekerjaan. Ia malah dijual ke rumah bordil, dan dijadikan wanita penghibur di salah satu klub ternama di Ibukota. Moira yang melarikan diri dari kamar hotel, bertemu dengan Sebastian di dalam lift yang berada dalam pengaruh obat. “Tidur denganku, dan puaskan aku,” ucapnya, seraya melumat telinga Moira. Ia juga menjanjikan bayaran yang cukup fantastis. Moira yang membutuhkan banyak uang, untuk melunasi hutang keluarga dan pengobatan adiknya yang sakit. Terpaksa menerima tawaran itu. Setelah melewati malam panas, Sebastian tidak ingin melepaskan Moira dan kecanduan. Setelah malam panas itu, Moira selalu dihadapkan dalam situasi rumit yang mempertemukan mereka kembali. Hingga Moira terkungkung dalam hasrat Sebastian. Akankah Sebastian tulus pada Moira, atau hanya sebatas teman ranjang yang hangat? IG:Caramelly_lp
View More“Lepaskan aku!” berontak seorang perempuan bernama Moira, yang saat ini menolak pakaiannya dilucuti satu persatu dengan kasar, oleh seorang pria asing yang sama sekali tidak dikenalinya.
Lelaki bernama Julian, yang kini, sedang berusaha melancarkan aksinya di sebuah sofa di kamar hotel. Namun, Moira terus melakukan perlawanan.
“Jangan lakukan itu, aku mohon!” pinta Moira yang saat ini, masih menghindari Julian yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan kotor.
“Wanita murahan sepertimu, tidak usah malu-malu. Ayo layani aku sekarang juga,” ucap Julian dengan tatapan mesum dan senyuman menjijikkan.
Moira merasa ditipu oleh Ares, ayah tirinya. Pria itu mengatakan, jika ingin melunasi hutang keluarga dan membiayai pengobatan keluarganya, yang kini telah mencapai ratusan juta. Ia harus bekerja di Kota.
Ares juga meyakinkan Moira, ia memiliki seorang teman yang bisa memberinya pekerjaan di Ibukota. Rupanya, teman yang dimaksud Ares, adalah seorang mucikari bernama Belinda.
Belinda awalnya mengatakan, akan memperkerjakan Moira sebagai pelayan di sebuah bar. Namun, kenyataannya dia ditipu dan malah diperkerjakan sebagai seorang wanita penghibur! Moira juga dipaksa memakai pakaian seksi, atas desakan Belinda yang kerap dipanggil Mamih oleh semua para penghibur di tempat itu.
Alasan Moira menerima tawaran pekerjaan itu, karena dia sedang membutuhkan uang yang sangat banyak, untuk biaya pengobatan adik perempuannya.
Moira yang merasa ditipu ketakutan dan sakit hati kepada ayah tiri dan Belinda. Sementara itu Julian menerkam tubuhnya, berusaha keras membawa ke pelukannya. Julian sangat liar dan berusaha mencium Moira. Namun, Moira bersikeras dan terus menerus melakukan penolakan. Karena Moira terus memberontak akhirnya Julian marah dan mengumpat dengan perkataan kasar.
“Dasar perempuan murahan! Beraninya kau menolakku. Aku sudah membayar mahal untuk malam ini,” bentak Julian marah. Dan tidak segan-segan menampar wajah Moira cukup keras “Kamu harus melayani aku, malam ini.”
Rasa takut saat ini berkecamuk di dalam benaknya. Selama ini, dia belum pernah bersentuhan dengan lelaki mana pun, dan ini adalah kali pertamanya. Yang ada di pikirannya saat ini, ia harus kabur bagaimanapun caranya. Moira ketakutan setengah mati. Keringat dinginnya kini sudah menyatu dengan tubuhnya.
“Lepaskan aku, aku mohon biarkan aku pergi!”
“Pergi katamu. Jangan mimpi, kamu harus membuatku puas.”
Alih-alih mendengarkan permohonan itu, Julian malah melepaskan kancing celananya. Saat Moira hendak berdiri dan berlari. Tangan Julian lebih cepat, menarik tubuh Moira dan membantingnya dengan kasar ke sofa.
“Perlihatkan padaku tubuhmu.” Julian menatapnya liar, membuat Moira semakin ketakutan.
Julian menarik paksa bagian depan pakaian Moira, dres seksi itu robek. Semakin memperlihatkan belahan dadanya yang indah. Moira terus melakukan perlawanan, dia membenturkan kepalanya ke kepala Julian. Mereka sama-sama merasakan kesakitan.
“Jalang sialan! Beraninya kau lakukan itu padaku.”
Manik mata Moira tertuju pada botol wine yang masih tersegel di atas meja, dengan cepat Moira berhasil meraih botol itu dan memukul kepala Julian sampai berdarah. Julian memegang kepalanya, kesakitan.
