Bab 04 - Zona Nyaman

         

Sejak dituduh memiliki hubungan gelap dengan bosnya.Danilla memilih untuk mengundurkan diri hari itu dan detik itu juga. Ia merasa kalau harga dirinya terinjak-injak oleh pemilik utama perusahaan Rayn Konstruksi Grup.

            “La, sampai kapan kamu bakalan kayak gini?” tanya Karen menatap sahabatnya yang sibuk dengan ponselnya.

            Danilla hanya terdiam, ia tidak peduli dengan ucapan sahabatnya.

            Karen pun tidak bisa lagi berkata-kata.Ia sudah hafal benar watak Danilla yang sangat keras kepala sekali.

            “La, kalau kamu nggak mau nyari kerja sekarang. Lebih baik kamu pulang kampung aja!” cetus Karen dengan kesal.

            “Ren, kamu tega mengusir sahabatmu?” tanya Danilla dengan wajah sendu.

            “Tega aja! Abisnya mataku ini rasanya sepet tiap kali lihat kamu malah bermalas-malasan nggak jelas di kos an,” Karen menghembuskan napas berat. Ia melihat sahabatnya berubah 180 derajat penampilannya.

            “Kamu nggak ikhlas buat nolongin aku? Sahabat macam apa kamu?!” protes Danilla dengan nada sebal.

            “Ya, aku sahabat yang selalu ingatin kamu buat bangkit lagi. Bukan, malah makin nggak jelas gini. Gimana kalau orang tua kamu tahu?”

            “Ya, jangan sampai dia tahulah,” jawab Danilla dengan nyengir.

            Karen pun menjitak kepala Danilla secara spontan.

            AUW!!!

            Danilla berteriak kesakitan, setelah menerima jitakkan dari Karen.

            “Gila sakit tahu, Ren!” cicit Danilla dengan meringis kesakitan.

            “Halah, masa gitu saja sakit! Manja!”

            “Sakitlah!” sewot Danilla, ia menatap sangat kesal atas sikap sahabatnya yang keterlaluan.

            “Lihat diri kamu terlihat kayak gelandangan!” hina Karen menatap Danila yang wajahnya kumel.

            “Bodoh amat! Aku nggak peduli sama komentar kamu yang nggak berbobot!” balas Danilla, karena ia enggan mendengar apa kata sahabatnya. Ia masih terlalu malas untuk mencari kerjaan baru. Bagaimana lagi, kalau dia itu merasa nyaman untuk kebiasaannya yang dia lakukan selama tiga bulan pasca pengunduran dirinya di Rayn Konstruksi Grup.

            “Gimana ada cowok yang ngelamar kamu, kalau penampilan kamu mirip kayak kebo?!” Karen mengerutkan hidungnya.

            “Sialan kamu ngatain aku kebo! Aku itu…. ”

            “La, kamu sebaiknya balik kampung aja. Mata aku rada sepet lihat kamu yang kayak gembel gini.”

            Danilla hanya menguap.

            “Sumpah! Aku nggak nyangka, kalau aku punya sahabat modelan kayak kamu!” cetus Karen.

            “Udah dikatain kebo. Sekarang dikatain gembel juga,” dengus kesal Danilla. “Berisik banget kamu kayak emak sama bapakku yang hobinya ngomel mulu! Lagian aku masih nganggur baru tiga bulan Karen belum nyampai setahun! Sabar dong, aku itu masih butuh piknik. Lagian tabungan aku masih cukup buat beberapa bulan ke dapan,” Danilla mulai melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Ia malah menutup telinganya dengan headseat, lalu menonton drama korea marathon.

            “Susah ngomong sama ratunya ngeyel mulu, kalau dibilangin selalu aja nggak didenger,” omel Karen sambil melempar pakaian kotor Danilla yang tercecer ke sana kemari di kos an.

            “Kamu mau ke mana?” tanya Danilla

            “Kantor,” jawab Karen dengan memutar bola matanya. Lalu mengambil tas ransel hitam kecilnya.

            “Oh,” respon Danilla seraya mengunyah keripik kentang merek babahong yang dia beli di pinggir jalan dekat kost an. “Jangan lupa kalau balik ke kos an bawa pangsit mie ayam bang Jono!” teriak Danilla.

            Karen merasa kesal dengan perubahan sikap Danilla sejak pengunduran diri dari Rayn Konstruksi Grup. “Beli aja sendiri!” sahut Karen dengan sebal.

            “PELIT!” umpat Danilla sambil mengunyah keripik kentang.

            Danilla pun masih teringat bagaimana ucapan pemilik Rayn Konstruksi Grup membuat sakit hati dirinya. Rasanya ia ingin berkata kasar dengan pria paruh baya itu. Sebutan sebagai jalang atau semacam simpanan bagi bosnya. Padahal dia tidak pernah naksir dengan bosnya sama sekali. Ia hanya setia untuk satu cinta. Dalam benaknya hanya ada nama Akbar. Bahkan, setiap denyutan jantungnya.

            “Sialan, pria tua itu! Pengen aku kulitin!” omel Danilla sambil mengambil beberapa kripik kentang dari kantung plastik, lalu mengunyahnya dengan kesal.

            Kejadian itu benar-benar membuat jungkir balik dunia Danilla. Ia bahkan merasa lebih senang menghabiskan waktunya untuk nonton drama korea hingga semalaman nggak tidur. Dia pun enggan untuk balik ke kampung halamannya. Yang ada ia dapat hujatan dari tetangganya.

            Di kampung sudah banyak teman-teman sebaya Danilla yang sudah menikah, bahkan punya anak. Sedangkan, Danilla masih saja kejar karir dan karir alasan dia belum menikah. Padahal semua itu karena cinta pertamanya yang meninggalkan dia di saat sayang-sayangnya.

            “Seandainya saja mas Akbar nggak pergi mungkin aku nggak segalau ini,” ujar Danilla menatap langit-langit kamarnya. Ia benar-benar merindukan sosok pria yang mampu membuatnya jatuh hati berulang kali.

            Dulu sewaktu zaman SMU mereka terkenal sebagai pasangan serasi. Mereka selalu saja bagaikan amplop dan perangko lengket terus. Ke mana-mana selalu bersama tanpa kenal jarak sekalipun.

            Suatu ketika menjelang hari anniversary yang pertama mendadak semua berubah. Terutama sikap Akbar yang mendadak sangat dingin sekali.

            “La?”

            “Iya.”

            “Aku mau kita putus.”

            Seketika dunia Danilla runtuh bagaikan terkena gempa bumi.

            “Putus?” ulang Danilla yang tidak sanggup berkata-kata. Ia juga tidak tahu apa alasan Akbar mengatakan putus terhadap dirinya.

            “Kita nggak bisa bersama lagi,” ujar Akbar menatap Danilla.

            “Iya, kenapa?” tanya Danilla kembali, ia mulai memincingkan kedua matanya. Karena, alasan itu tidak masuk akal. Ia merasa hubungannya baik-baik saja.

            “Aku nggak bisa kita menjalani hubungan jarak jauh.”

            “Mas, kenapa kita tidak mencobanya?”

            “Nggak bisa, La. Aku harus fokus terhadap pendidikanku di Sydney. Aku nggak mungkin bisa bagi waktuku untuk kamu?”

            Suasana mendadak hening.

            “Ini pasti ada alasan lain? Kenapa kamu tega putusin aku, ketika hari jadiaan kita, Mas?” ujar Danilla. “Pasti kamu menemukan perempuan lain selain aku, kan?”

            “Enggak, La. Aku hanya ingin fokus terhadap pendidikanku,” ujarnya memegang kedua bahu Danilla.

            “Bohong! Nggak mungkin cuman alasan itu!”

            “La, aku mohon kamu harus mengerti. Jika, kita jodoh maka kita akan bertemu kembali.”

            “Apa harus hubungan kita putus begitu saja?”

            Akbar pun tersenyum, ia pun langsung pergi begitu saja meninggalkan Danilla malam itu di sebuah café. Hujan pun turun menguyur jalanan kota Jakarta. Hingga rasanya semua terlalu pahit bila dikenang.

            --

            Di Rayn Kontruksi Grup sungguh kacau, karena Kiano tidak bisa mendapatkan tender yang seharusnya ia menangkan. Ia pun merasa sangat geram. Apalagi seharusnya ia datang dengan Danilla mempresentasikan beberapa proposal.  

            “Semua ini karena istri sialan itu!” umpat Kiano, ia merasa frustasi atas kegagalannya.

            Kiano pun harus datang check up ke klinik kandungan. Ia sudah berjanji dengan bokapnya untuk segera melakukan program hamil bagi istrinya.

            Kiano pun datang tepat waktu. Di sana Vira sudah menunggu di ruang tunggu klinik Amerta.

            “Ayo,” perintah Kiano.

            Kiano tidak ingin banyak bicara, ia langsung memasuki ruang klinik untuk menemui dokter Yuanita untuk melakukan beberapa tahap pemeriksaan kesuburan keduanya.

            “Dok, apa bisa kita melakukan tindakan program kehamilan?” tanya Kiano.

            Dokter Yuanita pun tersenyum,” Kita akan cek dulu hasilnya. Apakah sperma milik bapak itu berkualitas atau tidak. Kita juga mengecek sel telur dalam rahim istri bapak juga. Apakah bisa dilakukan pembuahan atau tidak.”

            “Jadi, apakah bisa kita melakukan program kehamilan tanpa melakukan hubungan intim dengan istri saya?” tanya Kiano.

            Dokter Yuanita tersenyum. “Bisa saja. Asalkan kedua belah pihak sama-sama setuju.”

            “Kenapa mas Kiano bicara seperti itu? Apa aku nggak pernah bisa masuk dalam kehidupannya?” batin Vira.

            “Kapan kita akan muai prosesnya?” tanya Kiano.

            “Kita tunggu bagaimana hasilnya,” jawab dokter Yuanita.

            Dokter Yuanita mulai melakukan pemeriksaan pada rahim Vira. Namun, ia menemukan beberapa kejanggalan. Rahim Vira bermasalah. Di sana terdapat kanker yang ukurannya cukup besar, sehingga tidak ada kemungkinan dia melakukan program hamil secara alami, maupun bayi tabung. Vira divonis memiliki kanker ovarium stadium akhir.

            Kiano pun menunggu hasil pemeriksaan rahim Vira. Ia juga menunggu hasil lab tes spermanya.

            Vira hanya mampu menghela napas dengan berat. Ia terlihat wajahnya suram sekali.

            “Nyonya Vira tidak usah cemas, karena penyakit anda masih ada harapan untuk sembuh,” ujar dokter Yuanita.

            “Bagaimana caranya, Dok?” tanya Vira dengan memincingkan kedua matanya.

            “Kita akan melakukan pengangkatan satu dinding rahim anda. Dan, setelah itu hanya tiga puluh persen kemungkinan kecil anda bisa melakukan pembuahan pada proses bayi tabung. Bisa saja gagal atau sukses, tapi nyawa anda akan menjadi taruhannya. Karena kondisi rahim anda yang satunya sangat lemah,” ujar dokter Yuanita. “Saya sarankan untuk kalian mencari rahim sewaan.”

            Suasana menjadi hening di ruang konsultasi. Vira hanya bisa pasrah dan ikhlas dengan apapun yang terjadi dalam hidupnya.

Kenapa semua ini sangat berat ya Tuhan?!” keluh Vira dalam hati kecilnya. Ia sangat terpukul sekali dengan informasi yang disampaikan oleh dokter Yuanita.

“Dasar wanita nggak berguna!” gumam Kiano dalam hati. Ia merasa Vira itu tidak pernah berguna menjadi seorang istri. Ia menaikan sebelah alisnya menatap Vira dalam wajah kusut, setelah keluar dari ruang dokter Yuanita.

            _

            Di ruang tamu Danilla pun sibuk nonton drakor, bahkan ia tertawa atau menangis saat melihat dramanya.

            Di ujung sana Karen merasa sebal dengan sikap tingkah laku sahabatnya yang magernya kelewatan. Bahkan, sampai dia pulang kerja sahabatnya tetap menonton drakor dan belum mandi, karena masi menggunakan piyama tidur kemarin.

            “Danilla!” desis Karen.

            “Aduh! Karen kenapa nggak bisa bikin hidupku tenang sedikit!” Danilla mendengus kesal mendengar panggillan Karen. Ia harus menghentikan sementara video drama korea yang hampir saja dia tamatkan beberapa menit.

            “Dasar kepala batu!” umpat Karen dengan gemas melihat tingkah laku sahabatnya yang tidak tobat-tobat.

            Danilla pun tidak peduli, ia malah asyik nonton sambil ngemil kripik kentang. Ia pun menikmati hidupnya. Ia tidak mengubris panggilan atau omelan dari Karen seperti tawon tiada habisnya.

            Karen pun merasa sangat gregetan dengan sahabatnya yang berubah 360 derajat. Bahkan, ia melihat sahabatnya jarang mandi.

            --

            Vira pun hanya diam, ia harus melakukan semua itu. Ia sebenarnya sudah tidak tahan dengan sikap suaminya.

            “Tuhan, kenapa aku harus menikah dengan pria sedingin Kiano?” pikir Vira menatap foto pernikahannya. Air matanya tidak sengaja menetes. “Apa bila ini adalah ujianmu, maka aku akan ikhlas ya Tuhan,” batin Vira.

            Lima tahun pernikahan hanya hambar, bahkan tidak pernah disentuh sama sekali. Hanya terlihat bagaikan pajangan yang menempel, ketika ada banyak orang terdekat. Vira mendapat perilaku yang seharusnya suaminya, namun hanya sebatas bayangan.

            “Apa aku tidak pantas bila bersamamu, Kiano? Apa salahku?” sebuah tanya dalam batin Vira yang selalu hadir dalam malam-malamnya. Terabaikan, bahkan hanya sebatas orang asing. “Dia suamiku, tapi aku hanya di atas kertas yang tertulis, bukan dalam hatinya aku di tempatkan,” kata hatinya.

            Kiano tidur di sofa, sedangkan Vira tidur di atas ranjang bersama selimut yang melekat. Ia ikhlas, tapi hatinya terasa sangat sakit.

            “Tunggu!”

            Kiano hanya berjalan dengan angkuh dan meninggalkan Vira. Ia seakan menganggap perempuan yang sudah sah sebagai istrinya hanya sebatas orang asing. Ia hanya melakukan sebatas perintah dari ayahnya.

            Vira pun terdiam dalam sebuah bisunya suasana, ia tenggelam dalam sebuah luka. Tidak adanya sebuah pengakuan. Ia pun ingin berteriak, kalau dia adalah istri sah. Dia butuh tangan tuk mengenggam. Bahkan, bahu tuk bersandar.

            “Apa aku nggak pantas menjadi ratu di hatimu?” pikir Vira kala itu, ia pun hanya tersenyum tipis, meskipun itu sebuah topeng kepalsuan dalam jiwanya. Ia menyesal telah menerima lamaran dan menikah dengan pria yang tidak akan pernah mencintainya sama sekali. Hanya mencampakannya berulang kali.

            Menikah dengan anak seorang kolongmerat tidak bisa memberinya impian untuk bisa bahagia. Ia hanya merasakan kesendirian dalam sebuah kesunyian. Berdua, tapi tetap saja sendiri, pikir Vira dalam menatap langit dari jendela kamarnya.

            Bertahan, tapi menyakitkan. Seakan dunia tidak pernah mendukung Vira. Semua hanyalah impian bagaikan di dunia fatamorgana. Yang terlihat nyata, namun hanya bayangan semu.

            Cinta tidak akan pernah ada di antara dia dengan suaminya. Vira pun terdiam dan terpaku di sana. Berharap semua baik-baik saja. Menjalani hubungan yang normal di mata banyak orang. Kenyataan hanya sebuah kepalsuan.

            “Vira, kau jangan banyak berharap, karena Kiano hanya tetap begitu,” ucap Vira dalam batinnya. “Kau hanyalah istri di atas kertas, bukan istri sebagai pendamping hidupku.” Vira perlahan menarik napas panjang hingga menghembuskan begitu berat rasanya. Ia berusaha tegar menghadapi suaminya.

            “Semua orang mengatakan, kalau aku akan bahagia menikah dengan mas Kiano, tapi semua itu tidak akan pernah terjadi,” Vira pun terdiam dalam kesunyian malam, ia pun perlahan-lahan menutup kedua matanya. “Seharusnya aku bisa merasakan sebagai istri untukmu, Mas,” Vira mulai menyeka air matanya dengan punggung telapak tangannya.

            Kiano pun mulai terlelap dalam tidurnya di atas sofa dengan sebuah selimut dan bantal. Suara binatang malam terdengar. Dinginnya angin malam menembus ke sebuah celah-celah jendela kamarnya. Hingga menusuk ke dalam pori-pori kulit Vira.

            “Seharusnya kamu bisa menjadi selimut hangat bagiku. Tapi, kita hanya sepasang insan yang ditakdirkan hanya di atas selembar kertas saja. Aku istrimu, tapi kau hanya menganggapku sebagai wanita asing dalam hidupmu. Sampai kapan aku harus begini, Mas? Apa kamu suatu saat nanti meninggalkanku atau membawa wanita lain dalam rumah tangga kita?” pikir Vira. Aku harap suatu saat nanti kamu bisa mencintaiku, meskipun aku harus menunggumu dalam batas waktu,” lirih Vira di dalam selimut.

            Suasana malam panjang, Kiano terbangun. Ia hanya menyibukkan diri dengan membaca beberapa buku bacaan mengenai bisnis. Ia pun memijat-pijat keningnya. Rasanya ia merasakan sangat letih tentang hari ini. Ia merasa semua masalah itu datang semenjak wanita yang di atas ranjangnya itu menjadi istrinya.

            “Seharusnya aku menolah rencana papa untuk menikah dengan Vira. Dia hanyalah wanita tidak berguna!” gumam Kiano sambil memijit-mijit keningnya.

--

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status