LOGINPenduduk desa yang polos dan sederhana itu belum pernah melihat seorang kultivator. Saat ini, mereka semua tercengang oleh kemampuan Ewan."Ya Tuhan, dia memukul ekskavator sampai terbang dengan satu pukulan!""Dia masih manusia atau bukan?""Pemuda ini pasti dewa! Pasti dewa!""Dewa turun ke dunia! Dewa turun ke dunia!"Entah siapa yang berteriak lebih dulu. Tak lama kemudian, banyak penduduk desa berlutut di tanah dan menyembah Ewan.Melihat pemandangan itu, Nazar begitu iri hingga matanya memerah.'Sialan. Dibanding soal pamer, aku memang masih kalah satu tingkat dari bocah sialan itu. Kalau tahu begini, seharusnya aku yang bergerak lebih dulu. Sekarang kesempatan untuk tampil di depan orang banyak direbut lagi olehnya.'Ewan juga tidak menyangka para penduduk desa akan menganggap dirinya dewa. Dia tersenyum dan berkata, "Semuanya, silakan berdiri. Aku bukan dewa. Aku hanya seorang dokter."Namun, para penduduk desa sama sekali tidak percaya. "Mana mungkin dokter bisa memukul ekskav
"Koji, hati-hati!" teriak Eko cemas.Namun, tidak ada sedikit pun rasa takut di wajah remaja itu. Dengan tangan kosong, dia langsung bertarung melawan beberapa pria dewasa tersebut. Tak lama kemudian, dua pria kekar sudah dipukuli hingga tidak mampu bangkit lagi.Masih tersisa empat orang.Namun, tiga di antaranya hanya mampu bertahan selama dua menit sebelum tumbang. Mereka terpental oleh beberapa pukulan dari Koji. Sementara itu, Koji sama sekali tidak terluka.Pria kekar terakhir sudah ketakutan setengah mati.Meskipun memegang golok, dia tidak berani maju lagi.Juned langsung memakinya, "Sampah! Masa cuma karena seorang bocah kamu ketakutan begini? Apa kamu masih pantas disebut laki-laki?""Bunuh dia, aku kasih kamu 200 juta."Di bawah iming-iming hadiah besar, keberanian pun muncul. Begitu mendengar ada hadiah 200 juta, semua ketakutan pria itu langsung lenyap. Dia mengangkat golok dan menyerbu Koji.Namun, Koji hanya mengangkat kaki dan menendangnya sekali.Brak!Pria itu langsun
Pria berambut cepak itu menerima satu tamparan dari Ewan hingga tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh ke tanah. Kemudian, dia menatap Ewan dengan mata penuh amarah dan berteriak, "Sialan! Kamu berani mukul aku? Apa kamu tahu siapa aku?"Plak!Tanpa berkata apa-apa, Ewan kembali menampar wajahnya. Sangat tegas dan tanpa ampun.Kali ini Ewan menambah sedikit kekuatan di tangannya, sehingga setengah wajah pria itu langsung membengkak. Ewan hanya menganggapnya orang biasa, jadi dia bahkan tidak menggunakan sepersepuluh ribu dari kekuatannya.Kalau tidak, satu tamparan saja sudah cukup untuk meledakkan kepala pria tersebut.Aksi Ewan menampar pria berambut cepak itu membuat para penduduk desa yang menonton terkejut."Siapa pemuda itu? Berani menampar Juned? Berani sekali.""Ini bukan soal berani. Ini namanya anak muda yang nggak tahu diri. Sekilas dia terlihat seperti orang kota, jadi jelas dia nggak tahu seberapa berbahayanya kelompok Juned. Pemuda itu pasti akan celaka.""Benar. Juned dan k
"Siapa sangka preman itu merasa uangnya terlalu sedikit dan meminta Eko memberikan 100 juta.""Eko nggak mau, lalu bertengkar dengan preman itu. Di depan banyak orang, preman itu menampar Eko. Sebelum pergi, dia juga berkata bahwa kalau Eko nggak mengirim ayahnya ke rumah duka untuk dikremasi, dia akan membawa orang untuk menggali makam.""Nah, ayah Eko baru dimakamkan siang tadi. Nggak lama kemudian, preman itu datang membawa orang-orangnya beserta ekskavator. Sekarang mereka semua masih berada di area pemakaman."Setelah mengatakan itu, lelaki tua tersebut memaki dengan marah, "Ayah Eko pernah ikut berperang waktu muda. Dia bahkan pernah bertempur di wilayah sungai dan membunuh banyak tentara musuh. Dia benar-benar seorang veteran teladan.""Tak kusangka setelah meninggal pun dia masih harus mengalami perlakuan seperti ini. Kelompok bajingan itu cepat atau lambat pasti akan mendapat balasannya."Ewan segera bertanya, "Kakek, di mana lokasi pemakamannya? Kami ingin melihatnya."Lelaki
Pukul tiga sore.Ewan dan Nazar tiba di Kabupaten Pradon.Kabupaten Pradon dikelilingi pegunungan dan berbatasan dengan sungai. Pemandangannya sangat indah, bagaikan surga dunia. Kampung halaman Eko berada di sebuah desa di bawah wilayah Kabupaten Pradon yang bernama Desa Syahdu.Ewan dan Nazar menaiki bus umum selama lebih dari satu jam sebelum akhirnya tiba di Desa Syahdu dari pusat kabupaten. Setelah bertanya ke sana kemari, mereka akhirnya menemukan rumah keluarga Eko.Rumah itu adalah sebuah rumah beratap genteng yang berdiri di antara perbukitan hijau yang tenang dan terpencil. Dari kejauhan, Ewan dan Nazar sudah melihat sepasang kain duka bertuliskan huruf hitam di atas kertas putih yang tergantung di depan pintu rumah.Sangat mencolok.Keduanya memasuki halaman rumah.Mereka mendapati bahwa selain seorang lelaki tua yang menjaga pintu, tidak ada satu orang pun yang terlihat. Suasananya terlalu sepi."Halo, apakah Eko tinggal di sini?" tanya Ewan.Lelaki tua penjaga pintu itu me
Sebenarnya, Ewan sendiri juga sangat bingung. Hari ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan Leily. Namun ketika berdiri di depan peti mati, dia merasakan perasaan yang sangat aneh di dalam hatinya, seolah-olah dia sudah mengenal Leily sejak lama.Selain itu, saat melihat Leily tertidur tanpa bisa terbangun, hatinya dipenuhi rasa iba dan kesedihan. Lalu, ada lagi masalah Jurus Sembilan Jarum Melawan Takdir. Dia mendapatkan kitab rahasia itu dari ruang kerja Faiz.Setelah dibaca, kitab tersebut berubah menjadi abu dan meninggalkan lima kata:[ Tanah Gunung Shuza Menantimu Kembali ]Dilihat dari makna harfiahnya, seolah-olah dia memang memiliki hubungan dengan Gunung Shuza, dan Gunung Shuza selama ini selalu menantikan kepulangannya. Namun sebelum hari ini, dia bahkan belum pernah datang ke Gunung Shuza.Lalu, mengapa Gadis Suci Leily dan Jayanta begitu yakin bahwa dia pasti bisa menghidupkan kembali murid-murid Gunung Shuza yang telah meninggal?Ewan samar-samar merasa bahwa mempero