“Jalang sialan! Kemari, jangan kabur!” teriak Julian semakin marah, seraya memegangi kepala yang sudah berlumuran darah.
Moira berlari ke arah pintu, napasnya terengah-engah. Saat Moira hampir meraih tubuhnya kembali, di waktu yang sama pintu terbuka. Dan Julian, tergeletak tidak sadarkan diri. Moira sempat menoleh, dan memastikan Julian masih hidup atau sudah mati.
Saat tahu Julian masih bernapas, Moira merasa lega. Ia keluar dari kamar hotel, ketakutan. Peluh bercucuran bersama napas yang terengah-engah. Moira menutupi bagian dadanya, karena pakaiannya sobek.
Di waktu yang sama, kedua ajudan Julian yang berjaga tidak jauh dari kamar hotel, melihat Moira di lorong. Mereka pergi melihat Julian yang tidak sadarkan diri, dan langsung mengejar Moira.
“Hei, jangan lari!” teriak kedua ajudan itu.
Moira menoleh, lalu berlari menyusuri lorong kamar hotel, dengan napas terengah-engah, Moira berdiri di depan panel lift, menekan tombol turun. Lampu menyala merah.
Angka digital terus naik, 2,3,4,5,6, Moira yang ketakutan, akhirnya menekan tombol naik. Saat itu, suara dua orang ajudan itu terdengar semakin dekat dan menunjuk ke arah Moira.
“Cepat tangkap dia!”
Tepat saat itu, pintu lift terbuka di lantai 8, dengan langkah tergesa, Moira pun masuk dengan posisi mundur. Saat kedua pria itu berlari ke arah lift, lift sudah tertutup. Moira membungkuk lega.
“Syukurlah,” gumamnya pelan.
Namun, lift itu tidak membawa Moira turun, melainkan naik. Di waktu yang sama, ia mendengar suara seorang pria sedang mengerang seperti kesakitan. Moira yang terlambat menyadarinya menoleh.
Moira terkejut, ia menemukan sosok pria tampan terduduk lemas di lantai, napasnya tidak beraturan. Sementara itu angka digital terus naik dengan cepat ke atas.
“Nona, tolong aku!” ucap lelaki tampan itu, kesakitan.
“Tuan, apa Anda terluka?” tanya Moira mendekati hati-hati, mencoba melihat wajah pria yang kini menunduk merintih.
Di waktu yang sama, lift terbuka di lantai 18. Pria itu menyergap tangan Moira. Moira yang terkejut, masih dihantui perasaan takut. Berusaha melepaskan cekalannya, pria itu mengangkat wajahnya menatap Moira dari atas hingga ujung kaki.
“Nona, bantu aku keluar dari sini,” rintihnya. “Jangan takut! Tolong bantu aku.”
Suaranya, napasnya terdengar kesakitan. Tubuhnya terlihat lemah. Karena merasa kasihan, dan tidak berpikir panjang, akhirnya Moira membantu pria itu keluar dari lift.
“Pak, saya akan mencari bantuan.”
“Tidak. Jangan sampai orang lain melihatku dalam keadaan seperti ini.”
Sentuhan itu memercikkan api kehangatan pada tubuh pria tampan itu, tanpa Moira sadari, pria itu memperhatikan bagian tubuhnya yang terbuka, tepatnya di bagian dada. Pria asing itu berusaha keras menahan hasratnya, hingga mereka tiba di kamar 1820.
Moira membantunya masuk ke dalam kamar hotel. Tubuhnya tidak hanya lemah, napasnya semakin kacau. Pria itu menjatuhkan kepalanya kepada pundak Moira. Suhu tubuhnya tinggi.
‘Sebenarnya, dia kenapa? Kenapa tubuhnya, sangat panas,’ ucap Moira dalam hati.
Degan hati-hati Moira menurunkannya di atas tempat tidur. Pria tampan itu duduk di tempat tidur, ia sempat mengangkat wajahnya dan menatap wajah Moira yang kusut, tatapannya matanya seperti seorang predator! Kemolekan tubuh Moira yang berbalutkan pakaian seksi, serta bagian belahan dada yang terbuka. Membuat pria itu, semakin terangsang dan tidak bisa lagi menunggu lama.
Ia dapat merasakan miliknya semakin menegang, menyakitkan dan tidak tahan lagi.
“Pak, kalau begitu saya pamit!” kata Moira.
Tiba-tiba, pria asing itu, dengan cepat menarik tangan Moira. Hingga Moira terduduk di atas pangkuan pria itu. Pria itu berbisik pelan di telinga Moira.
“Tidur denganku, dan puaskan aku,” ucapnya, seraya melumat telinga Moira.
