Beranda / Pendekar / 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT / Bab 3 : Ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan

Share

Bab 3 : Ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan

Penulis: Adil Perwira
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-03 23:11:34

Temaram cahaya bulan purnama membanjiri angkasa, sinarnya yang pucat menembus kegelepan dalam hutan.

Malam itu tak terlihat ada awan hitam yang mengawang di antara bintang-bintang, langit begitu cerah, dan suasana hening tanpa desau angin yang menggerakkan daun-daun di pohon.

Jauh di dalam hutan belantara yang tertutup oleh pepohonan dan semak belukar, ada sebuah gua yang bagian dalamnya diterangi cahaya obor, di tempat itu duduklah tiga orang lelaki untuk suatu perbincangan.

Yang pertama dan sekaligus yang paling tua bernama Datuk Bahuwirya, dia seorang pendekar linuih, terkenal dengan julukan sebagai Mpu Seta, karena kebiasannya yang suka mengenakan pakaian dari kain sutera putih.

Yang kedua seorang lelaki muda berbaju coklat dan berikat kepala hitam. Dia duduk sambil mengasuh sebilah pedang di atas pahanya. Namanya Jagat Pramudita. Lelaki muda ini merupakan anak tunggal Mpu Seta.

Adapun orang ketiga yang juga duduk di tempat itu ialah seorang pendekar yang gagah perkasa. Dia mengenakan pakaian dan ikat kepala yang serba berwarna biru. Namanya Jaka Purnama. Dia adalah sahabat dekat Jagat Pramudita dan sekaligus murid Mpu Seta.

“Ada perihal apa sehingga Ayah memanggil kami berdua untuk datang kemari?” tanya Jagat Pramudita.

Mpu Seta kemudian mengeluarkan sebuah gulungan lontar dari balik jubah yang ia kenakan. Dia meletakkan gulungan itu di hadapannya. Jagat Pramudita dan Jaka Purnama hanya diam saat melihat benda tersebut.

“Apa ini, Ayah?” Jagat Pramudita merasa penasaran.

Mpu Seta menarik nafas yang begitu dalam dan lalu menghembuskannya. Kemudian dia menjawab, “Ini adalah gulungan lontar yang berisi tentang ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan.”

Seketika itu Jagat Pramudita dan Jaka Purnama pun sontak terkejut. Karena nama ajian itu memang pernah mereka dengar.

“Maaf, Guru.” Jaka Purnama memberi hormat kepada Mpu Seta dengan menyatukan kedua telapak tangannya. “Bukankah ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan merupakan jurus terlarang yang telah menghebohkan dunia persilatan? Sudah banyak korban nyawa berjatuhan akibat ganasnya ajian tersebut!”

Mpu Seta menganggukkan dagu ketika mendengarnya. Dia menatap ke Jaka Purnama dan lalu berkata, “Jurus itu sebenarnya akulah yang menciptakan. Tetapi murid pertamaku yang bernama Argani Bhadrika telah menyalahgunakan ilmu tersebut. Kini nama ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan sudah membuat gempar di seantero dunia persilatan.”

Dua orang lelaki yang duduk di hadapan Mpu Seta itu saling menatap satu sama lain. Mereka terkejut setelah mengetahui hal tersebut. Sebelumnya Mpu Seta tidak pernah menceritakan hal ini pada mereka. 

Mpu Seta tidak heran melihat ekpresi wajah anak tunggal dan juga murdinya itu, dia bisa memakluminya.

Mpu Seta melanjutkan, “Argani membikin keonaran dan menebar kerusuhan dimana-mana. Semua itu dia lakukan hanya demi mencapai hasratnya untuk memiliki keempat senjata sakti yang bernama Empat Pusaka Penakluk Jagat. Konon siapa pun yang memilikinya akan dapat menguasai dunia persilatan.”

Jagat Pramudita dan Jaka Purnama mengangguk paham dengan apa yang Mpu Seta jelaskan itu. Belakangan ini kehebohan besar memang tengah melanda dunia persilatan. Banyak para pendekar yang mati di tangan seorang lelaki bertopeng pemilik ajian Tatapan Rawali Menembus Awan. Ternyata lelaki itu juga adalah murid Mpu Seta, namun dia telah murtad.

Jagat Pramudita berkata, “Ayah, menurut cerita yang aku dengar dari orang-orang, bahwa si penebar huru-hara itu selalu menutupi wajahnya dengan topeng kayu. Darimana ayah tahu bahwa itu adalah Argani Bhadrika, orang yang dahulu pernah menjadi murid Ayah?”

“Tentu saja aku sangat mengetahuinya,” tegas Mpu Seta. “Meski sudah tiga belas tahun lamanya aku menyendiri di dalam gua ini, jauh dari keramaian dunia, tetapi sahabatku yang bernama Janaloka masih sering datang berkunjung, dia menceritakan kepadaku tentang berbagai kejadian-kejadian di luar sana.”

“Tapi aku baru tahu kalau ayah punya murid yang bernama Argani Bhadrika. Sejak kapan itu, Ayah?” tanya Jagat Pramudita sambil mengerutkan alis. “Bahkan aku terkejut kalau ternyata ilmu terlarang itu Ayahlah yang sudah menciptakan.”

Mpu Seta tersenyum dan mengangguk-angguk. Dia bisa mengerti kalau anaknya itu sekarang kaget, sebab kejadian ini adalah peristiwa yang sudah sangat lama di masa lalu

Mpu Seta menjelaskan, “Ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan memang aku sendiri yang menciptakannya, dan ilmu tersebut belum pernah kuwariskan kepada seorang pun jua, kecuali hanya kepada murid pertamaku itu, yakni Argani Bhadrika. Saat dia belajar ilmu silat dariku, kau kala itu masih sangat kecil dan masih berada dalam ayunan, Jagat.”

“Maaf, Guru,” tukas Jaka Purnama. “Saat ini dimana-mana orang menilai bahwa ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan adalah ilmu terlarang, karena jurus itu sangat kejam dan berbahaya. Bahkan banyak para pendekar tua yang menyebutnya sebagai ilmu iblis.”

Mpu Seta menekan dadanya dengan telapak tangan dan terbatuk-batuk. Jagat Pramudita pun menuangkan air rebusan daun kopi ke dalam gelas dan lalu memberikannya kepada Mpu Seta.

“Minumlah dulu, Ayah,” kata Jagat Pramudita, seraya menyodorkan sebuah gelas.

Setelah orang tua itu minum beberapa tegukan, dia mengusap-usap dadanya sebentar, dan lalu mulai berbicara lagi.

“Kamu benar, Jaka Purnama,” Mpu Seta mengangguk. “Ilmu itu memang akan menjadi mengerikan apabila digunakan oleh orang yang jahat. Ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan hanya bisa dilawan dengan ajian yang sarupa, atau ajian yang lebih tiinggi dari itu, tidak banyak ilmu yang mungkin mampu menandinginya.”

Mpu Seta mengangkat gelasnya dan minum lagi air rebusan daun kopi beberapa tegukan. Kemudian dia lanjut berbicara. “Ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan terbagi jadi sembilan tingkatan. Jika orang yang mendalaminya telah sampai di tingkatan yang ketujuh, maka batinnya akan mengalami gejolak syahwat dan amarah yang berkobar-kobar. Dia harus mampu menjalaninya dengan penuh kesabaran hingga menyelesaikan sampai tingkat kesembilan.”

Alis Jaka Purnama terangkat sebelah. Dia tak bisa membayangkan betapa sulitnya untuk dapat menguasai ajian tersebut. “Sungguh ilmu yang sangat berat sekali. Tentu tidak sembarangan orang dapat menguasainya”

“Iya, sebab ini memang bukanlah ilmu kanuragan biasa. Dibutuhkan kegigihan dan juga ketabahan untuk mendalaminya,“ kata Mpu Seta kepada Jaka Purnama. Orang tua itu lalu melanjutkan lagi penjelasannya, “Tujuan akhir dari ajian ini adalah untuk mencapai moksa, yaitu kesucian jiwa. Dengan mencapai kesucian jiwa, maka terbukalah jalan untuk kembali kepada Tuhan. Itulah sebenarnya inti ajian tersebut.”

Jagat Pramudita dan Jaka Purnama takjub mendengarkan penjelasan Mpu Seta. Mereka sangat menyayangkan kalau ajian tersebut kini telah disalahgunakan untuk perbuatan jahat, sangat bertentangan dengan tujuan utamanya yaitu untuk mensucikan jiwa. 

“Argani Bhadrika hanya mampu menguasainya hingga tingkatan ketujuh,” kata Empu Seta. “Dia tidak mampu menahan gejolak nafsu sehingga akal dan hati nuraninya pun kalah. Apabila si penempuh ajian tersebut gagal pada tingkatan yang ketujuh, maka wajahnya akan berubah menjadi buruk rupa. Itu sebagai gambaran dari buruknya hati orang tersebut. Barangkali hal demikian sudah menimpa Arghani, itulah kenapa dia selalu menutupi wajahnya dengan topeng kayu.”

Jagat Pramudita lalu berucap, “Kalau satu orang Argani saja dengan ajian itu bisa menggemparkan dunia persilatan, bagaimana lagi jika seandainya gulungan lontar ini jatuh ke tangan para penjahat lain, tentu akan lebih banyak lagi bencana bermunculan.”

“Iya, tentu saja demikian,” angguk Jaka Purnama sependapat.

“Oleh sebab itulah aku memanggil kalian berdua datang kemari,” ujar Mpu Seta. “Ada tugas penting yang hendak aku berikan kepada kalian terkait dengan huru-hara yang sedang terjadi saat ini.”

Mpu Seta mengambil lagi gelasnya dan minum beberapa tegukan. Kemudian dia memandang kepada putranya. “Jagat Pramudita.”

“Iya, Ayah. Aku siap untuk menjalankan tugas apapun yang Ayah berikan padaku.” Jagat Pramudita menghaturkan hormat dengan menyatukan dua telapak tangan.

Mpu Seta pun memberinya sebuah amanah. “Aku tugaskan kamu untuk menyimpan dan menjaga gulungan lontar ini, Anakku. Jangan sampai jatuh ke tangan siapa pun.”

Dengan tegas putranya itu menjawab, “Aku bersumpah di hadapanmu, Ayah, bahwa aku akan menjaga benda ini walau harus nyawa yang jadi taruhan!” 

“Bagus, Anakku. Memang begitulah seyogyanya sifat seorang satria.” Mpu Seta merasa bangga.

Orang tua itu kemudian menoleh kepada Jaka Purnama, dia juga akan memberinya sebuah tugas.

“Jaka Purnama, pergilah ke Lembah Cendana di kaki gunung Bhanurasmi. Carilah orang yang bernama Ki Nawasena, dia adalah kakak seperguruanku. Mintalah bimbingannya untuk meningkatkan ajian Tenaga Dalam Inti Indurashmi. Sebab Tenaga Dalam Inti Indurashmi yang kuturunkan padamu masih belum sempurna. Hanya Ki Nawasena satu-satunya orang yang memahami ilmu itu melebihi aku. Jika ilmu tersebut berhasil kau sempurnakan, aku yakin dengannya akan dapat mengalahkan Argani Bhadrika.”

Jaka Purnama memberi hormat dengan menyatukan telapak tangan. “Baiklah, Guru, aku akan segera mencari tempat itu dan menemui orang yang Guru maksud.”

Tangan kanan Mpu Seta lalu menjangkau ke belakang, tampaknya dia sedang mengambil sesuatu. Ternyata dia mengeluarkan jubah sutera putih yang kerap dia kenakan sewaktu muda dulu.

“Jaka Purnama, ambillah jubah sutera putih ini,” ucap Empu Seta, seraya menyodorkan jubah itu ke anak muridnya tersebut. Jaka Purnama pun meraihnya dengan dua tangan.

Mpu Seta lau tersenyum menatap wajah Jaka Purnama. “Pakailah olehmu jubah itu, dengan demikian, Ki Nawasena akan percaya bahwa kau benar-benar adalah muridku yang aku utus.”

Jaka Purnama memperhatikan pada jubah sutera di tangannya itu. Dia merasa pakaian ini terlalu agung untuk dia kenakan, tapi ini adalah perintah gurunya, dan dia tahu kalau Mpu Seta paling tidak suka jika perintahnya tidak dipatuhi.

