Share

☀︎98

Author: goshxx
last update publish date: 2026-06-19 19:00:00

CHAPTER 98

Pertanyaan itu membuat Summer tertawa kecil. “Tentu saja.” Jemarinya masih bermain dengan liontin kecil di gelang tersebut. “Aku sangat ingin.”

Saat mengangkat kepala lagi, Summer sempat melihat senyum tipis di sudut bibir Dylan. “Ada apa?”

Dylan menggeleng. “Tidak ada.”

Jawaban itu terdengar terlalu cepat untuk benar-benar meyakinkannya, tetapi Summer memilih tidak mengejar penjelasan lain.

Beberapa saat kemudian Dylan berdiri dari bangku dan memasukkan ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎98

    CHAPTER 98Pertanyaan itu membuat Summer tertawa kecil. “Tentu saja.” Jemarinya masih bermain dengan liontin kecil di gelang tersebut. “Aku sangat ingin.”Saat mengangkat kepala lagi, Summer sempat melihat senyum tipis di sudut bibir Dylan. “Ada apa?”Dylan menggeleng. “Tidak ada.”Jawaban itu terdengar terlalu cepat untuk benar-benar meyakinkannya, tetapi Summer memilih tidak mengejar penjelasan lain.Beberapa saat kemudian Dylan berdiri dari bangku dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana olahraga. Summer ikut bangkit. “Summer.”“Iya?”Dylan menatapnya beberapa saat hingga tanpa sadar Summer ikut menahan napas. “Jangan takut mengambil keputusan untuk hidupmu sendiri.”Kalimat itu langsung mengingatkannya pada percakapan dengan kakeknya. “Kakekku bilang hal yang hampir sama.”“Kakekmu benar.”Summer menunggu, dan Dylan kembali membuka suara dengan tenang. “Keputusanmu akan menentukan takdirmu.”Ia mengangguk pelan. Aneh, tetapi

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎97

    CHAPTER 97Arthur masih memeriksa laporan keuangan di atas mejanya saat ketukan pintu terdengar dari luar. Ia tidak perlu menebak siapa yang datang. “Masuk.”Pintu terbuka dan Dylan melangkah ke dalam ruang kerja, lalu berhenti beberapa langkah dari meja seperti biasa.Arthur menutup map di hadapannya, berdiri dari kursi, lalu berjalan ke arah jendela yang menghadap taman. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat para petugas taman yang masih sibuk merapikan semak-semak di sepanjang jalan setapak. “Sudah kau putuskan?”“Aku akan melindunginya.”Arthur tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela sementara kata-kata itu terngiang di kepalanya. Jawaban itu sama sekali tidak mengejutkan.Dylan tidak pernah mengambil keputusan karena emosi sesaat. Sejak kecil, anak itu selalu memikirkan segala sesuatu jauh lebih lama daripada orang lain sebelum akhirnya menentukan pilihan.Karena itulah Dylan sering terlihat keras kepala di mata ora

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎96

    CHAPTER 96Lampu belajar yang masih menyala membuat Cloud membuka mata. Ia berkedip beberapa kali sambil menyesuaikan pandangan, lalu memiringkan kepala ke arah meja di dekat jendela.Dylan masih berada di sana dengan laptop yang belum juga ditutup. Cahaya layar memantul di wajahnya, menerangi tumpukan map dan catatan yang memenuhi meja, sementara suara pelan dari tombol keyboard terus terdengar.Cloud melirik jam di samping ranjang dan refleks mengernyit. Sudah lewat pukul dua dini hari, tetapi Dylan masih belum beranjak sedikit pun.Ia mengusap wajah sekilas lalu menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur. “Belum tidur?”“Belum.”“Siang nanti, lo jadi meeting sama kepala divisi IT?”“Iya.”“Istirahat, Dy. Nanti lo capek.”Suara keyboard tetap terdengar beberapa kali lalu akhirnya berhenti. Dylan tidak mengalihkan pandangan dari layar di depannya saat menjawab singkat, “Bisa.”Cloud menggeleng pelan. “Kalau lo sakit, lo gak akan bisa ngapa-ngapain.”Ia memandangi punggung sahabatny

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎95

    CHAPTER 95Pagi itu Royal Crest Academy kembali dipenuhi murid-murid dengan seragam rapi dan wajah penuh semangat. Koridor yang sempat lengang selama beberapa minggu terakhir kembali ramai oleh suara langkah kaki dan obrolan yang saling bersahutan.Setelah jam pelajaran keempat berakhir, Summer berjalan berdampingan dengan Emma menuju kantin. Begitu menemukan meja kosong, Emma meletakkan nampannya lalu duduk sambil mengembuskan napas pelan. “Liburannya terasa sebentar sekali.”Summer ikut duduk di hadapannya. “Iya.”Emma membuka botol minumnya, meneguk sedikit, lalu menoleh. “Bagaimana di rumah Jess?”“Menyenangkan.” Senyum Summer bertahan begitu saja di wajahnya hanya karena kembali mengingat beberapa hari terakhir. “Mama dan Papa Jess sangat baik. Kami makan bersama, membantu di dapur, bermain dengan anjing-anjing di halaman, lalu mengobrol sampai malam.”“Kelihatannya menyenangkan.”“Memang.” Summer mengangkat wajah dan balik menatapnya. “Kalau ka

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎94

    CHAPTER 94“Summer! Cepat sedikit!” Suara Jess sudah terdengar bahkan sebelum pintu kamar benar-benar terbuka.Ia masuk sambil menyeret koper dan berhenti di depan Summer yang masih melipat pakaian di atas ranjang.Emma cuma melirik sekilas dari tempatnya duduk di lantai, lalu kembali memasukkan buku terakhir ke dalam tas.“Kita bakal telat.”Summer menoleh ke jam di dinding. “Masih satu jam lagi.”“Itu sebentar.”“Masih lama.”Emma mengangkat kepala sambil menahan senyum. “Kalau kalian lanjut begini, sampai besok juga nggak jadi berangkat.”Jess pura-pura tidak dengar. Perhatiannya sudah pindah ke tas Summer yang masih terbuka. “Dompet?”“Ada.”“Ponsel?”“Ada.”“Charger?”Summer berhenti melipat baju lalu menatapnya. “Jess.”“Apa?”“Aku cuma pergi beberapa hari.”“Terus?”“Kamu bikin rasanya seperti mau pindah rumah.”Emma terkekeh pelan, sementara Jess cuma mengangkat bahu tanpa merasa bersalah. “Biar

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎93

    CHAPTER 93Hari-hari setelah festival berlalu tanpa terasa.Musim di Royal Crest kembali berganti. Daun-daun yang sempat menguning perlahan menghijau, lalu tanpa sadar jadwal kelas, tugas, dan ujian mengambil alih hampir seluruh harinya.Summer pun kembali menjalani rutinitas yang sama. Pagi di ruang kelas, siang di studio seni, lalu sore hari pulang ke asrama bersama Emma.Pak Aris masih sesekali menghampirinya setiap kali jam pelajaran seni berakhir. “Sudah berubah pikiran?”Summer selalu membalas dengan senyum kecil. “Maaf, Pak.”Pria itu tidak pernah memaksanya. Ia hanya sesekali berkata, “Aku masih berharap suatu hari nanti bisa melihat namamu kembali di pameran Royal Crest.”Summer hanya mengangguk.Waktu terus berjalan. Ia tetap menghabiskan waktu berjam-jam di studio seni dan kanvas demi kanvas terus terisi warna, tetapi sejak hari itu tidak ada lagi satu pun lukisannya yang diizinkan tampil di pameran.Di luar studio seni, kehidupan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status