分享

☀︎2

作者: goshxx
last update publish date: 2026-01-02 15:37:24

CHAPTER 2

Kamar asrama itu sunyi. Summer duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang buku asesmen yang terbuka di pangkuannya.

Beberapa pulpen sudah berjajar rapi di sampingnya, sementara seragam RCA untuk besok tergantung rapi di pintu lemari.

Semua sudah siap, tetapi tangan Summer masih saling menggenggam erat di atas bukunya sendiri.

Ia menarik napas lalu mengembuskannya perlahan sambil melirik ke arah pintu kamar, lalu ke arah jendela besar di samping ranjang.

Cahaya lampu taman kampus terlihat samar dari kejauhan, tapi detak jantungnya masih belum tenang sejak tadi.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Summer langsung mengangkat kepala cepat.

“Oh— maaf! Aku bikin kaget?” Seorang gadis masuk sambil menyeret koper besar di belakangnya. Langkahnya ringan, senyumnya lebar, sangat berbeda dari suasana kamar yang sejak tadi terasa sunyi. “Aku Emma. Teman sekamarmu.”

Summer langsung berdiri sambil merapikan ekspresinya. “Hai. Aku Summer.”

Emma berjalan masuk sambil melihat sekeliling kamar, lalu tatapannya berhenti pada buku di tangan Summer. “Wow, kamu udah mulai belajar?”

Summer langsung melihat bukunya sebentar sebelum menjawab pelan, “Hanya sedikit mengulang.”

Emma langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur sebelah sambil menghela napas panjang. “Aku bahkan belum berani buka buku.” Ia menutup wajahnya pakai kedua tangan. “Aku takut lihat isi materinya.”

Melihat reaksinya, Summer tanpa sadar tersenyum kecil.

Emma lalu mulai membongkar barang-barangnya sendiri sambil terus bicara. Tangannya sibuk menyusun skincare, buku, dan beberapa pakaian ke dalam lemari. “Gugup asesmen?” tanyanya sambil menutup laci.

Summer mengangguk "Iya."

“Aku juga,” jawab Emma cepat sambil duduk bersila di kasurnya. “Apalagi aku penerima beasiswa. Jadi ekstra takut.”

Summer menoleh sedikit. “Takut kenapa?”

Emma mengangkat bahu kecil. “Takut gagal mempertahankan tempatku di sini.”

Summer hanya diam dan tatapannya turun kembali ke halaman yang terbuka di pangkuannya, sementara kata-kata Emma terus terngiang di kepalanya.

“Royal Crest memang beda yah.” Emma membuka salah satu laci meja belajar. “Lihat saja kamar kita...interiornya kayak hotel bintang lima kan?.”

Summer mengangguk. “Iya.” Ia membaca buku sambil terus mendengarkan Emma.

Emma langsung merendahkan suaranya meski kamar mereka kosong. “Oyah, ngomong-ngomong kamu lihat lima cowok yang masuk tadi pagi itu gak?”

Tangan Summer langsung berhenti sebentar di atas bukunya. “Iya,” jawabnya pelan.

“Nah. Semua rumor paling serem di sekolah ini selalu nyambung ke mereka.” Emma masih sibuk menyusun barang-barangnya sendiri. “Terutama yang di tengah.”

Summer tidak bertanya siapa yang Emma maksud karena ia langsung tahu.

Emma berdiri, mengambil handuknya, lalu berbalik ke arahnya. “Aku mandi dulu ya.”

Summer hanya mengangguk kecil. “Oke.”

Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara shower mulai terdengar, Summer langsung mengambil ponselnya yang bergetar di atas nakas.

💬 Jess: Sudah beres? Asesmen besar besok. Kamu pasti bisa.

💬 Summer: Semoga.

💬 Jess: Kamu selalu bilang begitu. Jangan lupa — aku sudah tahun kedua SMA. Stres ini resmi milikmu sekarang 😅

💬 Summer: Kejam.

💬 Jess: Senior privilege 😌

Summer menggeleng kecil sambil menahan senyum.

💬 Jess: Teman sekamarmu sudah datang?

💬 Summer: Sudah. Namanya Emma.

💬 Jess: Iya aku tahu 😭 Dia baik kok. Cerewet sedikit tapi aman... ketemu setelah asesmen ya?

💬 Summer: Iya.

Summer akhirnya meletakkan ponselnya lalu merebahkan tubuh di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.

Beberapa menit kemudian Emma keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya pakai handuk. “Kamu belum tidur?”

“Belum.” Jawab Summer pelan.

Emma langsung melirik jam di meja. “Kalau aku gagal besok, tolong bilang di pemakamanku kalau aku sebenarnya pintar.”

Summer langsung menoleh pelan. “Kamu berlebihan.”

“Aku realistis.”

Summer kembali menatap langit-langit kamar sambil menarik selimutnya pelan.

Dan malam itu, matanya baru benar-benar terpejam jauh lebih lama dari biasanya.

── ☀︎ ──

Keesokan paginya asrama sudah ramai, murid-murid baru berlalu-lalang di lorong sambil membawa tablet dan catatan.

Emma sudah menunggu di depan kamar ketika Summer keluar sambil merapikan tali tasnya. “Siap?” tanyanya.

Summer mengembuskan napas pelan. “Sebisaku.”

Emma memegang dadanya sendiri dengan wajah serius. “Kalau aku pingsan nanti, tolong seret tubuhku dengan bermartabat.”

Sudut bibir Summer terangkat tipis. “Kamu tidak akan pingsan.”

“Semoga saja.”

Mereka berjalan berdampingan menuju aula utama. Begitu melewati pintu, langkah Summer sedikit melambat.

Pilar-pilar marmer yang menjulang tinggi, langit-langit yang luas, dan deretan kursi yang hampir penuh membuat ruangan itu terasa jauh lebih megah daripada yang ia bayangkan.

“Gila…” gumam Emma pelan sambil ikut melihat sekeliling.

Tak lama kemudian seorang guru naik ke podium dengan tablet di tangannya. Setelah suasana tenang, layar besar di belakangnya langsung menyala.

“Selamat pagi. Asesmen hari ini akan menentukan penempatan akademik kalian di Royal Crest Academy.” Guru itu mengusap layar tabletnya sebentar, “Murid yang terdaftar melalui jalur umum dipersilakan menuju Ruang B.01.”

Beberapa murid langsung berdiri dari kursinya, tetapi Summer masih tetap duduk sambil memegang tabletnya.

Guru itu kembali melihat daftar di tangannya, lalu mengangkat pandangan ke arah Summer. “Nona?”

Summer menoleh. “Ya, Pak?”

“Anda terdaftar melalui jalur umum. Silakan menuju Ruang B.01.”

Bisik-bisik langsung mulai terdengar dari berbagai sudut aula.

“Bukan beasiswa?”

“Terus kemarin naik taksi?”

“Mungkin dibiayai donatur.”

Summer mengabaikan semuanya. Ia merapikan tablet di tangannya lalu berdiri dan mengikuti murid-murid lain keluar dari aula.

Beberapa saat kemudian, saat hendak berbelok menuju Ruang B.01, seseorang memanggilnya dari belakang.

“Summer!”

Ia menoleh dan melihat Emma berlari kecil menghampirinya. Begitu sampai di depannya, Emma terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya bertanya pelan, “Kamu... bukan penerima beasiswa?”

Summer menggeleng kecil. “Bukan.”

“Oh...” Emma langsung terlihat canggung. “Maaf.”

“Kenapa minta maaf?” Summer balas menatapnya dengan bingung. “Tidak ada yang salah dengan itu.”

“Eh... i-iya.” Emma tersenyum canggung sambil menggaruk pelan pipinya sendiri. “Kau benar.”

Summer ikut tersenyum kecil. “Aku masuk dulu.”

Emma langsung mengangguk dan melambaikan tangan. “Semangat!”

“Kau juga.”

── ☀︎ ──

Begitu Summer melangkah masuk, beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya. Ruangan itu luas dengan deretan meja kayu gelap yang tersusun rapi.

Sebagian besar murid sudah duduk di tempat masing-masing sambil berbicara pelan, tetapi bisik-bisik itu berubah arah begitu melihatnya.

“Jadi gadis yang kemarin naik taksi itu bukan anak beasiswa?”

Terdengar tawa kecil dari arah belakang. “Pasti dibayarin orang lain.”

“Atau anak rahasia orang kaya.”

Summer tidak menoleh. Ia terus berjalan sampai menemukan kursi kosong di dekat jendela, lalu menariknya perlahan dan mulai mengeluarkan tablet serta pulpennya dari dalam tas seolah tidak mendengar apa pun.

Namun suara-suara itu belum juga berhenti.

“Bahkan anak beasiswa saja tahu diri. Mana mungkin datang ke RCA naik taksi.”

“Iya. Benar-benar nggak punya kelas.”

Summer tetap diam dan menunduk, lalu beberapa saat kemudian pengawas masuk ke dalam ruangan.

Suasana yang semula dipenuhi bisik-bisik langsung berubah sunyi ketika pria itu berdiri di depan kelas.

“Tes dimulai.”

Beberapa detik kemudian, soal mulai muncul di layar tablet masing-masing.

Summer menatap layar di depannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada soal.

Bayangan pria berjas yang berdiri di bawah pohon itu kembali muncul begitu saja, membuat jemarinya perlahan menegang di atas stylus. Dalam hatinya, bagaimana kalau orang-orang itu akhirnya menemukannya?

Tanpa sadar jemarinya mulai sedikit gemetar.

“Nona...”

Suara itu terdengar samar di telinganya.

“Nona Bong?”

Ia langsung tersentak dan mengangkat kepala. Pengawas sudah berdiri tepat di samping mejanya sambil melihat layar tabletnya.

“Tes sudah dimulai sepuluh menit yang lalu, dan Anda belum mengerjakan satu soal pun.”

Beberapa tawa kecil terdengar dari berbagai arah.

“Maaf, Pak.”

Pengawas itu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. “Ruangan ini dipantau CCTV dan seluruh ujian diawasi dari ruang pengawas. Saya harap tidak ada yang mencoba melakukan hal-hal di luar aturan.”

Setelah itu ia kembali menoleh ke arah Summer. “Silakan mulai mengerjakan.”

Summer mengangguk pelan lalu kembali melihat layar di depannya. Sebenarnya soal itu tidak sulit baginya, tetapi pikirannya masih belum bisa tenang.

Ia memejamkan mata sejenak. Entah kenapa, yang teringat justru anak laki-laki yang tadi berjalan bersama keempat temannya.

Ia teringat bagaimana suasana di sekitarnya mendadak berubah saat pria itu lewat, dan bagaimana rasa sesak di dadanya ikut menghilang begitu saja.

Perlahan ia menghembuskan napas panjang lalu membuka mata. Jemarinya sudah tidak lagi gemetar.

Kemudian ia menggenggam stylusnya lebih erat lalu mulai mengerjakan soal satu per satu.

── ☀︎ ──

Waktu makan siang datang lebih cepat dari yang Summer duga.

Begitu keluar dari aula, ia langsung melihat Jess berdiri tidak jauh dari sana sambil memainkan ponselnya.

Jess segera mengangkat kepala begitu menyadari kehadirannya, lalu memasukkan ponselnya ke saku. “Bagaimana?”

“Baik,” jawab Summer pelan sambil merapikan tali tas di bahunya. “Kamu tidak perlu khawatir.”

Jess langsung tersenyum dan berjalan di sampingnya. “Aku tahu kamu pasti bisa.” Ia menyenggol bahu Summer pelan, “Dan aku harap kamu masuk Gedung B. Aku nggak mau kamu terlalu jauh.”

Langkah Summer tanpa sadar sedikit melambat.

Jess menoleh ke arahnya. “Hm?”

“Di mana saja tidak apa-apa, Jess,” jawab Summer pelan sambil menundukkan pandangan. “Asal aku diterima.” Ia terdiam sejenak lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, “Asal aku bisa tetap tinggal.”

Jess langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Summer. “Hei.”

Summer ikut berhenti dan perlahan mengangkat pandangannya.

“Kamu nggak ke mana-mana,” kata Jess dengan nada serius. “Kamu memang pantas di sini.”

“Tidak ada yang akan ngusir kamu,” lanjut Jess lebih pelan. “Bukan sekolah ini. Bukan siapa pun.”

Summer menunduk sebentar lalu kembali menatapnya. “Terima kasih...” jawabnya lirih. “Aku cuma nggak mau kehilangan ini.”

Jess tersenyum kecil lalu kembali menyenggol bahu Summer dengan pelan. “Kamu nggak akan kehilangan apa pun.”

Beberapa saat kemudian mereka kembali berjalan menuju kafetaria. Semakin dekat ke gedung utama, koridor semakin ramai dipenuhi suara tawa dan obrolan murid yang berlalu-lalang.

Namun baru beberapa langkah, Jess tiba-tiba memperlambat langkahnya lalu menyentuh pelan lengan Summer. “Tunggu.”

Summer ikut berhenti dan menoleh. “Kenapa?”

Pintu kaca otomatis di depan mereka perlahan terbuka. Lima anak laki-laki berjalan keluar dengan santai, dan hampir seketika suasana koridor berubah. Obrolan yang tadi terdengar di mana-mana perlahan mengecil, sementara beberapa murid tanpa sadar menepi memberi jalan.

Pandangan Summer tanpa sadar mengikuti mereka. “Oh…” gumamnya pelan. “Memangnya mereka siapa, Jess?”

Jess sedikit mendekat dan merendahkan suaranya. “Mereka…” Ia terdiam sesaat. “Anggap saja lingkaran yang nggak bisa disentuh.”

Jess mengangkat dagunya sedikit ke arah pria yang berjalan di tengah. “Pemimpinnya yang itu. Paling tinggi, paling tampan, tapi nggak pernah senyum. Dan semua orang di sini takut sama dia.”

Tatapan Summer tanpa sadar langsung berhenti pada sosok itu. Pria itu berjalan dengan tenang, kedua tangan dimasukkan ke saku blazer dan sama sekali tidak melihat ke sekeliling.

“Yang rambutnya diikat itu Cloud, kapten basket RCA. Yang pirang Dre. Yang bawa kamera Tom. Yang paling berantakan itu Axl. Dre, Tom, sama Axl punya band keren, dan mereka berlima udah berteman dari kecil.”

Summer hanya mengangguk pelan, tetapi pandangannya masih belum beralih dari pria di tengah itu.

Tanpa ia sadari, jemarinya perlahan bergerak memainkan gelang bintang laut di pergelangan tangannya. Sentuhan kecil itu sudah menjadi kebiasaan setiap kali ia sedang gelisah.

Klik.

Charm kecil itu tiba-tiba terlepas dan mata Summer langsung membesar. “No... no... no...”

Charm berbentuk bintang laut itu jatuh ke lantai marmer lalu berputar kecil, tepat ke arah lima anak laki-laki tadi.

“Oh tidak—” Summer refleks melangkah cepat mengejar charm itu.

“Summer, tunggu—” Suara Jess terdengar dari belakang.

Di saat yang sama, pria di tengah itu tetap berjalan lurus tanpa melihat ke bawah.

Sepatu hitamnya langsung menginjak charm tersebut tepat sebelum Summer sempat meraihnya.

Langkah Summer langsung berhenti. Ia menatap charm yang tertahan di bawah sepatu pria itu beberapa detik, lalu perlahan mengangkat pandangannya.

“Apa kau tidak punya mata?”...

ོ☼𓂃BERSAMBUNG𓂃𓇼 𓂃 𓈒𓏸

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎100

    CHAPTER 100“Kau menyebalkan.”“Kamu yang lucu.”Summer mendengus lalu berjalan lebih dulu menuju area berikutnya tanpa menyembunyikan senyumnya sedikit pun. Dylan hanya menggeleng sambil mengikuti dari belakang.Tidak lama kemudian mereka sudah berada di area penguin. Summer berdiri di dekat kaca pembatas sambil memperhatikan beberapa penguin yang berjalan mondar-mandir di tepi kolam. Salah satunya terpeleset saat hendak masuk ke air dan membuatnya langsung tertawa.“Kak Dylan, lihat mereka. Lucu sekali.”“Sepertinya kita akan berada di sini sampai malam.”Summer malah tertawa lebih keras mendengar itu. Dylan memperhatikannya beberapa saat tanpa mengatakan apa-apa. Sudah lama ia tidak melihat Summer tertawa sebanyak ini.Selama beberapa tahun terakhir, gadis itu selalu terlihat tenang dan hati-hati seolah terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Namun hari ini Dylan seperti melihat Summer yang pernah dikenalnya dulu.Gadis kecil yang berlari men

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎99

    CHAPTER 99Takumi yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. “Ayah…”“Dia tetap berhak menentukan hidupnya sendiri.”Ren mengangguk santai. “Aku bisa menerima itu.”Takeshi mengambil pena yang berada di atas meja, tetapi Takumi lebih dulu menahan pergelangan tangannya. “Berpikirlah dulu.” Tatapan putranya tidak bergeser sedikit pun. “Summer bukan alat tukar. Dia putriku.”“Dia juga cucuku.”“Kalau begitu jangan lakukan ini.” Suara Takumi terdengar lebih keras dari sebelumnya. “Biarkan dia memilih kebahagiaannya sendiri.”Takeshi terdiam mendengar itu. Baginya, tidak ada yang lebih ia inginkan selain melihat Summer bahagia.Namun setiap kali memikirkan masa depan cucunya, yang terbayang justru wajah orang-orang yang selama bertahun-tahun menunggu kesempatan menjatuhkan keluarga Ryu. “Aku hanya ingin memastikan dia aman.”“Biarkan aku melindunginya.”Takeshi memandang putranya cukup lama. Ia ingin mempercayai kalimat itu. Sungguh ingin. N

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎98

    CHAPTER 98Pertanyaan itu membuat Summer tertawa kecil. “Tentu saja.” Jemarinya masih bermain dengan liontin kecil di gelang tersebut. “Aku sangat ingin.”Saat mengangkat kepala lagi, Summer sempat melihat senyum tipis di sudut bibir Dylan. “Ada apa?”Dylan menggeleng. “Tidak ada.”Jawaban itu terdengar terlalu cepat untuk benar-benar meyakinkannya, tetapi Summer memilih tidak mengejar penjelasan lain.Beberapa saat kemudian Dylan berdiri dari bangku dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana olahraga. Summer ikut bangkit. “Summer.”“Iya?”Dylan menatapnya beberapa saat hingga tanpa sadar Summer ikut menahan napas. “Jangan takut mengambil keputusan untuk hidupmu sendiri.”Kalimat itu langsung mengingatkannya pada percakapan dengan kakeknya. “Kakekku bilang hal yang hampir sama.”“Kakekmu benar.”Summer menunggu, dan Dylan kembali membuka suara dengan tenang. “Keputusanmu akan menentukan takdirmu.”Ia mengangguk pelan. Aneh, tetapi

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎97

    CHAPTER 97Arthur masih memeriksa laporan keuangan di atas mejanya saat ketukan pintu terdengar dari luar. Ia tidak perlu menebak siapa yang datang. “Masuk.”Pintu terbuka dan Dylan melangkah ke dalam ruang kerja, lalu berhenti beberapa langkah dari meja seperti biasa.Arthur menutup map di hadapannya, berdiri dari kursi, lalu berjalan ke arah jendela yang menghadap taman. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat para petugas taman yang masih sibuk merapikan semak-semak di sepanjang jalan setapak. “Sudah kau putuskan?”“Aku akan melindunginya.”Arthur tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela sementara kata-kata itu terngiang di kepalanya. Jawaban itu sama sekali tidak mengejutkan.Dylan tidak pernah mengambil keputusan karena emosi sesaat. Sejak kecil, anak itu selalu memikirkan segala sesuatu jauh lebih lama daripada orang lain sebelum akhirnya menentukan pilihan.Karena itulah Dylan sering terlihat keras kepala di mata ora

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎96

    CHAPTER 96Lampu belajar yang masih menyala membuat Cloud membuka mata. Ia berkedip beberapa kali sambil menyesuaikan pandangan, lalu memiringkan kepala ke arah meja di dekat jendela.Dylan masih berada di sana dengan laptop yang belum juga ditutup. Cahaya layar memantul di wajahnya, menerangi tumpukan map dan catatan yang memenuhi meja, sementara suara pelan dari tombol keyboard terus terdengar.Cloud melirik jam di samping ranjang dan refleks mengernyit. Sudah lewat pukul dua dini hari, tetapi Dylan masih belum beranjak sedikit pun.Ia mengusap wajah sekilas lalu menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur. “Belum tidur?”“Belum.”“Siang nanti, lo jadi meeting sama kepala divisi IT?”“Iya.”“Istirahat, Dy. Nanti lo capek.”Suara keyboard tetap terdengar beberapa kali lalu akhirnya berhenti. Dylan tidak mengalihkan pandangan dari layar di depannya saat menjawab singkat, “Bisa.”Cloud menggeleng pelan. “Kalau lo sakit, lo gak akan bisa ngapa-ngapain.”Ia memandangi punggung sahabatny

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎95

    CHAPTER 95Pagi itu Royal Crest Academy kembali dipenuhi murid-murid dengan seragam rapi dan wajah penuh semangat. Koridor yang sempat lengang selama beberapa minggu terakhir kembali ramai oleh suara langkah kaki dan obrolan yang saling bersahutan.Setelah jam pelajaran keempat berakhir, Summer berjalan berdampingan dengan Emma menuju kantin. Begitu menemukan meja kosong, Emma meletakkan nampannya lalu duduk sambil mengembuskan napas pelan. “Liburannya terasa sebentar sekali.”Summer ikut duduk di hadapannya. “Iya.”Emma membuka botol minumnya, meneguk sedikit, lalu menoleh. “Bagaimana di rumah Jess?”“Menyenangkan.” Senyum Summer bertahan begitu saja di wajahnya hanya karena kembali mengingat beberapa hari terakhir. “Mama dan Papa Jess sangat baik. Kami makan bersama, membantu di dapur, bermain dengan anjing-anjing di halaman, lalu mengobrol sampai malam.”“Kelihatannya menyenangkan.”“Memang.” Summer mengangkat wajah dan balik menatapnya. “Kalau ka

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status