Beranda / Sci-Fi / AETHERITH: Perang Planet Astarhea / Chapter 30: Pesta Yang Penuh Kehancuran

Share

Chapter 30: Pesta Yang Penuh Kehancuran

Penulis: YRD20
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-01 02:40:44

Langit di atas Pulau Kura-kura Emas Kesultanan Omar tidak pernah lebih jernih atau lebih tenang, sebuah kontras pahit dengan ketegangan yang merayap di bawah atap kaca Ballroom Hotel Bintang Lima ‘Sultan’s Gaze’. Malam itu adalah puncak dari kemewahan, tempat Jenderal Al-Marwan merayakan ulang tahunnya dengan pesta yang dihadiri oleh seluruh elit Kesultanan, termasuk sang pemimpin tertinggi, Sultan Hakeem sendiri. Kehadiran Sultan meningkatkan keamanan ke tingkat yang nyaris tak tertembus, yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 44: Benteng Petra Valis

    ​Gurun Babelia yang biasanya sunyi kini bergetar di bawah otoritas baru yang mengerikan.Di kejauhan, tepat di garis perbatasan yang memisahkan padang pasir tak bertuan dengan kedaulatan Domain Pasir Putih, berdiri sebuah pos pengawas legendaris yang dikenal sebagai Petra Valis.Benteng itu dibangun di celah tebing batu merah yang menjulang, berfungsi sebagai gerbang utama sekaligus benteng pertahanan terakhir bagi rakyat di balik gurun.​Di puncak menara tertinggi Petra Valis, Kapten Varick menatap layar monitor seismik dengan mata terbelalak. Jarum-jarum analog di meja kerjanya bergerak liar, menari-nari tanpa henti seolah-olah bumi sedang mengalami serangan jantung.​"Lapor, Kapten! Sensor panas mendeteksi lonjakan energi masif di sektor nol-sembilan!" teriak seorang operator muda dengan suara gemetar. "Ini bukan badai pasir biasa. Ini adalah aktivitas 9 mekanis... berskala kolosal."​Varick tidak menjawab. Ia meraih teleskop optik jarak jauh yang terpasang di balkon menara pandang

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 43: Waktunya Berburu!

    ​Di dalam Bunker Snow Fang, suasana terasa sangat kontras dengan badai salju yang ganas yang sedang mengamuk di atas permukaannya.Di balik dinding beton dan baja sedalam ratusan meter ini, Presiden Wei Shen berdiri mematung di depan kaca pengawas laboratorium pusat. Ia menatap jam hitung mundur di layar utama yang berkedip merah, selaras dengan denyut energi dari fasilitas rahasia yang dikenal sebagai Proyek Nexus Drive.​Di sana, sebuah struktur melingkar raksasa yang terbuat dari logam Aetherium hitam berdenyut dengan cahaya biru-kuning elektrik yang tidak stabil. Inilah Gerbang Teleportasi Massal—kunci bagi dominasi Republik untuk menghancurkan musuh-musuhnya.Setelah hampir berhasil menaklukan Kekaisaran Phoenix, mata sang Presiden kini tertuju pada mangsa berikutnya: Kerajaan Harimau Merah.​"Target kita bukan sekadar ekspansi," suara Wei Shen rendah, bergema di ruangan laboratorium yang steril. "Kita akan menghapus batas negara. Harimau Merah memiliki sumber daya kristal yang k

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 42: Gadis Berambut Biru

    Debu gurun yang pekat mulai turun ke bumi, ditarik oleh gravitasi yang perlahan kembali stabil setelah guncangan kolosal transformasi Babelia.Di bawah bayang-bayang sayap mekanis raksasa yang kini menjulang tinggi menembus awan tipis, sebuah keheningan yang menyesakkan sempat meraja.Keheningan itu hanya pecah oleh derit logam yang mendingin dan suara desisan uap dari sisa-sisa reaktor menara yang kini telah berubah bentuk menjadi raksasa yang hidup.​Dari balik gundukan pasir yang tercipta akibat hempasan energi tadi, sebuah tangan muncul ke permukaan. Enya terbatuk keras, memuntahkan butiran pasir dari mulutnya. Jubah merahnya yang biasanya anggun kini tercabik di beberapa bagian, namun matanya tetap tajam penuh waspada. Ia menoleh ke samping, melihat Pedang Bayangan sedang bangkit dengan gerakan yang masih sangat sigap. Pria itu segera menyarungkan pedangnya, meskipun matanya tak lepas dari sosok raksasa mekanis yang kini berdiri kokoh di belakang mereka.​"Kau tidak apa-apa, Enya

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 41: Kebangkitan Menara Babelia

    Jae-won tersentak. Telepati Udzhur yang menghantam batinnya terasa seperti sengatan listrik yang membakar saraf. Ia merasakan denyut panas yang tak terkendali menjalar dari telapak tangannya. Di sana, sebuah tato kuno berbentuk siluet naga mulai berpendar hebat, memancarkan cahaya biru keemasan yang menembus sela-sela sarung tangan zirahnya.Cahaya itu merambat cepat ke seluruh pelat zirah yang menyelimuti tubuhnya, membuat logam biru itu bergetar hebat dan mengeluarkan suara berdenging rendah yang selaras dengan detak jantung Jae-won.​Efek Overdrive dari kekuatan sebelumnya ternyata telah menghancurkan segel-segel kuno yang selama ini mengunci potensi sejati zirahnya melalui jalur energi di tangannya.Jae-won perlahan melepaskan dekapan Kartika. Ia berbalik sejenak, menatap mata Kartika yang masih basah. Melalui tatapan mata Jae-won yang kini biru berpendar emas, Kartika mengerti segalanya. Jae-won harus kembali ke mulut kematian demi mereka yang tertinggal.​Tanpa peringatan, Jae-w

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 40: Seseorang Yang Menjemput Pulang

    Sisa-sisa energi emas yang tadi membakar langit gurun perlahan memudar, menyisakan keheningan yang mencekam di hamparan pasir Genevivre.Di tengah padang yang kini menghitam karena panas Aether, Jae-won berdiri mematung. Ia menunduk dalam, sosoknya yang terbalut zirah naga tampak seperti monumen sunyi di bawah taburan bintang yang mulai terlihat kembali.​Dari kejauhan, di ambang kehancuran Menara Babelia, sebuah siluet bayangan muncul dari balik kepulan asap. Itu Kartika. Ia terbatuk, pakaiannya compang-camping dan wajahnya penuh debu, namun matanya hanya tertuju pada satu titik di tengah gurun.​Kartika berlari. Kakinya terperosok ke dalam pasir yang masih hangat, namun ia tidak peduli. Ia berlari melintasi bangkai-bangkai prajurit dan puing-puing baja yang berserakan hingga akhirnya sampai di belakang sosok Jae-won yang membisu.​Tanpa ragu, Kartika menghambur dan memeluk Jae-won dari belakang. ​Ia melingkarkan lengannya erat-erat di pinggang zirah Jae-won yang dingin, menyandarkan

  • AETHERITH: Perang Planet Astarhea   Chapter 39: Keheningan Alam Bawah Sadar

    Dunia di luar Menara Babelia tidak lagi mengenal warna selain merah darah dan emas yang menyakitkan mata. Vane Thorsten, sang algojo Sekte Rembulan Merah yang beberapa menit lalu tertawa di atas penderitaan Babelia, kini merangkak di atas pasir yang mencair. Kapak raksasanya, The Northern Star, patah menjadi dua—bukan karena benturan fisik, melainkan karena frekuensi energi Jae-won yang menghancurkan struktur atom baja tersebut. ​Jae-won melayang beberapa senti di atas permukaan gurun. Wajahnya tetap datar, namun matanya yang bersinar biru elektrik memproses ribuan data pembantaian dalam hitungan milidetik. Tidak ada amarah. Tidak ada dendam. Hanya ada kalkulasi. ​"Target teridentifikasi: Vane Thorsten. Status: Ancaman Level B. Keputusan: Eliminasi Mutlak." ​Suara Jae-won bukan lagi suara manusia. Itu adalah sinkronisasi ribuan mesin yang bicara dalam satu nada dingin. Ia mengangkat tangannya, dan partikel udara di depan Vane memadat, membentuk tombak-tombak plasma transparan yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status