Share

Bagian 2

"Ini belum saatnya kamu mati. Buka matamu, Anakku."

Suara merdu menggema. Gulzar Heer perlahan membuka mata. Sosok indah dalam balutan gaun dari bahan sutra berwarna gold tertangkap pandangan. Rambut keperakannya dihiasi rangkaian bunga-bunga putih.

Gulzar Heer bergumam lirih, "Ibu Peri?" 

Sosok itu memang tidak asing bagi Gulzar Heer. Dia pertama kali menemuinya saat membantu sang ibu mengumpulkan herbal di usia 5 tahun. Awalnya, seekor kupu-kupu emas terbang memutari tubuh, seolah minta diikuti. Gulzar Heer mengikutinya hingga ke danau yang airnya gemerlapan. Tak lama kemudian, kupu-kupu mewujud wanita cantik dengan rambut dan mata perak. Dia mengenalkan diri sebagai peri kupu-kupu emas dan mengaku sebagai ibu angkatnya.

"Syukurlah, kamu bisa selamat, jika orang biasa pasti sudah tidak tertolong," gumam sang peri. 

Dia mencondongkan badan. Satu kecupan lembut mendarat di kening Gulzar Heer. Cahaya keemasan menyelimuti perlahan. Rasa sakit dan terbakar akibat racun panah seketika raib.

"Itu hadiah dari Ibu."

"Terima kasih, Ibu."

"Ayo, Nak, kamu harus kembali. Tak baik berlama-lama di sini."

Peri kupu-kupu emas mengulurkan tangan. Gulzar Heer menyambutnya. Jemari lentik nan halus sang peri tampak kontras dengan jari-jari penuh luka si kesatria wanita.

"Kamu benar-benar indah seperti ibumu, tapi sayang sifatmu lebih mirip si bodoh sialan."

Peri kupu-kupu emas mendesah berat. Dia terus mengeluhkan banyak hal saat mereka berjalan bersisian di lorong panjang dengan pendar biru. Mungkin lebih tepatnya mengumpati sosok yang selalu disebutnya si bodoh sialan.

Gulzar Heer kadang tidak mengerti dengan makhluk yang mengaku ibu angkatnya itu. Dulu, Pangeran Fayruza sering membawakan buku-buku cerita tentang peri. Tidak ada satu pun yang digambarkan sebagai tukang omel dan suka mengumpat. Semuanya adalah sosok lembut dan penuh kasih sayang. 

"Mungkin buku-buku itu perlu direvisi," bisik hati Gulzar Heer.

"Nah, kita sudah sampai. Kamu berjalanlah sampai di ujung cahaya sana," ucap sang peri membuyarkan lamunan.

Dia mendekap erat sebelum membiarkan Gulzar Heer pergi ke ujung lorong. Cahaya biru yang menyilaukan menerpa. Rasa hangat meliputi tubuh.

Saat membuka mata kembali, Gulzar Heer merasakan pipinya menghangat. Jantung berdebar lebih kencang. Bagaimana tidak? Dia tengah terperangkap dalam pelukan Pangeran Fayruza.

"Hmm ... Pangeran. Saya sudah baik-baik saja. Bisa Anda melepaskan pelukan?"

"Eh? Anu ... ma-maafkan aku. Tadi, benar-benar cemas." Pangeran Fayruza tergagap. Wajahnya merona.

"Ehem! Sepertinya, ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan," goda Pangeran Heydar yang tiba-tiba muncul. Sosoknya yang humoris memang selalu mencari kesempatan untuk menjaili sang adik.

"Bukan begitu, Kak! Aku tadi cemas!" Suara Pangeran Fayruza sedikit meninggi dan gemetar. Wajahnya merah padam, membuat Pangeran Heydar semakin terbahak-bahak. "Anu, Gulzar, kalau kamu sudah baik-baik saja, aku akan mengobati yang lain."

Gulzar Heer tersenyum manis dan bergumam lirih, "Iya, terima kasih, Pangeran."

Senyumannya seketika mengalihkan setiap pasang mata. Seperti yang dikatakan peri, dia memang indah, memiliki kecantikan melebihi manusia rata-rata. Sinar matanya seolah dapat menghipnotis. Hanya saja Gulzar Heer jarang tersenyum dan bersikap hangat, terkecuali kepada Pangeran Fayruza.

"I-iya." Pangeran Fayruza cepat berlalu. Kalau tidak, jantungnya bisa saja meledak.

"Ah, aku akan tenang jika kamu yang menjadi istri Fayruza. Dia akan aman," celetuk Pangeran Heydar.

"Berhentilah bercanda, Pangeran."

"Hei, kukira kalian saling mencintai? Kalian sangat serasi."

