LOGIN"Aku tahu sekarang. Darah itu sedang mengubah fisiknya."Hati Ewan terkejut. "Sebenarnya darah apa yang ada di dalam kolam ini? Kenapa begitu kuat?"Dia kembali melirik Dewi Kembang.Saat ini, wajah cantik Dewi Kembang sudah pucat pasi. Dia bahkan hampir pingsan karena rasa sakit, tetapi dia tetap bertahan dengan tekad yang kuat."Tuan Ewan, cepat cari cara untuk menolong Ketua!" pinta Midori sambil menangis."Jangan khawatir. Dia menderita karena darah di dalam kolam sedang mengubah fisiknya. Asalkan bisa bertahan, dia akan mendapat keuntungan besar," sahut Ewan.Nazar ikut berkata, "Bocah, apa Dewi Kembang bisa bertahan?""Dia pasti bisa." Suara Ewan terdengar tegas dan penuh keyakinan.Saat ini, Ewan kembali menyadari bahwa daging di kaki Dewi Kembang mulai tumbuh kembali. Dia pun menghela napas lega.Selanjutnya, empat jam berlalu. Akhirnya, seluruh daging Dewi Kembang yang sudah meleleh tumbuh kembali. Bahkan seluruh tulangnya berubah menjadi merah menyala.'Sepertinya sebentar la
Ewan dan Dewi Kembang terkejut. Mereka buru-buru melihat ke depan dan melihat Midori terpental.Wuss! Ewan segera memelesat maju dan menangkap Midori sehingga tubuh gadis itu tidak sampai jatuh ke tanah.Midori berbaring dalam pelukan Ewan. Aroma maskulin yang kuat memenuhi hidungnya. Seketika, Midori mabuk kepayang dan sangat menikmati perasaan itu."Kamu nggak apa-apa?" Ewan menurunkan Midori dan membantunya berdiri dengan tegak."Nggak apa-apa." Midori sedikit kecewa. Padahal, dia masih ingin bersandar lebih lama ...."Sepertinya Nona Midori juga nggak berjodoh dengan warisan ini," kata Nazar.Ewan memandang Dewi Kembang dan berkata dengan lembut, "Vira, bagaimana kalau kamu coba?"Dewi Kembang menggeleng dan menyahut, "Kalian saja nggak bisa. Aku pasti juga nggak bisa.""Kalau belum dicoba, dari mana kamu tahu nggak bisa?""Coba saja dulu. Kalau nggak berhasil, kita pikirkan cara lain. Ayo Vira."Setelah mendengar perkataan itu, wajah cantik Dewi Kembang langsung memerah.Sementara
Ewan menatap cahaya putih itu selama beberapa saat dan berkata, "Mungkin pemilik makam sengaja membuat semua ini untuk mencari orang yang berjodoh dengan warisannya."Setelah Ewan selesai berbicara, delapan kata muncul di atas cahaya putih itu.[ Warisan agung diberikan kepada orang yang berjodoh dengannya! ]Orang yang berjodoh? Berjodoh dengan nenek moyangmu! Melihat tulisan itu, Nazar mencibir dan berkata, "Sudah mati pun masih mempermasalahkan jodoh. Manja sekali."Ewan menghela napas dalam hati. Dilihat dari kalimat yang ditinggalkan oleh ahli tingkat mahasuci itu, sepertinya dirinya dan Nazar memang tidak berjodoh dengan warisan agung ini."Midori, kamu coba," kata Ewan.Midori sudah mendapatkan Busur Pembunuh Dewa. Jelas bahwa dirinya berjodoh dengan makam ini. Jadi, Ewan ingin melihat apakah Midori bisa mendapatkan warisan agung itu."Tuan Ewan, apa aku bisa?" tanya Midori dengan agak gugup."Kamu harus percaya pada dirimu sendiri." Ewan menyemangati Midori. "Kamu sudah mendapa
Dua kata "Warisan Agung" di antara alis patung batu itu berkilauan terang dan begitu menyilaukan."Sudah kuduga. Asalkan kita berhasil menghancurkan formasi besar tadi, pasti akan ada keuntungan besar."Setelah berkata demikian, Nazar segera berlari menuju patung batu, berniat merebut warisan agung.Namun tepat pada saat itu, patung batu itu tiba-tiba bergetar hebat. Sesaat kemudian, sebuah kolam berbentuk persegi muncul dari dalam tanah di depan patung batu.Nazar segera menghentikan langkahnya dan melihat ke dalam kolam. Kolam itu panjangnya sekitar empat meter dan lebarnya sekitar tiga meter. Di dalamnya penuh dengan cairan hitam pekat, seperti tinta yang kental."Apa ini?" Saat Nazar masih kebingungan, cairan hitam di dalam kolam tiba-tiba bergolak, seperti air yang sedang mendidih.Seketika, aroma darah yang sangat pekat tercium dari dalam kolam hingga membuat orang merasa mual."Darah?" Nazar tercengang. Dia melirik patung batu itu. Tangan yang sedang menunjuk ternyata tepat meng
Ewan tiba-tiba teringat warisan dari leluhur Keluarga Aditya. Di dalamnya juga tercatat cukup banyak formasi. Dia segera memeriksanya, tetapi mendapati bahwa tidak ada satu pun formasi di warisan itu yang mirip dengan formasi di hadapannya."Jangan-jangan, kita harus mengandalkan keberuntungan lagi?"Setelah Ewan berpikir begitu, Nazar berkata, "Biar aku coba."Setelah berkata demikian, Nazar maju beberapa langkah, lalu mengibaskan tangan kanannya.Syut! Syut! Syut! Sepuluh lembar jimat terbang keluar dari lengan jubahnya. Nazar kemudian membentuk segel dengan kedua tangannya dan berteriak, "Emas, kayu, air, api, tanah, bumi, petir, angin, air ...."Bam! Sepuluh lembar jimat itu memancarkan cahaya pekat dan menyebar ke segala arah dengan cepat."Formasi apa pun pasti memiliki jalan keluar. Asalkan kita menemukan jalan keluarnya, kita bisa pergi dari sini."Setelah Nazar mengatakannya, semua orang langsung mengerti. Tujuan sepuluh lembar jimat itu dilemparkan adalah untuk mencari jalan
"Senjata ilahi tertinggi? Layak untuk memilikinya? Kepalamu!" Lubang hidung Nazar sampai mengembang karena marah. Dia langsung melemparkan batu bata itu.Bam! Batu bata itu menghantam tanah hingga meninggalkan lubang besar. Kekuatannya tidak kalah dari ledakan sebuah granat. Padahal, Nazar sama sekali belum menggunakan energi murni."Eh?" Nazar berseru heran, lalu seketika dipenuhi kegembiraan. Dia langsung menghambur untuk mengambil kembali batu bata itu. Dia berkata sambil memegangnya dengan rasa sayang, "Ternyata benar-benar harta karun."Ewan dan yang lainnya juga merasa terkejut. Mereka tidak menyangka batu bata sekecil itu ternyata memiliki kekuatan yang begitu luar biasa."Tua Bangka, selamat ya. Akhirnya kamu dapat harta karun," kata Ewan.Nazar menyeringai dan berkata, "Mulai sekarang, siapa pun yang berani macam-macam denganku, akan kuhajar dengan batu bata ini."Dewi Kembang dan Midori menutup mulut sambil tertawa kecil."Di sini pasti masih ada harta karun lainnya. Ayo, kit







