Share

Bab 25

Author: Rexa Pariaman
Henry membalas, "Aku sudah mengutus orang ke padang pasir. Bisa atau nggaknya Buddha Hidup ditemukan, kami hanya bisa berserah pada takdir."

"Kurasa sebaiknya kalian jangan menggantung harapan hanya pada satu orang," ujar Ewan.

"Apa maksudmu?" tanya Henry.

Ewan menjelaskan, "Buddha Hidup sedang mencari pencerahan di padang pasir. Siapa yang bisa menjamin kalian akan menemukannya? Aku rasa sebaiknya kalian meminta tolong pada Akademi Bayanaka atau Akademi Nagendra."

"Lupakan saja, nggak ada harapan pada kedua tempat ini. Kepala Akademi Bayanaka dan Kepala Akademi Nagendra sedang mengisolasi diri dan berlatih secara intensif. Mereka nggak akan menemui siapa pun. Jangankan Raja Naga, kalaupun Adipati Jawara yang pergi, dia juga nggak bisa menemui mereka," ucap Henry.

"Betul juga, kenapa kalian nggak coba minta tolong pada si Adipati Jawara?" Ewan berkata, "Barry adalah peringkat pertama di Daftar Naga, jadi dia lebih kuat dari Kepala Akademi Bayanaka dan Kepala Akademi Nagendra. Dia pasti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Darwin Siahaan
lanjut buka min.
goodnovel comment avatar
Enny Ardyastuti
ceritanya seru dan mau endingnya seperti apa ............
goodnovel comment avatar
PatNoz Aja
ayo Ewan... semangat belajar mulai dr skrg
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1366

    Ekspresi Dharmadaya sedikit berubah.'Ternyata benar, pendatang ini datang dengan niat jahat! Hanya saja, dari mana Marwanto mengetahui bahwa Ewan adalah putra Ega?'"Amitabha!" Dharmadaya berkata, "Tuan Marwanto, bertahun-tahun lalu ketika Manggala datang ke Kuil Naga Langit, dia pernah membuat perjanjian dengan guru kami. Kota Terlarang dan Kuil Naga Langit tidak akan saling menyerang. Apa Tuan Marwanto berniat mengingkari perjanjian itu?""Kalau memang perjanjian itu dilanggar, kamulah yang melanggarnya lebih dulu. Belum lama ini, kamu menyerang para saudaraku di kediaman Keluarga Polin di ibu kota. Akibatnya, Makuta tewas di tangan Dika. Hal ini nggak bisa kamu sangkal, bukan?""Demi menghormati kalian sebagai kaum pertapa, aku nggak akan mempersulit kalian. Segera serahkan putra Ega kepadaku," bentak Marwanto dengan dingin."Tuan Marwanto, nasib Tuan Ega sudah 20 tahun tidak diketahui. Bagaimana aku bisa tahu bahwa dia masih punya seorang putra?" tanya Dharmadaya dengan berpura-pu

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1365

    "Sulit dipastikan," ujar Master Hampa dengan wajah serius. "Tiga pedang pertama dari Pedang Enam Nadi sama sekali berbeda dengan tiga pedang terakhir.""Aku sudah memahami jurus pedang ketiga sejak bertahun-tahun lalu, tetapi sampai sekarang pun belum menyentuh ambang pintu jurus pedang keempat.""Bakat bela diri Ewan sangat luar biasa. Dia seharusnya bisa memahami pedang keempat, hanya saja tidak diketahui berapa lama waktu yang dia perlukan.""Aku berharap Ewan bisa lebih cepat.""Dengan begitu, mungkin sebelum meninggal, aku masih sempat menyaksikan Pedang Enam Nadi yang lengkap."'Ewan, cepatlah sedikit! Ciptakan satu keajaiban lagi, buat Guru juga merasa terkejut,' Dharmadaya berdoa dalam hati.Namun, keajaiban yang dia nantikan tidak terjadi. Setelah Ewan memasuki lantai keempat Menara Pencerahan, tak kunjung ada pergerakan apa pun. Master Hampa dan Dharmadaya akhirnya duduk bersila di tanah, memejamkan mata untuk bermeditasi.Dalam sekejap, satu malam pun berlalu.Keesokan harin

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1364

    Ucapan Dharmadaya tiba-tiba terhenti. Senyumnya mendadak kaku. Dia hanya merasa ... wajahnya terasa perih.Master Hampa juga agak terkejut. "Nggak kusangka, Ewan bisa begitu cepat memahami jurus pedang kedua. Bakat bela dirinya sungguh menakjubkan.""Ewan benar-benar ...."Dharmadaya awalnya ingin mengatakan bahwa Ewan benar-benar menyimpang, tetapi mengingat dirinya adalah orang Buddhis, kata itu terdengar terlalu kasar. Akhirnya dia mengganti ucapannya."Ewan benar-benar seorang monster.""Memang monster." Master Hampa mengangguk. "Sepertinya Ewan memang berjodoh dengan Pedang Enam Nadi milik kuil ini. Ngomong-ngomong, Dharmadaya, sudah berapa tahun kamu berlatih Pedang Enam Nadi?"'Guru, kenapa kamu malah memulai topik yang menyakitkan? Ewan baru saja mempermalukanku, sekarang kamu malah menusukku sekali lagi?'Dharmadaya tidak berani mengelak dan menjawab dengan jujur, "Aku sudah berlatih selama lebih dari 30 tahun.""Tiga puluh tahun untuk memahami satu jurus pedang, bakatmu masih

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1363

    "Di mana Ewan sekarang?" tanya Marwanto."Di Kuil Naga Langit, Dadaru," jawab Mariadi. "Bocah itu pergi menghadap Master Hampa."Magana ikut berkata, "Kak Marsudi meninggalkan ibu kota memang untuk pergi ke Dadaru membunuh Ewan. Nggak disangka, dia bahkan belum sempat keluar dari ibu kota, sudah ....""Apa pun alasannya, Marsudi mati karena Ewan. Masalah ini pasti nggak lepas dari dia. Aku akan segera pergi ke Dadaru dan menghabisi bocah itu," ujar Marwanto.Marwanto mengulurkan tangan untuk menutup kelopak mata Marsudi dengan lembut, lalu berdiri dan berkata, "Sudah lama aku nggak bertemu dengan si tua bangka itu. Kalau bisa sekalian membunuhnya, akan lebih baik.""Kak, pembunuh Kak Marsudi belum ditemukan. Kalau kamu meninggalkan ibu kota sekarang, apa nggak berbahaya?" Magana tampak khawatir.Mariadi berkata, "Kak Marwanto, bagaimana kalau aku dan Magana ikut menemanimu?""Nggak perlu," jawab Marwanto. "Kak Manggala dan yang lainnya belum keluar dari pertapaan. Kota Terlarang masih

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1362

    Magana tampak seperti sedang menghadapi musuh besar.Pada saat bersamaan, seluruh tubuh Mariadi menegang dan wajahnya berubah sangat serius. Dari tekanan aura yang sekuat itu, dia menyadari bahwa di luar sana telah datang seorang ahli.Namun sebagai orang dari Kota Terlarang, mereka tidak boleh tunduk meski mengetahui bahwa musuhnya sangat tangguh. Sebab, hal ini menyangkut harga diri Kota Terlarang."Siapa yang berani bertindak lancang di Kota Terlarang?"Mariadi membanting meja dan berdiri, tubuhnya pun memancarkan tekanan aura yang sama besarnya. Magana juga berdiri dan mengepalkan kedua tinjunya. Sorot matanya yang tajam menatap ke arah pintu.Tak lama kemudian, sesosok bayangan muncul di luar pintu aula pertemuan.Orang itu memiliki tinggi sekitar 150 cm, berwajah bulat, agak gemuk, mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, dan janggut putih di dagunya hampir menjuntai sampai ke dada."Marwanto!"Mariadi dan Magana sama-sama terkejut. Merek

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1361

    "Aku baru saja cari tahu. Biksu tua dari Kuil Naga Langit itu tidak meninggalkan Dadaru. Barry juga sedang berada di wilayah utara. Sekarang hanya tersisa tiga orang yang patut dicurigai.""Yang pertama adalah Dika.""Tapi aku sudah memeriksa luka di tubuh Kak Marsudi. Dia tewas akibat dihantam tinju secara langsung. Pertarungan antara mereka berlangsung sangat singkat, sepertinya hanya tiga sampai lima menit.""Aku tahu betul kemampuan Dika. Dengan kekuatannya, dia nggak mungkin bisa membunuh Kak Marsudi, apalagi dalam waktu sesingkat itu. Terlebih lagi, saat ini dia sedang berada di luar negeri mendampingi kepala negara.""Yang kedua adalah pengawal tua di sisi lelaki tua Keluarga Polin, yaitu Rindra.""Rindra sangat kuat, bahkan mungkin berada di atas Dika. Aku sudah menelepon untuk memastikan. Rindra sedang menemani Zafran ke Beidaihe untuk pemulihan kesehatan. Saat ini, dia dan Zafran sama-sama berada di Bedali.""Jadi, Rindra juga bisa kita coret."Magana bertanya, "Kalau begitu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status