Jadilah Pria Kencang Kendor

Jadilah Pria Kencang Kendor

last updateÚltima actualización : 2026-02-12
Por:  Rayhan RawidhActualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
7Capítulos
17vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Arjuna ‘Gatheli’ Galih, seorang asisten pengacara tampan di firma hukum yang kaku. Dia menolak ajakan Harum untuk berhubungan intim, sehingga kehilangan gadis yang dicintainya itu ke tangan pria lain. Yang tidak diketahui Harum (dan yang lainnya) adalah Arjuna pada saat itu masih perjaka, meski gosip yang beredar dia pria yang perkasa luar biasa di ranjang. Harum hamil dan menikah dengan pria lain, dan Arjuna tak sengaja menghamili Vindy, gadis ‘murahan’ yang dianggapnya tak lebih sebagai alat ’pembelajaran’. Arjuna masih mencintai Harum. Mungkin itu yang membuatnya berbagi tempat tidur dengan Melani, Evelyn, dan entah siapa lagi….

Ver más

Capítulo 1

BAB 1

“Kamu lagi ngapain? Mainan manuk?”

Dengan mata terbelalak melihat ubin dinding sewarna air kencing, aku mendesah gelisah, mendramatisir kekesalanku.

Tidak bolehkah aku mendapatkan sedikit ketenangan di sini? Toilet kantor satu-satunya tempat aku bisa melaksanakan kegiatanku sebagai seorang jomlo?

“Cuma istirahat pipis bentar, Bondet!”

“Bisakah kamu setidaknya menyiram toilet sebagai bentuk sopan santun?”

Bondan tertawa, dan tawanya bergema di tengah aliran air kencingku saat aku mengacungkan jari tengahku dari atas pintu.

Tanpa melihatnya, aku tahu dia sedang memeriksa bayangannya ubun-ubunnya yang botak di cermin, pantulannya membuat ruangan silau.

“Masih ada toilet cewek kalau kamu kebelet,” jawabku saat aku mendekati garis finish, membayangkan aku mengencingi wajahnya.

“Kau tahu, ada urinoir di sini.” Suaranya bergema.

“Oh. Itu bukannya wastafel mewah?” Aku menguap saat suara kecingku juga bergema di dalam bilik.

Pengganggu.

“Jangan main-main di bawah sana. Aku perlu bertemu langsung denganmu waktu makan siang, jadi pastikan aku tidak melihat resleting celanamu macet.”

Mesum.

Pada goyangan ketiga, aku hampir selesai bermain-main dengan diriku sendiri sambil memeriksa jam tanganku. Aku tidak ingin ketemu Bondan saat aku meninggalkan bilik ini.

Sambil memutar bola mata, aku mengerang—bukan momen terbaikku—dan menghirup udara di antara gigiku, berdoa kepada Tuhan agar tidak ada orang lain yang masuk saat ini.

Dengan desahan keras dan terbata-bata, aku menggelengkan kepala untuk keempat kalinya, menyeringai sendiri.

Aku mendengar Bondan menggumam.

“Jangan lupa. Kantorku tiga puluh menit.”

“Ya, Bondet.”

Karena Bondan Amaroso begitu mudah ditebak. Aku tahu dia menyipitkan matanya ke arahku dari sisi lain pintu.

Karena tidak bisa membalas, dia mendorong tubuhnya yang kekar ke arah pintu.

“Sekarang sudah dua puluh sembilan menit, Gatheli.”

Gatheli.

Ya. Itu aku. Dulu aku cuma Arjuna Galih.

Gatheli julukan yang diberikan kepadaku oleh mantan rekan kerja yang menyebalkan itu bahkan telah melampaui lama kerjanya di sini.

Sekarang, sebagian besar rekan kerjaku dan Bondan, bosku yang terkutuk, memanggilku dengan julukan itu. Meskipun itu adalah versi paling ringan dari julukan yang biasa diberikan wanita kepadaku, mengingat namaku Arjuna.

Tariklah kesimpulan sendiri.

Terkadang aku masih dipanggil Arjuna di tempat kerja. Tapi jarang dan cuma oleh beberapa orang tertentu.

Aku tidak akan pernah lepas dari Gatheli selama bekerja di sini. Aku sudah terbiasa. Aku hanya membenci sumbernya.

Aku juga telah menerima kenyataan bahwa aku adalah badut kantor yang membuat semua orang tertawa. Sebenarnya, aku seharusnya menjadi sosok yang luar biasa atas layanan yang kuberikan karena sebagian besar rekan kerjaku adalah manusia sampah.

Aku telah menciptakan jarak. Menangkis dengan kecerdasan yang telah kupahat dengan cermat. Yang telah matang sempurna selama hampir dua puluh sembilan tahun.

Bisa dibilang, kalau aku minuman keras, aku adalah wiski murni tanpa campuran. Itulah kekuatan superku.

Kalau dipikir-pikir, mungkin aku cari lowongan kerja saja di pabrik minuman keras di Mojokerto. Atau sekalian pabrik miras gelap.

Sambil memasukkan kembali kemejaku ke dalam celana, aku menendang pintu.

Keluar dari bilik toilet sambil mengencangkan ikat pinggang, suara siraman toilet memenuhi ruangan yang sepi, tepat saat Ganendra Syauki masuk.

 Aku langsung menyeringai.

Dengan gaya rambut Caesar-nya yang seperti George Clooney tahun 1996, rekan kerja ini adalah favoritku.

Mungkin karena dia kebalikan dariku dan tidak suka nge-prank, sehingga aku bisa mengasah kemampuanku. Bagi mereka yang tidak mengenalnya, Ganendra memiliki kepribadian yang kaku.

Itu kerugian mereka. Karena sifat pendiam dan formalitasnya yang menakutkan, tawanya yang jarang terdengar adalah harta karun.

Dia menerima apa pun yang kulemparkan padanya. Ganendra adalah buku mewarnai untuk ember krayonku. Aku suka membuatnya kaget, tertawa atau ternganga ngeri, yang kebetulan, mirip dengan wajah ibuku yang memandangku setiap hari.

"Hei, Genderuwo. Bercinta semalam?"

Wajahnya memerah lebih cepat daripada pantat  semok yang ditampar. Dia menatap dinding dengan ekspresi seolah aku baru saja menendangnya tepat di ulu hati.

“Eh, gak. Uhm  … kamu?”

Senyumku tak pudar meskipun aku berbohong.

“Kamu tahu aku. Sepanjang malam. Setiap malam.”

Ganendra pria tampan. Dia mungkin bisa menemukan pasangan kencan kalau dia berusaha.

Aku cukup yakin dia penyuka sesama, sama dugaanku tentang Bondan. Bukan berarti mereka pantas pacaran.

Itu sungguh tak pantas.

Ganendra pantas mendapatkan yang jauh lebih baik. Bukan Bondan Amaroso, bos-ku.

Bondan tulang lunak bajingan sakit jiwa.

Ganendra berusaha untuk tidak menatapku.

Aku suka menggoda keculunannya.

“Kalau kamu sepertiku, aku yakin kamu jagoan di ranjang.”

Ketika matanya menatap tanganku yang sedang mengencangkan ikat pinggangku, aku menggodanya.

“Aku tidak akan menceritakan kejadian semalam untukmu.”

Dia menelan ludah dengan keras, menatapku dengan ternganga.

“Cuma bercanda, Genderuwo. Tenanglah.”

Aku tertawa saat dia menatap langit-langit, masih diam.

“Mungkin aku bisa membantumu mencari pasangan. Tipe seperti apa yang kamu cari?”

“Aku tidak terlalu tertarik untuk berkencan saat ini.”

Setelah selesai mengencangkan ikat pinggangku, aku pergi ke wastafel. Sambil mencuci tangan, aku memperhatikan Ganendra menggaruk lengannya melalui sweter yang belum perlu dipakai untuk cuaca awal Oktober.

“Ayolah. Aku tahu ada seorang penggila ML yang bersembunyi di balik penampilan penurutmu itu.”

Bayangan dirinya diborgol di tempat tidur membuatku tersentak melihat bayanganku sendiri.

Dia mengangkat bahu saat aku melihat senyum mengejutkan di bibirnya di cermin.

“Aku membosankan, Jun. Aku tidak seberuntung kamu, terutama dengan seorang rekan kerja tertentu.”

Sialan, Gan. Jangan sebut nama dia….

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
7 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status