Istri 5 milyar
Istri 5 milyar
Author: Pena_Receh01
1 - Mahar 5 miliar

Seorang gadis tengah mendudukan bokongnya dikursi lalu menyandar punggungnya di dinding. Mata hitam tinta itu memandangi seorang wanita parubaya yang  lemah di brankar, banyak alat - alat yang menempel di tubuh kurusnya. Mengembushan napas lelah lalu menutup wajahnya,  perlahan dari kelopak  mata

 jatuh air. 

"Apa yang harus aku lakukan," gumamnya pelan, ia meraih handphone yang tiba - tiba bergetar, lekas mengangkatnya.

"Ada apa Yah?" tanya Sere dengan suara serak.

"Mana uang, kamu belum mengirimkannya," bentak Ayahnya, membuat Sere memejamkan mata saat mendengar.

"Ayah, aku belum bisa mengirim uang. Sere baru saja dipecat," ujarnya pelan.

"Apaaaaaa, kamu dipecat! kenapa bisa sampai dipecat bodoh!" maki Al --- Ayah Sere.

"Maaf, Yah." Sere hanya bisa berkata maaf, ia meneteskan air mata lagi, karena Ayahnya selalu memaki tak ada pujian yang keluar dari bibirnya.

"Pokoknya kamu harus ngirim uang ke Ayah, titik!" hardik Al, lalu mematikan sambungan telepon.

Sere memasukan handphone-nya ke tas, ia bangkit lalu keluar untuk mencari makan.

***

Faresta menyeringai saat mengetahui semua informasi tentang Sere, ia segera memanggil sekertarisnya dan memerintahkan agar menemui Sere untuk membuat perjanjian. 

Kean lekas melaksanakan tugas, pergi mencari di mana gadis yang Tuannya ingin berada. Senyuman sangat tipis muncul mungkin tak terlihat, saat netranya menangkap Sere tengah duduk melahap makanan. Tungkai melangkah dengan cepat, mendekat.

"Hallo, Nona," sapa Kean dengan suara dingin, membuat Sere yang tengah melahap makanannya, mendongak.

"Siapa?" tanya Sere mengeryitkan dahinya, karena tidak mengenal pria yang ada dihadapannya.

"Saya boleh duduk, Nona?" tanya Kean, dibalas anggukan oleh Sere.

"Silakan."

"Terimakasih, Nona." Kean langsung mendaratkan bokongnya, tungkainya saat lelah harus berdiri terus.

"Perkenalkan, Nama saya Michael Kean Karlam, panggil saja Kean. Saya sekertaris Tuan Faresta," jelasnya membuat Sere menganggukan kepala, lalu menatapnya tajam saat mengetahui jika Kean adalah sekertaris Faresta.

"Ngapain kamu ke sini?" tanya Sere dengan sinis, Kean sama sekali tidak terganggu.

"Saya mewakili Tuan Faresta, ingin mengajukan penawaran yang menarik," terang Kean, ia mengeluarkan beberapa berkas yang sudah dirinya siapkan.

Sere meraih, lekas membacanya. Lalu matanya membulat dan menatap Kean dengan marah.

"Apa-apaan ini, pernikahan itu sakral. Bukan buat main-main," geram Sere menarung berkas itu dengan kasar ke meja, beruntung tempat ini tidak terlalu ramai pengunjung.

Kean menghela napas. "Nona butuh uang bukan, Nona bisa meminta berapapun untuk mahar," serunya berusaha membujuk Sere, agar dirinya tidak susah-susah lagi.

"Ya sudah. Saya mau mahar lima milyar," ucap Sere asal dengan nada jengkel, ia tersenyum mengejek pasti Faresta tidak akan mau, apalagi mengeluarkan uang sebanyak itu.

Kean mengangguk, lalu pamit untuk memberitahu Tuannya. Sedangkan Sere mencibir ia lekas menghabiskan makanan, untuk melihat keadaan sang Ibunda.

Sesampai di rumah sakit, pergi ke bilik di mana Desti --- Ibu Sere dirawat. Matanya menangkap Al, Ayahnya tengah duduk menunggu di dalam. Saat membuka pintu, manik mereka beradu. Melangkah pelan mendekat.

"Kamu dari mana saja!" bentak Al, menampar Sere membuat pipi gadis itu memerah.

"Aku pergi makan sebentar, Yah. Laperrrr," balas Sere pelan.

"Makan saja dipikirin, cepat cari kerja! Ayah minta uang," geram Al, ia mendekati Desti lalu membuka alat untuk membantu istrinya bernapas dengan normal.

"Ayah, apa yang kamu lakukan!" pekik Sere terkejut, ia berusaha meraih alat itu lalu lekas memasangnya saat dapat.

"Makanya, cepat cari uang! atau Ibumu akan mati lebih cepat," ujar Al, melangkah pergi meninggalkan mereka.

Sere membelai wajah Desti yang kurus dan pucat, ia mengecupnya pelan.

"Ibu, cepat bangun, Sere rindu Ibu," lirihnya pelan.

***

Kean masuk ke ruangan Faresta, lalu mendapatkan pemandangan Tuannya tengah bercumbu dengan karyawannya. Faresta sama sekali tidak terganggu oleh kedatangan sekertarisnya, ia lebih memilih melanjutkan kegiatan panas itu.

"Tuan, saya sudah menemui Nona---." Belum sempat Kean melanjutkannya, Faresta menyuruhnya diam oleh gerakan tangan. Tuannya mendorong pelan wanita itu, lalu menyuruhnya pergi.

"Apa jawabannya?" tanya Faresta saat melihat wanita yang tadi dia cumbu sudah menutup pintu.

"Dia menerima perjanjian itu Tuan, dengan mahar lima miliar," jelas Kean dengan wajah datar.

"Nanti, aku akan menemuinya, sambil membawa mahar yang dia minta. Sini berkasnya agar cepat dia tanda tangani saat bertemu nanti," ujar Faresta, Kean langsung memberikan berkasnya.

"Apa saja jadwalku hari ini?" tanya Faresta.

"Meeting dengan Tuan Devano, mengirim jantung, hati, dan ginjal. Malam waktunya anda bersantai, Tuan," jelas Kean dibalas anggukan.

"Ya sudah, sana pergi, " usir Faresta, ia menyandarkan tubuhnya, untuk memejamkan mata sebentar.

Kean patuh dengan perintah Faresta, ia melangkah pergi tak lupa menutup pintu agar Tuannya lebih nyaman berstirahat

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status