Mpu Seta sekarang duduk dengan lebih santai, dia menegakkan lututnya yang sebelah kiri dan memeluknya dengan kedua tangan. Sambil menatap ke langit-langit gua yang tersinari cahaya obor, dia mulai merenung. 

“Seharusnya masalah ini aku sendirilah yang turun tangan menyelesaikannya. Namun aku sudah bersumpah untuk tidak lagi ikut campur di dunia persilatan yang penuh dengan pertumpahan darah dan memutuskan menjadi seorang petapa hingga akhir hayatku.”

“Sudahlah, Ayah, tidak ada yang perlu disesalkan,” ucap Jagat Pramudita menenangkan batin ayahnya. “Dunia persilatan memang sedari dulu selalu ricuh dengan permusuhan antar para pendekar, saling bunuh, dan bahkan menjadi tempat untuk beradu kesombongan. Sebagai seorang resi yang telah mencapai kewaskitaan, Ayah tidak patut lagi berbaur dalam dunia yang demikian.”

Mpu Seta menganggukkan dagu. Dia sadar bahwa apa yang dikatakan putranya itu memang benar. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 151 : Jurus Sayap Elang Menggulung Matahari

    Setelah kematian Mpu Seta, tak ada lagi satu pun manusia yang pernah mempelajari ilmu Tatapan Rajawali Menembus Awan selain Argani. Saking berbahayanya ajian itu, sampai-sampai para tetua dunia persilatan menamainya ajian terlarang.Namun hari ini, Keangkuhan si pemimpin Persaudaraan Iblis akhirnya dipatahkan. Ada seorang pemuda yang menurutnya masih anak kemarin sore, tapi rupanya mampu menguasai ilmu itu melebihi dirinya.Beberapa saat, banjir cahaya terang menelan seluruh langit, meluas hingga ke punjuru Timur dan Barat. Lalu setelah fenomena itu berakhir, tak ada lagi tampak kilat-kilat yang berpendar, tak ada pula lagi gemuruh petir yang memekik bagaikan laungan naga. Langit kembali tenang dengan warna muram pagi yang perlahan semakin jelas.Hujan halilintar tidak jadi melanda halaman istana. Kesaktian yang Argani banggakan berhasil dibuat redup oleh Giandra. Tak ada yang mampu menandingi Ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan kecuali kesaktian yang lebih tinggi.Si ketua Persaudar

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 150 : Ilmu Yang Sama

    Dengan menumpukan tangan di lantai teras yang terbuat dari batu, Prabu Surya Buana berjuang untuk bangkit. Argani pun lantas mendekatinya. Ketua Persaudaraan Iblis itu tentu tidak akan membiarkan lawannya yang hendak kembali berdiri. Baru beberapa langkah saja Argani berjalan, saat kaki kirinya mulai menginjak di atas lantai teras yang terbuat dari susunan batu, alih-alih terdengar ada suara yang berseru lantang sekali. “Akulah lawanmu, hai Bajingan!”Mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan yang amat tak enak didengar oleh kuping, maka Argani pun memutar pandangannya ke belakang. Seorang pemuda rupanya telah berdiri tegak dengan dada busung dan sinar mata yang tegas. Orang itu tidak lain adalah Giandra.Argani pun membalikkan tubuhnya. Dia tak jadi mendekati Prabu Surya Buana. Kemunculan Giandra membuat Argani sangat jengkel. Seharusnya menurut Argani para pejuang kerajaan saat ini masih berada di Gunung Ratri, namun ternyata, ada satu orang yang sekarang sudah kembali, ini tentu

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 149 : Perisai Emas

    Baru sesaat Prabu Surya Buana tiba di halaman istana, dia lanngsung disambut dengan pemandangan yang benar-benar tidak menyenangkan. Di depan matanya sendiri, sang prabu menyaksikan mayat para pengawal yang bergeletakan di tanah. Tak ada satupun dari mereka yang masih hidup.Semua tubuh yang terkapar itu mati dalam keadaan hangus. Kulit mereka hitam legam bagaikan layaknya arang. Argani Bhadrika memang sangat kejam sekali.Melihat ada sosok yang berpakaian agung baru keluar dari dalam istana, Argani pun tak mau bertele-tele lagi, dia tahu kalau ini adalah Prabu Surya Buana, maka dia pun ingin langsung menantangnya saja sekarang.Pertemuan dengan sang raja ini sudah begitu lama direncanakan oleh Argani. Bila di akhir malam ini dia berhasil membunuh raja tersebut, niscaya tujuannya untuk mendapatkan takhta akan segera menjadi kenyataan.Prabu Surya Buana pun mengamati Argani yang mulai mendekat. Batinnya lantas bertanya-tanya siapakah orang ini. Sebelumnya sang prabu memang tak pernah b

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 148 : Keonaran di Halaman Istana

    Di akhir malam yang hampir mendekati waktu subuh, para pengawal semuanya berkumpul di halaman istana, mereka digemparkan dengan sebuah keributan, empat orang dari mereka yang menjaga pintu gerbang telah tewas tergeletak dengan mulut bersimbah darah.Saat itu hanya tinggal dua belas orang pengawal yang masih melindungi istana, sedangkan sisanya yang lain telah ikut pergi ke medan perang menjadi prajurit. Dengan jumlah yang amat sedikit ini, kekuatan mereka tak akan sepadan untuk menghadapi Argani Bhadrika.Kehadiran Argani yang muncul secara tiba-tiba bagaikan hantu di penghujung malam tentu membuat mereka jadi terheran-heran. Bagaimana bisa orang tak dikenal ini datang ke istana dan langsung melakukan porakporanda.Si peneror ini sudah membunuh empat penjaga yang berdiri di depan gerbang. Tak ada satu pun dari pengawal kerajaan yang mengenali Siapakah lelaki ini. Percakapan singkat pun lalu terjadi di antara para pengawal itu.“Sia

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 147 : Moksa

    Siluman Kera Putih dan Prabaswara saling bergerak dari arah berlawanan. Yang satu kelihatan ingin melimbai gada dan yang satu lagi hendak membabatkan golok. Langkah keduanya bagaikan arus sungai yang deras. Tak lagi mengenal kata surut apalagi tertahan.Saat golok Prabaswara akan mulai menyabet ke leher, tangan kirinya yang kosong menempel di dada, bersiap menepis bila Siluman Kera Putih juga akan memukul.Ternyata hal yang terjadi malah diluar perhitungan Prabaswara. Sabda Alam yang menyongsong dari arah berlawanan melentikkan tubuhnya ke belakang. Mata golok yang tajam itu gagal menyentuh dirinya. Tiba-tiba lalu dari bawah, ayunan gada yang berduri menghantam ke selengkangan Prabaswara!Pukulan dahsyat itu sampai sampai membuatnya terlonjak, bola matanya terbalalak menatap ke langit, dan saking menahan sakit yang tak dapat dibahasakan, mulut Prabaswara pun tak bisa lagi bersuara.Dengan kaki yang gemetar Prabaswara berjalan mundur. Bak pohon limbung didera tiupan angin, langkahnya t

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 146 : Melepas Masa Lalu

    Bayu Halimun terus mengejar orang yang dahulu pernah menjadi sahabat dekatnya itu. Dia tak tahu kemanakah Pangeran Kelelawar ingin membawanya. Mereka terbang melewati pohon-pohon besar di tengah kegelapan hutan yang sunyi.Walau mata Pangeran Kelelawar tak menoleh ke belakang, namun kehadiran Bayu Halimun yang dari tadi mengikuti dapat dirasakan olehnya. Aura kegelapan milik siluman burung hantu itu memang tak pernah berubah. Energinya sangat negatif. Itu disebabkan karena dia telah lama bergabung dalam persaudaraan Iblis, berkumpul dengan orang-orang jahat yang membuat jiwanya jadi tambah gelap.Setelah cukup jauh melayang di bawah binar purnama yang muram, akhirnya Pangeran Kelelawar menemukan juga lokasi yang cocok untuk meladeni Bayu Halimun. Yaitu hamparan rumput luas yang lumayan lengang dari pepohonan. Dalam pertarungan ini, Mahesa Bhamantara bertekad akan mengerahkan seluruh kemampuan kanuragan yang dia miliki. Bila dirinya berhasil mengalahkan Bayu Halimun, dia berharap deng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status