LOGINEwan sama sekali tidak mengetahui kejadian yang terjadi di ibu kota. Setelah mengantar Millie dan putrinya pulang, dia pergi mencari Tiara.Kemarin, dia dan Millie bergumul semalaman. Setelah menggunakan teknik ranjang, meskipun mereka berdua merasakan kenikmatan yang belum pernah ada sebelumnya, kultivasi Ewan sama sekali tidak meningkat.Karena itu, dia memutuskan untuk mencoba bersama Tiara. Terakhir kali, setelah dia berhubungan intim dengan Tiara, kultivasinya meningkat cukup banyak.Ewan ingin melihat apakah kali ini kultivasinya masih bisa meningkat?Tengah malam, Ewan diam-diam menyelinap masuk ke kamar Tiara. Setelah masuk, lampu kamar menyala terang, tetapi sosok Tiara tak terlihat. Ruangan itu sangat sunyi."Aneh, dia pergi ke mana?" Ewan merasa bingung. Tiba-tiba, terdengar suara "krek". Pintu kamar mandi terbuka dan Tiara berjalan keluar.Saat ini, tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun. Rambut basahnya terurai di atas bahunya yang putih bersih, tampak seperti bunga
"Segera pergi dari sini. Kalau nggak, jangan protes kalau kami bertindak kasar padamu." Saat salah satu pengawal berbicara, tangan kanannya sudah menyentuh pistol di pinggangnya.Willy seolah-olah tidak melihatnya. Sambil tersenyum, dia bertanya, "Ini rumahku, kenapa aku nggak boleh kembali?""Justru aku harus berterima kasih pada kalian berdua karena sudah bantu merawat Kakek. Tugas kalian sudah selesai, terima kasih atas kerja keras kalian."Apa maksudnya? Kedua pengawal itu tampak bingung.Saat itu juga, mereka merasakan bagian belakang leher mereka menegang, lalu kaki mereka terangkat dari tanah. Keduanya sangat terkejut dan buru-buru menoleh.Detik berikutnya, wajah mereka pucat pasi. Mereka melihat yang mengangkat mereka adalah monster raksasa setinggi lebih dari dua meter, dengan tatapan kosong dan dingin, tanpa emosi sedikit pun.Monster itu bertelanjang dada, otot-otot di tubuhnya seperti bukit kecil, bagian bawah tubuhnya hanya ditutupi selembar kain di bagian vital, kakinya
Di ibu kota.Hari ini turun hujan. Jalanan yang basah kuyup tampak seperti sungai berkilauan. Orang-orang di jalan memegang payung warna-warni, tampak seperti kelopak bunga yang mengapung di atas permukaan air.Pukul 9 malam, Neva baru selesai menghadiri seminar di fakultas kedokteran, lalu pulang ke rumah untuk menemani kakeknya makan malam.Sejak Willy dan ayahnya melarikan diri ke luar negeri, selain para pengawal dan sopir, Umay hampir tidak punya teman bicara di rumah.Malam ini, karena Neva pulang, Keluarga Polin kembali dipenuhi tawa dan canda. Keduanya makan sambil mengobrol."Neva, usiamu sudah nggak muda lagi. Kamu dan Ewan harus lebih giat sedikit, usahakan cepat punya anak, supaya aku yang sudah tua renta ini juga bisa menikmati kebahagiaan keluarga," nasihat Umay.Neva bukannya tidak ingin. Hanya saja, entah kenapa sudah selama ini, tetapi dia masih belum hamil. Jadi, dia sengaja mengalihkan topik."Kakek, gimana kalau Kakek ikut aku ke Papandaya? Ewan juga berharap Kakek
Dalam hati Ridho berkata, 'Aku paling-paling cuma menamparmu dua kali. Kalau nanti Ewan sendiri yang mempermasalahkanmu, habislah kamu.'Namun, Dimas sama sekali tidak memahami niat baik Ridho. Dia berkata dengan marah, "Aku mengerti sekarang. Ini berarti Bapak memang sengaja melindunginya, 'kan?""Baiklah. Aku mau lihat siapa yang bisa melindunginya hari ini. Aku nggak percaya, aku bahkan nggak bisa membereskan dokter kecil seperti dia."Setelah berkata demikian, Dimas kembali menelepon seseorang.Sepuluh menit kemudian.Sekelompok tentara bersenjata lengkap menyerbu masuk ke dalam ruangan. Orang yang memimpin mereka adalah seorang perwira paruh baya bertubuh besar."Dimas, ada urusan apa sampai harus membuatku membawa pasukan ke sini?" tanya perwira itu."Kawan, cepat bantu aku bereskan orang ini." Dimas menunjuk Ewan.Perwira itu berjalan mendekati Ewan lalu bertanya, "Kamu menyinggung Bagas?"Ewan malas berbicara panjang lebar. Dia langsung mengeluarkan kartu identitas lalu melempa
Sepuluh menit kemudian, sekelompok orang masuk ke dalam kantor. Orang yang memimpin mereka ternyata adalah kenalan lama Ewan, yaitu Bagas, kepala dinas kesehatan dan medis Papandaya.Begitu melihat Ewan, Bagas langsung berjalan mendekat sambil tersenyum. "Ewan, kenapa kamu ada di sini?""Ada sedikit konflik antara putriku dan teman sekolahnya," jawab Ewan sambil tersenyum tipis.Begitu melihat Bagas ternyata mengenal Ewan, hati Dimas langsung merasa tidak enak. Dia buru-buru berkata, "Bagas, akhirnya kamu datang juga.""Kamu kenal Ewan ini, 'kan?""Aku kasih tahu ya, dia benar-benar keterlaluan. Bukan cuma memukul guru, dia juga menghajar satpam sekolah dan sama sekali nggak menghormati hukum. Sifatnya sangat buruk.""Menurutku orang seperti ini sama sekali nggak pantas jadi dokter. Kamu harus mencabut izin praktiknya, lalu ...."Alis Bagas langsung terangkat."Dimas, kamu yang urus soal kesehatan dan medis di Papandaya atau aku?"Dimas langsung menjawab, "Tentu kamu.""Masih tahu rupa
Ridho pernah berpesan kepada Sucipto bahwa apa pun yang terjadi, dia tidak boleh menyinggung Ewan. Bahkan Ridho juga memberitahukan identitas Ewan kepadanya.Setelah datang ke Papandaya, Sucipto sengaja pergi ke rumah sakit untuk mencoba menjalin hubungan dengan Ewan. Namun dua kali datang, Ewan selalu tidak berada di rumah sakit.Saat itu, di dinding luar kantor kepala bagian pengobatan tradisional, dia pernah melihat foto identitas Ewan. Dia sama sekali tidak menyangka hari ini malah bertemu langsung dengan Ewan di tempat seperti ini.Melihat Sucipto berdiri diam, pria paruh baya itu kembali mendesak, "Sucipto, kenapa masih melamun? Cepat tangkap dia ....""Diam!"Sucipto langsung membentak pria itu dengan keras. Lalu, dia buru-buru membungkuk hormat kepada Ewan sambil berkata, "Pak Ewan, maafkan aku. Tadi aku nggak langsung mengenali Bapak. Mohon jangan menyalahkan aku.""Kamu dekat dengannya?"Ewan menunjuk pria paruh baya itu.Keringat dingin langsung keluar di dahi Sucipto. Dia b







