MasukDi tengah kemegahan kota Arkadea, seorang jenderal perang legendaris bernama Aryan menghadapi nasib yang tak terduga. Setelah menghilang akibat kecelakaan helikopter yang menghancurkan ingatannya, ia terpaksa menjalani hidup baru sebagai buruh bangunan tanpa mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Sebenarnya Aryan adalah seorang pria dengan wajah yang tampan, berperawakan gagah. Namun Aryan menjalani hari-harinya dengan sindiran dan hinaan, walaupun sebenarnya ia menyimpan masa lalunya yang heroik. Hidupnya mulai berubah ketika ia bertemu dengan Clara, seorang Agen polisi yang membuatnya merasakan cinta dan penerimaan yang tulus. Namun, hubungan mereka terbentur pada pandangan keluarganya yang merendahkan Aryan karena status sosial saat ia masih belum tersadar akan jati dirinya. Suatu ketika seseorang mendorong Aryan untuk kembali ke dunia militer, kenangan mulai kembali mengisi pikiran Aryan. Dibantu oleh mantan rekan-rekannya, Aryan menggali kembali kemampuan dan kepemimpinannya. Namun, ancaman baru muncul ketika Kelompok "Dark Immortal" mengguncang kedamaian Arkadea dan seluruh dunia. Dengan keberanian dan kekuatannya yang terpendam, Aryan melawan musuh dan memulihkan keamanan dunia. Pertempuran epik itu menjadi momen kebangkitan Aryan, membawa namanya kembali diingat sebagai jenderal yang dihormati. Namun, setelah kemenangan, dia menyadari bahwa kekuatan sejati bukan hanya dalam memimpin militer, tetapi juga dalam menghubungkan dirinya dengan rakyat dan membangun kembali kehidupan mereka. "Kembalinya Sang Legenda Perang" adalah sebuah kisah tentang cinta, perjuangan, dan penemuan diri yang mengajarkan arti sejati dari kepemimpinan dan hikmat di balik sebuah perjalanan yang penuh luka. Pada akhirnya Aryan membuktikan bahwa sebuah legenda tidak pernah mati, melainkan hidup dalam hati mereka yang terinspirasi.
Lihat lebih banyak"Guru! Maukah kalian semua menjadi istriku?!"
Ungkapan ini secara spontan keluar dari mulut Bintang ketika dia telah meneguk segelas wine di depannya.
"Apa?!"
Di sebuah tempat Bernama Gunung Lima Naga, seorang pemuda dengan santai mengatakan hal itu pada lima Wanita di depannya yang tak lain adalah guru-gurunya!
Setiap Wanita tersebut adalah dewi-dewi yang menguasai lima jenis kekuatan.
Dewi Medis, Dewi Perang, Dewi Kekayaan, Dewi Kecantikan, dan Dewi Keberuntungan.
Masing-masing dari kelima Wanita itu memancarkan aura yang membuat setiap gairah laki-laki normal bergejolak.
Bagaimana tidak, bibir merah ranum, kaki yang jenjang dengan kulit seputih porselen, dan bentuk tubuh yang begitu berisi.
Apalagi gunungan mereka yang hanya dibalut kain tipis, seakan memberontak untuk keluar dari sarangnya, yang bergoyang setiap kali para wanita itu bergerak.
Jelas apa yang dilihat oleh Bintang merupakan sebuah keindahan yang selalu terlihat padanya selama sepuluh tahun hidup bersama kelima gurunya.
Ini bukan tempat biasa, ini adalah surga bagi para pria!
Sebelumnya, Bintang adalah laki-laki lemah yang terbuang dari dunianya. Dicemooh, dihina, bahkan dibuang oleh orang-orang terdekatnya karena dianggap pembawa sial.
Ia pergi ke sebuah gunung untuk mengakhiri hidupnya. Namun, ia justru ditemukan oleh kelima dewi-dewi tersebut yang melihat potensi tersembunyi di balik tubuh lemahnya.
