ANMELDENEkspresi Ewan berubah drastis.Setelah kotak kayu dibuka, dalam pandangannya muncul sebuah segel giok persegi. Ukuran segel giok itu sekitar empat inci. Terbuat dari giok putih yang diukir. Di bagian atasnya terdapat lima naga emas yang saling melilit, tampak sangat hidup.Walaupun tidak besar, segel giok itu memberikan kesan megah dan agung."Bocah, apa yang kamu lihat? Apa di dalamnya ada banyak emas, perak, dan harta?" tanya Nazar.Ewan menggeleng. "Di sini nggak ada emas atau perak.""Nggak mungkin! Master Shadala sudah bilang di sini ada harta besar." Nazar bertanya lagi, "Apa yang kamu temukan?"Ewan menyahut, "Cuma ada segel giok.""Segel giok?" Ekspresi Nazar menjadi agak murung. "Jangan-jangan harta besar yang dimaksud Master Shadala adalah segel giok ini?""Tapi cuma segel giok kecil. Mana mungkin bisa membuat Akademi Nagendra bangkit kembali?""Bocah nakal, lihat bagian bawah segel giok itu. Itu nama era kaisar mana?"Ewan mengulurkan tangan dan mengambil segel giok itu dari
Setelah cukup lama berlalu, Nazar akhirnya membuka kelopak matanya dengan susah payah.Ewan sangat gembira. "Sudah sadar? Gimana perasaanmu sekarang?"Dengan suara lemah, Nazar bertanya, "Bocah nakal ... di ... di mana kita? Apa kita di alam baka?"Ewan berkata, "Kita masih di dasar Kolam Surgawi. Formasi Pembantaian Langit sudah hancur.""Dasar Kolam Surgawi?" Nazar melihat sekeliling, lalu bertanya, "Kenapa yang kulihat hanya kegelapan?"Apa?"Bocah nakal, kamu di mana? Kenapa aku nggak bisa melihatmu? Jangan-jangan kamu sudah jadi hantu?" tanya Nazar lagi.Baru saat itu Ewan menyadari bahwa mata Nazar tampak kosong. Pupilnya sama sekali tidak fokus. Mungkinkah ....Hati Ewan langsung panik. Dia menggerakkan tangannya beberapa kali di depan mata Nazar dan bertanya, "Aku di depanmu, kamu nggak bisa melihatku?"Nazar menggeleng. "Aku nggak bisa lihat apa-apa."Selesai sudah .... Orang tua ini jadi buta!Ewan segera membuka mata batin dan menatap mata Nazar. Dalam sekejap, pandangannya
Swoosh! Sebuah segel persegi terbang keluar dari lengan jubah Nazar. Itu adalah Segel Mahaguru!Nazar mengulurkan tangannya. Segel Mahaguru jatuh ke telapak tangan kirinya. "Bocah, mundurlah lebih jauh, supaya nggak terkena dampaknya. Oh ya, jangan lupa apa yang kukatakan, tolong jaga Samudra untukku. Tolong ya!"Hati Ewan diliputi kecemasan. Dia berteriak keras, "Berhenti dulu! Kita pasti akan menemukan cara untuk memecahkan formasi ini."Nazar tersenyum tipis. Dia tidak berhenti, malah menggigit ujung jari tengah tangan kanannya. Kemudian, dia melafalkan mantra pelan. Dalam sekejap, darah muncrat keluar. Sebuah pemandangan ajaib pun terjadi.Setelah darah memercik keluar dari jari Nazar, darah itu tidak jatuh ke tanah, melainkan berkumpul di udara, membentuk garis darah yang melilit Segel Mahaguru.Nazar menatap Segel Mahaguru dengan ekspresi serius dan berkata, "Hari ini, murid generasi penerus bernama Nazar terjebak dalam formasi maut. Dalam keadaan tak berdaya, aku menggunakan met
"Tua bangka!" Ewan melesat seperti angin kencang, dalam sekejap muncul di belakang Nazar dan menopang tubuhnya.Dia segera memeriksa Nazar dan mendapati bahwa Nazar baru saja disambar tiga petir. Meskipun tidak ada masalah besar, tetap ada beberapa luka luar.Ewan segera menggenggam pergelangan tangan Nazar. Begitu memeriksa nadinya, dia langsung menyadari bahwa luka dalam Nazar sangat parah.Tanpa berkata apa-apa lagi, Ewan menempelkan telapak tangannya ke punggung Nazar dan menyalurkan seutas energi murni ke dalam tubuhnya.Namun, Nazar menghindar, tidak membiarkan Ewan menyalurkan energi murni kepadanya."Luka dalammu sangat parah. Harus segera diobati," kata Ewan, lalu hendak kembali menyalurkan energi murni."Ewan, jangan menyia-nyiakan energi murnimu untukku. Tenang saja, aku belum akan mati ...."Krek! Tiba-tiba, terdengar suara retakan di telinga mereka. Walaupun suaranya sangat pelan, suara itu tetap menarik perhatian keduanya. Ewan dan Nazar sama-sama menoleh ke arah tiang be
'Memecahkannya? Aku saja nggak bisa memecahkannya, apa yang bisa kamu lakukan?'Baru saja pikiran itu muncul di benak Ewan, dia melihat tubuh Nazar tiba-tiba memancarkan aura yang sangat kuat. Pada saat yang sama, di antara alis Nazar tampak tekad yang bulat."Orang tua ini ... mau mempertaruhkan nyawanya?" Ewan langsung menyadarinya dan segera berteriak, "Hei, berhenti! Bukankah ini hanya sebuah formasi? Kita bisa cari cara bersama untuk memecahkannya.""Cepat hentikan!" Sambil berbicara, Ewan berlari menuju Nazar. Namun, sebelum dia sempat mendekat, tiba-tiba cahaya emas yang menyilaukan meledak dari tubuh Nazar dan mementalkannya.Di tangan Nazar terdapat sebuah kompas emas."Papan Rahasia Langit!" Ewan langsung mengenalinya. Itu adalah Papan Rahasia Langit milik Nazar.Nazar menggigit ujung jari tengahnya hingga berdarah, lalu meneteskan setetes darah ke atas Papan Rahasia Langit. Seketika, cahaya emas memancar dari Papan Rahasia Langit.Saat ini, tubuh Nazar diselimuti cahaya emas
"Tua bangka, lebih baik kita cari cara untuk memecahkan formasi ini. Hanya dengan memecahkannya kita bisa selamat," kata Ewan.Nazar berkata, "Kita harus cari cara untuk menghancurkan satu tiang besi.""Aku akan mencoba lagi." Setelah berkata demikian, Ewan mengerahkan semua jurus andalannya.Pedang Enam Nadi, Jurus Pedang Rumput, Mantra Lima Petir, Teknik Pembunuhan, Teknik Naga Ilahi Sembilan Revolusi ....Boom, boom, boom!Ewan melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah tiang besi di depannya. Semua kartu trufnya dikeluarkan. Bahkan setelah tenaganya hampir habis, tiang besi itu tetap tidak bergerak sedikit pun, sama sekali tidak rusak."Tiang besi itu nggak bisa dihancurkan."Serangan-serangan pamungkas yang baru saja dikeluarkan Ewan cukup untuk membunuh seorang ahli yang telah melatih tujuh energi murni, tetapi sama sekali tidak menimbulkan kerusakan pada tiang besi. Bahkan bekas goresan sekecil apa pun tidak ada.Saat ini, di dalam hati Ewan mulai muncul sedikit keputusasaan.Dua
Mendengar kata-kata itu, mata Ewan sedikit menyipit. "Pak Hanjaya, apa maksudmu?""Kamu nggak paham? Anak Muda, beberapa hal kalau terlalu jelas jadi nggak ada artinya.""Bocah, kamu nggak ngerti? Kakek mengusirmu!" Juno mendekat ke Ewan dengan senyuman penuh kemenangan."Kamu kira siapa kamu? Aku l
Sekali lagi, Ewan merasakan apa yang disebut "usia 30 bahkan lebih ganas dari serigala". Memang harus diakui ... lumayan menegangkan juga.Satu jam kemudian, Lisa keluar dari ruang ganti dengan wajah puas. Ewan yang sudah berganti pakaian juga melangkah keluar dan mendapati dua pramuniaga cantik di
Apa? Dikepung? Seluruh ruangan langsung heboh.Hayam menatap pelayan itu. Mengira dirinya salah dengar, dia bertanya, "Kamu barusan bilang apa? Ulangi sekali lagi.""Tuan Hayam, kita ... kita dikepung. Ada banyak orang di luar vila ...."Sebelum pelayan selesai berbicara, terdengar suara langkah kak
Ewan mengikuti wanita itu dari belakang.Begitu masuk ke rumah, dia melihat Lisa berdiri di ruang tamu dengan ekspresi dingin. Di sofa seberangnya, duduk dua orang pria. Yang satu berusia sekitar 40-an, bertubuh putih gemuk, wajahnya penuh senyum tapi matanya menyiratkan kelicikan.Yang satunya lagi







