Mag-log inArjuna ‘Gatheli’ Galih, seorang asisten pengacara tampan di firma hukum yang kaku. Dia menolak ajakan Harum untuk berhubungan intim, sehingga kehilangan gadis yang dicintainya itu ke tangan pria lain. Yang tidak diketahui Harum (dan yang lainnya) adalah Arjuna pada saat itu masih perjaka, meski gosip yang beredar dia pria yang perkasa luar biasa di ranjang. Harum hamil dan menikah dengan pria lain, dan Arjuna tak sengaja menghamili Vindy, gadis ‘murahan’ yang dianggapnya tak lebih sebagai alat ’pembelajaran’. Arjuna masih mencintai Harum. Mungkin itu yang membuatnya berbagi tempat tidur dengan Melani, Evelyn, dan entah siapa lagi….
view more“Kamu lagi ngapain? Mainan manuk?”
Dengan mata terbelalak melihat ubin dinding sewarna air kencing, aku mendesah gelisah, mendramatisir kekesalanku.
Tidak bolehkah aku mendapatkan sedikit ketenangan di sini? Toilet kantor satu-satunya tempat aku bisa melaksanakan kegiatanku sebagai seorang jomlo?
“Cuma istirahat pipis bentar, Bondet!”
“Bisakah kamu setidaknya menyiram toilet sebagai bentuk sopan santun?”
Bondan tertawa, dan tawanya bergema di tengah aliran air kencingku saat aku mengacungkan jari tengahku dari atas pintu.
Tanpa melihatnya, aku tahu dia sedang memeriksa bayangannya ubun-ubunnya yang botak di cermin, pantulannya membuat ruangan silau.
“Masih ada toilet cewek kalau kamu kebelet,” jawabku saat aku mendekati garis finish, membayangkan aku mengencingi wajahnya.
“Kau tahu, ada urinoir di sini.” Suaranya bergema.
“Oh. Itu bukannya wastafel mewah?” Aku menguap saat suara kecingku juga bergema di dalam bilik.
Pengganggu.
“Jangan main-main di bawah sana. Aku perlu bertemu langsung denganmu waktu makan siang, jadi pastikan aku tidak melihat resleting celanamu macet.”
Mesum.
Pada goyangan ketiga, aku hampir selesai bermain-main dengan diriku sendiri sambil memeriksa jam tanganku. Aku tidak ingin ketemu Bondan saat aku meninggalkan bilik ini.
Sambil memutar bola mata, aku mengerang—bukan momen terbaikku—dan menghirup udara di antara gigiku, berdoa kepada Tuhan agar tidak ada orang lain yang masuk saat ini.
Dengan desahan keras dan terbata-bata, aku menggelengkan kepala untuk keempat kalinya, menyeringai sendiri.
Aku mendengar Bondan menggumam.
“Jangan lupa. Kantorku tiga puluh menit.”
“Ya, Bondet.”
Karena Bondan Amaroso begitu mudah ditebak. Aku tahu dia menyipitkan matanya ke arahku dari sisi lain pintu.
Karena tidak bisa membalas, dia mendorong tubuhnya yang kekar ke arah pintu.
“Sekarang sudah dua puluh sembilan menit, Gatheli.”
Gatheli.
Ya. Itu aku. Dulu aku cuma Arjuna Galih.
Gatheli julukan yang diberikan kepadaku oleh mantan rekan kerja yang menyebalkan itu bahkan telah melampaui lama kerjanya di sini.
Sekarang, sebagian besar rekan kerjaku dan Bondan, bosku yang terkutuk, memanggilku dengan julukan itu. Meskipun itu adalah versi paling ringan dari julukan yang biasa diberikan wanita kepadaku, mengingat namaku Arjuna.
Tariklah kesimpulan sendiri.
Terkadang aku masih dipanggil Arjuna di tempat kerja. Tapi jarang dan cuma oleh beberapa orang tertentu.
Aku tidak akan pernah lepas dari Gatheli selama bekerja di sini. Aku sudah terbiasa. Aku hanya membenci sumbernya.
Aku juga telah menerima kenyataan bahwa aku adalah badut kantor yang membuat semua orang tertawa. Sebenarnya, aku seharusnya menjadi sosok yang luar biasa atas layanan yang kuberikan karena sebagian besar rekan kerjaku adalah manusia sampah.
Aku telah menciptakan jarak. Menangkis dengan kecerdasan yang telah kupahat dengan cermat. Yang telah matang sempurna selama hampir dua puluh sembilan tahun.
Bisa dibilang, kalau aku minuman keras, aku adalah wiski murni tanpa campuran. Itulah kekuatan superku.
Kalau dipikir-pikir, mungkin aku cari lowongan kerja saja di pabrik minuman keras di Mojokerto. Atau sekalian pabrik miras gelap.
Sambil memasukkan kembali kemejaku ke dalam celana, aku menendang pintu.
Keluar dari bilik toilet sambil mengencangkan ikat pinggang, suara siraman toilet memenuhi ruangan yang sepi, tepat saat Ganendra Syauki masuk.
Aku langsung menyeringai.
Dengan gaya rambut Caesar-nya yang seperti George Clooney tahun 1996, rekan kerja ini adalah favoritku.
Mungkin karena dia kebalikan dariku dan tidak suka nge-prank, sehingga aku bisa mengasah kemampuanku. Bagi mereka yang tidak mengenalnya, Ganendra memiliki kepribadian yang kaku.
Itu kerugian mereka. Karena sifat pendiam dan formalitasnya yang menakutkan, tawanya yang jarang terdengar adalah harta karun.
Dia menerima apa pun yang kulemparkan padanya. Ganendra adalah buku mewarnai untuk ember krayonku. Aku suka membuatnya kaget, tertawa atau ternganga ngeri, yang kebetulan, mirip dengan wajah ibuku yang memandangku setiap hari.
"Hei, Genderuwo. Bercinta semalam?"
Wajahnya memerah lebih cepat daripada pantat semok yang ditampar. Dia menatap dinding dengan ekspresi seolah aku baru saja menendangnya tepat di ulu hati.
“Eh, gak. Uhm … kamu?”
Senyumku tak pudar meskipun aku berbohong.
“Kamu tahu aku. Sepanjang malam. Setiap malam.”
Ganendra pria tampan. Dia mungkin bisa menemukan pasangan kencan kalau dia berusaha.
Aku cukup yakin dia penyuka sesama, sama dugaanku tentang Bondan. Bukan berarti mereka pantas pacaran.
Itu sungguh tak pantas.
Ganendra pantas mendapatkan yang jauh lebih baik. Bukan Bondan Amaroso, bos-ku.
Bondan tulang lunak bajingan sakit jiwa.
Ganendra berusaha untuk tidak menatapku.
Aku suka menggoda keculunannya.
“Kalau kamu sepertiku, aku yakin kamu jagoan di ranjang.”
Ketika matanya menatap tanganku yang sedang mengencangkan ikat pinggangku, aku menggodanya.
“Aku tidak akan menceritakan kejadian semalam untukmu.”
Dia menelan ludah dengan keras, menatapku dengan ternganga.
“Cuma bercanda, Genderuwo. Tenanglah.”
Aku tertawa saat dia menatap langit-langit, masih diam.
“Mungkin aku bisa membantumu mencari pasangan. Tipe seperti apa yang kamu cari?”
“Aku tidak terlalu tertarik untuk berkencan saat ini.”
Setelah selesai mengencangkan ikat pinggangku, aku pergi ke wastafel. Sambil mencuci tangan, aku memperhatikan Ganendra menggaruk lengannya melalui sweter yang belum perlu dipakai untuk cuaca awal Oktober.
“Ayolah. Aku tahu ada seorang penggila ML yang bersembunyi di balik penampilan penurutmu itu.”
Bayangan dirinya diborgol di tempat tidur membuatku tersentak melihat bayanganku sendiri.
Dia mengangkat bahu saat aku melihat senyum mengejutkan di bibirnya di cermin.
“Aku membosankan, Jun. Aku tidak seberuntung kamu, terutama dengan seorang rekan kerja tertentu.”
Sialan, Gan. Jangan sebut nama dia….
Setelah aku kembali ke gundukan lemparan, Betsy mengomel, “Apakah kamu punya masalah dengan Evelyn?”“Banyak.”Ketika Evelyn dan Ganendra siap, aku melempar bola, dan Ganendra memukulnya ke arah Irene, yang mengejar bola dengan tergesa-gesa seperti kembalinya goyang disko. Setelah mengambilnya, dia tahu ke mana harus melemparnya, dan demi Srimulat, dia berhenti sejenak di sana. Jadi dia benar-benar melenceng dari permainan dan kehidupan.Aku mengangkat sarung tanganku dan berteriak, “Lempar ke sini!” Setidaknya aku akan melemparnya ke suatu tempat.Persetan dengan semua ini. Tapi dia melemparnya ke Alexis di base kedua, yang tidak membantu karena Ganendra melewati Harum di posisi shortstop.Ganendra mendarat di home plate bahkan sebelum bola sampai kepadaku, seperti seharusnya, karena dia pemain terbaik tim.Bagus untuknya.Giliran Nico memukul lebih lancar, dengan dia memukul lemparan pertama sebag
Aku tersenyum pada Alexis, tapi kemudian memutar bola mataku ke arah Willy."Terserah."Aku mengambil bola dari tanah dan berjalan lesu ke gundukan pelempar. Sementara dia menarik tiga orang ke samping untuk memukul, Evelyn berlama-lama mengenakan perlengkapan penangkap bola. Ketika dia mencoba pelindung dada penangkap bola ketiga, aku menggerutu, "Ini bukan peragaan busana Victoria's Secret, Rimbani!"Tapi sialan, aku tidak akan mengeluh jika dia telanjang dan berbaring di atas home plate. Aku akan menggantungnya di langit-langit dan merusaknya dalam dua hari.Dari base pertama, Betsy berteriak, "Kenapa kamu begitu jahat pada Evelyn, Jun?"Demi Tuhan, kalau dia mengucapkan namaku seperti itu lagi, tubuhnya yang tanpa kepala akan berakhir di pinggir jalan seperti Sepupu Manto, yang kepalanya kemudian ditemukan di tempat sumbangan Bala Keselamatan.Evelyn berkata, "Mungkin karena dia terlalu berlebihan."Aku mengerutkan kening pada Eve
Evelyn menghentakkan kakinya ke arah bola, dan ketika dia membungkuk, manukku menyadarinya.Jancuk, dasar -pengkhianat.Ketika dia mengambil bola, dia melambaikan tangan ke arah Kaleng Teletong dan meniupkan ciuman padanya.Aku berteriak, “Berhenti main-main, Rimbani!”Bibirnya yang berwarna merah marun mengerut saat dia menggertakkan giginya.“Sekarang aku Mambo.”Aku mengangkat bahu. “Apakah Ayah tahu itu?”Dengan sedikit usaha, aku menangkap bola dan melemparkannya kembali padanya, cepat dan tinggi. Dia melompat untuk menangkapnya, dan aku menikmati pemandangan itu, dan sekali lagi, sentakan di selangkanganku mengingatkanku bahwa meskipun otakku tidak setuju, seluruh tubuhku adalah penggemar beratnya.Di antara lemparan, aku menggunakan sarung tanganku untuk menutupi selangkanganku. Untungnya, aku memakai celana jin dan bukan celana olahraga. Astaga. Betapa mengerikannya jika aku memakainy
Evelyn menghentakkan kakinya ke arah kakaknya. Dengan membelakangiku, aku melihatnya melampiaskan amarahnya ke Willy.Aku memperhatikan punggung dan bahunya yang tegang sementara sanggulnya yang berantakan bergoyang saat dia memarahinya habis-habisan. Tapi Willy tetap bergeming, yang mengesankan dan menjengkelkan sampai ketenangannya runtuh. Dia melepas kacamata hitamnya, menatap Evelyn dengan tatapan yang bisa melelehkan patung es. Aku tidak bisa membaca gerak bibirnya, tetapi sulit untuk melakukannya dengan giginya yang terkatup rapat.Evelyn mendorong dada kakaknya dan pergi dengan marah, cemberut pada Kaleng Rombeng. Aku senang aku tidak harus berurusan dengan tingkahnya.Willy berjalan mendatangi istrinya dan tersenyum seperti hanya untuk Harum. Harum menyapu helai rambut di dahinya dari bawah topi bisbolnya. Willy mencium pergelangan tangan kirinya lalu menggenggamnya. Ketika dia melihat jari manis kiri Harum yang bertato, aku melihat matanya menggelap dan
Tertawa sendiri, aku masuk ke kamar mandi. Aku menyalakan lampu dan melihat tumpukan kotak dan kertas yang diselipkan di sudut wastafel. Tawaku mereda ketika kehamilan menarik perhatianku.Apa-apaan ini? Saat menggeledah semuanya, aku melihat hampir semua tes kehamilan hilang. Aku pergi ke
Alexis mengangguk sambil meletakkan tangannya di sandaran kursi makan.“Kamu benar-benar tidak memperhatikan. Tapi dia baru di sini kurang dari seminggu ketika semuanya berubah. Kamu menawarkan untuk membantunya dengan nama belakangnya? Gatheli, itu sangat manis.”Aku me
POV ArjunaMembaca pesan terakhir Evelyn, aku membalas bahwa dia tidak pernah menghalangiku.Mengapa dia berpikir begitu? Dia adalah alasanku untuk semua yang kulakukan sekarang. Sebelum dia, impianku adalah menjadi pengacara. Tetapi bersamany
POV EvelynPada percobaan ketiga, akhirnya aku mengirim balasan.“Tidak apa-apa. Bersenang-senanglah dengan Bondan, tapi jangan berlebihan.”“Kuharap kau tidak bermaksud sesuatu yang menjijikkan. Aku hanya melakukan it
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu