LOGINFalling in love easily is not her thing, but instead, she want a happy moment experience and try something to make she feel good and memorable. Lahat ng gusto niya nasusunod. Mayaman, maganda, Makinis ang balat, everything is all in her. Seferene Marien Dezaga will meet Zadiel Jerezon Remejo in unexpectedly. She didn't notice that she have a feelings towards him. Hindi niya inaasahan na ang naka-sex niya isang gabi ay ay anak ng matalik na kaibigan ng kanyang ama. Just a night being with Zadiel Jerezon Remejo. Kaya pa kaya niyang pangatawanan na iwasan ang lalaki? o tuluyan na siyang magpapaanod sa pag-ibig na nararamdaman niya para sa lalaki?
View More“Hei, Grossy! Dean memanggilmu.”
Aku menengadah ke arah sumber suara. Seorang laki-laki dengan wajah lumayan tampan, tapi mengingat ia memanggilku Grossy jadi buru-buru kurevisi penilaianku tentang wajahnya. Hmm… Pasti salah satu mahasiswa favorit para gadis. Aku mencoba menerka-nerka.
Sayang, wajah tampannya dirusak oleh mulutnya sendiri. Aku masih asyik membuat penilaian tentang orang yang tengah berdiri di hadapanku.
“Heh, kamu tidak dengar ya. Cepatlah ke ruangan dekan!” nada bicara mahasiswa itu semakin kasar. Kualihkan pandanganku pada beberapa diktat dan laptopku yang tersebar di atas meja perpustakaan.
“Iya, aku akan datang. Thanks.”
“Cepatlah. Aku harus mengantarmu langsung ke ruangan dekan.” Laki-laki itu semakin tidak sabar. Dia bergerak mendekat dan menutup laptopku. Aku mendengus kesal.
Sialan. Makiku dalam hati.
*
Aku mengekor mahasiswa itu menuju ruang dekan. Kususuri lorong kampus yang sangat ramai. Tampaknya banyak yang tidak ada kuliah saat ini. Di beberapa titik terdapat sekumpulan mahasiswa atau mahasiswi yang asyik mengobrol.
“Guys, ada gempa ya”? Seseorang dari sekumpulan mahasiswa bicara dengan setengah berteriak.
Mulai lagi. Pikirku. Aku mendengus kesal. Kulihat mahasiswa yang mengantarku juga terkikik.
Ah, sama saja. Sama-sama brengsek.
“Iya, nih. Bergoyang-goyang.” Ujar mahasiswa lainnya masih dari gerombolan yang sama.
“Pasti karena Grossy lewat.” Celetuk lainnya yang ditimpali dengan tawa seluruh anggota gerombolan itu.
Sabar, Maura. Jangan terlalu sensitif. Mereka bukan baru kali ini mengejekmu seperti itu. Kucoba menenangkan diriku. Aku sendiri heran dengan diriku saat ini, aku menjadi lebih sensitif dan perasa. Biasanya aku tak pernah ambil pusing dengan semuanya.
Entah siapa yang memulai pertama kali, panggilan grossy atau kotor tersemat padaku sejak hari pertama kuliah. Seketika panggilan itu menyebar tanpa bisa kukonfirmasi alasannya. Setiap yang kutanyai selalu mengedikkan bahu, pertanda tidak tahu. Entah benar-benar tidak tahu atau pura-pura.
Ruang dekan terasa sangat jauh kali ini, meskipun aku tahu bahwa ini hanyalah perasaanku saja. Setelah melewati gerombolan cowok-cowok dengan lidah pedasnya, aku melewati sekumpulan cewek-cewek hits yang langsing dan hobi berdandan.
Huft, keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut singa. Aku mengeluh.
Aku sebenarnya tidak gentar dengan gank ini karena aku selalu meyakinkan diriku bahwa tujuanku dan mereka di kampus ini sangat berbeda. Jadi meskipun mereka mengataiku dengan kasar, aku tak pernah ambil pusing. Tapi kali ini berbeda. Entah kenapa dari pagi sebelum ke kampus aku merasa mood-ku kurang baik. Padahal aku tidak sedang PMS.
*
Aku mengetuk pintu ruang dekan. Terdengar sahutan dari dalam yang mengizinkanku masuk. Cowok yang mengantarku muncul lebih dulu. Memberikan senyuman penuh arti pada dekan, kemudian menghilang.
“Silakan, Nona Maura.” Dekan menunjuk kursi di depan mejanya. Aku mengangguk dan menarik sandaran kursi kemudian duduk.
“Nona Maura, ada hal yang harus saya sampaikan terkait studimu.” Dekan diam memberi jeda. Aku juga diam, meskipun hatiku ingin bertanya lebih.
