Seribu orang pasukan perampok yang berpakaian serba hitam telah datang menyerang ke desa Tanjung Bambu yang berada tidak jauh dari pesisir pantai. Mereka datang lewat jalan laut dengan menggunakan kapal besar.
Setiap perampok itu menutupi wajahnya dengan cadar merah, memakai caping, dan mengenakan sabuk merah di pinggang sebagai tanda bahwa mereka adalah Gerombolan Kelabang Merah.
Gerombolan ini terkenal sebagai bajak laut ganas yang suka merampok di pulau-pulau kecil dan juga desa-desa di sekitar pantai. Mereka dipimpin oleh seorang penjahat yang bernama Aryajanggala.
Di dunia persilatan, Aryajanggala lebih dikenal sebagai Taring Beruang. Julukan itu menjadi lekat karena ciri khasnya yang suka mengenakan kalung dan juga gelang dari taring serta gigi-gigi hewan beruang. Dia sangat dipatuhi oleh para bawahannya.
Kedatangan pasukan perampok yang tiba-tiba di malam hari membuat warga jadi terkejut dan tidak siap. Mereka berpencar dan mendobrak setiap pintu rumah untuk merampas uang maupun juga barang-barang berharga.
Tak lupa pula mereka mendatangi gudang tempat penyimpanan beras milik warga desa, mengambil beberapa kambing ternak dari dalam kandang, dan membunuh siapa saja yang berani menghalangi mereka.
Bunyi kentongan pun terdengar keras sebagai penanda kalau keadaan saat ini genting, diiringi pula suara teriakan “Rampok! Rampok! Rampok!” memberitahukan kepada semua orang bahwa desa tengah diserang oleh penjahat.
Puluhan orang pemuda kemudian coba melakukan perlawanan. Mereka keluar dengan membawa senjata seperti golok, tombak, parang, celurit, dan bahkan pisau dapur untuk mempertahankan desa mereka.
Perkelahian pun terjadi di desa Tanjung Bambu pada malam itu. Bunyi benturan antar golok, celurit, dan senjata-senjata tajam lainnya terdengar berdengung sambung menyambung.
Para wanita berteriak nyaring sebab ketakutan. Anak-anak kecil menangis histeris melihat ayah dan ibu mereka mati dibunuh oleh penjahat. Suasana di malam itu benar-banar penuh dengan kehebohan! Tak ada satu pun orang yang tidak terbangun dari tidurnya.
“Habisi siapa saja yang berani melawan! Bunuh mereka semua!” ujar sang pimpinan perampok memerintahkan kepada para pasukannya.
Di sisi lain, saat keributan besar sedang terjadi di luar sana, Anindhita berusaha menenangkan anak bayinya yang menangis karena terbangun mendengar keributan. Wanita itu kebingungan apa yang harus dia lakukan.
Anindhita mengambil sebilah pedang dari bawah ranjang untuk berjaga-jaga. Dia merasa kalau tidak lama lagi gerombolan perampok mungkin akan mendobrak ke dalam rumahnya, karena dari rumah tetangganya sudah terdengar ada suara keributan, itu menandakan kalau para perampok telah masuk ke sana.
Keadaan terus bertambah makin genting, satu demi satu nyawa pun melayang dalam perkelahian antara para pemuda desa melawan sekolompok penjahat itu. Darah segar kini banyak berceceran membasahi rumput di jalan.
Taring Beruang dan gerombolan anak buahnya tidak pilih-pilih dalam membunuh. Baik itu orang yang sudah lanjut usia, perempuan, dan maupun anak kecil, semuanya akan jadi korban ketika para perampok ini sudah dirasuki iblis, mereka membabibuta dengan senjata tajam tanpa rasa belas kasihan.
Pada jarak yang masih agak jauh dari desa Tanjung Bambu, Jaka Purnama dan Jagat Pramudita dalam perjalanan pulang dari seusai pertemuan dengan Mpu Seta di dalam gua tadi.
Tiba-tiba Jaka Purnama menghentikan langkah kakinya dan berkata, “Sepertinya aku mendapat sebuah firasat yang tidak baik.”
Jagat Pramudita pun menoleh kepada temannya itu. “Firasat tidak baik? Firasat apa yang kaurasakan?”
Meski Jaka Purnama tidak bisa melihat langsung situasi yang sedang terjadi di desa Tanjung Bambu, tapi dia yakin akan kebenaran dari firasatnya itu.
“Sepertinya desa kita diserang oleh gerombolan perampok!” ujar Jaka Purnama.
Jagat Pramudita langusung terkejut mendengar hal itu. Dia lalu berkata, “Firasat adalah pesan dari Tuhan melalui bisikan batin. Aku percaya apa yang kaurasakan itu adalah benar, Jaka. Sebab entah kenapa, aku juga tiba-tiba merasa khawatir dengan keadaan di desa.”
“Kalau begitu, kita harus cepat-cepat pulang sekarang sebelum terlambat!” desak Jaka Purnama.
“Baiklah! Ayo!” Jagat Pramudita mengangguk.
Keduanya pun lalu melompat bersamaan dan melayang di udara dengan menggunakan ilmu peringan tubuh.
Posisi Jaka Purnama berasa di depan dan Jagat Pramudita mengikuti di belakangnya, mereka bergerak dengan sangat lincah, berpindah-pindah dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lain.
Sebagai dua orang pendekar yang ilmu kanuragan mereka telah matang, keduanya sama sekali tidak merasa kesulitan saat harus menembus pohon-pohon yang berdaun lebat walau hanya berlenterakan cahaya bulan purnama.
Sambil terus melompat dan berpindah dari satu dahan pohon ke dahan pohon yang lain, Jaka Purnama berkata kepada temannya tanpa menoleh ke belakang, “Hanya ada satu gerombolan perampok yang suka mengincar wilayah pedesaan di dekat pesisir pantai. Mereka pasti adalah Gerombolan Kelabang Merah yang diketuai oleh Aryajanggala, si Taring Beruang!”
“Siapa pun mereka, akan kutumpas sampai habis karena telah berani menyerang desa kita!” ujar Jagat Pramudita geram.
“Aku akan langsung menuju ke tepi pantai,” ucap Jaka Purnama. “Mereka pasti menambatkan kapal mereka di sana. Aku akan menghadang si Taring Beruang. Kau ikutlah membantu warga desa menghadapi anak-anak buahnya.”
“Baiklah, Jaka, tapi kau harus berhati-hati,” Jagat Pramudita mengingatkan. “Taring Beruang mungkin saja mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi.”
“Kau tenang saja. Aku akan berhati-hati,” jawab Jaka Purnama yakin. “Aku tidak akan membiarkan mereka dengan mudah bisa pergi begitu saja membawa harta yang mereka rampas.”
Jaka Purnama pun menambah kecepatan. Dia merentangkan kedua belah tangannya dan terbang lebih tinggi lagi, tubuhnya pun lalu melesat di udara bagaikan seekor burung rajawali.
“Gusti Patih,” pekik Senopati Taraka. Teriakannya itu membuat yang lain pun jadi ikut kaget.Semua mata pendekar kini tertuju pada Tubagus Dharmasuri. Sungguh tak diduga kalau orang sekuat dia ternyata juga bisa kalah. Padahal Tubagus Dharmasuri adalah yang paling sakti di antara yang lain. Dengan susah payah, Senopati Taraka pun cepat-cepat bangkit. Dia tergopoh-gopoh menghampiri sang patih yang tampaknya mengalami luka dalam.Sewaktu tadi Dewa Kalajengking menembakkan sinar merah dari telapak tangannya, Tubagus Dharmasuri adalah yang berada di posisi paling depan di antara para pendekar, maka wajarlah kalau dirinya yang paling kuat terkena terpaan energi penyihir itu.Sambil berusaha mengontrol nafas, Tubagus Dharmasuri mengangkat tangan kirinya, Senopati Taraka langsung tahu kalau patih itu minta dibantu untuk berdiri.“Bertahanlah, Gusti!” ucap Senopati Taraka seraya menaruh lengan Tubagus Dharmasuri di tengkuknya, dia pun menolongnya untuk bangun.Tubuh orang tua itu ternyata lu
Napas Patrioda berdengus bak banteng yang baru masuk ke dalam arena. Dia tak hirau lagi dengan apa pun di sekitarnya, sebab perhatiannya saat ini cuma tertuju pada satu titik, yaitu Dewa Kalajengking yang sebentar lagi akan dia terkam! Tanpa berkedip, Patrioda menatap sosok besar yang berdiri setinggi dua tombak itu. Dia rasa kalau dirinya harus berlari dan melonjak ke udara bila ingin mencakar tubuh Dewa Kalajengking dengan kukunya.Patrioda pun berseru, “Akan kuselesaikan semuanya sekarang! Terimalah ini, Jurus Cakar Naga Mencabik Gunung! Hiyaaa!”Bak Macan tutul yang kelaparan, Patrioda bergerak secepat angin. Dengan lonjakan kaki yang kuat di tanah, tubuhnya pun lalu membubung tinggi untuk menjangkau badan Dewa Kalajengking.Musuhnya itu sama sekali tak berkelit, Dewa Kalajengking malah membentangkan tangannya lebar-lebar, seolah mempersilahkan Patrioda yang hendak menyerangnya. Dengan bengis, kedua cakar Patrioda yang serupa bara api pun serta merta langsung mencarik kulit Dewa
