Masuk***Updates are now on Monday, Wednesday and Friday.*** Everything you thought you knew was a lie. The vampire king, Vladimir Sedof, was on top of the world once upon a time. He had his beloved by his side and the vampires following his every dictate. Then one sunny morning, it all goes to hell. He wakes up twenty odd years later to find most of his magic stolen and his beloved murdered. Hell bent on getting revenge on those who left him for dead, he acquires a pawn in the form of Josie Braille. She turns out to be too powerful and not all that useful. Josie Braille just wanted to set her father free. What she gets instead is a world filled with magic, lies and schemes older than she had been alive. In this world where foes and friends wear the same face, she must choose a side and fight for her love. But to do that, she must decide who she loves. Grayson Callahan is a hunter stuck between the rock and a hard place. He has to choose between doing his duty and saving the world from a vampire on the warpath, or saying fuck it and choosing his love. Three lives on a collision course, whose resolution will reign supreme? What they do find in the end is that this was someone else's game entirely and they were all pawns from the very beginning. But when the chips are down and the fate of their existence and everyone they held dear on their shoulders, will Josie’s love win, or will the vampire king sacrifice them all to get his justice? *This book ends on a HFN
Lihat lebih banyakSuara dentingan peluru yang silih berganti itu, tidak sedikit pun membuat gadis cantik, dengan tinggi badan 165cm dan rambut sebahu terurai lepas itu sedikitpun gentar. Dia terus menjepretkan cameranya ke setiap sudut tempat . Bahkan dengan berjingkat lincah dia mengambil gambar dari peristiwa yang terjadi saat itu.
Dengan setengah berlari gadis itu, Arbia Siquilla, seorang jurnalis dari kantor terkenal di kotanya memburu berita tentang terjadinya pembunuhan dan perampokan di kawasan komplek dekat dia bekerja.
Tanpa menghiraukan keselamatannya, dia terus meliput serangkaian peristiwa baku hantam antara tim pasukan khusus dari kepolisian dengan segerombolan mafia yang berbaju serba hitam-hitam.
Ketika Arbia fokus mengambil gambar seseorang yang jauh di depannya, mengarahkan cameranya dan memotretnya dengan hasil sempurna,.tiba- tiba sebuah benda sudah menempel di pelipis kanannya.
"Ah, sial...!" Rutuknya dalam hati menyadari situasi itu. Dari awal sudah diberitahukan, reporter dari media apapun tidak boleh meliput berita, apalagi sampai ikut ke dalam pertempuran. Itu sangat berbahaya. Tapi bagi Arbia itu sudah biasa dan menjadi resiko dalam pekerjaanya. Selama ini dia selalu berani mengambil resiko demi loyalitas kariernya. Resiko apapun dia ambil. Bahkan dengan keberaniannya inilah, namanya mencuat terkenal. Karena ada beberapa berita sensasional mampu dia liput.
Masih dengan camera di tangannya, Arbia berdiri terpatung. Seseorang yang menodongkan pistol ke pelipis kanannya itu, adalah salah satu dari gerombolan mafia. Di seberang tempat Arbia berdiri, ada pria tegap dengan perawakan tinggi, badan kekar, muka ditutup. Di tangannya sebuah senapan laras panjang.
Pria itu dengan tenang melangkah maju mendekati mereka. Tanpa bergeming dan terus berjalan, pria yang tak lain kapten polisi pasukan khusus pemberantas mafia bernama Narendra Axelle itu, menyipitkan mata. Dan tepat di hadapan Arbia yang masih ditodongkan pisto, dia berhenti.
"Lepaskan wanita itu!" suaranya lantang. Sosok laki-laki tegap di samping Arbia itu bergeming. Pembawaanya yang begitu tenang mampu membuat Arbia terpaku tanpa melakukan perlawanan.
"Kamu lepaskan kami, aku akan melepaskan wanita ini!"
Dia, Arka Abianta pimpinan mafia yang akhir-akhir ini menjadi trending topik dengan ulahnya yang begitu extrem. Merampok dan membunuh. Korban- korbannya adalah pejabat pemerintah yang korup. Dan hasil rampokkannya dia donasikan kepada orang- orang kelas bawah, yang kehidupan sehari-harinya serba susah.
Tapi ulah Arka Abianta ini mampu meresahkan kaum atas yang selama ini hidup bergelimang harta. Hidup mereka terancam semenjak mereka mengikrarkan pemberontakan terhadap orang-orang kalangan atas, yang menghambur-hamburkan uang hanya untuk kepentingan pribadi. Hidup bermewah-mewah tanpa mempedulikan kaum jelata.
Arka Abianta seorang aktivis, yang awal mulanya bekerja di sebuah media terkenal. Tapi karena setiap liputannya ditentang sebagian orang yang merasa terancam dengan berita-berita yang ia liput, akhirnya dia diblack-out di semua media berita.
"Jangan bergerak kalau tidak ingin peluru ini nembus ke kepalamu!" sergah Arka ketika Arbia menggerakaĺn tangannya. Tujuannya melempar camera itu ke arah kapten Axelle agar menyelamatkan cameranya. Karena di dalam camera itu memuat banyak berita hari ini.
Suara dentingan peluru dan baku hantam masih berlanjut.
"Kapten Axelle! Perintahkan anak buah mundur ! Atau kalau tidak, peluru ini akan menembus kepala wanita ini...!" teriakan Arka menggema. Seketika akvitas baku hantam dan dentingan peluru itu terhenti. Semua fokus tertuju dengan suara Arka.
Laki-laki yang sering dipanggil kapten Axelle itu memberikan kode, gestur tangan kanannya melambai ke arah belakang setelah terlebih dulu menaruh senapan laras panjangnya ketanah.
"Biarkan anak buahku pergi! Lepaskan mereka!" Suaranya kembali bergema. Belum lagi suaranya berhenti menggema, Arbia, gadis itu dengan keberaniannya yang luar biasa menyikut dada laki-laki di sampingnya.
"Aaaaaa!" pekik Arka dengan pistol yang sudah jatuh ke tanah. Dia memeŕgangi dadanya yang terasa sakit luar biasa. Arbia dengan cepat lari tapi tak kalah cepat juga tangan Arka yang menarik kedua kaki Arbia dan menyeretnya cepat. Arbia tersungkur dan terseret mengikuti gerakan cepat Arka.
Kapten axelle dengan cepat bergerak dan berlari. Di tangannya sudah memegang kembali pistolnya. Tapi untuk fokus menembak peluru kearah Arka tidak mudah. Arka terus berlari menyeret tubuh kecil Arbia.
"Derrrrrrr ...!" Tembakan itu menembus kulitnya.
******
Mata itu mengerjap. Pandangannya kabur. Dia mulai melebarkan matanya mengitari sekelilingnya. Bau khas rumah sakit. Nafasnya masih lemah, ketika pandangannya jatuh pada sosok tampan di hadapannya, dia mulai mengingat-ingat kejadian sebelumnya.
Pria dengan seragam kebesarannya itu mendekat dan duduk di hadapan Arbia.
"Sudah sadar? Apa yang kamu rasakan? " suaranya datar tapi tegas. Di sana, di matanya, ada kelembutan. Tatapan itu mampu membuat Arbia nervous sesaat. Dengan sedikit membuang muka dia membalas.
" Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan mafia itu, apakah mereka tertangkap?" suaranya lemah.
Kapten Axelle mendekat ke arah Arbia. Laki-laki itu tersenyum dengan manis. "Kamu tidak usah merisaukan itu. Yang terpenting kondisimu harus cepat pulih. Lain kali kamu harus mengikuti prosedur yang ada. Jangan melawan aturan. Itu akan membahayakan diri kamu sendiri." ucapnya tenang, mampu menghipnotis seorang Arbia yang selama ini menentang pendapat orang lain.
"Apa kamu tidak punya keluarga di sini? Aku lihat dari ponselmu, semua kontaknya hanya ada teman-teman kerja kamu?" Kembali laki-laki itu menguarkan suaranya yang mempesona.
Arbia menggeleng lemah. Menutup mata dengan cepat. Pertanyaan kapten Axelle mampu mematahkan hipnotis yang tadi dia rasakan. Ada gulir air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya.
Sang kapten kaget melihat gadis muda itu tiba-tiba menangis.
"Eh kok nangis, apa aku salah ngomong?" Panik jelas terlihat di raut muka pria tampan itu. Sesaat Arbia membuka mata. Dia baru sadar air matanya meleleh sendiri.
"Maaf, kalau Aku salah ngomong," Lembut suara itu membuat Arbia tersenyum dan menggelang. Dia menghapus air matanya.
Sekelumit masa kecilnya membias pedih di hatinya.
15 tahun yang lalu, tragedi itu membuat seorang Arbia terpuruk di lorong rumah sakit begitu lama. Peristiwa pembunuhan berantai kedua orang tuanya, oleh orang-orang yang terancam dengan pemberitaan seputar korup.
Ayah Arbia seorang reporter yang kritis dengan berita-berita kontroversional, memburu setiap berita pejabat-pejabat yang tersandung dengan kasus korupsi. Setiap berita dan liputannya mencuat membuat beberapa orang merasa terancam dan akhirnya terjadi tragedi itu.
Dia harus kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Belum lagi neneknya yang terkena serangan jantung dan meninggal selang sehari pemakaman ayah dan ibunya. Semakin membuat Arbia yang saat itu baru berusia 8 tahun terpuruk.
Mentalnya yang rapuh terjatuh, menerima kenyataan pahit. Kehilangan 3 orang sekaligus, orang-orang yang teramat penting dalam hidupnya.
Arbia terhenyak merasakan sentuhan di bahunya. "Kamu baik- baik saja, kan?" Kapten Axelle mengelus bahunya lembut. Seolah menikmati sentuhan di pundaknya, Arbia mengangguk pelan.
"Jangan banyak pikiran, biar kamu cepat pulih. Sampai dengan kesembuhanmu, aku akan terus di sampingmu." ucapnya memberikan pengharapan.
BERSAMBUNG
FlashBack.Somewhere in Durbent.March, 1724.Sven's POV“Little prince.”Careful not to startle Lydia, my pet komodo dragon, I kept my fingers steady even as I moved only my head to glance up at the approaching figure.Even before I looked up, I knew who the familiar voice belonged to. After all, his voice was the same rumbling cadence that read me bed time stories, coached me though my horseback rides and walked me through my sparring sessions; it either sung my praise or gently corrected my mistakes. Besides, he was the only one who ever came to look for me in my hideout.Lydia was done feeding, plus she was weary of humans who were not me, so she turned, her long tail flicking my hand as she trotted back into the out-building.“You know she will make a meal of you one of these days,” he murmured, walking further into my line of vision.His rich brown hair was cut short once again, but it highlighted the brown and gold flecks of his eyes. He was not that much taller than me, but wi
Josie's POV(Continued)“Hello? Are you okay -”“NO!!” It was instant. One minute, I was splat on the ground, having just spilled out of the elevator like a roll of tissue, the world spinning around me, then the next, a flash of light hazel irises, freckles and a button nose.Soft hands gripped my shoulder, and I whirled around instinctively, catching the boy’s wrist in my fingers. And the next thing I knew, a rush of light so bright and warm I went dizzy with it. Then it was over in what felt like seconds. I blinked, and for a single minute, I didn’t understand why there was a gray haired man with sallow skin lying unconscious beneath my feet. The yellow shirt of a store attendant looked so oddly familiar that when reality smacked me in the face, I squeaked and scrambled away on my butt.The warmth rushing though my veins turned to molten heat, threatening to roast me from the inside out. But still, I kept crawling backwards, my stricken gaze on the unconscious boy. My back hit a wa
The Mall, Variku.Monday 12th of August, 2024.8 P.MJosie's POV(Continued)People said that when it rained, it poured. For me, the heavy rain turned into a thunderstorm and now, it was a motherfucking tornado. Of all the terrible ways the day from hell could have gotten even worse, running into Kora was the worst thing that could have happened to me. In a way, it was actually fitting. First, I woke up with the ability to drain people of not just magic but their youth as well. Then I found out that I drained not 1 but 12 women. And now, when my control was nearing it’s limit, I chose to willingly walk into a building with over a hundred people in it -stupid decision, yes I know. So of the hundred, who else would be more appropriate to run into than my cousin?“Hey, cuz. You’re looking especially horrid today.” To accentuate how utterly fucked I was, the elevator dinged as its doors closed, and Kora and her friends were definitely not in it, as evidenced by her cruel words.I bit my li
The Knight's Sisterhood Territory, Variku. Monday, 12th of August, 2024. 5 P.M Josie's POV (Continued) An empty vacuum. That was my brain. Adrenaline pumped through my veins, elevating my heart rate, but the world moved at a snail’s pace. Everywhere I looked was nothing but vibrant colors. So many colors, even a rainbow looked washed out next to them. The buildings, the trees, the ground and even the very air rippled with an array of colors I wasn’t even aware were on the spectrum. I had no idea where I was nor could I order my thoughts. The only thing I could do was watch my surrounding in awe, feeling like I’d been under water my whole life and I’d only just been let up. The colors were deep and contradictory, looking almost like a child tried to paint a picture without giving a rat's ass about the lines. I could see buildings and trees and what not, but the colors made it difficult to immediately identify what I was looking at. And the vibrancy of everything was making my eyes a






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak