LOGINTandi berjalan ke samping Ewan dan bertanya, "Gimana caranya kita menangani darah manusia di dalam tujuh peti mati itu?"Darah manusia itu mengandung racun mayat. Jika tidak ditangani, akibatnya akan sangat berbahaya di kemudian hari."Tua Bangka, kamu bisa menanganinya, 'kan?" tanya Ewan.Nazar berkata, "Jumlah darahnya terlalu banyak. Sangat sulit untuk sepenuhnya menghilangkan racun mayat di dalamnya."Hati Ewan langsung mencelos.Namun, Nazar tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Bagi orang lain mungkin sulit, tapi aku ini pemimpin Akademi Nagendra. Menangani racun mayat seperti ini cuma perkara sepele bagiku."'Sial, kalau nggak pamer bisa mati ya?' maki Ewan dalam hati."Racun mayatnya kuserahkan padamu." Ewan melotot ke arah Nazar, lalu berjalan ke arah utara."Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Nazar.Ewan tidak menjawab. Dia berjalan ke depan sejauh 60 langkah, lalu menunduk menatap tanah beberapa saat.Dua menit kemudian, Ewan menggunakan sebatang ranting untuk mengga
Felix agak ragu-ragu. "Apa boleh begitu?"Ewan berkata, "Kalau aku bilang boleh, berarti boleh."Melihat Ewan begitu terus terang, Felix tersenyum tipis, lalu bertanya, "Ewan, apa yang perlu kami lakukan? Kamu tinggal beri perintah saja, kami pasti akan menyelesaikannya dengan baik.""Terima kasih." Ewan mengucapkan terima kasih, lalu menginstruksi, "Kapten, tolong bagi kompi kalian menjadi tujuh regu.""Oke!" Felix mengikuti perintah Ewan dan membagi kompi itu menjadi tujuh regu.Ewan menunjuk tujuh pohon pinus, lalu berkata, "Atur tujuh regu itu untuk menggali mengikuti akar tujuh pohon pinus ini terus ke bawah. Ingat, jangan sampai merusak pohon pinus.""Siap!" Felix segera memimpin para prajurit Kompi Macan untuk mulai menggali.Alasan Ewan mengingatkan Felix agar tidak merusak pohon pinus adalah karena jika pohon pinus rusak, darah di dalamnya akan langsung mengalir keluar semuanya. Jika itu terjadi, proses penggalian akan sangat terpengaruh.Penjaga gunung mendekat ke depan Ewan
Setelah Ewan membuka mata batin, pandangannya tertuju ke bawah tanah sedalam 20 meter.Melihat ekspresi Ewan sangat serius, Nazar bertanya, "Ada apa?"Ewan berkata, "Kamu tunggu saja. Setelah makam ini digali, kamu pasti akan sangat terkejut."Setelah berkata demikian, Ewan berjalan ke depan Tandi dan memerintahkan, "Tandi, cari lebih banyak orang untuk membantu menggali makam.""Kalau ingin benar-benar mengatasi racun mayat, hanya ada satu cara, yaitu menggali makam ini.""Oh ya, suruh semua orang siapkan pakaian pelindung dan masker gas, supaya nggak kena racun mayat.""Baik." Tandi menjawab, lalu segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon.Telepon pun ditutup. Tandi berkata, "Aku sudah beri tahu pasukan yang ditempatkan di Gunung Chabari. Mereka akan mengirim satu kompi untuk membantu. Kira-kira butuh setengah jam untuk sampai di sini. Nggak masalah, 'kan?""Nggak masalah. Kita gali makamnya setelah mereka tiba," sahut Ewan.Saat menunggu, Tandi bertanya, "Ewan, apa yang kalian tem
"Kamu paham apa?" tanya Ewan.Nazar berkata, "Seperti yang kukatakan sebelumnya, di sini ada sebuah makam besar.""Biasanya, tempat yang ada makam besar adalah lokasi fengsui yang berharga. Sebelumnya aku mengamati, bentuk pegunungan di sini sesuai dengan karakteristik fengsui yang bagus, hanya saja aku nggak melihat sumber air.""Seperti kata orang, harus menyimpan angin dan menampung air. Sebelumnya aku masih bertanya-tanya, kenapa di sini nggak ada sumber air, sekarang aku sepenuhnya mengerti.""Pemilik makam ini memanfaatkan darah manusia sebagai sumber air. Kalau tebakanku nggak salah, enam pohon pinus lainnya juga penuh darah manusia."Ewan terkejut, segera menggunakan mata batinnya untuk melihat enam pohon pinus lainnya. Ternyata, enam pohon pinus lainnya juga penuh darah manusia. Tampaknya, tidak lama lagi darah segar akan mengalir keluar dari pohon-pohon itu.Tujuh pohon pinus berusia ratusan tahun, semuanya dipenuhi darah di dalamnya. Berapa banyak orang yang harus mati untuk
Penjaga gunung melihat Ewan melangkah menuju pohon pinus yang mengeluarkan darah. Wajahnya berubah pucat ketakutan.Dia takut Ewan seperti keponakannya, begitu sampai di depan pohon, langsung roboh dan mati. Dengan cepat, dia memperingatkan, "Jangan pergi ke sana, pohon pinus itu sangat aneh."Namun, Ewan sama sekali tidak mendengarkan, tetap melangkah ke pohon pinus itu.Penjaga gunung khawatir Ewan celaka dan nanti Tandi akan marah padanya, jadi berkata kepada Nazar, "Master, cepat nasihati dia. Pohon pinus itu benar-benar aneh."Nazar mencebik. "Cuma pohon, apa yang perlu ditakuti?""Kalau terjadi sesuatu, jangan salahkan aku nggak memperingatkan." Meskipun berkata begitu, penjaga gunung terus menatap Ewan. Saat Ewan melangkah mendekati pohon pinus berdarah, jantung penjaga gunung seakan-akan terangkat ke tenggorokannya.Tak lama kemudian, adegan mengejutkan muncul. Begitu Ewan sampai di depan pohon pinus, dia tidak roboh atau mati. Bahkan, dia mengulurkan jarinya dan menyentuh poho
Nazar bertanya dengan ragu, "Keponakanmu sudah mati, kenapa kamu melapor? Kamu bisa saja buat alasan, mengadakan pemakaman untuk keponakanmu, menguburnya, jadi nggak ada yang tahu penyebab kematiannya."Penjaga gunung menggelengkan, berkata, "Di desa ada aturan. Siapa pun warga desa yang meninggal secara nggak wajar harus dilaporkan, lalu pihak berwenang akan mengirim dokter forensik untuk memeriksa jenazah.""Kalau aku bohong, begitu dokter forensik datang, pasti ketahuan aku bermasalah. Lagi pula, nggak ada yang tahu keponakanku mati karena ingin mencuri makam. Aku berkata jujur, nanti saat ditanya nggak akan ada celah.""Mengenai masuk wilayah terlarang tanpa izin, aku sudah menyiapkan alasan, yaitu menduga ada pemburu ilegal di dalamnya.""Dengan begitu, aku nggak perlu menutupi kebohongan, pihak atas nggak akan curiga. Paling banter, aku dipecat dari tim patroli. Ini masih lebih baik daripada masuk penjara!"Penjaga gunung menatap Ewan dan berkata, "Semuanya sudah kuceritakan, sek
"Aku akan cari orang buat hajar dia." Letty mengeluarkan ponselnya, bersiap untuk menelepon. Namun pada saat itu, sebuah Audi A6 dengan pelat nomor khusus berhenti di depan pintu hotel.Tak lama kemudian, Ridho yang mengenakan kemeja putih turun dari mobil."Nggak usah cari lagi, yang bakal hajar di
"Omong kosong." Satria tersenyum dengan kesal. "Aku susah payah mendirikan Organisasi Draken. Selama aku nggak mati, mana mungkin aku membiarkanmu menjadi pemimpinnya."Ewan tertawa, lalu menerima token pemimpin itu."Baiklah, sekarang bantu aku obati lukaku." Satria duduk di sofa. Ewan mengangguk,
"Nggak apa-apa, lain kali kalau bertemu lagi, baru kita bunuh dia," kata Ewan."Terpaksa begitu." Nazar menghela napas, lalu menoleh pada Kirin. "Orang-orang Organisasi Draken masih ada?"Kirin mengernyitkan alis. "Senior, apa maksudmu?""Maksudku, kalau Organisasi Draken kalian masih ada anggota la
Bercanda? Sialan! Orang tua ini benar-benar tak tahu malu!Wajah Kirin memucat karena marah. Orang tua ini bukan hanya salah perhitungan, tetapi juga menuduh dirinya bodoh. Dasar muka tembok!Kirin menahan amarah, berkata dengan kesal, "Senior, saat ini musuh mengelilingi kita. Kamu malah bercanda s







