LOGIN‘An hunter, and his prey. The forbidden fruit tastes the best.’ “Did you want this?” His deep baritone asked, as he straddled her hips on his thigh, with the eyes locked oozing with tame desires that both had been hiding. “I–I–this is wrong.” Cassandra breathed, but her breathing stiffened when she felt the man's hand run through her thigh into her dress, and it was like her body was on fire. “No one asked you what's right, kitten, I asked, if you want this?” He breathed, his hot breath fanning her chest, and her n*pples stood erected. She couldn't think straight, so she decided to forget about her stance, and let herself loose. She wanted the man badly, she was done fighting. “Yes,” she mumbled. “Answer better!” The man teased, as he pinched her butt. “Yes, I want it daddy!” Cassandra breathed, and immediately the words left her mouth, the man crashed his lips on hers. *********************** Cassandra swore she would never cross the line. But the line blurred the moment her best friend’s uncle walked into her life..older, forbidden, and devastatingly magnetic. She told herself it was just lust. A dangerous spark she could smother with distance. But fate had other plans. Work pushed them together, and every stolen glance, every accidental touch, only pulled her deeper into a desire she couldn’t control. Dante Blackwell was no stranger to women. A notorious playboy, he had conquered them all. But Cassandra was different, wild, untamed, a temptation that clawed at his control. She wasn’t supposed to matter. She wasn’t supposed to be his weakness. But he found her irresistible. Will they resist temptation, or let passion consume them both no matter the cost?
View MoreBaru tiga minggu bekerja sebagai seorang pelayan, Binar malah memergoki tuannya sedang menuntaskan hasratnya seorang diri.
Hari itu, Binar yang biasanya hanya mengurusi lantai bawah, mendadak terpaksa mengantarkan sarapan ke kamar majikannya yang berada di lantai dua. Hal tersebut terjadi karena pelayan lainnya sedang sangat sibuk.
Biasanya, sarapan akan disiapkan di meja makan. Nyonya Celia akan duduk dengan wajah malas, sementara Tuan Bhaga sibuk membaca tablet dengan dahi mengernyit.
Tetapi, sudah dua malam ini nyonya rumah tidak pulang.
“Duh, Tuan marah enggak ya kalau aku yang antar?” Binar bergumam sendiri, terlebih saat matanya sudah bisa melihat pintu kamar utama yang terbuka sedikit.
Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah dan menghela napas. “Ayo, Binar. Kamu bisa.”
Namun, langkah Binar yang tadinya mantap, perlahan memelan ketika mendengar suara rintihan dari dalam kamar. Dia mengernyit. “Apa tuan sakit ya?”
Dia meletakkan nampan di meja terdekat dan kembali berjalan cepat. Tangannya membuka pintu dengan terburu-buru. “Tuan, ada apa—”
Seketika, napas Binar tertahan, matanya melotot, dan tubuhnya membeku saat melihat pemandangan di dalam kamar.
Di atas tempat tidur, Baju Bhaga tersingkap ke atas, memperlihatkan otot perut yang terbentuk indah. Celananya melorot sampai paha dan kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam.
Tangannya bergerak naik turun di antara kedua pahanya, dan dia melenguh penuh kenikmatan.
Melihat bibir pria itu terbuka dan mendesahkan uap panas, Binar tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Tanpa berkedip, Binar memperhatikan tangan tuannya yang sedang memuaskan dirinya sendiri!
“T-Tuan…”
Saat suara terkesiap Binar terdengar, Bhaga menoleh dengan cepat. Dia terkejut setengah mati. Menunduk sesaat sebelum menarik apa pun di dekatnya untuk menutupi tubuh.
"KELUAR!" suara Bhaga meninggi, penuh malu dan amarah.
Sontak, Binar berbalik, tubuhnya gemetar. Tapi ada yang mengusik dadanya, mata yang sedang marah itu kelihatan kesepian.
Lupa akan sarapan yang belum diantar, Binar berlari turun. Dadanya saat ini berdebar cepat dan pikirannya berisik.
Apa itu barusan?! Kenapa tuan sampai melakukan hal seperti itu? Kenapa tidak menunggu nyonya pulang?
Sampai di lantai bawah, Binar cepat berjalan menuju dapur. Memikirkan apa yang dia lihat tadi, mendadak dia kembali menggigit bibir dan menyandarkan tubuhnya pada dinding di samping lemari es.
“Aku bakal dipecat enggak ya?” Binar mengerjap. “Kalau dipecat, aku tinggal di mana?”
Pikiran Binar kembali pada masa kecilnya. Dia ditinggalkan oleh orang tua yang bercerai pada usia sepuluh tahun. Ayahnya pergi meninggalkan hutang, sedangkan ibunya yang tak tahan harus banting tulang akhirnya menikah lagi dengan pejabat desa dan melupakannya.
