LOGINLangit di atas Gerbang Luminion tidak lagi berwarna biru. Ruang udara di sana kini menjadi kanvas kelam yang terlukis oleh garis-garis proyektil plasma dan kobaran api dari armada Veridia yang beradu dengan barisan kapal Celestia. Namun, di tengah kekacauan yang merobek atmosfer Planet Astarhea, terdapat satu titik hening yang berdiri kukuh. Sebuah objek logam raksasa yang tampak seolah membeku di ruang hampa, menyerap setiap hantaman energi tanpa sedikit pun getaran.Di dalam helikopter berita milik Astarhea Global News (AGN) yang bergetar hebat di ambang batas zona tempur, reporter Arin menggenggam mikrofon dengan jemari yang memutih. Di belakangnya, layar hologram menyiarkan kekacauan global."Pemirsa, ini adalah laporan langsung dari zona perbatasan Gerbang Luminion! Kekacauan benar-benar tak terkendali!" Suara Arin melengking, berusaha memecah desing energi yang meruntuhkan kesunyian.Kamera drone yang mengikuti helikopter tersebut tidak menyorot kapal-kapal perang yang sedang
- Istana Bulu Phoenix, Kota Bulu Phoenix -Sementara itu, di Kekaisaran Phoenix. Takumi Jupiter menelusuri koridor megah Istana Bulu Phoenix dengan langkah yang terukur dan tampak lunglai. Bahunya sedikit merosot; wajahnya dirias dengan ekspresi duka yang mendalam—sebuah pertunjukan aristokratis yang sempurna bagi setiap pelayan atau pengawal yang berpapasan dengannya. Berita perihal kondisi Ratu Aruna dan Putri Akari yang kritis memberikan justifikasi yang cukup kuat untuk menunjukkan keterpurukan emosionalnya di hadapan publik.Begitu ia mencapai pintu kayu cendana di kediaman pribadinya dan memastikan pintu tersebut terkunci rapat, topeng duka itu seketika luruh. Sorot matanya yang tadi tampak sayu berubah drastis menjadi tajam, dingin, dan sarat dengan kalkulasi strategis.Ia melangkah menuju cermin besar berbingkai emas di sudut ruangan. Dengan satu sentuhan biometrik pada ukiran bingkai, dinding di belakang cermin bergeser tanpa suara, menyingkap akses menuju Sanctuarium—ruang
Gerbang Luminion tidak lagi seperti sedia kala. Di pusat pusaran kehancuran itu, Omegafort berdiri sebagai sosok Titan Katedral yang masif. Sosoknya bukan lagi sekadar struktur logam, melainkan perwujudan teknologi kuno yang menghidupkan kembali mitos Klan Kolosus. Di dalam ruang kendali, Luviel memejamkan mata. Holy Rune yang terukir di dahinya berdenyut dengan ritme keemasan, selaras dengan detak resonansi inti Titan tersebut.Di hadapannya, Hydraphoon sedang memusatkan delapan elemen dasar yang bergejolak di sekitar—api, air, tanah, udara, cahaya, kegelapan, petir, dan kehampaan—semuanya tersedot paksa ke dalam inti di dadanya. Delapan aliran energi purba itu melebur, memadat menjadi sebuah proyektil elementalis yang berdenyut tidak stabil. Serapan energi itu melahap sisa-sisa cahaya di medan tempur, menciptakan dengung frekuensi rendah yang membuat udara di sekitar Omegafort bergetar hebat. Ancaman itu kian nyata—sebuah proyektil kehancuran mutlak yang siap dilepaskan untuk melen
Ting. Suara logam itu menghantam tepat ke dalam celah kristal. Dalam sekejap, energi biru meledak hebat. Megafort Judgement berguncang keras hingga lantai geladak terbelah. Dari pusaran air di bawah, sembilan kepala Hydraphoon melesat keluar, menabrak lambung kapal dengan kekuatan yang menghancurkan. Lambung Benteng Terbang itu menjerit, terkelupas, dan jatuh berserakan sebagai puing panas yang menimpa geladak. Semburan elemen dari kepala naga itu menghantam instalasi pipa bahan bakar, menyulut kobaran api yang langsung melahap koridor-koridor kapal. "Brengsek! Obeng itu benar-benar membangunkan monster kiamat!" teriak Pedang Bayangan sambil menancapkan Eclipse Blade-nya ke geladak untuk menjaga keseimbangan. Kageyama tidak menyia-nyiakan waktu. Ia melesat, menyalurkan chakra ke Tekno-Kote—pelindung pergelangan tangan berteknologi tinggi—yang ia kenakan. "Skill: Katon — Steel-Grinder Flare!" Aliran energi plasma terpancar dari telapak tangannya, membungkus tinjunya dengan a
Di hadapan Megafort Judgement, berdiri sisa-sisa keangkuhan dari era Kekaisaran Luminion yang telah hilang: Gerbang Luminion. Struktur jam raksasa itu kini terbelah dua secara vertikal, meninggalkan celah menganga selebar ratusan meter tepat di pusatnya. Retakan besar itu adalah luka mematikan; sebuah kehancuran fatal yang melumpuhkan fungsi utamanya sebagai Bendungan Raksasa Kekaisaran. Akibatnya, triliunan ton air yang dulunya dikelola sempurna, kini tumpah ruah secara liar. Air itu terjun bebas melalui celah retakan gerbang, menciptakan air terjun raksasa yang gemuruhnya mengguncang langit, seolah kemurkaan para dewa yang tak lagi terbendung. Uap air yang membubung menciptakan kabut abadi yang menyelimuti bagian dasar struktur logam purba tersebut. Di tengah pekatnya kabut uap itu, sebuah pelangi abadi melengkung pucat—hasil pembiasan cahaya putih-keemasan kristal AEC (Aether-Engine Crystals) yang terpecah oleh jutaan butiran air. Dua pahatan wajah kolosal yang menyangga lin
Dengungan itu bukan lagi sekadar suara; ia adalah gema dari sebuah kisah kelam yang terkubur jutaan tahun. Ia adalah gaungan sejarah masa lalu Menara Babelia yang menyisakan lubang besar dalam ingatan dunia—sebuah misteri yang tidak pernah terpecahkan sampai saat ini tentang mengapa menara semegah itu bisa runtuh dan berada di Astarhea, tepatnya di Benua Genevivre. Para ilmuwan lintas generasi meyakini bahwa menara tersebut bukanlah berasal ataupun dibangun di Genevivre, melainkan sebuah anomali yang dipaksakan masuk ke dalam realitas mereka. Tepat saat Luviel menutup kedua telinganya sambil merintih di hadapan Kapten Varick, frekuensi purba itu menyerang dengan intensitas yang berbahaya. Gelombang suara itu merambat halus dan menghipnotis alam sadar Luviel sementara, menariknya ke dalam trans yang tak terelakkan. Atmosfer di aula Babelia mendadak berubah menjadi neraka gravitasi. Udara seolah memadat menjadi timah, menekan paru-paru Luviel hingga ia tersedak dalam oksigen
Cahaya terakhir matahari telah memudar di balik punggung gurun yang kejam, digantikan oleh selimut malam yang dingin. Tim Jae-won akhirnya tiba di ambang batas Hutan Jaya, sebuah oase hijau yang menjanjikan perlindungan dari mata-mata Federasi dan bayang-bayang masa lalu mereka. Namun, memasuki huta
Matahari Astarhea yang meredup menggantung rendah di cakrawala gurun, mewarnai hamparan batu dan pasir dengan gradasi oranye dan merah darah yang muram. Di bawah langit yang begitu luas dan tak acuh, tim kecil pimpinan Jae-won bergerak maju. Mereka adalah sisa-sisa kesetiaan yang tak tergoyahkan: Ja
Di dalam Bunker Snow Fang, suasana kontras dengan salju yang ganas di atasnya. Presiden Wei Shen menatap jam hitung mundur di layar utama. Dr. Jian Li berdiri di sampingnya, pandangannya terarah pada feed video dari Pos Terdepan Frostfire milik mereka sendiri—pos perbatasan yang sebentar lagi akan
Benua Olympia di planet Astarhea terbagi menjadi empat kekuatan besar, terperangkap dalam Perang Dingin yang mematikan. Letak geografis mereka bukan hanya kebetulan, melainkan cerminan dari kekuatan, ideologi, dan simbolisme mereka. Di inti benua, menguasai daratan luas dan wilayah Utara yang ter







