LOGINTitle: A Werewolf or A Vampire Genre: paranormal Setting:Alexandria, Egypt / contemporary world. Main character: 1.Caroline: An eighteen years girl. She is the daughter of Alpha Jack. She was murdered and reincarnated. 2.Alexander: A 22 years old boy who is the bodyguard and boyfriend of Caroline. He helped reincarnated Caroline in taking revenge of her murder. 3.Lucinda: a twenty years old girl. She is a vampire. She met with an accident and died. Caroline's soul dwelled in her body. 4.Yuvan: A 22 years old boy. He is the boyfriend of Lucinda and studies with her in college.
View More“Om Kayden enak banget. Aku jadi ketagihan.”
Amelia menjilat ujung jarinya dengan manja. Wajahnya berseri penuh kenakalan. Kayden hanya menatap datar. Lalu menyentil keras dahinya. “Tangannya biasa aja, bisa nggak? Kalau mau lagi, ya ambil,” omelnya. Sarapannya kali ini sedikit ramai, karena adanya Amelia yang menginap semalam. Kayden Ferdinand. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan, mapan dan mempesona. Tidak sedikit wanita yang menginginkannya. Tapi tak satupun berhasil menarik perhatiannya. Dan terkadang, Amelia pun jahil menggoda duda anak satu itu. Hanya sekedar candaan. “Hehe. Aku muji, loh. Dessert buatan Om kan selalu enak,” ucap Amelia. Lidahnya pandai berkelit. “Ya lagian. Tingkah sama omonganmu bikin salah paham tau! Nggak bosen-bosen ya godain Papa aku,” celetuk seseorang di sampingnya. Dia adalah Karina, Putri semata wayang Kayden yang sebaya dengan Amelia. Sejak kecil, Amelia sering datang bermain ke rumahnya. Makan bersama dan menginap. Walau sempat terpisah saat remaja. Hubungan mereka masih sangat baik sampai sekarang. Amelia tersenyum nakal. Menangkup wajahnya dengan satu tangan. Sambil mengedipkan sebelah mata pada Kayden. “Duda ganteng kayak Om Kayden, rugi banget kalau nggak digodain,” katanya dengan centil. Kayden mendengus. Sambil memutar bola matanya. Malas menanggapi. “Cepat beresin makan kalian. Piringnya mau dicuci,” ujarnya datar. Kemudian bangkit. Membawa piring kotornya. Begitu Kayden pergi, Karina menyenggol bahu Amelia. “Hayo, Papa marah tuh,” bisiknya. “Nggak, Karina. Papa kamu cuma malu karena terpesona sama kecantikanku,” balas Amelia sambil menyibak rambutnya penuh percaya diri. Seketika Karina menepuk jidat. “Astaga. Dosa apa aku punya sahabat kayak gini,” gerutunya. Sangat jengkel mendengar ocehan Amelia. Karina akhirnya berdiri, menyodorkan piring kotor padanya. “Beresin sana. Aku mau mandi.” Lalu pergi lebih dulu ke kamarnya. Amelia hanya terkekeh puas, tanpa rasa malu. Namun dia tetap tahu diri. Amelia segera membereskan piring kotor di meja makan. Kemudian membawanya ke dapur. Di sana, Kayden tengah sibuk mencuci piring. “Om, aku mau bikin kopi boleh?” tanya Amelia sambil memberikan piring kotor yang dia bawa. “Buat sendiri. Gulanya di lemari atas,” sahut Kayden singkat. Tanpa mengalihkan pandangan. Amelia mengangguk. Mulai membuat kopi seperti di rumahnya sendiri. Dan saat membuka lemari bagian atas, Amelia terpaksa berjinjit. Toples gula yang dia cari sangat jauh di dalam sana. Ujung jarinya sulit menjangkau. Kayden di sampingnya menyadari hal itu. Dan langsung mematikan keran. Berjalan menghampirinya. “Kalau nggak bisa tuh minta tolong.” Amelia menoleh ke sumber suara. Dan saat berbalik, nyaris bertabrakan dengannya. Tak menyangka Kayden sudah ada di belakangnya. Jarak mereka sangat dekat. Sehingga Amelia bisa mencium aroma parfum samar di pakaiannya. Tubuh Amelia membeku. Sambil diam-diam menelan ludah. “Om tinggi banget ya kalau dari deket. Muka aku cuma sejajar dada, nih,” katanya asal ceplos. Tanpa sadar, tangannya menekan-nekan dada bidang Kayden. Kayden hanya mendengus kecil. Lalu mengambil toples gula itu dan meletakkannya di atas kepala Amelia. “Kamu yang terlalu pendek, bocah,” ejeknya. Amelia mendelik tajam. “Aku udah dewasa tau!” balasnya tidak terima. “Jadi udah legal dinikahin.” Wajahnya langsung berubah menjadi senyuman usil. Kayden mengernyit, urat lehernya menegang. Hendak berbicara, suara bel di depan pintu menyela obrolan. Akhirnya Kayden mundur. Berbalik dan melangkah pergi. Amelia hanya cekikikan. Mencoba menggoda Kayden yang berwajah datar itu menjadi hiburan tersendiri untuknya. Namun, Amelia merasa penasaran pada tamu yang datang sepagi ini. Diam-diam, dia mengikuti Kayden. Di pintu depan, terlihat seorang wanita dewasa dengan pakaian cukup seksi. Sebelumnya, Amelia pernah melihatnya beberapa kali datang. Tapi sepertinya Kayden tidak menyambut kedatangannya. “Udah berapa kali aku bilang. Jangan kesini lagi, Anya. Apa kamu nggak paham maksudnya?!” desis Kayden terlihat kesal. Wanita bernama Anya itu malah menyodorkan paperbag yang dia bawa. “Jangan marah. Aku cuma mau kasih kamu oleh-oleh. Lagian kamu juga masih single, kan? Kita bisa saling kenal dulu,” bujuknya. Amelia mengintip dari balik tembok. ‘Wah. Bebal banget ya tuh Tante-tante,’ pikirnya. Tidak sadar dirinya pun begitu. Seketika otak jahil Amelia berjalan. Sebuah ide untuk menolong Kayden muncul di kepalanya. Dengan langkah percaya diri, Amelia mendekat lalu tiba-tiba merangkul lengan Kayden. “Ada siapa, Mas? Kok nggak diajak masuk?” Sontak Kayden menoleh dengan sebelah alis terangkat. Terlihat keheranan. Sementara Anya, langsung mendelik tajam padanya. “Kamu siapa? Kenapa ada di rumah Mas Kayden?” Amelia tersenyum lebar, berlagak seperti Nyonya rumah. “Saya Istrinya. Memang kamu siapa?” ucapnya dengan angkuh. Anya langsung melotot kaget. Menutup mulutnya tak percaya. Lalu menoleh pada Kayden. “K-kayden. Dia bener Istri kamu?” tanyanya memastikan. Kayden hendak menjawab. Namun Amelia tak memberinya kesempatan. “Ya bener, dong. Kamu mau godain Suamiku ya? Pergi sana! Dasar pelakor!” usirnya dengan garang. Merasa kesal dan malu, Anya akhirnya pergi dengan perasaan kecewa. Amelia dan Kayden pun kembali masuk ke rumah. Begitu pintu tertutup, Amelia tidak bisa menahan tawanya. “Lucu banget. Mulai sekarang dia nggak bakal gangguin Om lagi. Nggak usah berterima kasih—“ Namun tawa itu mendadak terhenti ketika Kayden tiba-tiba menarik tangan Amelia. Kemudian menyudutkannya ke balik pintu. Mengungkung di antara kedua tangan. Tatapan Kayden begitu dalam. Matanya menyipit tajam. “Kamu ini bener-bener nakal ya, Amelia,” desisnya. Nafasnya sedikit tersendat. Seolah menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya."Hi! I'm Xander." he said, looking at her from the mirror, fixed in front of him. " I'm Caroline." she said. She was scared. Xander could easily find that she was uncomfortable there inside his car. " Relax… Xander said and he offered her a water bottle. Caroline said, " no, thanks." and took out a water bottle from her bag and drank it. "Actually i'm returning from my college. I'm an hour late today. Usually, i leave the college around 4 o'clock itself." Xander said while looking forward on the road." You must be surprised why am I telling you all this? " Caroline didn't say anything. She was expecting to reach the house safely as soon as possible.
THREE YEARS AGO "Carol, Carol, did you get ready, honey? " "Yes dad." Caroline rushed to him, holding her bags. "Mum, I'll have my breakfast at school." She uttered, " I'm getting late." She saw her mom was staring at her angrily, pointing to the watch as if saying, " Are you sure? You're getting late?" "I mean, it's not me. I'm not getting late. I'm absolutely okay with the time." Caroline's tongue was not cooperating with her when she saw her mum's face had turned red out of anger. She looked at her dad and said, "It's not me..I am not getting late.It's dad. He is getting late for his office. Caroline sneaked at her dad who was already sitting on the driving seat in his car.She smiled and immediately got inside the car. Her dad whispered, " What are you saying, Carol? You know your mom very we
THAT HAUNTED HOUSE After covering all the way of the road, the car was now passing through a desolate place. Not even a single bird could be seen flying over there in the sky and not even an ant could be found that way. Xander stopped the car in front of a haunted house. Since it was cloudy, windy and raining at night. Only a lone lamp was there outside the house, casting a din, yellow light on the scary and faded features of the house. At an irregular interval, the house used to get illuminated from the lightning in the sky. He got down from the car and stood in front of the house, once again checking his pocket for the bottle. "It's going to be 2 o'clock." He looked at the big clock that was hanging on the wall, inside the house,right in front of the main entrance
Scene 1 SET HER ABLAZE"Please, let me go!" a young beautiful girl was screaming. She was tied to a tree in the dense forest. Her scream was echoing there in the silence of the night.Full blue moon was peeping through the dark and black clouds as if the moon came out after that painful cry of Caroline but the clouds didn't let it to come out, might be clouds were also scared of losing it when they saw the fearful and dreaded face of those monster who were laughing loud like monsters at her helplessness.Not like monsters but they were actually monsters."Ha.. ha.. ha.. " an elderly man laughed his heart out and said, "
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.