"Seorang kesatria tidak pantas memiliki perasaan untuk tuannya."

Pangeran Heydar berdecih. Merasa tak ada yang bisa diledek lagi, dia beranjak pergi, memburu adiknya untuk dijaili. Sementara itu, Gulzar Heer menatap langit biru sejenak.

Sejak menginjak usia remaja, dia memang telah merasakan hal aneh pada jantungnya setiap berada terlalu dekat dengan Pangeran Fayruza. Apakah benar-benar cinta seperti yang dikatakan Pangeran Heydar? Gulzar Heer selalu menepisnya dengan loyalitas tinggi.

***

Iring-iringan pasukan yang telah membawa kemenangan mendapat sambutan hangat dari rakyat. Mereka terus mengelukan pujian dan menebarkan kelopak bunga kepada para pahlawan, hingga kuda-kuda gagah itu menghilang di balik gerbang istana. 

"Berkat restu Yang Mulia, kami berhasil memenangkan pertempuran," lapor Pangeran Heydar selaku pimpinan pasukan begitu berada di hadapan Raja Faryzan.

Sang ayah tersenyum bangga. Namun, tidak dengan wanita cantik di sebelahnya. Ratu Azanie melirik sinis. Prestasi anak selir seperti Pangeran Heydar pasti terasa mengancam. Dia sedikit gemas pada putranya, Pangeran Fayruza yang malah menjadi kelompok penyembuh.

Sementara itu, Pangeran Ardavan, calon putra mahkota juga tak kalah sinis dengan ibunya. Dia berdiri kaku di samping singgasana raja dengan tangan terkepal kuat. Seandainya, kemampuan bela diri Pangeran Heydar tidak tinggi, pasti sudah lama disingkirkannya.

Raja Faryzan mengisyaratkan untuk memulai upacara penghargaan. Pangeran Heydar mendapat giliran pertama, diikuti oleh Farzam dan Gulzar Heer.

"Kami juga membawa hadiah, Yang Mulia."

Gulzar Heer maju sambil membawa kotak kayu berbau anyir dengan bercak merah yang telah mengering. Setelah dipersilakan, dia membukanya perlahan. Kepala panglima musuh dengan mata melotot tergelak di sana.

Ratu Azanie terkulai, pingsan. Para dayang segera mengamankannya. Raja Faryzan menghela napas berat. Sementara itu, Pangeran Ardavan tampak girang. Matanya berkilat-kilat saat melihat kepala dalam kotak kayu.

"Gulzar, kamu tidak perlu sampai membawa kepalanya."

"Yang Mulia, menurut hamba tindakan Gulzar Heer sudah benar. Ini akan menunjukkan kehebatan negeri kita."

"Kita adalah negeri yang cinta damai, Ardavan. Kita hanya melawan karena diserang."

"Beginilah kalau Yang Mulia terus lemah, kita akan terus diserang."

Pangeran Ardavan memang sudah sering protes atas sikap welas asih sang ayah. Menurutnya, militer kerajaan mereka sangatlah kuat dan bisa membawa Kerajaan Arion sebagai penakluk negeri-negeri lain. Namun, Raja Faryzan memegang teguh prinsip leluhur agar tidak bersikap serakah.

Sang raja sebenarnya enggan mewariskan tahta kepada putra pertamanya itu. Dia lebih melihat potensi raja yang bijaksana pada diri Pangeran Fayruza. 

"Sudahlah, Ardavan. Perang hanya akan membawa rakyat kepada penderitaan." Raja Faryzan mengalihkan pandangan pada Gulzar Heer. "Kamu mengerti, Gulzar? Jika sampai terlibat pertempuran lagi, kamu tidak perlu membawa kepala panglima musuh. Baik itu lawan maupun kawan, kuburkan mayat mereka dengan baik."

"Hamba akan mengingatnya, Yang Mulia."

Akhirnya, kepala dalam kotak kayu disingkirkan dari ruangan. Upacara  penghargaan kembali dilanjutkan. Raja Faryzan menganugerahkan gelar tambahan dan hadiah. Para kesatria sekali lagi mengikrarkan sumpah kesetiaan. Mereka juga diberikan kesempatan untuk berlibur agar bisa berkumpul dengan keluarga.

Upacara penghargaan kepada para kesatria yang berjasa pun telah selesai. Usai berpamitan dengan Pangeran Fayruza, Gulzar Heer berencana pulang ke kampung halaman bersama Farzam. Mereka sudah cukup lama meninggalkan sang ibu di sana. Namun, baru saja keluar dari aula utama istana, satu sosok familar mendadak muncul di hadapannya.

"Gulzar, Gulzarku yang indah sudah datang! Ayo sini!" Tangan halus yang penuh noda merah menarik Gulzar Heer dengan cepat.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status