Alindra dan Damayanti akhirnya kembali pulih setelah tadi terkena pukulan ekor dari Dewa Kalajengking. Semua pejuang kerajaan pun berkumpul di belakang Patrioda. Mereka masih belum mengambil tindakan, selain hanya jadi penonton untuk sementara waktu.Senopati Wibisana yang sebelumnya jauh tertinggal di belakang kini juga turut bergabung dengan yang lain. Melihat kondisi Alindra sudah dapat berdiri setelah diobati oleh Mpu Bhiantar, dia pun merasa lega, tapi walau demikian, dia tak ingin kalau Alindra sampai kenapa-napa lagi.“Sebaiknya kau jangan ikut bertarung dulu, Alindra. Sebab tenagamu pasti banyak terkuras setelah menggunakan Jurus Delapan Mahkota Teratai Jingga. Simpan dulu sisa kekuatanmu untuk pemulihan seutuhnya.”Kata-kata itu membuat Alindra tersipu malu. Pipinya pun tiba-tiba menjadi merah. Baru kali ini dia temukan kalau ada lelaki yang sangat perhatian pada dirinya. “Benar apa yang dikatakan oleh gusti senopati itu,” ujar Mpu Bhiantar menasehati Alindra. “Kalau kau mem
Mpu Bhiantar menyandarkan tubuh Alindra di bawah pohon. Dia berusaha menyalurkan energinya untuk mengobati murid dari adik seperguruannya itu.Patrioda yang melihat kalau Alindra dan Damayanti telah dikalahkan oleh Dewa Kalajengking rupanya jadi merasa penasaran, dia ingin pula untuk menguji kemampuannya sendiri, apakah dia sanggup bertarung melawan si penyihir itu.Dengan dada busung dan jiwa berani, Patrioda mendekati Dewa Kalajengking, terjadilah kemudian saling tatap di antara keduanya.Melihat muka Patrioda yang cacat akibat bekas cakaran Jimbalang Loreng, Dewa Kalajengking memandangnya sinis. Dia tak suka dengan ekspresi wajah yang Patrioda tunjukkan. Ditambah lagi gesture badan Patrioda juga memperlihatkan kalau dia ingin menantang.“Bocah ingusan. Lagakmu seperti orang yang bosan hidup. Kedua temanmu tadi telah remuk aku hajar. Sekarang apa dirimu juga ingin merasakannya?”Patrioda mengepalkan kedua belah tangan. Dengan sikap berdiri menyamping, dia mulai membuka kuda-kuda dan
Dewa Kalajengking melihat bahwa Mpu Bhiantar berusaha menolong Alindra, dia akan membawanya ke tepi agar segera diobati. Hal itu tentu saja tak akan dibiarkan oleh Dewa Kalajengking, maka dia pun lekas melompat dan hendak menyerang Mpu Bhiantar.“Jangan pikir kalian bisa lolos! Hiyaaat!”Dengan sangat jelas, Mpu Bhiantar melihat bahwa penyihir itu sedang menuju ke arahnya, bak kelelawar yang terbang di kegelapan, Dewa Kalajengking melayang tanpa menjejak tanah. Keadaan ini benar-benar bahaya sekali, Mpu Bhiantar pun memeluk pundak Alindra kuat-kuat dengan tangan kanannya, dia takut kalau Alindra sampai lepas darinya.Damayanti yang paham kalau Mpu Bhiantar dan Alindra saat ini tengah dalam bahaya langsung melakukan tindakan. Serta merta dia pun membidik si Dewa Kalajengking dari jarak jauh, lalu melepaskan tiga anak panah beracun.Meski dalam kesuraman hutan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan, tapi Dewa Kalajengking memang mempunyai insting yang tajam, dia dapat menyadari kalau a
Jatuhnya Nyai Jamanika ke dalam perut bumi disaksikan langsung oleh Dewa Kalajengking. Kini hanya tinggal dia sendirian saja yang masih bertahan. Tapi walau demikian, menaklukkannya tetap bukanlah hal yang mudah. Pertarungan itu belum selesai. Dewa Kalajengking sekarang melepaskan jubah hitam yang dari tadi dia kenakan. Dilemparnyalah jubah itu ke tanah hingga dirinya kini tak lagi mengenakan baju sama sekali.Semua orang bisa menyaksikan tubuh Dewa Kalajengking yang kurus dan pucat seperti mayat. Dia benar-benar terlihat menyeramkan. “Apa lagi yang hendak penyihir itu lakukan?” batin Tubagus Dharmasuri merasa aneh. Dia menduga kalau sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.Melihat sang patih dan Senopati Taraka yang masih belum selesai menghadapi lawan mereka, maka Mpu Bhiantar dan para pendekar yang lain pun segera ikut bergabung untuk membantu keduanya.Sekarang ada tujuh orang pendekar yang berdiri di hadapan Dewa Kalajengking, yaitu Tubagus Dharmasuri, Senopat