LOGINBarry menopang tubuhnya dengan kedua tangan, lalu meloncat bangkit dengan kuat. Dalam sekejap, aura di tubuhnya menjadi jauh lebih kuat.Matanya menatap Ewan.Barry tidak mencabut pedangnya.Sret!Dia melepas mantel militernya, bahkan pedang di punggungnya juga dilempar. Pada saat yang sama, sorot matanya menjadi sangat tajam dan penuh agresivitas."Pemanasan sudah selesai, sekarang baru benar-benar dimulai."Begitu kata-kata itu keluar, semua orang kembali heboh."Apa? Tadi cuma pemanasan?""Sudah kuduga, Adipati Jawara nggak mungkin kalah secepat itu.""Kali ini bocah itu pasti mati."Punggung Barry berdiri tegak, kemudian dia melangkah ke arah Ewan."Ewan, hati-hati."Begitu selesai bicara, tubuh Barry melesat seperti petir dan tinjunya langsung dilayangkan.Whoosh!Pukulan itu membawa arus udara yang kuat, disertai suara seperti guntur menuju kepala Ewan. Pukulan ini tetap tampak sederhana.Melihat adegan ini, para penonton malah marah dan mencibir Barry. "Bukannya katanya pemanasa
Boom!Tubuh Barry terpental sejauh sepuluh meter lalu jatuh ke tanah. Setelah jatuh, punggung Barry menempel di tanah. Tubuhnya masih meluncur beberapa meter, lalu dia menahan diri dengan satu tangan sebelum akhirnya stabil.Pfftt!Dia memuntahkan seteguk darah.Semua orang gempar.Terutama para tokoh besar yang sebelumnya berteriak agar Barry membunuh Ewan, kini mereka semua membelalakkan mata dengan tak percaya.Adipati Jawara terluka secepat ini? Dia ini dewa perang di wilayah utara!Barry mengusap darah di sudut bibirnya, lalu mengangkat kepala menatap Ewan dan tersenyum lebar. "Lumayan."Ewan menjawab, "Cuma lumayan?""Kamu kuat, pantas jadi lawanku." Barry berdiri kembali."Cabut pedangmu. Kalau nggak, kamu nggak akan bertahan lama di tanganku," kata Ewan.Barry tertawa keras. "Ewan, kamu terlalu sombong. Tanpa mencabut pedang pun aku bisa menjatuhkanmu."Haa!Barry berteriak keras, lima aliran energi murni melilit lengannya. Kedua tangannya mengepal dan menyerang Ewan. Bahkan or
Ewan akhirnya memahami maksud Barry. Barry ingin setia dan berbakti, sekaligus memilih jalan kematian. Karena itu, Ewan terpaksa mengabulkannya.Boom!Keduanya kembali bertarung.Masih dengan benturan tinju.Saat kedua tinju berbenturan, Ewan merasakan gelombang kekuatan ganas yang menghantam dan menekan kekuatannya.Tap! Tap! Tap!Ewan mundur lima langkah berturut-turut.Melihat Ewan bergerak mundur karena serangan Barry, para tokoh besar yang hadir langsung bersorak."Bagus!""Memang layak disebut Adipati Jawara!""Adipati Jawara, cepat bunuh dia!"Sebelumnya, Ewan telah membunuh beberapa orang di depan mereka sehingga membuat mereka sangat kesal. Hanya saja karena aura membunuh Ewan, mereka tidak berani bicara. Sekarang melihat Barry unggul, mereka semua berharap Ewan segera mati.Di sisi lain, Dika bertanya pada Widopo, "Kak, menurutmu siapa yang akan menang?""Aku nggak terlalu paham bela diri, sulit ditebak." Widopo lalu menambahkan, "Tapi aku percaya pada Ewan.""Aku juga percay
Barry berkata, "Musuhmu adalah Kota Terlarang dan aku adalah bagian dari Kota Terlarang."Ewan menggeleng, "Nggak. Di mataku, kamu adalah orang yang layak dihormati."Orang yang layak dihormati?Barry tersenyum.Senyumnya sangat tulus."Ewan, dengan kata-katamu ini, aku sangat senang. Tapi pertarungan antara kita malam ini nggak bisa dihindari. Aku mewakili Kota Terlarang. Aku akan bertarung dengan seluruh kemampuanku. Ewan, aku harap kamu juga melakukan hal yang sama."Boom!Begitu kata-kata Barry diucapkan, aura mengerikan meledak dari tubuhnya. Seketika, para tokoh besar yang hadir mundur puluhan meter.Dalam sekejap mata, di tengah lapangan hanya tersisa Barry dan Ewan. Keduanya saling berhadapan dari kejauhan."Barry, untuk apa kamu melakukan ini?" Ewan menghela napas.Barry mulai tidak sabar, "Nggak perlu banyak bicara, serang!"Ewan tetap berdiri di tempat tanpa bergerak. "Kalau kamu nggak menyerang, aku yang akan mulai."Raaar!Barry mengaum keras, wajah tampannya dipenuhi sema
Barry menggeleng, "Guru salah paham.""Aku nggak akan pernah melupakan jasa Guru yang telah membesarkanku. Seberani apa pun aku, aku nggak akan berani membunuh Guru. Hanya saja, aku nggak ingin lagi menjadi bidakmu.""Guru membesarkanku hanya untuk menggunakan tanganku mengendalikan jutaan pasukan di wilayah utara. Saat Guru membutuhkan, hanya dengan satu perintah, aku akan memimpin pasukan untuk mengorbankan diri sampai mati.""Tapi Guru lupa, pasukan wilayah utara adalah milik negara. Semua kehormatanku diberikan oleh Pak Travis. Kalau aku setia padamu, itu berarti mengkhianati negara dan juga akan menyeret jutaan prajurit ke dalam kehancuran."Mendengar ucapannya, Travis menatap Barry dalam-dalam. Di dalam hatinya muncul sedikit rasa lega. Walaupun Barry adalah murid Manggala, dia tidak melupakan tanggung jawab dan misinya.Mahendra mendengus, "Barry, dari kata-katamu, apakah kamu ingin mengkhianati kakakku? Jangan lupa, kalau bukan karena kakakku, apa kamu bisa menjadi dewa perang
Tiba-tiba, hati Ewan bergetar.'Karena Barry adalah murid Manggala, lalu untuk apa dia datang ke ibu kota saat ini? Untuk membunuhku? Kalau benar begitu, lalu jutaan pasukan yang berada di bawah komando Barry sekarang sedang lagi ngapain?'Selain itu, Barry bisa masuk ke militer dan menguasai wilayah utara, apakah itu juga atas perintah Kota Terlarang? Kalau benar, lalu apa rencana mereka?Di benak Ewan muncul satu kata.Pemberontakan!"Tidak, tidak mungkin. Zaman sekarang sudah berbeda dengan masa lalu. Walaupun Kota Terlarang menguasai jutaan pasukan di utara melalui Barry, mereka tetap tidak mungkin memberontak. Kalau benar melakukan itu, sama saja menggali kubur sendiri.""Dalam sistem sekarang, tidak mungkin satu kekuatan menguasai seluruh negeri. Lalu, apa sebenarnya yang diinginkan mereka?"Tiba-tiba, sebuah pemikiran melintas di benak Ewan. Mengendalikan Kaisar untuk memerintah para penguasa!Kota Terlarang ingin menguasai jutaan pasukan di utara dan kekuatan mereka sendiri, la