Sejak saat itu, Binar tinggal bersama neneknya. Dia sibuk sekolah dan berjualan kue basah yang akan dititipkan ke warung saat berangkat sekolah dan diambil saat pulang. Lalu saat lulus SMA, neneknya sakit keras, akhirnya berpulang di usia Binar yang ke dua puluh tahun.
Selama bertahun-tahun, dengan usaha jualan kue basah, Binar hanya mampu membayar bunga dari hutang ayahnya, dan tak bisa berkutik saat rumahnya disita penagih hutang. Hingga salah satu tetangga jauhnya, mengajak untuk ikut bekerja di rumah ini.
Tapi, baru tiga minggu bekerja, Binar justru membuat majikannya marah dengan menyaksikan adegan pribadinya.
Bayangan ekspresi tuannya tadi masih terbayang dan membuatnya gelisah.
"Binar! Kamu melamun lagi? Ini sarapan Tuan Bhaga, kenapa belum diantar?!" Maryam, kepala pelayan, menghampiri Binar dengan tatapan tajam.
“Ma-maaf, Bu. Saya lupa.” Dia membasahi tenggorokan dengan susah payah.
Tangannya yang memegang nampan berkeringat. Mengantar sarapan berarti harus bertatap muka dengan Tuan Bhaga lagi. Aduh, bagaimana ini, pikirnya.
"Lupa? Dasar anak baru. Cepat bawa ke kamarnya! Tuan sudah menunggu!" hardik Maryam.
Binar melirik ke arah ruang makan. Perutnya tiba-tiba mules. Dia tidak bisa. Tidak sekarang.
"Bu, em ... boleh... boleh saya minta tolong?" pintanya, suara bergetar takut. "Saya janji akan melakukan tugas apa pun. Saya... saya mules." Itu bohong, dan dari raut wajah Maryam, Binar tahu wanita itu tak percaya sepenuhnya.
Maryam mendengus, kesal tapi juga iba melihat wajah pucat Binar. “Dasar. Baiklah. Tapi sebagai gantinya, kau urus Ardan.”
Mendengar nama Ardan, beban di pundak Binar terasa sedikit lebih ringan.
Ardan. Anak Tuan Bhaga dan Nyonya Celia. Di rumah seluas dan semegah ini, bocah lima tahun itu adalah satu-satunya penghuni yang tidak membuatnya merasa terancam. Justru, dialah yang membuatnya betah.
Sayangnya anak itu justru yang paling kesepian. Binar pertama kali bertemu Ardan di taman belakang. Saat itu Ardan sedang main sendiri.
“Kenapa main sendiri, Tuan Muda?”
Ardan tak menoleh, tetap melanjutkan bermain, dan menjawab dengan malas. “Tidak ada yang mau main denganku.”
Binar tersenyum. “Kalau begitu saya temani ya?” tawarnya.
Ardan menoleh. “Benar?”
“Iya. Kapanpun Tuan Muda mau main, panggil saya saja. Oke?”
Suasana hati Binar sudah lebih baik setelah menghabiskan banyak waktu bersama Ardan. Ternyata, di balik sikap pendiam, Ardan adalah anak yang cerdas dan haus perhatian. Kemarin mereka melakukan banyak hal, mulai dari menggambar, main tebak-tebakan, dan bermain puzzle.
Untuk pertama kalinya, Binar mendengar suara tawa Ardan yang begitu hangat.
Keesokan harinya, sejak bangun tidur tadi, Ardan sudah mencari Binar. Kini mereka sedang di taman samping rumah.
“Ayo, Tuan Muda. Suap lagi, biar makin kuat,” bujuk Binar sambil menyuapi makan Ardan.
Ardan membuka lebar mulut, tapi matanya tidak lepas dari mainan barunya. Sebuah bola kristal berisi salju yang bisa berputar dan menyala dengan boneka kecil menari di dalamnya. Di sekelilingnya mainan lain berserakan, tapi Ardan tak peduli.
"Nanti saljunya turun banyak ya, Kak Bin? Seperti di TV," celetuk Ardan dengan mulut penuh.
"Bisa saja, asalkan Tuan Muda habiskan makannya dulu," jawab Binar sambil tersenyum.
Ardan mengangguk antusias dan mengunyah dengan lahap. Saat akan menyuap suapan terakhir, tangannya yang memegang bola kristal terlepas. Bola itu lepas dari tangannya, memantul di karpet tebal, dan menggelinding dengan cepat lalu melewati ruang keluarga.
"Yah!" seru Ardan, wajahnya berubah cemas.
"Jangan khawatir, Kakak ambilkan," tenang Binar. Dia meletakkan piring dan beranjak dari sana.
Dia mengikuti lintasan bola kristal itu yang ternyata berhenti persis di depan pintu ruang kerja Tuan Bhaga yang sedikit terbuka. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, suara itu tiba-tiba mengoyak kesunyian rumah yang biasanya hening.
Suara itu bukan desahan Tuan Bhaga seperti pagi itu, bukan juga teriakan Ardan yang ceria. Suara itu adalah perempuan yang dipenuhi amarah.
“BRENGSEK KAMU, BHAGA!”
Prang!
Diikuti suara barang-barang yang dilemparkan dan pecah.
Author’s POVColorful balloons swayed in the gentle sea breeze, tied to beach chairs and picnic tables loaded with cupcakes, snacks, and a towering cake shaped like a pirate ship. It was Ryan’s fifth birthday party, and his parents had gone all out.“Happy birthday, Ryan!” loud voices echoed along the shore.The celebration took place on the Blackwells’ private island. Everyone was in attendance, Dante’s parents, Cassandra’s parents, Mirabella, and other family members showering Ryan with overwhelming love. His grandfather had even transferred all his shares in the group to him, a gesture that made Mira grumble jokingly about why Ryan always received more special treatment than she did.“Blow out the candles and make a wish,” Cassandra urged gently, and Ryan leaned forward, puffing his cheeks before blowing them out in one breath.“I wish Mummy and Daddy will give me a sister soon,” Ryan announced cheekily.Cassandra flushed instantly, while father and son exchanged knowing winks.“I
Cassandra’s POVThe church went silent as everyone stared at Margaret, their hearts lodged in their throats. I looked around frantically, searching for something, anything, I could use to distract her, but there was nothing within reach.So I tried to reason with her.I shot Sergio a pointed look, silently urging him to hide Ryan. I didn’t want that crazy woman to see my son and completely lose whatever shred of reason she had left. Out of the corner of my eye, I noticed some of Dante’s men slowly positioning themselves behind her, and I breathed a small sigh of relief. Still, I needed to keep Margaret engaged.“I want y’all dead! I want every single one of you dead!” she roared. She spun around just in time to catch Dante’s men moving toward her. “Are you really testing me? Do you want me to blow this place up?” she shrieked, her hand tightening around the detonator.“Stop! All of you, move back!” I ordered sharply. The last thing I wanted was for her to lose control and risk everyon
Cassandra's POV “Good morning, Mrs. Blackwell,” Mira teased as she walked into my room, and I burst into laughter. She had been teasing me like that for a week now, but I wouldn’t call it a tease since it was my wedding today. I was getting married to Dante Blackwell today. The sun was out, and it didn’t look like it would rain. It was such a perfect day. “Good morning to you too, Ms. Blackwell,” I replied, and we both burst into laughter again. “Goodness, I still can't believe this,” she mumbled as she sat on the bed, while I checked out my dress in the mirror. I had been doing that all morning. “Believe what?” “That you, Cassandra Monroe, will be the one to marry my uncle,” she said, and I chuckled. I found it unbelievable too, but it was happening. If anyone had told me that my best friend's uncle, the man my boyfriend sold me to for a cheap deal, and the one I lusted after, would become my husband, I would have laughed it off. But it was happening. In a few minutes, I wou
Dante's POV I fidgeted nervously on the rooftop as I waited for Cassandra to join me. I looked at what I had prepared. It was a simple romantic rooftop setup, with candles flickering in delicate glass holders, tracing the edges of the rooftop, and soft fairy lights hanging above, casting a warm golden glow. Roses, her favorite, of course were scattered along the floor, petals drifting in the gentle night breeze. My heart skipped a beat when I saw her walking toward me, wearing the dinner dress I had prepared for her. It fitted her perfectly, her beauty radiant as she got closer. The candles and lights glimmered, but nothing shone brighter than her. “Hello, Mr. Blackwell,” she beamed. I had rehearsed every word, every gesture, but seeing her now, radiant and unsuspecting, made my heart hammer in a way no preparation could mimic. Everything, the soft music from the band, the lights, the scent of flowers was meaningless compared to the moment I would finally ask her to be mine for
Cassandra’s POV“What’s going on?” Becky screamed after me as I ran to my hotel room, ready to pack my belongings and leave the country, because I couldn’t stay here any longer.I had thought it was safe as long as I didn’t bump into Dante anywhere. Who could have thought that even if I avoided him
Dante’s POV“Uncle, what happened?” Mira asked as she stepped into the private room, and that was when I finally jerked back to my senses.“She… she hates me,” I replied, my heart aching as I replayed her reaction over and over again in my head.The way she had looked at me, it was as if I were som
Cassandra’s POVI accompanied Sergio to the Engineering Summit that evening as his partner, but only after I carefully vetted the guest list and confirmed that Dante Blackwell’s name wasn’t on it. I had no intention of running into him again. Yet the moment we entered the hall, a waiter “accidental
Cassandra’s POVI had guessed that it would be Dante and his men waiting for me, so I was completely unprepared for the shock that hit me when I saw Sergio, Carson, and Ryan, my four-year-old so standing there, smiling cheekily at me.They came for me.“Oh my goodness, what are you people doing her






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews