Share

Bab 30

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-01-15 11:22:26
30

Acara saweran menjadi hal yang dinantikan semua orang. Namun, yang sudah dewasa terpaksa mundur, karena panitia telah memutuskan jika hanya anak kecil yang boleh mengikuti acara itu. Khusus untuk para bayi ataupun yang usianya di bawah tiga tahun, didampingi pengasuh masing-masing.

Hadirin bersorak ketika Bayazid maju sambil menggendong Shahzain, menggunakan gendongan khusus yang melekat ke badannya. Sedangkan Marwa menggenggam tangan kanan Zayd, supaya adiknya itu tidak terpisah.

Arjuna tu
Olivia Yoyet

Ternyata cucu Emak sudah banyak, ya. Yang paling tua, Fachri, anak Baskara. Semoga bukunya nanti bisa tayang di sini juga ^^

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 125

    125*Grup Petinggi 1st, 2nd, & 3rd Generation* Yanuar : @Abang bule. Kenapa mobil baru gue belum dikirim? Alvaro : Gue sudah bilang ke Ardianto. Mobil itu jangan dikirim dulu, sebelum 2 mobil lama elu laku, @Sipitih. Yanuar : Tega amat! Alvaro ; Kalau nggak gitu, yang 2 itu cuma jadi barang rongsokan. Andri : Sayang banget itu mobil, jadi pajangan, doang. Zulfi : Sarang tikus.Fajar : Penghuni abadi garasi PB. Nugraha : Menuh-menuhin. Mardi : Nyemak-nyemakin. Aswin : Aku mau parkir mobil operasional pun nggak bisa. Qadry : Sekarang aman, @Bang Aswin. Chairil : Dua garasi sudah kosong. Nanang : Aku nggak lihat motor gedenya Bang Yan. Fawwaz : Disita Bang W, karena Bang Yan mundur dari tender di Swedia. Ibrahim : Motornya ada di garasi kantor baru. Hisyam : Kantor mana?Dimas : Banyak kantor baru. Bingung aku. Jauhari : Di gedung punya 3 robot. Hasbi : Tuls. Deretan itu semua motor para Power Rangers. Zulfi : Mau dilelang semuanya. Ada yang minat? Dedi : Aku mau motorn

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 124

    124Dua pekan seusai dilahirkan, acara akekahan Nuh dan Hud dilangsungkan di kediaman Bahir. Halaman luas dan jalan depan rumah yang ditutupi tenda biru campur putih, ternyata tidak mampu menampung seluruh tamu, yang jumlahnya membludak dan di luar perkiraan. Edelweiss memerintahkan tim dekorasi guna memasang tenda tambahan di jalan sisi kiri. Puluhan ajudan muda membantu semua pekerja EO M&E. Hingga tidak sampai setengah jam kemudian, tenda biru itu telah berdiri tegak. Banyak karpet yang dipinjam dari tetangga sekitar, dihamparkan di bawah tenda baru. Supaya semua tamu bisa duduk dengan santai. Tenda ketiga dibangun di sisi kanan, dan segera ditempati para ajudan muda. Acara pengajian dimulai. Fikri yang menjadi MC, mempersilakan Zikria untuk bertugas sebagai qori. Sedangkan Hana menjadi saritilawah. Setelahnya, seorang Ustaz kenamaan memberikan tausiah yang diselipi candaan, hingga hadirin berulang kali terbahak. Tawa khalayak mengencang ketika sang ustaz menggoda Aditya serta A

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 123

    123Jalinan waktu terus bergulir. Bulan demi bulan berlalu dengan cepat, tanpa sanggup dicegah siapa pun dan apa pun. Musim kemarau telah berganti ke musim hujan. Udara panas turut bertukar menjadi lebih sejuk. Aditya mengusap rambut istrinya yang tengah mengatur napas. Aditya menoleh ke kiri saat Alodita kembali mengejan, guna melahirkan anak-anaknya. Aditya terus menembakkan tenaga dalam ke perut Alodita, guna melancarkan proses itu. Begitu pula yang dilakukan rekan-rekannya sesama anggota paguyuban olah napas Margaluyu, yang berada di depan ruang bersalin. Jeritan tertahan Alodita mengiringi meluncurnya seorang bayi mungil, yang dipegangi dokter dengan hati-hati. Setelah memindahkan sang bayi ke perawat, dokter itu bersiap-siap guna memegangi bayi kedua."Ayo, Bun. Dikit lagi," ujar Aditya guna menyemangati istrinya yang tengah ngos-ngosan. Alodita tidak menyahut, karena tengah berkonsentrasi. Kala kontraksi kian mengencang, Alodita menarik napas dan mengejan kuat. Seorang bay

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 122

    122 Raut wajah tegang yang semula ditampilkan Zikria, seketika berubah semringah, sesaat setelah mendengar ucapan Syahban. Zikria menghela napas lega, karena keluarga Bryatta menyambut baik keinginannya untuk menjalin hubungan serius dengan Asmiratih. Aditya dan kedua saudaranya yang juga berada di ruang kerja, turut senang dengan keputusan Ayah mereka. Begitu pula dengan Natarina dan Alodita. Kedua perempuan berbeda generasi itu saling melirik, sebelum sama-sama tersenyum. Wirya yang diminta Zikria untuk menjadi wakil keluarganya, mengulaskan senyuman, sembari mengucap syukur dalam hati. Pria paruh baya itu sangat berharap hubungan Zikria dan Asmiratih bisa berhasil. Supaya mantan asistennya itu bisa segera melepas masa lajangnya. Sekian menit berlalu, semua orang telah keluar dan berpindah ke ruang tengah. Aditya berbaring di kasur lipat sambil memandangi Shahzain, yang sedang menyusu dari botol. Aditya tersenyum menyaksikan mata Shahzain yang telah nyaris menutup, sedangkan mu

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 121

    121Alodita mengulum senyuman ketika mendengar percakapan satu arah Aditya, dengan janin dalam perutnya. Alodita terkekeh kala Aditya menjanjikan berbagai barang yang akan dibelikan olehnya, jika bayi mereka lahir kelak. Alodita memandangi saat Aditya mengecup perutnya, lalu menempelkan telinga kanan. Alodita kembali tersenyum, ketika Aditya heboh saat merasakan pergerakan dari dalam perutnya. "Enggak sabar pengen ketemu mereka," cakap Aditya sembari menegakkan badan. "Aku malah nggak sabar buat belanja," sahut Alodita. "Belum boleh, ya?" "Hu um. Tunggu nyampe 7 bulan." Aditya memindai sekitar. "Kayaknya dinding harus dijebol." "Buat apa?" "Bikin pintu, buat nyambungin kamar sebelah ke sini." "Enggak usah. Di sini muat, kok. Cuma tambah kasur dan laci kabinet. Bisa taruh di situ." Alodita menunjuk sisi kiri. "Sofanya dipindah ke dekat pintu," lanjutnya. "Sempit, Bun. Kasurnya, kan, dua." "Satu aja, yang gede." "Nanti cuma kepake sebentar. Mending langsung 2." "Pertumbuhan

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 120

    120Suara berisik dari luar rumah menyebabkan Aditya terbangun. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menggeliat hingga tulangnya berderak. Aditya memandangi langit-langit kamar sembari mengumpulkan nyawanya yang sempat berserakan. Pria berkaus hijau itu bangkit duduk dengan bertumpu pada kedua siku. Dia berdiam diri sesaat, kemudian beringsut ke tepi kasur dan menapakkan kaki ke lantai. Puluhan menit terlewati, Aditya telah berada di ruang makan. Dia menikmati lontong sayur sambil mendengarkan ocehan Alodita. Aditya manggut-manggut tanpa menyela. Dia baru urun suara, setelah Alodita berhenti berceloteh. "Habis berapa beli antaran buat lamaran?" tanya Aditya. "Sekitar 30 juta," jawab Alodita. "Banyaknya?" "Isinya komplet, Yah. Sama sepaket perhiasan lengkap." Alodita memandangi lelakinya yang tengah menyeruput kopi. "Ratifa, kan, yatim. Jadi aku pikir, kita mesti ngasih banyak untuk membuat dia dan keluarganya senang," lanjutnya. "Hmm, berarti buat akadnya aku mesti nambah l

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 17

    17Aditya mendengarkan penjelasan supervisor hotel Bramanty, yang berada di pusat Kota Bandung. Sebab tidak memahami urusan dekorasi dan lainnya, Aditya tetap bungkam dan membiarkan Alodita yang banyak bertanya. Kala dimintai pendapat, Aditya bingung. Dia akhirnya mempersilakan Alodita untuk memil

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 19

    19Hari demi hari bertukar tanpa bisa dicegah siapa pun. Aditya dan Alodita mempercepat penuntasan pekerjaan masing-masing. Supaya mereka bisa mempersiapkan pernikahan secara maksimal. Dua minggu sebelum hari bahagia, Aditya dan Alodita mengatur janji temu untuk berjumpa di resor 5 sekawan di Pula

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 11

    11Matahari baru naik sepenggalah, tetapi ruang tamu di depan kamar perawatan Bahir, telah ramai orang. Alodita tengah mendengarkan percakapan Nerissa dan keempat tantenya. Alodita tidak bisa memprotes, ketika kelima perempuan tersebut sibuk menyiapkan detail acara pernikahannya. Alodita menarik na

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 09

    09Seunit mobil MPV biru tua melesat di jalan bebas hambatan menuju Kota Bandung. Semua penumpangnya tampak tegang, sedangkan sang sopir tetap fokus melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Kedipan lampu dari belakang, dijawab sopir dengan hal serupa. Dimas meneruskan mengemudi, sembari sekali

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status