“Anda diterima di kampus ini dari jalur beasiswa kampus. Sayangnya, mulai semester depan jatah beasiswa Anda tidak mengkover semua biaya. Anda harus membayar tuition fee, sementara asrama dan asuransi kesehatan masih dikover.”
“Kenapa bisa begitu?” diriku panik. Terbayang banyaknya uang yang harus kusiapkan untuk satu tahun perkuliahan. Mau mundur sangatlah tidak mungkin. Saat ini aku sudah menjalani proses penelitian untuk tesisku. Meminta pada orangtua juga tidak mungkin karena sejak awal aku menyampaikan keinginanku kuliah di sini, orangtuaku menentang keras. Tidak ada biaya adalah yang utama. Keluargaku bukanlah keluarga kaya. Mampu bertahan hidup setiap bulan dan mempunyai sedikit tabungan merupakan hal yang harus diupayakan dengan keras. Kami semua harus bekerja. Ya, ayah, ibu, aku, dan adikku harus bekerja keras setiap hari.
“Ini sudah kebijakan yang diatur universitas. Saya sudah mencoba semampu saya untuk menolak kebijakan ini.”
Aku dan dekan beradu pandang. Sorot mataku menghiba padanya. Mencoba meminta bantuan, walaupun tanpa kukatakan.
“Anda bisa memanfaatkan student loan.” Dekan mencoba memecah keheningan di antara kami sekaligus menghindari tatapan mataku.
“Baik, saya akan mengurusnya. Terima kasih.” Aku beranjak dari dudukku setelah melihat anggukan kepala dekan. Kulangkahkan kakiku tanpa semangat menuju bagian kemahasiswaan.
*
“Pengajuan student loan terakhir hari ini.” Kata petugas yang khusus menangani student loan.
Sial. Mungkinkah aku bisa menyelesaikan semua berkas untuk pengajuannya, sedangkan begitu banyak persyaratan yang harus kupenuhi.
“Mungkinkah semua berkas ini bisa kuperoleh saat ini juga?” Tanyaku lemah.
“Berusahalah. Setidaknya Anda punya empat jam untuk memprosesnya.”
“Baiklah.” Aku pun keluar dari ruangan itu.
*
Rasanya aku ingin menangis ketika mendengar petugas yang mengurusi student loan mengatakan bahwa kuota telah habis. Terbayang jumlah uang yang harus kubayarkan dua bulan ke depan. Memperoleh €20.000 dalam waktu sesingkat itu sangatlah tidak mungkin. Aku takt ahu harus bagaimana. Kakiku membawaku kebali ke depan ruangan dekan. Kuketuk lagi pintu dan masuk setelah mendengar jawaban dekan.
“Tidak mungkin bagi saya memperoleh €20.000 dalam waktu dua bulan, Dean.” Aku sangat putus asa. Dekan menatapku dalam-dalam. Ia tidak berkata apa pun.
“Sebanyak apa pun pekerjaan part time kuambil, tetap itu tidak mungkin. Anda tahu berapa upah untuk kerja part time. Apa aku harus tidak makan selama dua bulan?” Aku semakin bingung. Dean masih saja diam.
“Bahkan dengan berhemat sekuat tenaga pun, itu masih mustahil Dean.” Kuakhiri kalimatku dengan nada merintih. Pikiranku buntu. Aku sangat putus asa.
“Aku akan memberi rekomendasi agar kamu bisa bekerja part time pada week days. Akan kuhubungi semua kenalanku agar mereka membantumu semampu mereka. Tapi sebenarnya….” Kalimat menggantung dekan membuatku Kembali menatapnya lekat.
“Maukah kamu mencoba menemui David Peters?”
“Siapa dia, Dean?”
“Seseorang yang berpengaruh di kota ini.”
Aku berpikir keras. Menemui seseorang yang berpengaruh sangatlah tidak mudah. Pasti ada penjagaan berlapis yang melindunginya. Bisakah aku? Aahh… batinku menjerit frustasi lagi.
“Adakah aksesku untuk menemuinya, Dean?”
“Besok dia akan memberi stadium generale di auditorium. Datanglah. Aku akan memperkenalkanmu padanya.”
Kurasakan mataku sedikit berbinar setelah mendengar kalimat terakhir dekan. Thank you, Dean. Aku tahu Anda tidak akan tinggal diam.
Aku pun izin meninggalkan ruangan dekan. Hati dan pikiranku campur aduk. Segala kata, doa, motivasi, dan lainnya kurapalkan. Aku sangat berharap semoga Tuan David Peters bisa membantuku memberi pinjaman.
“Aduh!” Suara seorang pria mengaduh karena terbentur pintu yang kubuka. Buru-buru aku meminta maaf. Menanyakan bagian tubuhnya yang mungkin terluka karena benturan dengan pintu.
“Tidak apa. Lain kali berhati-hatilah.”
“Maaf.” Aku tidak berani menatapnya. Kumaki diriku sendiri karena ceroboh sehingga melukai orang.
“Ok.” Kulihat orang itu masuk ke ruangan dekan sambil tersenyum. Kudengar dekan, dengan suara ramah memanggil namanya, Matt.
***
Halo, Pembaca. Ini adalah karya pertama saya di Goodnovel. Sebenarnya karya ini sudah pernah publish, tapi saya hapus dan mulai posting lagi dari awal.
Semoga Pembaca semua suka, ya.
Selamat membaca dan semoga terhibur.
Luv,
Sita Ayodya
I was busy looking at my daughter while hard trying to tie her hair. Nandito kami ngayon sa kwarto habang hinihintay namin ang mag-aayos sa amin para sa gaganaping kasal namin ni Zadiel. This is the day that me and Zadiel will become as one. Hindi parin kami nagkikita simula kahapon dahil kasabihan na hindi raw maaari ang ganoon. Baka daw hindi pa matuloy ang kasal! As if naman marami pang naniniwala don'. Nasa tao narin naman iyon kung hindi nila itutuloy ang kasal. Basta kami ni Zadiel, mahal namin ang isa't-isa.Napatingin ako sa pinto nang biglang bumukas iyon. Masayang mukha ng babae ang pumasok dito sa aking silid."Hi Ma'am Seferene, ako po iyong make up artist na mag-aayos sa inyo ng anak niyo. Ako po ang pinadala dito ng mommy niyo." magalang niyang sabi sa akin habang inihahanda ang mga gagamitin para maayusan kami."Uhh right. Kanina ka parin namin hinihintay eh."
This will be the last chapter of this story. To all readers who reads the story of Zadiel and Seferene, I am very thankful to you all. Maraming salamat sa mga sumuporta at susuporta pa sa storyang ito. It might be this not your ideal story, but all along I am sincerely thankful to all of you. Sana basahin niyo parin ang kwentong ito hanggang sa katapusan!I love you Aleeeeys! ♥️ZADIEL JEREZON MERCADO REMEJOI want to fucking go home! I'm so tired being here! Being with her! Hindi ko alam kung bakit aabot kami sa ganito ni Sheena. Ni minsan hindi ko naramdaman na mararamdaman ko ito sa kanya. Wala na iyong saya, wala na iyong sigla, wala narin pati pagmamahal ko sa kanya. Alam kong isang kagaguhan ang lahat p
Maayos kaming nagpaalam sa mga magulang ko ganoon din kayna Lola Aurora at Lolo Mario. Hindi nila mapigilang mapaiyak dahil hindi manlang daw nila makakasama ng matagal ang kanilang apo. Pero nangako naman akong dadalawin sila sa probinsya para mabisita sila doon, dahil matagal narin na pahanon na hindi ako nakakapunta sa probinsya nila.Tahimik lang ako sa kotse at tanging pag-uusap lang ng mag-ama ang naririnig ko. Hinayaan ko nalang silang dalawang mag-usap, at ng mas makilala din naman ni Zadiel ang anak niya. Pero sa palagay ko naman ay madali silang magkakasundo."You're a model daddy?!" hindi makapaniwalang tanong ni Lea sa ama niya, kahit si Zadiel hindi makayanan ang kakulitan at kadaldalan ng anak niya!Humaklahak muna siya bago sumagot. "Yes baby.""Wow! Mommy is also a model daddy! She'd always wear a different clothes everytime she has a fashion show!"Hindi ko alam kung alam ni Zadiel na pumasok ako
Maaga akong gumising upang tulungan sina Ate Ana at manang sa pagluluto. Sa loob ng pitong taon na pananatili ko sa London ay nakasanayan ko narin magluto dahil narin kay Lola Ellen at lolo na tinuturuan ako. Hindi man ako masasabing magaling talaga pagdating sa pagluluto ay pinag-bubutihan ko naman.Kahit sina Lola Aurora ay hindi ako pinapayagan na magluto kesyo kinakailangan daw ay ako ang pagsilbihan nila. Pero hindi ako pumayag na ganoon nga ang maging sistema. Hindi naman kami iba sa isa't-isa para magturingan kami ng ganoon.Alas-singko palang ng umaga ng madatnan ko sila Ate Ana na nag-aasikaso sa kusina kaya hindi na ako nag-abala pang mag-ayos ng sarili. Tulog pa silang lahat at alam kong maya-maya lang ay gigising narin. Mamaya ko nalang pupuntahan ang anak ko sa kanyang silid."Naku naman Sefe sinabi na nga namin na kaya na namin tong' pagluluto, mabuti pa'y umakyat ka nalang muna sa taas at magpahinga pa." natawa naman ako sa inast






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore