Masuk(MASSIVE MATURE CONTENT AHEAD) 18+ 18+ Jamie Flock is not only controlling but also an unsupportive husband. He leaves Stella Graham to turn to her limited options in order to raise money for her sister’s surgery. Her job isn’t exactly something she’s proud of. But she has no other choices. Her life takes a turn when opportunity presents itself in the form of a rich, mysterious client. It would be the start of her promising career, a spicy journey of lust and romance and betrayals. From a strip club to the CEO’s lair filled with Sin, Seduction and Corporate games. “The Devil Wears A Suit, And A Smile”
Lihat lebih banyak"Kamu masih perawan. Siapa kamu sebenarnya?"
Tanya itu datang dari seorang lelaki yang menatap noktah merah yang tertinggal di atas seprai di atas ranjang miliknya, kedua matanya mengarah lurus pada seorang perempuan yang kini sedang meringkuk mencoba menutupi tubuhnya yang polos tak berlindung sehelai benang, Isabella Lara Gilbert.Lelaki itu Jest Alexander Suh. Mereka baru saja melakukan malam pertama setelah menjadi pasangan suami istri.Bukan dalam pernikahan baik-baik karena Lara ada di sini untuk menggantikan Nala, kembarannya yang kabur entah ke mana.Lara terpaksa menjadi mempelai pengganti bukan tanpa tujuan. Ini dia lakukan untuk membuat bisnis ayahnya yang sedang ada di ambang kebangkrutan bisa bertahan.Ayah Alex, yang merupakan sahabat ayahnya, mau menggelontorkan dana besar untuk membantu bisnis mereka tapi dengan satu syarat, agar mereka menjodohkan anak mereka.Melalui kesepakatan itu, mereka akhirnya menikahkan Nala dengan Alex.Tapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana!Nala yang semula setuju, mendadak hilang tak bisa ditemukan. Tak seorang pun tahu di mana dia berada. Ayahnya hampir terkena serangan jantung sampai Lara menyetujui untuk menikah dengan Alex.Lalu bagaimana sekarang?Mereka telah gagal mengelabui Alex. Lelaki itu tahu yang baru saja meghabiskan malam panas dengannya bukanlah Nala."Jawab aku! Kenapa kamu diam saja? Kamu tuli?"Lara kesakitan saat Alex meraih pergelangan tangannya dengan kuat seolah itu bisa meremukkan tangan kecilnya.Ucapan dan tindakannya sama-sama kasar. Tidak pernah Lara diperlakukan sekasar ini oleh seseorang.Jari telunjuk Alex sekali lagi mengarah pada darah yang ada di sana saat dia memperjelas yang sebelumnya dia katakan."Ini bukti kamu masih perawan. Kamu bukan Nala. Tidak mungkin perempuan panggilan sepertimu masih perawan."Alis tegasnya hampir bertaut saat dia memindai setiap sudut wajah Lara yang kebingungan.'Perempuan panggilan? Apa maksudnya?' Lara bertanya dalam hati. 'Perempuan panggilan' yang dikatakan olehnya persis seperti yang disampaikan oleh Alex sesaat sebelum dia membuat Lara tak berdaya.Tadi dia mengatakan, 'Akan aku cicipi tubuh yang kamu perjualbelikan di luar sana. Setidaknya aku telah membuat bisnis receh ayahmu bertahan.'"Siapa kamu?!"Suaranya kembali terdengar, membuat Lara tersentak karena dia baru saja tenggelam dalam banyak tanya yang tak menemui jawab."JAWAB!"Lara menepis tangan Alex sebelum lelaki ini semakin kasar."Apa maksud kamu? Aku Nala.""Pembohong!" sentak Alex penuh amarah."Jawaban apa yang kamu inginkan? Aku Nala! Harus berapa kali aku bilang?"Lara tidak akan mengambil resiko dengan mengatakan siapa dia sebenarnya. Melihat tempramen lelaki ini, dia bisa saja melakukan hal buruk. Tak seorang menjamin Alex tidak akan menyakiti Lara atau membiarkan keluarganya lolos begitu saja karena telah membohonginya.Lara ketakutan melihat mata sekelam malam itu. Mengoyak rasa percaya dirinya yang mencoba bertahan dengan jawaban yang sama."Aku Nala. Kenapa kamu berpikir aku orang lain?"Alex terdengar tertawa lirih, rambut hitamnya bergerak saat dia menggeleng dan turun dari tempat tidur sembari mengenakan pakaiannya."Kalau kamu tidak mau mengaku, aku akan cari tahu jawabannya sendiri. Asal tahu saja, aku sangat benci dengan orang-orang sepertimu atau keluargamu itu, yang melakukan segala cara agar tujuannya tercapai.""Kamu pikir aku mau menikah denganmu? Sama sekali tidak!" kata Lara dengan sisa-sisa keberanian yang ia punya.Alex hampir memungut kemeja yang ada di lantai tapi hal itu dia urungkan. Tangannya yang sudah menggantung nyaris menyentuh kain yang tergeletak sembarangan itu berubah arah menyentuh dagu Lara.Lara mencoba melepaskan tangannya tapi sayang dia kalah tenaga dari Alex."Kamu bilang kamu tidak mau menikah denganku? Kamu pikir kamu siapa yang beraninya bilang begitu? Apa di matamu aku ini lelaki yang mudah dikendalikan?"Iris gelap yang tadinya Lara jumpai di sepasang netranya telah berganti menjadi mata serigala. Membuat Lara merasa kecil, seperti seorang anak yang hilang di tengah hutan pohon ek.Tahu Lara telah menyinggung harga dirinya, apalagi dengan Alex yang mengira Lara adalah perempuan panggilan, Lara memutuskan untuk meralat ucapannya."Maaf, maksudku ... aku juga terpaksa melakukan pernikahan ini."Tubuh mungil Lara nyaris terhempas ke belakang saat Alex melepas tangan dari dagunya."Kamu bukan Nala, 'kan? Nala itu perempuan yang berpindah dari ranjang yang satu ke ranjang yang lainnya setiap malam. Jadi siapa yang dikirim oleh Roy untuk menikah denganku ini?"Punggungnya tegak, Lara bisa melihat tubuh bagian atasnya yang perlahan tertutup saat dia akhirnya mengambil kemejanya dan mengancingkannya dari bagian paling atas.Pikiran Lara terbagi antara keharusan menjawab Alex, dan ungkapannya yang mengatakan bahwa saudara kembarnya itu adalah seorang perempuan panggilan.'Sejak kapan Nala seperti itu? Apa kaburnya dia dari pernikahan karena ada hubungannya dengan itu? Apa papa tahu apa yang dia lakukan di luar sana?'Monolog terjadi tanpa henti dalam benaknya sampai bariton dingin Alex membuatnya tersadar."Nanti, kalau aku menemukan jawaban siapa kamu, akan aku buat orang yang mengirimmu ke sini itu sebagai orang pertama yang menerima akibat karena menipuku. Dan itu adalah Roy."Lara seketika menegang. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa ayahnya. "Jangan, jangan lakukan itu!" serunya memohon."Maka jawab aku dengan benar!"Lara menghela napasnya yang terasa berat. Mempertimbangkan ancaman Alex atas ayahnya, dia pun memutuskan untuk mengaku."Aku ... aku Lara. Nala itu kembaranku."Alex tersenyum sinis. Memiringkan kepalanya saat bertanya, "Kenapa kamu yang ada di sini?""Nala hilang sejak semalam, tidak bisa dihubungi dan tidak pulang sampai tadi pagi sebelum pernikahan. Kami tidak tahu dia pergi ke mana.""Jadi Roy mengirimmu ke sini karena wajah kalian sama?" Alex mendengkus."Iya." Lara menunduk, meremas jari-jari kecilnya yang berpangku di atas lutut."Kalian sekeluarga memang penipu. Sebegitu inginnya Roy mempertahankan bisnisnya sampai menyuruhmu untuk menggantikan Nala?""Kami tidak punya pilihan," Lara mencoba membela diri."Dan anak perempuannya yang bodoh ini menurut saja melakukan perintahnya? Sama saja! Senang karena berhasil menipuku?"Lara tidak menjawab. Air mata tertahan membingkai kedua netranya. Kakinya kebas, dia tidak ingin membiarkan Alex jenuh menunggu dan dengan suara yang gemetar menjawab,"Aku tidak bermaksud menipumu. Maafkan aku.""Memuakkan!"Alex berjalan mengitari tempat tidur untuk sampai di dekat Lara, meraih pergelangan tangannya sekali lagi, mencengkeramnya dan menarik Lara hingga dia turun dari ranjang."Sakit, Alex!"Alex mengabaikan Lara yang merintih kesakitan. Dia seret wanita itu dengan keadaan yang menyedihkan. Pakaian Lara dia tendang dengan kakinya lebih dulu sampai di ambang pintu.Alex membuka pintu kamarnya dan baru setelah itu dia mendorong Lara keluar dari kamarnya."Aku tidak akan menganggap pernikahan ini terjadi, Lara. Jangan berharap aku akan memperlakukanmu dengan baik atau bahkan menyebutmu sebagai istri. Keluar kamu dari kamarku!"STELLA I flop onto my frail bed, cringing as it groans underneath my weight. The mattress, its hard surface worn out due to years of use isn’t exactly suitable for my tired limbs but I know better than to complain. Staring at the peeling wallpaper on the ceiling, I drag a stretch so well, my aching muscles found some sort of relief. All of a sudden, the sky breaks loose. Thunder rolls in, shaking the thin walls as droplets of rain hammer the window. I guess that’s my cue to get settled into bed. I shred off my clothes and make my way to the bathroom. Steam still clings to my skin from my scalding shower as I emerge from the bathroom. I run a towel through my hair, drying as my other hand pushes down my bum shorts to cover my exposed butt. Then come the knocks. Light at first then frantic and impatient when I made no effort to get it. Thump. Thump. Thump. I crack my neck to the side and stare at the hands of the old clock hanging on the wall. It’s late. The neighborhood it
3RD PERSON’S POV Sandy and Stella stand there at the edge of the hill, staring at the horizon as the sky turns a bruised, ugly purple. The garden is deathly quiet. No birds. No insects. Just the wind whipping through the trees, sounding like a low, mournful whistle. Stella rubs her arms to warm herself up. The weather promises rain. Stella can feel Sandy’s irritation aimed at her head like a loaded gun. Uncle George’s voice still rings in her ears. He had basically kicked them out here to reflect on their actions. As if a walk in the grass could fix twenty years of lies. Stella just couldn’t hold in her anger. How could Sandy still maintain her bitchy attitude even after knowing all this. Stella keeps her gaze fixed on the fading light. Her heart is a mess. She isn’t sure if she’s sad or mad or confused. Stella feels Sandy’s hatred, yet underneath it, she feels a profound, stubborn forgiveness. It’s pathetic, she knows. But blood or not, Sandy is the girl Stella spent her
STELLA My first steps back into the home that betrayed me are a bit hesitant. And although the sun is shining brightly this morning, remnants of last night’s gloom overshadows the warmth. I silently creep inside, eyes glued on my phone screen. It flashes continuously with a caller ID I hate to say, feels estranged. There he stands, sighing and pacing back and forth with a worried look painted on his face. Over and over again, he dials my number, only to hear the same silence. Sandy, in the sofa, clad in a pink silky transparent cropped top and bum shorts, catches my eyes. She grinds her teeth, rolling her eyes at Jamie’s frantic movements. How does she not have any remorse after everything? She still thinks he’s better off with her? Well, good luck to the both of them. I tap on the door, earning a sharp turn of heads. Sandy’s surprises expression gives me a split second satisfaction but she quickly replaces that with a scowl. Jamie freezes, the air chills down as silence d
STELLAI stumble into the house at 3:00 AM. It’s dark and silence is eerie as expected of dawn. I wouldn’t expect active movement so early in the morning.I can’t quite put my finger on it but it is both comforting and unnerving. My head throbs and my blood is heated, being under the influence of alcohol. But the fire in my gut? That’s stone-cold sober.I don’t wait for the sun. I don’t ask for permission. I just clutch that manila envelope, wobbling further into the house. Why does the truth always feel like it's trying to snap your wrist?I march straight for the master bedroom. No breathing. Just motion. As I throw the door open, the wood cracks against the wall.I expected to find Jamie alone. Maybe nursing a drop of guilt. But no. Life doesn't work like that. I find the final nail in the coffin instead.They’re right there. In our bed.The sheets I picked out. The pillows where I whispered all those pathetic dreams. Sandy is tangled up in Jamie’s arms, their skin slick with swe
WARNING! SMUT AHEAD! The verdict has been delivered, though delayed. As Zane stands paralyzed by the door for a moment, his heart pounds with rage and disbelief. Couple’s business? He wants to laugh. What partner endangers the life of his significant other, not once or twice but many times? He tu
STELLA The day after we return to the hotel, would officially be my first day at work. We’re both expected to be at work and since we share the same room, we cross paths more often than we enjoyed. Worst, we separately call an Uber, and it’s a funny coincidence that it’s the same driver! Isn’t
“Do give me a kiss before you leave, hm?”, Luca grumbles into the pillow, his hand secured around my wrist. My feet hang mid air, as I was in the middle of making my little escape while he slept. I thought I could slip past his grasp but damn, he’s so sensitive to noise. In one tug, he pulls me
It takes me a second to get a hold of my thoughts and when I do, I’m grabbing his neck greedily to press my lips harder on his. His lips might bruise but I do not care. I have no restraints whatsoever. Anything I said before about trying to make it work between Jamie and I is instantly thrown out t
![SOLD TO BE THE BILLIONAIRES WIFE [ENGLISH]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.