Kini, setelah sepuluh tahun ditempa, Bintang bukan lagi laki-laki lemah yang memohon untuk dikasihani!
Sementara itu, kelima wanita tersebut saling pandang setelah mendengar ungkapan Bintang yang tiba-tiba.
“Kamu merasa layak untuk menjadi pendamping kami berlima, Bintang?!” tanya Dewi Perang dengan angkuh.
"Guru, apa aku benar-benar tak layak untuk kalian?"
"Di seluruh Negara Amerta siapa yang tidak mengagumi kami? Bintang, jika kamu memang layak untuk kami, apa kamu mau menerima tantangan dari kami?" Dewi Medis ikut meramaikan suasana.
"Tantangan?" Menjawab penuh antusias, harapan besar untuk mewujudkan impiannya telah membuat semangat besar membakar hatinya.
"Benar, kamu hanya perlu turun dari gunung ini, lalu menerima setiap misi yang kami berikan, Bintang apa kamu mau menerimanya?"
Mengerti arah pembicaraan mereka, Bintang yang tahu bagaimana harus memulai itu mulai merenggangkan seluruh otot tubuhnya yang telah lama kaku.
Kraaaack!
"Guru, katakan saja misi apa yang perlu aku kerjakan? Sekarang aku akan memulainya..."
"..." Kelima guru Bintang terdiam terpaku. Mereka benar benar terkejut atas tekad kuat Bintang yang benar benar ingin menikahi mereka.
Dewi Medis terdiam sejenak, dia kemudian menyeletuk dengan cepat.
"Kota Awan, di sana banyak orang yang membutuhkan keterampilan medismu... Mungkin kamu bisa memulainya dari sana..." Dewi Medis melempar sebuah telepon genggam yang terlihat kuno kearah Bintang.
Menangkapnya, dan menaikan alisnya, Bintang segera berkata dengan nada tak percaya.
"Gu-guru a-apa hanya telepon genggam kuno ini saja yang ingin kamu berikan?!"
“Kenapa? Apakah kamu keberatan?” tanya salah satu Dewi dengan senyum tipis.
"Demi menikahi kelima guru cantik, aku tidak akan menyerah begitu saja! Guru aku akan segera pergi ke kota Awan!"
Dewi Medis menganggukan kepalanya, ia tak menyangka tekad murid terbaik mereka untuk menikahi guru-gurunya. Dia kemudian menelepon seseorang untuk mengantarkan Bintang.
"Dewi Medis, tanpa memberikannya uang, apa Bintang dapat bertahan hidup? Negara ini tengah kacau kondisinya, pertama kali keluar gunung apa dia tidak akan menemukan masalah besar?" tanya Dewi Kekayaan kepadanya dengan ragu.
"Bintang telah mewarisi semua keahlian yang kita miliki, lantas apa yang kalian takuti? Lagi pula, kita tak bisa terus menahannya di tempat terpencil ini."
Beberapa saat bintang menunggu di halaman villa gunung lima naga.
Tiiiin!
Sebuah mobil BMW X4 keluaran terbaru mulai memasuki halaman villa. Sosok gadis yang bernama Diana pun segera membukakan pintu dan memberikan hormat kearah Bintang.
"Tuan muda Bintang silakan masuk."
Menganggukan kepalanya, Bintang memulai perjalanan pertama kalinya selama sepuluh tahun terakhir dalam menuju ke kota Awan.
***
"Diana kenapa kamu menurunkanku di pinggiran kota? Apa ini juga perintah yang diberikan oleh Dewi Medis?"
Bintang menggaruk-garuk kepalanya saat mobil yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti begitu saja.
"Tuan muda, ini perintah... Diana tidak berani melanggar perintah." Diana dengan cepat memasuki mobilnya kembali lalu meninggalkan Bintang.
Bintang yang tidak tahu misi apa yang harus dia lakukan mulai berkata, "Sepertinya aku telah gegabah setelah menerima tantangan kelima guruku tanpa persiapan sebelumnya..."
Menarik napas dalam dalam, Bintang mulai berjalan sembari melihat kondisi kota Awan yang terlihat cukup ramai keadaannya.
Ditengah perjalanan yang dipenuhi rasa lapar itu, pandangannya tertuju kearah seorang gadis berumur dua puluh tahunan yang terlihat tengah cemas akan kondisi pria paruh baya di pangkuannya.
Kondisi pria paruh baya itu cukup miris, kulit wajahnya terlihat kebiruan. Bahkan sedikit kejang yang terlihat seperti tengah sekarat.
"To-tolong! Siapapun yang ada disini tolong panggil dokter Tirta! Kenapa kalian hanya tetap melihat dan diam saja! Apa kota Awan tidak ada seorang yang perduli pada kami!" gadis itu berteriak hingga suaranya parau.
Mendengar suara itu, sembari melihat pakaian yang dikenakan gadis itu, Bintang mulai tersenyum tipis. Harapan untuk dapat mengisi perut laparnya mulai terlihat, takdir benar benar membantunya!
Berjalan kearah gadis itu, dan membuka jalan untuknya sendiri. Bintang segera memeriksa denyut nadi pria dipangkuan gadis itu. Namun tiba tiba.
"Kamu pengemis pergi! Aku tidak membutuhkanmu, tapi mencari seorang dokter hebat untuk mengobati penyakit kambuh yang dimiliki ayahku!" Gadis itu menatap tajam kearah Bintang.
Bintang menghela napas panjang, dia menatap sepasang mata gadis itu dengan seksama.
"Ayahmu tidak terkena penyakit, tapi dia keracunan."
Kulit membiru memang keracunan, tetapi gadis itu kenapa mengatakan penyakit ayahnya kambuh?
Mungkin seseorang dokter tengah menyesatkan pikiran keluarga gadis itu untuk mendapatkan keuntungan.
"Kamu tahu apa? Dokter nomor satu di kota ini sudah mendiagnosis ayahku terkena penyakit... Siapa kamu berani sekali menyesatkanku?"
"Pengemis ini benar benar salah sasaran untuk menipu orang kaya di kota Awan!" Seorang mulai berkata dengan reaksi yang menyedihkan. Selain dapat memicu masalah besar, mungkin pemuda setampan Bintang akan masuk penjara.
"Benar, apalagi dia berasal dari keluarga Cahyo, jika dia berani bertindak. Dan masalah bertambah parah, mungkin dia tidak lagi masuk penjara... Melainkan kuburan!"
Mendengar ungkapan orang lain, Bintang masih tetap tenang.
"Tapi kondisinya cukup kritis... Jika menunggu dokter yang kamu maksud tiba, mungkin ayahmu telah tiada... Nona apa salahnya kamu mempercayaiku?" Bintang menatap gadis itu tanpa reaksi sama sekali.
"Cuih! Dia itu sudah gila ya? Sudah tahu kehadirannya ditolak, tapi kenapa dia masih bersikeras?"
Namun Clara yang melihat sepasang mata penuh keyakinan itu terdiam sejenak. Seolah dia terhipnotis dengan ungkapan yang sebenarnya membuat hatinya merasa kesal.
"Jika sesuatu terjadi pada ayahku, keluarga Cahyo pasti akan membunuhmu...," suaranya terdengar begitu dingin.
Fajar yang seharusnya membawa ketenangan justru datang dengan aura kematian yang mencekam. Di cakrawala laut utara, kabut tebal perlahan tersibak oleh moncong-moncong kapal perang berwarna hitam legam tanpa nomor lambung. Itu adalah armada tempur organisasi Nebra. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi; mereka datang untuk mengambil kembali aset mereka yang paling berharga: Protokol Alpha 9 yang ada di dalam tubuh Aryan. Aryan berdiri di atas tanggul pemecah ombak, menatap ribuan kilatan cahaya dari meriam laser kapal-kapal tersebut. Di belakangnya, Mayor Yudha sedang berteriak melalui radio, berusaha mengoordinasikan unit artileri pantai yang masih tersisa. "Jendral, mereka mulai mendarat! Unit amfibi mereka bukan manusia!" teriak Yudha. Dari balik ombak, muncul ratusan prajurit mekanik yang dikenal sebagai Nebra Reapers. Berbeda dengan Subjek Beta yang lincah, Reapers adalah tank berjalan yang dirancang untuk satu tujuan: penghancuran total. "Tahan posisi! Jangan menembak sampai
Gedung Televisi Pusat menjulang seperti menara pengawas di tengah ibu kota yang sunyi akibat jam malam. Di puncaknya, lampu sorot raksasa menyapu jalanan, mencari setiap gerak-gerik yang mencurigakan. Di dalam gedung itu, Silas telah menyiapkan panggung eksekusi. Tante Mira dirantai di kursi besi di tengah studio utama, dikelilingi oleh kamera yang siap menyiarkan "pengadilan pengkhianat" ke seluruh negeri dalam hitungan menit. Di luar gedung, Aryan berdiri di puncak gedung apartemen yang berseberangan. Angin kencang memainkan ujung jubah taktisnya. Di sampingnya, Mayor Yudha sedang menyiapkan senapan runduk dengan amunisi pengacau sinyal. "Jendral, sensor menunjukkan ada minimal lima puluh personel unit Penjagal di dalam. Plus, Subjek Beta yang kau lawan kemarin ada di lantai empat puluh," lapor Yudha melalui alat komunikasi. Aryan tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya memeriksa detak jantungnya yang kini berada di frekuensi rendah yang stabil. Alpha 9 di tubuhnya sudah tersi
Malam di ibu kota tidak lagi terasa aman bagi mereka yang mengenakan lencana Dewan Pertahanan Nasional. Di bawah lampu-lampu neon yang berkedip, sebuah ketakutan baru mulai menyebar di kalangan militer. Mereka menyebutnya sebagai "Hantu Arkhana". Sebuah entitas yang menyerang tanpa suara, melumpuhkan sistem tanpa jejak, dan menghilang sebelum alarm sempat berbunyi. Di sebuah gudang tua yang menjadi markas sementara, Aryan duduk diam di tengah kegelapan. Satu-satunya cahaya berasal dari kabel-kabel optik yang tersambung dari pergelangan tangannya ke sebuah komputer pusat curian. Ia sedang melakukan penetrasi ke jaringan saraf logistik sektor tujuh. Matanya yang putih terang bergerak cepat, memproses ribuan baris data enkripsi per detik. "Tingkat keberhasilan infiltrasi: sembilan puluh delapan persen," gumam Aryan tanpa ekspresi. Mayor Yudha masuk membawa dua pucuk senapan serbu yang telah dimodifikasi. Ia menatap Aryan dengan ngeri sekaligus takjub. "Depo sektor tujuh itu dijaga ole
Suara ledakan bom termobarik yang dijatuhkan oleh angkatan udara Silas menggetarkan seluruh rangkaian pegunungan Utara. Puncak gunung yang semula kokoh seolah terkelupas, mengirimkan jutaan ton salju dan bebatuan jatuh menimbun lembah di bawahnya. Dari kejauhan, pemandangan itu tampak seperti kiamat kecil yang dibungkus dalam kabut api dan asap hitam. Di dalam ruang kendali jet tempur pemimpin, seorang pilot melapor dengan nada datar, "Target dihancurkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang tersisa di area bunker." Silas, yang menyaksikan semuanya melalui transmisi satelit di kantor rahasianya, menyandarkan punggung ke kursi kulitnya. Senyum kemenangan menghiasi wajah tuanya. Baginya, Aryan Arkhana bukan lagi ancaman. Dengan hancurnya bunker itu, semua bukti pengkhianatannya di masa lalu terkubur bersama jasad sang Jendral. Silas segera menekan tombol interkom, memanggil staf medianya. "Umumkan kepada seluruh negeri," perintah Silas dengan nada yang dibuat sedih. "Jendral Aryan tel






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan