MasukLastri terpaksa menerima tawaran bekerja menjadi pembantu demi menghidupi keluarga. Namun, takdir mempertemukannya dengan majikan dingin yang terbiasa hidup dalam kesendiriannya. Lastri pikir itu bukan masalah besar asal ia bekerja dengan benar. Nyatanya, godaan demi godaan mulai ia rasakan datang dari sang majikan. Sebenarnya, godaan seperti apa yang diterima oleh Lastri? Mampukah Lastri menahan diri dari godaan itu? Atau justru terjerat semakin dalam pada godaan yang tak pernah ia bayangkan?
Lihat lebih banyakMotor ojek yang dinaiki Lastri berhenti di depan gerbang tinggi berwarna hitam doff. Rumah di balik pagar itu tampak megah, berpilar putih dengan taman rapi dan suara gemericik air dari kolam kecil di samping teras. Lastri menarik napas panjang sebelum menurunkan tas jinjing berisi pakaian dan beberapa barang pribadi.
"Ya Allah, gede banget rumahnya...," gumam Lastri pelan, menatap kagum sekaligus gugup. Gerbang terbuka otomatis setelah satpam memberi izin. Tak lupa Lastri mengucapkan terima kasih setelah satpam itu mengantarnya sampai depan pintu utama. Dari dalam, seorang wanita paruh baya berjalan cepat menyambutnya. Wajahnya ramah, keriput halus di sekitar matanya memberi kesan keibuan. "Nduk Lastri," sapanya hangat. "Lama ya tidak bertemu. Ayo masuk, Nduk. Dari tadi saya sudah nunggu." Lastri cepat mengangguk sopan. "Iya, Mbok Jiah. Mbok apa kabar?" "Alhamdulillah, beginilah keadaan Mbok, sehat-sehat," jawabnya sambil membimbing Lastri mengikutinya ke dalam. Langkah Lastri mulai melambat begitu memasuki ruang tengah. Di sana—di sofa empuk dan mewah— duduk seorang pria yang sedang membaca koran dengan penuh wibawa. Lastri menebak bahwa itu adalah calon majikannya. Begitu Mbok Jiah berhenti, ia pun ikut berhenti di belakangnya. "Permisi, Tuan Ardan. Saya membawa seseorang yang akan menggantikan saya bekerja di sini, namanya Lastri," ujar Mbok Jiah sambil menunduk sopan. Pria yang dipanggil Tuan Ardan itu seketika menurunkan korannya dan melipatnya di atas pangkuan. Tak ada kata, hanya tatapan tajam, dingin, dan penuh penilaian yang menelusuri tubuh Lastri dari ujung kaki hingga kepala. Lastri sempat bersitatap dengan mata tajam Tuan Ardan sebelum menundukkan pandangan, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya menegang. Ia ingin mengenalkan diri, tapi lidahnya kelu, mulutnya seolah terkunci. Ditambah tatapan Tuan Ardan seolah menilai pantas tidaknya ia bekerja di rumah ini. "Tunjukkan kamarnya dan jelaskan apa saja yang harus dia kerjaan di rumah ini. Mulai besok dia bisa langsung bekerja," kata Tuan Ardan dengan nada datar, setelahnya langsung membuka lagi koran dan melanjutkan membaca. Lastri sontak mendongak, menatap dengan rasa tak percaya bahwa ia akan diterima tanpa sedikit pun wawancara. Ia ingin memastikan sekali lagi, tapi wajah Tuan Ardan sudah tertutup oleh halaman koran yang lebar. "Te—terima kasih, Tuan." Hanya itu yang bisa Lastri ucapkan sambil menunduk sopan, lalu mengikuti Mbok Jiah sambil mengamati setiap bagian rumah yang dilewatinya. Meninggalkan ruang tengah, Lastri berjalan masuk menuju arah dapur. Setiap langkahnya menimbulkan gema halus di lantai marmer, membuatnya makin sadar bahwa rumah ini jauh dari dunia yang biasa ia tinggali. Begitu melewati lengkungan pintu dapur, matanya langsung disambut pemandangan yang membuatnya terpana. Dapur itu begitu besar dan rapi. Meja marmer putih terbentang di tengah ruangan, di atasnya berjajar rapi peralatan masak yang mengilap. Bau lembut rempah dan sabun cuci piring bercampur, menandakan tempat itu baru saja dibersihkan setelah digunakan. Di sisi kanan, kompor besar berjejer dengan oven modern. Sedangkan di sisi kiri, ada lemari pendingin yang hampir sebesar lemari pakaian di rumahnya. "Lewat sini, Nduk." Suara Mbok Jiah memecah keterpakuannya. Lastri buru-buru menyusul, menapaki lorong sempit di belakang dapur. Lorong itu agak redup, hanya diterangi cahaya lampu kecil di langit-langit. Tak lama kemudian, langkahnya berhenti di ujung lorong tepat di samping Mbok Jiah. Dan di hadapannya, dua pintu kayu berdiri berdampingan. "Yang kiri ini kamarmu," kata Mbok Jiah sambil menunjuk salah satunya. "Dekat tempat mencuci baju dan halaman belakang." Lastri menoleh ke arah yang dimaksud. Di luar jendela kecil tampak area mencuci dengan mesin cuci, ember dan juga jemuran. Tak jauh dari sana ada pintu yang mengarah ke halaman belakang—sedikit terbuka, menampakkan cahaya sore yang lembut dan suara burung dari kejauhan. ~~~ Lastri melangkah pelan masuk ke dalam kamar. Ukurannya tidak besar, tapi cukup nyaman. Sebuah ranjang kayu dengan sprei bersih menempel di dinding, di sebelahnya ada lemari kecil dari rotan dan meja sederhana dengan cermin oval di atasnya. Udara kamar terasa lembab, tapi segar--aroma sabun dan kapur barus masih tercium samar. "Bajumu langsung ditata ke dalam lemari saja, Nduk, biar Mbok bantu." Lastri mengangguk cepat dan menuruti arahan. Ia meletakkan tas lusuhnya di atas ranjang kemudian membukanya, mengeluarkan lipatan pakaian satu per satu. Bajunya tak banyak, hanya beberapa daster, pakaian ganti dan juga dalaman. Sementara Mbok Jiah memasukkannya ke dalam lemari dengan susunan yang sangat rapi. "Setelah selesai, kamu istirahat dulu saja. Nanti Mbok akan tunjukkan tugas-tugasmu, supaya besok kamu tidak bingung harus memulai dari mana," ujar Mbok Jiah dengan nada lembut. Lastri hanya mengangguk, meski pikirannya masih melayang pada pertemuan singkatnya tadi di ruang tengah. Bayangan Tuan Ardan dengan tatapan tajam dan ekspresi datarnya muncul kembali, membuat jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. "Mbok," panggilnya pelan, ragu-ragu. "Tuan Ardan itu... orangnya memang selalu begitu, ya?" Mbok Jiah berhenti sejenak, lalu menoleh dengan dahi berkerut. "Begitu itu gimana, Nduk?" "Dingin," jawab Lastri hati-hati. "Tadi waktu saya menunduk memberi salam, rasanya seperti... beliau tidak suka kalau saya ada di sana." Mbok Jiah terkekeh kecil, suaranya serak tapi hangat. "Halah, itu cuma perasaanmu saja, Nduk. Tuan memang orangnya jarang senyum, tapi bukan berarti galak. Beliau cuma... banyak pikiran." "Banyak pikiran?" Lastri mengulang, sedikit penasaran. "Ya," jawab Mbok Jiah sambil kembali melipat pakaian. "Sejak istrinya sakit, beliau jarang bicara sama siapa-siapa. Rumah in pun jadi sepi. Kalau beliau lewat, semua orang memilih diam. Tapi bukan karena takut, cuma... menghormati." Lastri menunduk, mencerna kata-kata itu. Tapi rasa dingin yang ia rasakan di ruang tengah tadi masih membekas. Tatapan mata Tuan Ardan yang tajam dan dalam itu seolah menembus dirinya, membuatnya ingin bersembunyi. "Mungkin nanti kamu juga akan terbiasa," lanjut Mbok Jiah, suaranya menenangkan. "Asal kerja dengan benar, beliau tak akan marah. Lagi pula, kalau sudah lama di sini, kamu bakal tahu... Tuan Ardan itu sebenarnya orang yang perhatian, cuma caranya beda." Lastri tersenyum tipis, berusaha percaya. "Mudah-mudahan begitu, Mbok." Mbok Jiah menatapnya dengan pandangan penuh arti. "Percayalah, Nduk. Kadang orang yang terlihat dingin itu justru punya hati yang paling hangat, cuma disembunyikan rapat-rapat." Lastri terdiam. Entah kenapa, kalimat itu menempel di kepalanya, seolah menyiratkan sesuatu yang lebih dari nasihat biasa. ~~~ Pagi akhirnya tiba. Namun, matahari masih bersembunyi, dan gelap masih menyelimuti. Meski begitu, Lastri sudah bangun sejak jam setengah empat pagi—persis seperti kebiasannya saat di rumah. Merapikan bantal dan melipat selimut tanpa menunda. Setelahnya ia mengikat rambut dan mengambil handuk. Langsung mandi di kamar mandi yang tak jauh dari kamarnya. Beberapa menit kemudian, Lastri sudah terlihat segar. Rambutnya yang panjang dikuncir kuda. Pakaiannya daster longgar yang cukup sopan. Wajahnya polos tanpa make up, namun tetap memancarkan aura kecantikan. "Bismillah, hari pertama kerja, semoga semuanya berjalan lancar," doa Lastri sebelum melangkah keluar kamar. Setibanya di dapur, Lastri melihat Mbok Jiah mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan dari lemari es. Ia mendekat, langsung membantu tanpa disuruh. "Masak apa hari ini, Mbok?" tanyanya lembut, membuka satu per satu bahan yang sudah dikeluarkan oleh Mbok Jiah. Mbok Jiah menoleh dengan senyum ramah, tangannya lincah membagi bahan-bahan yang ada. “Ini Mbok mau masak sop bening ayam kampung sama tahu kukus, Nduk. Buat Nyonya Ratih,” jawabnya pelan, seolah takut suaranya terdengar sampai kamar atas. "Kamu tolong potong-potong sayurnya, ya," tambahnya. Lastri mengangguk paham. Mengambil sayuran yang dimaksud dan langsung memotongnya kecil-kecil. “Nyonya Ratih masih belum boleh makanan berat, ya?” “Iya,” jawab Mbok Jiah lirih, lalu menghela napas singkat. “Sejak beliau kena stroke ringan enam bulan lalu, separuh badannya belum bisa digerakkan. Dokter bilang makanannya harus lembut, rendah garam, nggak boleh santan, nggak boleh gorengan, apalagi daging berlemak.” Ia menunjuk panci kecil di atas kompor. “Paling aman sop, bubur, ikan kukus, atau sayur rebus. Sambal? Pantang.” Lalu Mbok Jiah tertawa kecil, nada suaranya berubah lebih ringan. “Kalau buat Tuan Ardan beda lagi. Beliau kesukaannya rendang, semur daging, sama ikan goreng kremes. Pagi-pagi biasanya minta telur setengah matang sama kopi pahit.” Ia menggeleng, setengah mengeluh, setengah sayang. “Tapi Mbok tetap kurangin lemaknya, biar beliau juga nggak kebanyakan kolesterol.” Lastri terdiam sejenak, pandangannya mengarah ke tangga yang menuju kamar Nyonya Ratih. Rasa penasaran mulai mendesak Lastri untuk segera bertemu langsung dengan seseorang yang akan ia rawat setiap hari. “Semoga Bu Ratih cepat membaik, Mbok,” ucap Lastri lirih. “Aamiin, Nduk,” jawab Mbok Jiah pelan, sambil kembali menutup panci, seolah menutup doa di dalamnya. Suasana memasak pagi itu terasa hangat. Lastri banyak mengajukan pertanyaan terkait kedua majikannya, serta kegiatan-kegiatan rutin yang harus ia kerjakan nantinya saat Mbok Jiah tidak lagi bekerja di sana. Termasuk juga bagaimana Mbok Jiah menyelesaikan pekerjaan di rumah sebesar itu tanpa ada ART lain di sana. "Walaupun rumah ini besar, tapi isinya hanya dua orang saja, Nduk. Ditambah Mbok jadi tiga. Tuan Ardan kadang menghabiskan waktu bekerja di kamar dengan istrinya, atau juga di ruangan kerjanya. Beliau sudah jarang ke kantor semenjak istrinya sakit," terang Mbok Jiah. Lastri menyimak dengan serius setiap penjelasan dari Mbok Jiah. Selain untuk menambah pengetahuan tentang majikan dan tempatnya bekerja, ia berharap dengan informasi itu bisa membuatnya meminimalisir kesalahan nantinya. "Pakaian-pakaian kotor tidak terlalu banyak, jadi mencuci pun tidak terlalu berat," terang Mbok Jiah lagi. "Tuan Ardan juga tidak melarang istirahat asalkan semua pekerjaan sudah dikerjakan dengan benar." "Bagaimana dengan taman-taman di luar rumah, Mbok?" "Ya tetap Mbok yang mengerjakan, tapi cukup disapu saja. Biasanya setiap dua kali seminggu ada Mang Jojo yang bertugas membenahi taman. Kamu cukup sediakan makan, camilan dan minum saja. Urusan upah sudah diatur sendiri sama Tuan." Lastri mengangguk-angguk, memahami dan mengingat semua hal yang ia dapat hari ini. Sampai tak terasa masakan mereka sudah matang. Mbok Jiah mulai mengambil mangkok, gelas dan nampan. Ia menyiapkan sarapan untuk dibawa ke kamar sang majikan. "Ya sudah, Nduk. Ayo ikut Mbok ke kamar Nyonya Ratih. Sekalian Mbok perkenalkan kamu pada beliau," ajak Mbok Jiah.Lastri hampir menabrak tubuh Tuan Ardan jika kakinya tidak melangkah mundur dengan cepat. Namun, posisinya yang berada di tepi teras membuatnya hilang keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang jika tidak ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.Tuan Ardan dengan gerakan gesit menarik tubuh Lastri menggunakan lengannya. Seketika itu juga tubuh Lastri hampir menabrak dada bidangnya jika Lastri tak menahannya dengan tangan. Namun tetap saja, posisi itu terasa sangat intim—Tuan Ardan seperti sedang memeluk Lastri, dan jarak mereka hanya terpisah satu tarikan napas.Lastri membelalak. Jantungnya berdebar cepat--bukan karena sesuatu yang aneh, tapi rasa terkejut yang jadi dua kali lipat. Ditambah tatapan Tuan Ardan yang tajam dan dingin kini tepat berada di depan wajahnya. Ia pun buru-buru melepaskan diri bahkan sebelum otaknya sempat mencerna kejadian yang sedang terjadi."Maaf... maafkan saya, Tuan," ucap Lastri cepat sambil menunduk takut. Jemarinya yang masih menggenggam ponsel saling b
Jam delapan lebih lima menit, Lastri kembali sibuk di dapur. Dengan arahan Mbok Jiah, ia membuat air lemon hangat seperti yang biasa diminum Tuan Ardan. Dan sebelum meletakkan di atas nampan, ia memastikan sekali lagi kekentalannya pas, tidak kurang atau kelebihan.Lastri menarik napas panjang saat tangannya mulai mengangkat nampan. Di sampingnya, Mbok Jiah tersenyum geli melihat sikap Lastri. Lalu dengan lembut ia menepuk pelan bahu Lastri sebagai bentuk dukungan."Tidak apa-apa, Nduk. Tuan hanya sedang mengujimu saja. Mbok yakin kamu pasti lulus," ujarnya ringan.Lastri mengangguk, tak ingin menyangkal ucapan itu. Lagi pula wajar jika seorang majikan ingin menilai kinerja pembantunya. Dan dalam hati, Lastri meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa bekerja dengan baik seperti yang diharapkan oleh majikannya.Lastri melangkah mantap saat memijak satu per satu anak tangga. Meski tak dipungkiri bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari langkahnya. Tangannya yang sedikit gemetar, menggenggam
Lastri mengangguk, lalu berjalan di belakang Mbok Jiah menaiki tangga. Langkah mereka melambat saat tiba di depan pintu kamar paling ujung. Mbok Jiah mengetuk pelan sebelum masuk.“Nyonya… ini sarapannya Mbok bawa,” ucapnya sambil membuka pintu.Di dalam kamar, Nyonya Ratih terbaring di ranjang besar dengan sandaran ditinggikan. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat namun masih menyisakan garis kecantikan yang lembut. Tangan kirinya terkulai lemah di sisi tubuh, sementara matanya menoleh saat Mbok Jiah mendekat.Mbok Jiah meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang, lalu menoleh pada Lastri.“Nyonya, ini Lastri. Anak baru yang bantu-bantu di rumah. Mulai hari ini, Mbok mau dia belajar ngurus Nyonya juga.”Pandangan Nyonya Ratih beralih ke Lastri. Bibirnya bergerak pelan, suaranya lirih dan sedikit pelo.“Las… tri…”Lastri refleks menunduk sopan. “Iya, Nyonya. Saya Lastri.”Mbok Jiah meraih mangkuk bubur dan sendok, lalu mendekat ke sisi ranjang.“Nduk, perhatiin ya. Nyupain Nyo
Motor ojek yang dinaiki Lastri berhenti di depan gerbang tinggi berwarna hitam doff. Rumah di balik pagar itu tampak megah, berpilar putih dengan taman rapi dan suara gemericik air dari kolam kecil di samping teras. Lastri menarik napas panjang sebelum menurunkan tas jinjing berisi pakaian dan beberapa barang pribadi."Ya Allah, gede banget rumahnya...," gumam Lastri pelan, menatap kagum sekaligus gugup.Gerbang terbuka otomatis setelah satpam memberi izin. Tak lupa Lastri mengucapkan terima kasih setelah satpam itu mengantarnya sampai depan pintu utama. Dari dalam, seorang wanita paruh baya berjalan cepat menyambutnya. Wajahnya ramah, keriput halus di sekitar matanya memberi kesan keibuan."Nduk Lastri," sapanya hangat. "Lama ya tidak bertemu. Ayo masuk, Nduk. Dari tadi saya sudah nunggu."Lastri cepat mengangguk sopan. "Iya, Mbok Jiah. Mbok apa kabar?""Alhamdulillah, beginilah keadaan Mbok, sehat-sehat," jawabnya sambil membimbing Lastri mengikutinya ke dalam.Langkah Lastri mulai












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.