LOGINCHAPTER 100
“Kau menyebalkan.”“Kamu yang lucu.”Summer mendengus lalu berjalan lebih dulu menuju area berikutnya tanpa menyembunyikan senyumnya sedikit pun. Dylan hanya menggeleng sambil mengikuti dari belakang.Tidak lama kemudian mereka sudah berada di area penguin. Summer berdiri di dekat kaca pembatas sambil memperhatikan beberapa penguin yang berjalan mondar-mandir di tepi kolam. Salah satunya terpeleset saat hendak masuk ke air dan membuatnya langsung tertawa.CHAPTER 141 Summer hampir menekan tombol pembayaran ketika Cloud menghentikannya. “Tunggu. Kami akan ikut denganmu.” Summer mengangkat wajah. Cloud sudah berdiri di hadapannya bersama Dre, Axl, dan Tom. Tidak ada keraguan pada wajah mereka meskipun keputusan itu berarti meninggalkan London dalam beberapa jam. “Kalian tidak perlu ikut,” ujar Summer. “Aku bisa pergi sendiri.” “Nggak bisa,” sahut Axl. “Dylan menyuruh kami menjaga kamu selama dia pergi.” “Dia juga bilang tidak ada satu pun dari kami yang boleh meninggalkan London,” lanjut Tom. “Kalau kami membiarkan kamu pergi sendirian sekarang, dia bakal membunuh kami setelah sadar.” Kalimat terakhir Tom membuat semua orang terdiam sesaat. Tidak ada yang berani membayangkan kemungkinan Dylan tidak akan membuka mata lagi. Cloud mengambil ponselnya. “Biar aku yang mengurus penerbangannya. Pesawat keluargaku bisa disiapkan dalam dua jam.” Summe
CHAPTER 140 Logan menyelam melewati tali pembatas begitu melihat tubuh Dylan semakin jauh dari permukaan. Dua petugas penyelamat melompat dari sisi lain, tetapi Logan mencapai Dylan lebih dahulu dan menarik tubuhnya ke atas. Kepala Dylan muncul dalam keadaan terkulai. Ia tidak bereaksi ketika Logan menahan wajahnya agar tetap berada di atas air. “Beri jalan!” teriak salah seorang petugas. Beberapa orang di tepi kolam membantu mengangkat Dylan. Tubuhnya dibaringkan di atas lantai, sementara tim medis segera memeriksa napas dan denyut nadinya. Arena yang beberapa detik lalu dipenuhi sorakan mendadak berubah kacau. Para perenang lain menghentikan perlombaan setelah petugas memberikan tanda, sedangkan penonton berdiri untuk melihat apa yang terjadi. Dylan tidak memberikan respons. Seorang dokter mulai memberikan tekanan pada dadanya, sementara petugas lain memasang alat bantu pernapasan. Air keluar dari mulut Dyl
CHAPTER 139Malam sudah larut di London, tetapi lounge pribadi kelompok Dylan masih dipenuhi suara. Axl dan Tom menguasai meja dengan berbagai makanan ringan, sementara Cloud sibuk menghubungkan siaran pertandingan ke layar besar di dinding. Emma membantu Summer menutup tirai agar cahaya dari luar tidak memantul pada layar.“Dylan benar-benar menyuruhmu menyiapkan makanan?” tanya Axl setelah melihat pesan terakhir yang diterima Summer.Summer meletakkan ponselnya. “Dia hanya tidak mau aku lupa makan.”“Dia pergi untuk bertanding, tapi masih sempat mengatur makananmu dari Australia,” sahut Tom. “Aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali Axl makan, Sum.”“Lo ingat waktu makan sendiri saja sudah cukup,” balas Axl sambil menarik mangkuk keripik menjauh darinya.Tawa mereka memenuhi lounge. Jess baru saja duduk ketika Dre datang membawa selimut tipis dan meletakkannya di pangkuan gadis itu.“Aku tidak kedinginan,” ujar Jess.“Nanti kamu akan kedingin
CHAPTER 138Aula pameran utama RCA telah dipenuhi tamu ketika Summer tiba bersama Emma dan Jess. Para mahasiswa memenuhi bagian depan, sementara dosen, seniman, kolektor, dan tamu undangan Jeffrey berbincang di antara deretan karya yang disusun mengelilingi ruangan. Beberapa jurnalis seni juga terlihat menyiapkan kamera di dekat panggung.Lukisan Summer berada di bagian tengah aula dengan pencahayaan yang membuat dua bayangan di belakang sosok perempuan terlihat jelas.Yuta berdiri tidak jauh dari sana untuk menyambut tamu sebagai salah satu perwakilan mahasiswa tingkat akhir, sedangkan Naoki masih memeriksa panel pencahayaan agar warna lukisan Summer tidak berubah saat lampu utama diredupkan.Cloud, Dre, Axl, dan Tom sudah duduk di barisan yang disediakan bagi keluarga serta teman peserta. Mereka datang lebih awal seperti yang dijanjikan kepada Dylan, meskipun Axl sempat mengeluh karena Tom menghabiskan hampir seluruh makanan ringan yang disediakan panitia.
CHAPTER 137Summer terbangun sebelum alarm berbunyi. Langit London masih gelap ketika ia meninggalkan kamar dan mendapati Emma serta Jess sudah berada di dapur.Emma sedang mengawasi roti di dalam pemanggang, sementara Jess menyusun buah di atas piring. Meja makan telah dipenuhi sarapan yang cukup untuk empat orang.“Kalian bangun sepagi ini?” tanya Summer.“Hari ini Senior Dylan berangkat,” jawab Emma. “Kami ingin mengucapkan selamat jalan.”Jess meletakkan potongan stroberi terakhir. “Dan memastikan kalian benar-benar sarapan. Kalau dibiarkan berdua, kalian mungkin hanya akan saling memandang sampai Ethan datang.”Summer baru hendak membantah ketika bel pintu berbunyi. Jess segera membukanya dan menemukan Dylan berdiri di luar dengan jaket tersampir di lengannya.“Masuklah,” ujar Jess. “Kami sudah selesai menyiapkan sarapan.”Dylan mengikuti mereka menuju ruang tengah. Emma memberinya sebuah wadah makanan sebelum mempersilahkannya duduk.“I
CHAPTER 136Summer dan Jess menemukan Emma di ruang tengah suite dengan laptop terbuka di hadapannya. Beberapa lowongan pekerjaan memenuhi layar, sementara percakapan dengan ibunya masih terbuka di ponsel yang tergeletak di atas meja.“Kamu mencari pekerjaan?” tanya Summer.Emma mengangkat wajah. Matanya sudah memerah meskipun ia berusaha tersenyum seperti biasa. “Usaha katering orang tuaku mengalami kerugian. Mesin pendingin mereka rusak dan sebagian besar bahan untuk pesanan besar tidak dapat digunakan. Mereka harus mengembalikan uang muka, membayar pemasok, dan memberikan ganti rugi kepada pelanggan.”Jess langsung duduk di sebelahnya. “Lalu pesan ibumu tadi?”“Untuk sementara mereka tidak bisa mengirim biaya hidup.” Emma menutup laptopnya sebelum Summer sempat membaca lowongan yang dipilihnya. “Beasiswaku memang menanggung biaya kuliah, tetapi tidak termasuk makan dan kebutuhan sehari-hari.”“Kamu tidak boleh bekerja di luar kampus tanpa izin RCA,” u
CHAPTER 4 Keesokan paginya, Summer berdiri beberapa detik di depan pintu kelas A-1 sambil memeluk tablet di dadanya. Begitu pintu terbuka, suara obrolan di dalam langsung mengecil dan beberapa kepala serempak menoleh ke arahnya. “Oh, ranking satu datang.” “Yang kemarin ngomong ke senior Dylan it
CHAPTER 3 “Oh no...” Jess buru-buru menarik pelan lengan Summer. “Summer...” bisiknya cepat. “Kamu nggak dengar aku tadi?!” Namun Summer tidak mengalihkan pandangannya dari charm kecil di dekat sepatu pria itu. Ia melangkah sedikit mendekat sambil berkata pelan, “Itu gelangku.” Pria itu tetap dia
CHAPTER 2 Kamar asrama itu sunyi. Summer duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang buku asesmen yang terbuka di pangkuannya. Beberapa pulpen sudah berjajar rapi di sampingnya, sementara seragam RCA untuk besok tergantung rapi di pintu lemari. Semua sudah siap, tetapi tangan Summer masih salin
CHAPTER 1 PROLOG 👧 Saat itu Summer baru berusia lima tahun. Dorr!! Suara tembakan tiba-tiba mengguncang ruangan hingga telinganya langsung berdenging dan kaca-kaca jendela bergetar keras. Summer refleks menoleh, lalu membeku saat melihat pria yang sedetik lalu masih berdiri di dekatnya kini r







