Share

Bab 1292

Penulis: Rexa Pariaman
Pintu kantor Tukul tidak tertutup rapat. Ewan berjalan pelan ke pintu itu dan melirik ke dalam.

Saat ini, di dalam kantor ada 20 hingga 30 orang. Sekilas, Ewan langsung melihat Tukul.

Tukul, Lazuardi, Yogi, serta beberapa anggota Geng Serigala, semuanya dikepung rapat oleh sekelompok orang dari Sekte Hyang.

Di lantai juga tergeletak beberapa mayat. Semuanya adalah anggota Geng Serigala.

Pemimpin Sekte Hyang adalah seorang pria tua bertubuh pendek yang mengenakan jubah hitam. Aura gelap terpancar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2406

    Ekspresi Nazar berubah.Sejak awal dia sudah menyadari bahwa ketiga orang itu datang dengan niat buruk. Hanya saja dia tidak menyangka Pendeta Gagak akan begitu cepat melepaskan topengnya dan memperlihatkan wajah aslinya."Ingin membunuhku? Hmph, tergantung kamu sanggup apa nggak!" Nazar mendengus dingin. Meski nada bicaranya tetap sombong, ekspresinya sangat serius. Karena sejak tadi dia sudah merasakan bahwa kultivasi ketiga orang itu sama sekali tidak sederhana.Siapa sangka, Pendeta Gagak hanya tertawa pelan. "Aku bahkan nggak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk membunuhmu."Saat itu, salah satu murid di belakang Pendeta Gagak berkata, "Guru nggak perlu turun tangan. Serahkan tua bangka ini kepadaku. Aku yang beresin dia."Setelah berkata demikian, seorang pria paruh baya berjubah hitam melangkah maju. Dia menunjuk Nazar dan berteriak, "Tua bangka, cepat kemari. Aku akan mengantarmu ke alam baka."Nazar tetap berdiri di tempat dan membalas dengan suara keras, "Sampah, kalau puny

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2405

    "Muridku, jangan bersikap tidak sopan!" Pendeta Gagak berkata sambil tersenyum, "Dia adalah Kepala Akademi Bayanaka. Dia memang berhak menyebut dirinya 'aku'."Kemudian, Pendeta Gagak menatap Nazar dan berkata sambil tersenyum, "Ternyata kamu adalah Kepala Akademi Bayanaka. Sudah lama aku mendengar namamu.""Wajar kalau kamu belum pernah mendengar Sekte Selestial, karena sekte kami sudah ratusan tahun tidak muncul di dunia.""Sekte kami didirikan pada akhir tahun 220 Masehi dan telah berdiri selama lebih dari ribuan tahun. Hanya saja, sejak dulu jumlah pewaris kami sangat sedikit, ditambah lagi kami nggak pernah ikut campur urusan duniawi, sehingga hanya sedikit orang yang tahu keberadaan sekte kami."Pendeta Gagak melirik nadi naga itu, lalu berkata kepada Nazar, "Kali ini aku membawa murid-muridku turun gunung khusus untuk mencari nadi naga. Tak kusangka kamu sudah selangkah lebih dulu.""Menurut aturan, sesama anggota aliran Taoisme, karena nadi naga ini sudah kamu dapatkan, seharus

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2404

    Bayangan naga ungu keemasan itu merunduk di depan kaki Ewan. Bahkan dagunya menggesek punggung kaki Ewan dengan lembut, sementara dari mulutnya keluar suara auman naga yang rendah, seolah sedang bermanja dan mencari perhatian."Apa yang terjadi?"Wajah Ewan dipenuhi keterkejutan. Dia melihat bayangan naga itu, lalu menatap Kaldron Kosmik di tangannya. "Jangan-jangan nadi naga ini, sama seperti dua naga air di Draken, juga takut sama Kaldron Kosmik?"Ewan tidak bisa menahan rasa herannya. "Sebenarnya apa asal-usul Kaldron Kosmik ini? Kenapa bahkan nadi naga Gunung Angkara jadi gelisah waktu melihatnya?"Nazar yang menyaksikan pemandangan itu juga tercengang. "Sialan, sebenarnya apa yang terjadi? Aku sudah bersusah payah, tapi ternyata nggak seberguna sebuah kaldron?"Beberapa kali Nazar melirik Kaldron Kosmik di tangan Ewan dengan penuh iri hati. "Kaldron Kosmik ini pasti benda luar biasa. Aku harus mencari kesempatan untuk mendapatkan satu kaldron dari bocah itu."Setelah memikirkan ha

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2403

    Nazar berseru kagum. Sambil terus melafalkan mantra, jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya dirapatkan, lalu dia mulai menggambar berbagai pola di udara.Beberapa saat kemudian.Bzzz!Jimat-jimat pada tujuh Paku Pengunci Naga tiba-tiba memancarkan cahaya terang, seolah-olah baru saja dinyalakan. Tujuh berkas cahaya hitam melesat ke langit, bagaikan tujuh pilar besi raksasa yang membentuk sebuah sangkar.Pada saat yang sama, Tali Penjebak Naga memancarkan cahaya merah yang menyelimuti bayangan naga, seperti kubah kaca merah raksasa yang mengurungnya di dalam."Roaarr!"Bayangan naga tampaknya menyadari bahwa seseorang sedang berusaha menangkapnya. Ia langsung murka dan menghantam cahaya merah itu dengan kepalanya.Boom!Terdengar ledakan keras, membuat cahaya merah bergetar hebat."Bocah, kenapa masih bengong? Cepat serap nadi naganya!"Nazar mengingatkan, "Paku Pengunci Naga dan Tali Penjebak Naga hanya bisa bertahan beberapa menit."Ewan langsung merasa kesulitan. "Tua bangka,

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2402

    Ewan mundur beberapa langkah. Kemudian, dia melihat Nazar mengeluarkan tujuh batang paku kayu hitam dari lengan jubahnya.Paku-paku kayu itu panjangnya sekitar 30 cm, sedikit lebih tebal dari pensil, dan sangat tajam. Di permukaannya terukir simbol-simbol jimat yang padat dan rumit."Tua bangka, jangan bilang kamu berniat menangkap nadi naga hanya dengan beberapa paku kayu ini?" tanya Ewan dengan wajah penuh keraguan. "Apa ini benar-benar bisa berhasil?""Bocah tengik, apa maksudmu? Kamu meragukanku?"Nazar berkata, "Ini bukan paku kayu biasa. Paku ini dibuat dari kayu persik berusia seribu tahun dan disebut Paku Pengunci Naga. Demi membantumu menemukan nadi naga, aku menghabiskan tujuh hari tujuh malam penuh untuk membuat tujuh Paku Pengunci Naga ini.""Bocah, aku baik sekali sama kamu, bukan?"Mata Ewan sedikit menyipit.Kalau begitu, berarti tua bangka ini sudah lama tahu bahwa dia sedang mencari nadi naga untuk memulihkan kultivasinya, sehingga telah melakukan persiapan jauh-jauh h

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2401

    "Baik, kalau begitu aku akan menunggumu di Gunung Bayanaka," kata Nazar sambil tersenyum."Master Sunnata, gunung hijau tetap hijau, sungai tetap mengalir. Sampai jumpa lagi di lain waktu." Karavir merangkapkan kedua tangan memberi salam, lalu pergi sambil tersenyum.Baru setelah itu Ewan berkata, "Tua bangka, apa kamu nggak takut Master Sunnata melihat kumpulan puisi itu, lalu cari kamu untuk bikin masalah?""Aku malah takut kalau dia nggak cari aku untuk bikin masalah." Nazar berkata, "Kalau si hidung sapi itu berani datang cari aku, pasti akan kukasih pelajaran! Sudah lama aku ingin menghajarnya, hmph!"Malam itu, Ewan dan Nazar tetap berada di Puncak Kaisar, duduk bersila dan bermeditasi.Keesokan paginya.Kabut tebal muncul, seolah awan putih membentang sejauh ribuan kilometer, bagaikan sebuah cakram giok raksasa yang melayang di antara langit dan bumi. Seluruh puncak gunung tertelan lautan awan, kadang terlihat kadang menghilang, layaknya negeri para dewa.Ewan tercengang dan ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status