Hari itu, tubuh Moira terasa lemas.Ia berjalan pelan, seperti kehilangan separuh tenaganya. Pikirannya terus berputar, mencari jalan keluar yang tidak ada. Dua miliar. Tiga hari. Ia tidak tahu harus mencari uang sebanyak itu dari mana.Kenapa masalah datang tanpa henti? Sejak kapan Ares membuntutinya? Bagaimana pria itu tahu ia tinggal di hotel ini? Bagaimana Ares tahu tentang Sebastian? Moira merasa diawasi. Tubuhnya bergidik membayangkan Ares menguntitnya dari kejauhan, menunggu waktu yang tepat untuk muncul.Moira resah. Namun, ia harus menyembunyikan kegelisahan itu. Moira turun dari taksi yang mengantarnya ke rumah sakit. Kakinya terasa berat saat melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Ia menarik napas panjang, berusaha mengatur ekspresi wajahnya.Saat tiba di depan pintu kamar rawat Alena, ia berhenti sejenak. Menutup mata, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Lalu ia menarik pintu. Ekspresi di wajahnya sudah berubah. Seolah tidak ada beban pikiran.Di dalam kam
Siang itu, Moira berdiri di depan cermin kamar mandi. Jemarinya bergerak perlahan, mengoleskan concealer di lehernya. Menutupi tanda merah yang tersebar di sana. Lalu beralih ke dada, menutupi jejak yang sama. Moira menahan napas. Sebastian sangat ganas tadi malam. Jangan sampai ia melewatkannya dan akhirnya dilihat ibunya.“Sebastian, kamu sangat merepotkan.”Bayangan malam itu masih menguasai pikirannya. Sentuhan Sebastian, ciuman Sebastian, cara Sebastian memandangnya dengan mata penuh hasrat. Cara tubuhnya merespons setiap gerakan pria itu tanpa bisa ia tahan. Wajah Moira memerah.Ia harus mengakuinya. Ia menyukai setiap kali bercinta dengan Sebastian. Menyukai cara pria itu menyentuhnya, cara Sebastian membuatnya melupakan segalanya. Moira menggelengkan kepala pelan, berusaha mengusir pikiran itu. Ia harus pergi menjenguk ibu dan Alena. Tidak bisa terus-terusan memikirkan hal seperti ini.Setelah selesai bersolek, Moira mengenakan pakaiannya dari brand ternama. Ia meraih tas mewa
Moira menatap Sebastian dengan tatapan teduh."Sayangnya," katanya pelan. "Aku tidak memiliki hasrat untuk melayanimu malam ini."Sebastian terdiam. Tangannya yang berada di pinggang Moira tidak bergerak.Moira melanjutkan ucapannya dengan tenang. "Potong saja dari hasil melayanimu nanti. Anggap aku tidak hadir malam ini."Wajah Sebastian berubah dingin. Lebih dingin dari es yang membeku di tengah musim salju.Moira merasakan perubahan itu. Udara di sekitar mereka berubah berat, mencekik. Tangan Sebastian yang tadinya hanya memegang kini menekan ke meja di samping tubuh Moira. Suara benturan pelan terdengar saat telapak tangannya mendarat dengan keras."Seperti inikah caramu menganggapku, Moira?"Moira membeku. Matanya menatap mata Sebastian yang kini menggelap, tidak ada lagi kehangatan di wajahnya. Sebastian meraih rahangnya, jemarinya kuat namun tidak menyakiti. Ia membuat Moira menengadah, memaksanya menatap matanya."Aku tidak tahu cara menyenangkanmu lagi," katanya, suaranya ter
Wajah Sebastian menggelap. Rahangnya mengeras, kesabarannya berada di ujung tanduk. Ia melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke telinga Viella. Suaranya terdengar rendah, hampir tidak terdengar."Enyah!"Namun, Viella bergeming dan perlahan mengukir senyuman. Tangannya bergerak perlahan, jemarinya meraih kerah jas Sebastian dengan pelan."Aku tidak akan pergi sebelum kamu pulang bersamaku." Suara Viella terdengar lembut. "Jangan lupa, Sebastian. Aku tetap tunanganmu."Viella melirik sekilas ke arah Moira, lalu kembali menatap Sebastian."Aku bisa mengizinkanmu menikahi dia. Selama kamu membuat kesepakatan denganku. Aku janji, akan membantumu menutupi hubunganmu dengan Moira."Moira menatap keduanya dari tempatnya berdiri. Dadanya sesak, ia berusaha bersikap setenang mungkin dan berbicara. "Terima kasih," katanya datar. "Tidak perlu."Viella menoleh ke arahnya. Senyumnya tidak berubah. Moira berbalik, kakinya melangkah menuju pintu. "Aku tunggu di luar.""Tidak perlu,” kata Sebastian sa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.